Pulau Kharg adalah pusat pengiriman 90 persen minyak Iran. Di Pulau Kharg terdapat situs sejarah terkait Nabi Nuh hingga benteng VOC Belanda.
14 Mar 2026 16:00 WIB · Internasional
AFP
Selain mengebom sekolah di Minab, kota Teheran, Isfahan, dan berbagai lokasi penting di Iran, Amerika Serikat baru saja mengebom militer Iran yang menjaga Pulau Kharg di pesisir barat Iran, Sabtu (14/3/2026). Bagi Iran, pulau tersebut sangat penting. Selama ini, pulau tersebut memiliki fungsi strategis, yaitu menjadi salah satu pelabuhan utama ekspor minyak mentah Iran.
Instalasi perminyakan di Kharg, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera, Sabtu (14/3/2026), merupakan terminal penampungan minyak yang diproduksi dari beragam ladang minyak utama Iran, di antaranya Aboozar, Forouzan, dan Dordo. Dari ladang-ladang utama itu, minyak mentah dialirkan menggunakan jaringan pipa—sebagian lewat laut—ke fasilitas kilang di Kharg.
Selain kompleks kilang penampungan, Kharg, pulau karang di pantai barat Iran, juga dilengkapi dengan pelabuhan laut dalam. Fasilitas itu memungkinkan Kharg disinggahi supertanker. Dalam operasinya, minyak mentah yang dikirim dari beragam ladang utama Iran disimpan di Kharg dan atau dimuat ke kapal tanker yang telah menunggu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/cb8ae265064fa37a5780eb414208a361-IRAN_US_ISRAEL_WAR_ENERGY_OIL_136790430.jpg)
Selanjutnya, minyak mentah itu dikirim ke beragam penjuru dunia. Setidaknya, 90 persen minyak yang diproduksi Iran diekspor melalui Kharg. Selama ini Iran sengaja memusatkan pengiriman minyak lewat Kharg. Teheran tidak ingin bergantung pada jaringan pipa yang melintasi wilayah negara lain. Dari operasi itulah, setiap tahun devisa senilai miliaran dolar AS mengalir masuk ke Iran.
Karena fungsinya yang sangat penting dan strategis, Iran—meski ditekan oleh aneka sanksi internasional—terus mengembangkan kapasitas instalasi minyak di Kharg.
Pada Mei 2025, S&P Global Commodity Insights melaporkan, Iran menambah kapasitas penyimpanan sebesar 2 juta barrel di pulau itu. Penambahan kapasitas tampung itu dilakukan dengan memperbaiki tangki 25 dan tangki 26 yang masing-masing dapat menyimpan 1 juta barel. Selama ini, kapasitas penyimpanan minyak harian di Kharg adalah 7 juta barel dengan jumlah ekspor harian minyak Iran sebesar 1,6 juta barel.
Oleh karena itu, Iran menjaga ketat pulau tersebut. Bagi Teheran, Pulau Kharg adalah kartu As kelangsungan ekonomi Iran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/14/dabac63d362d27e57d21e1c4b8cc8544-wires_photo_2026_03_14T134437.345.jpg)
Bagi warga Iran, Pulau Kharg yang merupakan gundukan koral dan karang putih dikenal sebagai ”Pulau Terlarang”. Pagar kawat berduri, menara pengawas, dan berbagai fasilitas keamanan mengelilingi Kharg. Pulau yang mempunyai luas 22 kilometer persegi di Provinsi Bushehr itu tidak bisa diakses warga kebanyakan. Pulau itu memiliki panjang 8 kilometer dan lebar di kisaran 4-5 kilometer.
Merujuk Al Jazeera, di Pulau Kharg yang berjarak 55 kilometer dari daratan Iran terdapat fasilitas militer yang menjaga terminal pengiriman minyak terbesar Iran. Garda Revolusi Iran mengawal Kharg 24 jam penuh.
Sebutan Kharg berubah-ubah selama berabad-abad. Pulau itu pernah disebut Kharg, Khark, Kharaj, dan Kharej. Terdapat sumber air tawar dan lokasinya sangat strategis di Teluk Persia di jalur persilangan maritim.
Pada abad 13 Masehi dibangun sebuah tempat ziarah Islam sepasang kubah yang dibangun dari lumpur dan batu. Di dekatnya terdapat keramat Mir Aram berisi batu dengan kaligrafi Arab dan sepasang obor yang berasal dari era Achaemenid yang diyakini terkait dengan sejarah Mir Aram seorang keturunan Nabi Nuh yang dihormati dalam ajaran Islam, Yahudi, dan Kristiani.
Semasa penjajahan Eropa, Portugis menguasai Kharg dan beberapa pulau di Teluk Persia. Selanjutnya, di tahun 1752, kompeni Belanda melalui Baron Kniphausen mendapat konsesi dari Mir Naser al-Zaabi, penguasa Bandar Rig, untuk membuka pos dagang di Kharg. Selanjutnya VOC membangun benteng di Kharg.
Hubungan VOC dan penguasa setempat di bawah Kerajaan Persia memburuk. Mir Muhanna, Gubernur Bandar Rig, menyerang benteng Belanda dan mengusir VOC pada tahun 1766.
Selanjutnya di abad ke-20, jalan sejarah berubah ketika Shah Reza Pahlevi menjadikan Kharg sebagai pulau pembuangan bagi musuh politik. Perubahan mendasar terjadi sesudah tahun 1958, Kharg dikembangkan sebagai terminal pengiriman minyak. Pengiriman perdana minyak dari Kharg dilakukan pada Agustus 1960. Terminal minyak Kharg mengalahkan pengapalan minyak dari Abadan karena Kharg dapat disandari supertanker.
Dalam perang Israel-AS melawan Iran, Pulau Kharg menjadi ”tidak steril”. Dalam serangan terbaru, AS mengklaim telah menghancurkan fasilitas Garda Revolusi Iran yang menjaga Kharg.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pernyataannya mengatakan, untuk saat ini ia tidak ingin mengusik infrastruktur energi di Kharg. ”Namun, jika Iran, atau siapa pun, melakukan sesuatu untuk mengganggu pelayaran bebas dan aman kapal melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” kata Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/13/f04c72a203a7436152573f9e8f5ac23e-India_US_Israel_Iran.jpg)
Trump menambahkan, Angkatan Laut AS akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz untuk memulihkan arus ekspor minyak dari Teluk.
Sebaliknya, Iran menanggapi ancaman itu dengan menegaskan, bila AS menghancurkan fasilitas perminyakan di Kharg, Teheran akan menyerang fasilitas energi milik perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AS.
Situasi ini dikhawatirkan banyak pihak. Hancurnya terminal minyak di Kharg, menurut analisa Christian Emery, Lektor Kepala Bidang Politik Internasional di UCL dalam The Conversation, bisa membuat harga minyak melonjak hingga 150 dolar AS per barel. Sebagai pembanding, ketika Rusia menyerang Ukraina, pada Februari 2022, harga minyak melonjak dan berada di kisaran 100 dolar AS per barel selama empat bulan. Kondisi itu mendorong inflasi mencapai 9 persen. Biaya hidup pun melonjak.
Emery menganalisis, jika Trump berani menghancurkan fasilitas minyak di Kharg, dampak pertama dirasakan masyarakat Amerika Serikat karena harga minyak naik dan praktis harga berbagai kebutuhan dasar melonjak. Serangan Trump tidak hanya menyengsarakan bangsa Iran.
Terlebih Trump mengklaim serbuan AS ke Iran ditujukan untuk menyelamatkan bangsa Iran dari penindasan rezim. Jika sumber penghidupan Iran hancur, Trump tidak bisa memenuhi janjinya.
Di sisi lain, Trump membutuhkan dukungan suara dalam pemilihan umum sela November 2026. AS unggul dalam medan perang ataupun dipermalukan Iran tetap menyisakan persoalan bagi dukungan politik untuk Trump. Trump memerintahkan serangan ke Iran tanpa izin Kongres AS, Pentagon dan CIA tidak memberikan laporan adanya bahaya serangan Iran terhadap kepentingan AS, dan dukungan publik kurang dari 30 persen terhadap serbuan AS ke Iran. (AP/AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan