”Kampung” Penguin Pun Dihantam Tarif oleh Trump

Pulau yang hanya dihuni penguin dan pulau-pulau terpencil tidak luput dari hantaman tarif Presiden Donald Trump. PM Australia kebingungan melihat tindakan Trump.

03 Apr 2025 21:53 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Tarif impor Presiden Amerika Serikat Donald Trump ”menyapu” dunia. Lawan maupun kawan tak dibedakan. Kanada, Singapura, Australia, bahkan Uni Eropa tak dikecualikan.

Namun, yang unik adalah Trump juga mengenakan tarif impor pada Pulau Heard dan Pulau McDonald. Pulau-pulau itu tidak berpenghuni dan letaknya nyaris di ujung selatan Bumi, tempat terpencil yang nyaris tidak dikenal umum.

Pulau yang masuk dalam wilayah teritorial Australia itu hanya dihuni penguin, singa laut, dan burung liar. Namun, wilayah yang berada tak jauh dari Antartika di lingkar Kutub Selatan dikenai tarif impor 10 persen oleh Trump.

Tentu banyak orang heran apa yang menyebabkan Trump ”menghukum” pulau itu dengan tarif impor. Menurut laporan The Guardian, wilayah tersebut memang memiliki potensi perikanan. Namun, di ”kampung” penguin itu tidak ada aktivitas apa pun terkait industri perikanan.

Presiden AS Donald Trump menyampaikan pidato tentang tarif timbal balik yang bertajuk "Make America Wealthy Again" di Rose Garden, Gedung Putih di Washington DC, Amerika Serikat, Selasa (2/4/2025) waktu setempat. Trump bersiap untuk mengungkap tarif "Hari Pembebasan" baru yang menyeluruh dalam sebuah langkah yang mengancam akan memicu perang dagang global.

Tidak ada bangunan atau tempat tinggal manusia di pulau yang ditetapkan menjadi suaka bagi penguin itu. Meskipun demikian, merujuk data ekspor Bank Dunia, The Guardian menyebutkan, pada tahun 2022, AS mengimpor produk senilai 1,4 juta dollar AS dari Pulau Heard dan Kepulauan McDonald.

Bahkan, The Guardian juga menyebutkan, ada angka impor dari pulau itu selama beberapa tahun sebelumnya. Besaran nilai impor tersebut berkisar antara 15.000 dollar AS dan 325.000 dollar AS.

Produk yang diimpor dari ”kampung penguin” itu adalah mesin dan produk elektrifikasi. Sejauh ini belum ada komentar terkait hal itu dari Gedung Putih, serta Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia.

Namun, catatan dari Kantor Berita Associated Press bisa memberi gambaran. AP dalam laporan bertajuk ”Trump's tariffs aren't strictly reciprocal. Here's how he calculated them” menyebutkan, tarif yang dikenakan Trump didasarkan pada perhitungan yang rumit.

Terkait dengan Pulau Heard dan Pulau McDonald, dua wilayah itu dikenai tarif lantaran dugaan digunakan sebagai titik reekspor produk sebuah negara. ”Pemerintah (AS) berpendapat bahwa menciptakan pungutan dasar dengan sedikit pengecualian diperlukan untuk mencegah China dan negara lain menghindari tarif baru dengan memproduksi barang dan kemudian mengirimkannya ke Vietnam, Kamboja, Meksiko, atau tempat lain untuk kemudian dikirim ke AS. Itulah sebabnya daftar lokasi yang dikenai tarif Gedung Putih mencakup tempat-tempat yang tidak jelas seperti Pulau Heard dan Pulau McDonald, yang tidak berpenghuni,” sebut AP.

Pulau pemberontak

Wilayah terpencil lain yang juga dihantam tarif oleh Trump adalah Pulau Norfolk. Wilayah yang berada di bawah kontrol Australia itu dikenai tarif impor sebesar 29 persen. Pulau Norfolk terletak di antara Kaledonia Baru dan Pulau Utara, Selandia Baru. Wilayah terpencil di Lautan Pasifik itu berjarak 1.600 kilometer timur laut Sydney.

Warga Norfolk adalah keturunan para pelaut yang memberontak di kapal HMS Bounty tahun 1789. Mereka menikahi perempuan Polinesia dan beranak-cucu membentuk populasi 2.000 jiwa di Norfolk.

Pulau Norfolk hidup dari industri pariwisata. Berbagai kapal pesiar singgah ke pulau yang tidak memiliki landasan pesawat udara itu.

Kamar Dagang Norfolk mengatakan, mereka berada di peringkat ke-223 dunia dalam ekspor tahun 2019. Nilai ekspor mereka sebesar 2,7 juta dollar AS berupa penganan berbasis kedelai dan aneka bibit tanaman.

FILE - A cow rests near a park bench and trash bins on August 12, 2002 on Australia's remote Norfolk Island. (AP Photo/Rick Rycroft, File)

Richard Cottle, pemilik pabrik pembuatan beton di Pulau Norfolk, heran dengan tarif Trump. ”Kemungkinan besar ada kesalahan. Norfolk hanyalah titik merah kecil di dunia ini. Kita bukan negara eksportir,” kata Cottle.

Ekspor utama Norfolk adalah bibit tanaman palem yang disebut Kentia. Nilainya kurang dari 1 juta dollar AS per tahun dengan tujuan ekspor Eropa.

Warga Norfolk kebingungan dengan penerapan tarif tersebut. Mereka bernasib sama seperti China dan Uni Eropa yang dikenai tarif tinggi. Padahal, teritori Australia itu tidak memiliki kapasitas manufaktur, apalagi industri modern.

Defisit AS

Berdasarkan data Amerika Serikat, AS mengalami defisit perdagangan dalam tiga tahun terakhir terhadap Pulau Norfolk. Ekspor Norfolk ke AS sebesar 300.000 dollar AS pada tahun 2022, 700.000 dollar AS tahun 2023, dan 200.000 dollar AS tahun 2024. Impor Pulau Norfolk dari AS rerata 100.000 dollar AS tiap tahun dalam kurun 2022-2024.

Impor terbesar Pulau Norfolk dari AS tercatat di tahun 2020 sebesar 11,7 juta dollar AS. Tidak dijelaskan apa yang diimpor Norfolk dari AS dan tidak tercatat ekspor ke AS dalam tahun yang sama.

Australian Prime Minister Anthony Albanese on Tuesday, Feb. 11, 2025, speaks in Canberra, about his telephone conversation with President Donald Trump who Albanese says has agreed to consider a tariff exemption on Australian steel and aluminum imports. (Lukas Coch/AAP Image via AP)

Sejumlah warga Norfolk yang berbicara kepada Reuters mengaku tidak paham jenis industri apa yang harus dikenai pajak di pulau mereka. Salah satu pemilik bisnis pengendalian hama mengatakan, impor mereka dari AS adalah umpan tikus dan hewan pengerat yang dimasukkan via Australia.

”Produk Pulau Norfolk dikenai pajak 29 persen oleh Amerika Serikat. Karena tidak ada industri di sini, tentu peraturan tersebut tidak akan berdampak,” kata Gye Duncan, konsultan pajak di Pulau Norfolk.

Miles Howe, pensiunan aparatur sipil Australia dan mantan anggota Kamar Dagang Norfolk, mengatakan, ketentuan Trump tidak akan mengusik kehidupan damai mereka.

”Kita justru heran dan kagum, betapa wilayah kecil kami bisa masuk radar seorang sekelas Donald Trump,” kata Howe.

”Saya tidak yakin Pulau Norfolk menjadi pengekspor penting ke Amerika Serikat. Kenapa mereka kena kebijakan tarif AS saya tidak paham,” kata Perdana Menteri Australia Anthony Albanese.

”Tak ada satu pun tempat di dunia ini selamat,” kata Albanese.

(REUTERS/AFP/AP)

Catatan redaksi: tulisan ini telah mendapatkan tambahan paragraf baru, yaitu paragraf 8-9


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H