Presiden Donald Trump mengklaim menaikkan tarif akan bangkitkan industri Amerika Serikat. Namun, kebijakan itu berpotensi menempatkan dunia di ambang pintu resesi.
02 Apr 2025 12:34 WIB · Internasional
WASHINGTON DC, RABU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersiap untuk meluncurkan ”Hari Pembebasan” bagi Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025) waktu setempat atau Kamis waktu Indonesia. Hari Pembebasan bagi Trump adalah penerapan tarif kepada mitra dagang AS.
Meskipun sejak awal memerintah kebijakan soal tarif telah diberlakukan Trump untuk beberapa negara, bagi banyak pihak Hari Pembebasan tak ubahnya ”tekanan baru”. Kebijakan tersebut dikhawatirkan akan membebani pelaku bisnis di seluruh dunia dan memicu ketidakpastian yang bakal mengganggu perekonomian global.
Banyak negara kemungkinan akan terimbas lantaran Trump tidak membedakan kawan atau lawan. Yang telah terjadi, selain China, Kanada dan Meksiko yang memiliki kesepakatan dagang pun tak terhindar dari ”bidikan tarif” yang dikenakan Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/27/269e07895f33144de170e1bf96b65dc7-000_37ZY27G.jpg)
Penasihat perdagangan Gedung Putih, Peter Navarro, mengatakan, kebijakan tarif akan mendongkrak pendapatan AS hingga 600 miliar dollar AS per tahun. Jika target tersebut terwujud, pendapatan itu akan menjadi lonjakan penerimaan pajak terbesar negeri itu sejak Perang Dunia II.
”2 April 2025 akan tercatat sebagai salah satu hari terpenting dalam sejarah Amerika modern,” kata Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih.
Saat peluncuran, Trump akan didampingi sejumlah anggota kabinet di Kebun Mawar di Gedung Putih. Trump mengklaim penerapan tarif akan menghentikan perampokan terhadap ekonomi dan industri dalam negeri AS.
Trump sangat ingin mengembalikan lagi Golden Age, era kejayaan, AS. Trump sejak lama membanggakan kebijakan menaikan tarif sebagai jalan keluar menyembuhkan ekonomi AS dari defisit perdagangan dengan sekutu ataupun seteru.
Namun, seperti biasa, Trump merahasiakan rincian dari kebijakannya. Trump sejauh ini hanya mengatakan, tarif akan diterapkan sesuai dengan langkah negara lain terhadap produk AS. Senin lalu, Trump mengatakan, dia akan bersikap murah hati terkait penerapan tarif. Akan tetapi, dia tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.
Yang jelas, Maret lalu, Trump telah memberlakukan kenaikan tarif 25 persen untuk produk baja dan alumunium dari seluruh dunia yang diekspor ke AS. Trump mengatakan, dirinya tidak peduli jika harga mobil impor naik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/25/32ab2d1733d38df064279cf7be7955e8-063_2206702099.jpg)
Menjelang tenggat Hari Pembebasan, Trump mengutarakan menerapkan tarif rata, yakni 20 persen, untuk semua negara. Namun, dia menjelaskan, dirinya menyediakan opsi ketiga, yakni negara-negara tertentu memperoleh perlakukan berbeda.
Di sisi lain, para pengkritik melihat, beban tarif akan ditanggung masyarakat AS yang akan membeli barang kebutuhan sehari-hari dengan tambahan harga akibat beban tarif impor. Kondisi itu akan memicu resesi ekonomi di dalam negeri AS dan di mancanegara.
Pasar global sudah bergejolak sejak beberapa hari lalu jelang pengumuman Trump. Sebagian besar negara berharap dapat berdialog dengan AS walau mereka juga sudah menyiapkan rencana tarif balasan untuk menyikapi langkah AS.
Langkah menaikkan tarif menambah kesenjangan baru antara AS dan sekutunya yang sudah berbeda pandangan soal keamanan, pertahanan, dan berbagai bidang lainnya. Langkah Trump dikhawatirkan bakal memicu perang dagang global, mengacaukan perdagangan, dan disrupsi ekonomi dunia.
Sejauh ini, Uni Eropa dan Kanada sudah menyatakan siap membalas kebijakan Trump itu. ”Kami akan berjuang demi ekonomi Kanada,” kata Perdana Menteri Mark Carney.
Uni Eropa yang dituduh Trump telah merugikan ekonomi AS menyatakan siap berunding, tetapi sudah menyiapkan langkah balasan terhadap tarif AS jika tetap diberlakukan. PM Inggris Keir Starmer mengaku melakukan pembicaraan produktif dengan Trump.
Vietnam mengatakan telah memangkas sejumlah tarif impor produk AS demi menyenangkan Trump.
Sementara itu, para ekonom justru pesimistis terhadap efektivitas Hari Pembebasan. Ekonom dari Universitas Stanford, Nicholas Bloom, melihat nuansa ketidakpastian kian menguat. Ia menilai langkah Trump akan memicu kekacauan ekonomi terburuk sejak pandemi Covid-19 berlalu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/17/a8a9a65418837f21a8f0593ae3604077-Car_Wash_Shoplifters_127486229.jpg)
Ketika dunia usaha tidak yakin ke mana kebijakan ekonomi dibawa, para pebisnis akan menahan uang mereka dan mengurangi perekrutan pegawai. Bloom menambahkan, dalam ketidakpastian, konsumen juga akan mengurangi belanja. Praktis semua lini ekonomi melambat.
”Tanggal 2 April akan mengurangi ketidakpastian ekonomi jika itu adalah keputusan akhir. Namun, saya mengira bakal ada serangkaian pengumuman kebijakan ekonomi terkait,” kata Bloom.
Randy Carr, CEO World Emblem, perusahaan yang membuat badge, bordiran logo, dan label untuk aneka perusahaan, kampus, serta lembaga penegak hukum, telah memperkirakan harga produk terdampak tarif 25 persen yang dikenakan Trump. Sebagian besar produk mereka dibuat di negara tetangga dan dia sudah mengumumkan kenaikan harga sekurangnya sebesar 8 persen.
Pada Februari 2025, Carr menunda investasi 9 juta dollar AS yang semula akan digunakan untuk penerapan kecerdasan buatan dan perdagangan daring. Dia akan mengurangi pengeluaran perusahaan di tengah ketidakpastiaan saat ini.
”Kita tidak tahu apakah harus mencadangkan dana untuk menghadapi tarif ini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok Rabu,” kata Carr.
Perusahaan lain, Emerald Packaging, yang membuat beragam bungkus bagi Walmart dan Kroger, kini menahan investasi, menunggu gejolak ekonomi akibat Hari Pembebasan mereda.
Ekonom Deutsche Bank, bank utama di Jerman, Matthew Luzzetti, mengatakan, jika Hari Pembebasan adalah harga mati penetapan tarif, dampak ketidakpastian global yang dipicunya akan mengurangi pertumbuhan ekonomi setidaknya 1 persen hingga beberapa kwartal ke depan. ”Jika ketidakpastian ini berkepanjangan, dampaknya akan berlipat ganda,” kata Luzzeti.
Sementara itu, Direktur Kebijakan Publik Kadin AS Neil Bradley mengatakan, menaikkan tarif akan merusak ekonomi. ”Sampai ada kejelasan kebijakan tanggal 2 April, barulah kita bisa melakukan penyesuaian dan rencana bisnis. Akan tetapi, mendapat kepastian dari kebijakan yang merugikan bukanlah sesuatu yang positif,” kata Bradley. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra