Arsenal mempersiapkan hal yang berbeda untuk musim baru. Bersama pemain baru dan pendekatan lebih vertikal, mereka berupaya mengurai masalah terbesar di musim lalu.
28 Jul 2025 19:20 WIB · Olahraga
Hasil akhir biasanya tidak penting dalam laga pramusim. Namun, itu tidak berlaku bagi Arsenal dalam duel ekshibisi versus Newcastle United. Tim asuhan Manajer Mikel Arteta itu mengincar performa apik sekaligus kemenangan untuk membuktikan efektivitas dari pendekatan gaya bermain baru mereka.
”Saya pikir itu bukan laga persahabatan. Mereka adalah ujian untuk kami. Kami menggunakan kesempatan ini untuk meningkatkan level kompetitif dan melakukan hal yang berusaha kami capai selanjutnya (dari sisi taktik),” kata Arteta seusai Arsenal menang atas Newcastle 3-2 di Stadion Nasional Singapura, Minggu (27/7/2025) WIB.
Arteta tidak hanya menjadikan laga itu untuk meningkatkan kebugaran para pemain. Dia juga ingin mencari solusi dari problematika serangan Arsenal pada musim lalu. Kebetulan, lawannya adalah Newcastle yang nyaris selalu menjadi sosok ”kryptonite” bagi Arsenal belakangan ini. Ide baru pun dieksekusi.
Arsenal terkenal dengan permainan lambat berbasis penguasaan bola. Mereka lebih suka membangun serangan dari bawah dengan umpan-umpan pendek. Namun, pemandangan berbeda tersaji di Stadion Nasional. Baru dua menit laga berjalan, bek William Saliba langsung mengumpan panjang ke pemain sayap Bukayo Saka.
Permainan ”Si Meriam” yang selama ini cenderung bertele-tele menjadi lebih lugas. Umpan panjang berkali-kali dikirimkan langsung ke depan, dari penjaga gawang ataupun bek. Sementara itu, dua sampai tiga pemain depan selalu menunggu umpan di garis terakhir pertahanan lawan. Mereka siap melakukan transisi kilat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/7cc83a066c28dcf2d18a56a66e5d1de4-AFP_67YJ2HG.jpg)
Statistik pertandingan menegaskan perubahan Arsenal. Mereka melakukan 42 kali umpan panjang, hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan dengan laga pramusim sebelumnya versus Milan (24). Newcastle sebagai salah satu tim terbaik dalam transisi di Liga Inggris juga kalah banyak (36).
Sebagai konteks, menurut FBref, Arsenal merupakan tim dengan percobaan umpan panjang paling sedikit di Liga Inggris musim 2024-2025, hanya 2.022 kali atau sekitar 10,4 persen dari keseluruhan umpan. Adapun umpan jauh itu dikategorikan sebagai operan yang berjarak lebih dari 27,4 meter (30 yard).
Struktur lini tengah Arsenal juga berubah saat membangun serangan. Mereka memulai laga dengan tiga gelandang, yaitu Martin Zubimendi, Mikel Merino, dan Ethan Nwaneri. Menariknya, Zubimendi sering ditinggal sendiri di lini tengah. Merino dan Nwaneri naik mencari ruang di belakang lini kedua pertahanan lawan.
Hasilnya, serangan Arsenal bisa langsung masuk ke sepertiga akhir lawan jika Zubimendi berhasil mengumpan vertikal ke Merino ataupun Nwaneri. Mereka tidak perlu lagi melakukan banyak kombinasi umpan di lini tengah. Adapun biasanya dua gelandang lain lebih sering membantu turun ke bawah untuk membantu sang pivot.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/97dbeaef58e95462886a98deffa5b705-Zubimendi.png)
Arteta mengatakan, kehadiran Zubimendi di musim panas ini sukses memberikan fleksibilitas taktik. Gelandang tim nasional Spanyol itu bisa mengatur ritme sendirian di lini tengah sebagai pivot tunggal. Tidak seperti sebelumnya, Thomas Partey butuh bantuan dari Declan Rice ataupun Martin Odegaard untuk membangun serangan.
”Tantangan yang diberikan Newcastle kepada anda, terutama dengan tipe permainan dan profil mereka di lini tengah, saya pikir dia (Zubimendi) bisa mengatasi intensitas itu. Dia sangat pintar, selalu satu langkah di depan, bisa membaca situasi, dan mempercepat tempo permainan,” ujar Arteta.
Bersama peran Zubimendi dan gaya bermain lebih vertikal, Arsenal bisa mengatasi pasukan lini tengah Newcastle yang tangguh dalam duel fisik, seperti Bruno Guimaraes dan Sandro Tonali. Perhatian para pemain Newcastle juga tidak lagi hanya tertuju ke tengah lapangan karena ada ancaman serangan langsung.
Karakter Arsenal yang lebih lugas itu kemungkinan besar akan dibawa untuk musim baru. Selain memang efektif melawan tim dengan blok pertahanan medium yang menumpuk banyak pemain di tengah lapangan, ide baru tersebut juga bisa menyelesaikan masalah Arsenal dalam kreasi peluang secara keseluruhan.
Akibat terlalu lambat, Odegaard dan rekan-rekan sering mengabaikan ruang terbuka di pertahanan lawan. Mereka menyulitkan diri sendiri karena menyerang saat pemain lawan sudah kembali ke posisi awal. Masalah itu tecermin dalam jumlah peluang yang terbilang rendah dibandingkan dengan tim-tim rival, Liverpool dan Manchester City.
Arsenal hanya mampu menghasilkan rerata tembakan 14,3 kali per laga di pertandingan liga. Jumlah itu bahkan masih lebih rendah dibandingkan dengan tim medioker Bournemouth (15,2 kali). Mereka juga hanya mencatat nilai peluang 61,5 xG atau expected goals, jauh dibandingkan dengan Liverpool (83,6 xG).
Wajar jika produktivitas Arsenal menurun drastis dari 91 gol (musim 2023-2024) menjadi 69 gol (musim lalu). Selain persoalan badai cedera di lini depan, serangan mereka yang sangat terstruktur dan rapi sudah mulai bisa dibaca oleh tim-tim lawan. Arteta tidak punya pilihan selain mencoba pendekatan baru.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/28/7ee33dd4e3c0c38f025beb35df660703-AFP_67YF8AC.jpg)
Rencana baru itu tecermin dalam aktivitas transfer di jendela transfer musim panas. Arsenal mendatangkan penyerang Viktor Gyokeres dan Noni Madueke yang memang andal dalam situasi transisi. Mereka juga sedang berupaya mendatangkan gelandang serang Crystal Palace, Eberechi Eze, yang piawai dalam serangan balik.
Odegaard meyakini, tambahan pemain kali ini pasti memperkuat Arsenal pada musim depan. ”Saya merasa kami semakin baik dan kuat. Para pemain baru datang dan membawa sesuatu yang baru ke dalam grup ini. Kami masih punya sedikit waktu untuk mempersiapkan diri dan jadi lebih baik,” ujar Odegaard, sang kapten tim. (AP/AFP)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto