PERANG

Selat Hormuz, Strategi Iran untuk Menekan AS-Israel

Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan dapat memicu krisis global. AS terus mendapat tekanan global dan domestik karena akan menggelar pemilu paruh waktu.

11 Mar 2026 19:45 WIB · Internasional

AFP/GIUSEPPE CACACE

Oleh Elsa Emiria Leba

Iran sudah berulang-ulang mengingatkan bahwa serangan militer ke Iran akan membuatnya menutup Selat Hormuz. Iran kini menepati ”janji” itu. Langkah Iran membuat Amerika Serikat dan Israel mendapat tekanan global dan domestik untuk menghentikan perang.

Sebuah kapal kontainer terkena proyektil tak dikenal saat sedang berada di lepas pantai Uni Emirat Arab, dekat Selat Hormuz. Insiden yang dicurigai melibatkan Iran itu terjadi sekitar 46 kilometer dari emirat Ras Al Khaimah, salah satu wilayah di UEA.

”Kapten kapal kontainer telah melaporkan bahwa kapal tersebut mengalami kerusakan akibat proyektil yang tidak diketahui. Tingkat kerusakannya tidak diketahui, tetapi semua awak kapal selamat,” kata Operasi Perdagangan Maritim Britania Raya (UKMTO), Rabu (11/3/2026).

Pihak berwenang masih menyelidiki insiden itu. Namun, serangan terbaru itu menandai perluasan strategi Iran.

Tidak hanya menutup selat, Iran mulai menyasar kapal, ladang minyak, dan kilang negara-negara Teluk Arab. Pada Rabu pagi, Kuwait telah menembak jatuh delapan pesawat nirawak (drones) Iran yang bergerak di wilayahnya. Semetara Arab Saudi mencegat lima drones yang menuju ke ladang minyak Shaybah. 

Foto yang dirilis oleh situs web resmi Korps Pengawal Revolusi Iran (IRGC) Sepanews pada Selasa (17/2/2027) menunjukkan kapal cepat bermanuver di sekitar kapal tanker selama latihan militer oleh anggota IRGC dan angkatan laut Iran di Selat Hormuz.
Sebuah kapal angkatan laut berlayar di Selat Hormuz, Minggu (1/3/2026). Dua kapal dilaporkan diserang di perairan strategis tersebut ketika Iran melancarkan hari kedua serangan balasan menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan energi global yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Sejauh ini, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz, pintu menuju Teluk Persia. Selat Hormuz merupakan titik penting distribusi seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Penutupan selat terjadi sejak Amerika Serikat-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026 hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya.

Setidaknya 10 kapal tanker minyak di atau dekat selat tersebut telah menjadi target, terkena serangan, atau dilaporkan mengalami serangan selama 1-10 Maret 2026. Data ini merupakan hasil kompilasi oleh UKMTO, Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan pihak berwenang Iran.

Perusahaan pelayaran global telah mengeluarkan peringatan layanan yang menyatakan penangguhan operasi di area tersebut. Beberapa di antaranya, perusahaan Maersk, Hapag-Lloyd, CMA-CGM, dan MSC. Saat ini, ada sekitar 400 kapal tanker minyak dan produk yang menganggur di perairan Teluk.

”Kapal-kapal yang terjebak di Teluk tidak akan pergi ke mana pun. Ada juga sejumlah besar kapal yang menuju ke Teluk untuk menggantikan mereka, dan tentu saja mereka berlabuh atau pergi ke tempat lain sekarang,” ujar Tom Goldsby, Ketua Logistik di Departemen Manajemen Rantai Pasokan di Universitas Tennessee.

Krisis global

Gangguan apa pun terhadap lalu lintas di Selat Hormuz memengaruhi perdagangan minyak dan perekonomian global. Penutupan Selat Hormuz sempat membuat harga minyak melonjak hingga hampir 120 dolar AS per barel, Senin (9/3/2026). Meski harga minyak Brent telah turun ke 87,8 dolar AS per barel, Selasa (10/3/2026), kekhawatiran tetap ada.

”Skala dari apa yang dipertaruhkan tidak dilebih-lebihkan. Perlambatan selama satu atau dua minggu masih dapat dihadapi perusahaan minyak, tetapi penutupan penuh selama sebulan lebih akan mendorong harga minyak mentah ke angka tiga digit dan harga gas alam Eropa menuju tingkat krisis tahun 2022,” tutur Hakan Kaya, Manajer Portofolio di Neuberger Berman. 

Amin Nasser, Presiden dan CEO Aramco, perusahaan minyak raksasa dari Arab Saudi, memperingatkan hal senada. ”Jika kapal tanker minyak terus tidak dapat melewati selat tersebut, ini akan berdampak serius pada ekonomi global,” tuturnya.

Selat Hormuz adalah jalur air yang berkelok dengan titik tersempit selebar 33 kilometer. Selat ini menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Dari sana, kapal-kapal dapat berlayar ke seluruh dunia. Meskipun Iran dan Oman memiliki perairan teritorial di selat tersebut, selat ini dipandang sebagai jalur air internasional yang dapat dilalui semua kapal.

Selat ini merupakan jalur penting bagi kapal-kapal tanker yang membawa sekitar kebutuhan 20 persen minyak dan gas dunia dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, UEA, dan Iran. Sebagian besar minyak dan gas tersebut menuju pasar di Asia, termasuk China.

Infografik AFP aliran minyak melalui Selat Hormuz.

Penutupan Selat Hormuz saat ini menunjukkan sikap Iran yang lebih tegas ketimbang masa lalu. Selama perang Iran-Irak tahun 1980-an, kedua negara pernah menyerang kapal tanker dan kapal lainnya dengan ranjau darat untuk menghentikan lalu lintas sepenuhnya pada beberapa titik.

Saat perang Iran-Israel meletus selama 12 hari pada Juni 2025, Teheran sempat mengancam dan menyerang kapal-kapal yang mencoba melewati selat, tetapi tidak menutupnya secara resmi. Iran juga hanya menutup sebagian selat pada Februari 2026 untuk latihan militer. Setelah sekian lama, Teheran akhirnya menepati ancaman untuk menutup selat itu.

Penutupan Selat Hormuz dan penyerangan terhadap aset-aset minyak negara-negara Teluk merupakan bagian dari upaya Iran untuk menciptakan gejolak ekonomi global. Gejolak ini bisa menekan AS-Israel mengakhiri kampanye militer, terutama Washington akan menggelar pemilu paruh waktu pada November 2026.

Sejauh ini, Presiden AS Donald Trump berusaha menghindari lonjakan harga minyak yang berkepanjangan. Trump sudah menyatakan perang dapat berakhir lebih cepat dan mengancam serangan lebih keras jika Iran tidak berhenti menutup selat. Selain itu, ia mengizinkan India untuk sementara mengimpor minyak Rusia yang terkena sanksi AS karena menyerang Ukraina.

Lebih baik

Situasi saat ini sedikit membuat dunia melakukan kilas balik ke guncangan global yang terjadi tahun 1973. Kala itu, dunia juga menghadapi krisis minyak. Namun, situasi pada 2026 tampaknya masih jauh lebih baik.

Lonjakan harga minyak pada tahun 1973 bersifat politis. Negara-negara Arab yang menjadi anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) sengaja mengembargo minyak untuk negara-negara Barat pro-Israel selama Perang Yom Kippur.

Saat ini guncangan lebih bersifat logistik. Iran menghambat distribusi minyak sehingga negara-negara Teluk mulai mengurangi produksi minyak akibat kurangnya kapasitas penyimpanan lokal.

”Arab Saudi, Irak, UEA, dan Kuwait memiliki kapasitas untuk membuka pintu air guna menstabilkan pasar, tetapi mereka terhambat oleh fakta bahwa mereka semua bergantung pada Hormuz,” tutur Francis Perrin, ahli energi di Institut untuk Urusan Internasional dan Strategis (IRIS) Perancis.

Kawasan pengolahan minyak Abqaiq milik perusahaan Arab Saudi, Aramco, seperti terlihat dalam foto yang diambil pada 20 September 2019. Aramco, Rabu (11/3/ 2020), mengumumkan keputusan untuk menaikkan kapasitas produksi minyaknya hingga 13 juta barel per hari.
Pusat pengolahan gas bumi Qatar di Ras Laffan. Qatar mengumumkan akan keluar dari organisasi negara produsen minyak mulai Januari 2019. Qatar ingin fokus mengembangkan industri gas bumi.

Karena perbedaan itu, para pengamat yakin bahwa mustahil harga minyak bisa melonjak separah tahun 1973. Harga minyak pada tahun itu naik empat kali lipat hanya dalam tiga bulan.

Ditambah lagi, negara-negara Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) kini memiliki strategi lebih baik dalam menghadapi guncangan minyak. Mereka dapat mengandalkan cadangan strategis yang setara dengan tiga bulan impor.

Jaring pengaman tersebut dikelola oleh Badan Energi Internasional (IEA), sebuah lembaga yang dibentuk setelah krisis 1973. Untuk mengimbangi blokade Iran, IEA dapat segera menyuntikkan sebagian cadangan minyak ke pasar untuk menekan spekulasi harga dan mengisi kesenjangan pasokan.

”Ini adalah katup pengaman penting yang tetap efektif hanya jika konflik tidak berlangsung terlalu lama,” tutur Perrin memperingatkan. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase