Purnawirawan Ingatkan Politisasi Berefek Buruk pada Kesiapan TNI Jalankan Tugas

Belajar dari pengalaman Orde Baru, penerapan dwifungsi ABRI justru berefek buruk pada kesiapan militer dalam menjalankan tugas pokoknya.

26 Apr 2025 20:29 WIB · Politik & Hukum

Oleh Edna Caroline Pattisina

JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah purnawirawan mengingatkan politisasi militer dapat berdampak buruk pada kesiapan TNI dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi serta menghadapi tantangan pertahanan dan keamanan di masa datang. Pengalaman pada masa Orde Baru mesti dijadikan pelajaran karena dwifungsi ABRI telah mengakibatkan kesiapan militer menjadi turun.

Peringatan itu salah satunya disampaikan Letnan Jenderal (Purn) Bambang Darmono saat peluncuran buku Letnan Jenderal (Purn) Kiki Syahnakri, yang berjudul Hingga Salvo Terakhir di Jakarta, Sabtu (26/4/2025).

Dalam buku biografi itu, Kiki tidak saja bercerita tentang perjalanan karirnya, tetapi juga berbagai pemikirannya. Hal ini yang disorot Bambang saat mengulas buku terbitan Penerbit Buku Kompas tersebut.

Bambang mengatakan, semua tingkat kepemimpiman di TNI bertugas untuk memelihara kesiapan tempur pasukan. "Di Akmil diajarkan tupok (tugas pokok) komandan adalah memelihara kesejahteraan prajurit. Menurut saya, seharusnya kesiapan,” tuturnya.

Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Adi Pinantyo (kiri) menyerahkan secara simbolik buku otobiografi kepada Mantan Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal TNI (Purn) Kiki Syahnakri di Hotel Borobudur, jakarta, Sabtu (26/4/2025). Buku otobiografi berjudul "Hingga Salvo Terakhir Bakti Prajurit TNI" tersebut ditulis Kiki Syahnakir selama sekitar dua tahun. Sejumlah perwira tinggi TNI Angkatan Darat maupun purnawirawan turut menghadiri acara peluncuran dan bedah buku tersebut. Kompas/Riza Fathoni (RZF)

Mantan Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional itu sependapat dengan pandangan Kiki bahwa banyak persoalan taktis TNI yang pada masa Orde Baru tidak tuntas. ”Bahasanya Pak Kiki, ini semua karena TNI bermain di kolam politik. Dulu memang ada dwifungsi,” katanya.

Dwifungsi ABRI ini, lanjutnya, membuat upaya untuk menjaga kesiapan pasukan terbengkalai. Bahkan, latihan pun hanya sekadarnya.

Bambang juga berharap, pertimbangan suka dan tidak suka dalam perekrutan kepemimpinan TNI. Sebab, menurut dia, perekrutan yang berdasarkan suka dan tidak suka itu merupakan cara orang-orang politik. Umumnya, orang-orang politik melihat komunitas, bukan integritas.

”Kalau enggak masuk dalam komunitas saya, ya, enggak direkrut,” tegasnya.

Ia menggarisbawahi, perekrutan kepemimpinan di TNI seharusnya berdasarkan integritas dan kapabilitas. Kerangka ini akan membuat seorang komandan diakui karena dipandang sebagai pemimpin yang patut disegani.

Menangi hati rakyat

Selain politisasi militer, Kiki Syahnakri juga menggarisbawahi soal hukum humaniter. Menurut dia, hukum humaniter sejalan dengan prinsip perang gerilya yang seharusnya memenangi hati rakyat. Pelanggaran HAM bisa menjauhkan TNI dari rakyat.

”Kalau ada satu orang tewas karena pelanggaran HAM, semua keluarganya jadi musuh,” tandasnya.

Seorang peserta aksi mengangkat poster berisi tuntutannya saat aksi menolak revisi UU TNI di depan Mal Sarinah, Jakara, Jumat (28/3/2025). Massa aksi dak aktivis perempuan dari berbagai elemen yang tergabung kedalam Inisiatif Suara Ibu Indonesia melakukan aksi menolak revisi UU TNI dan menyatakan keprihatinan atas sikap represi aparta terhadap mahasiswa dan warga sipil yang turun ke jalan untuk berdemo. Peserta aksi yang didominasi perempuan ini menyuarakan penolakan wacana dwifungsi TNI dengan disahkannya revisi UU TNI. Inisiatif Suara Ibu Indonesia ini terinspirasi dari sejarah Suara Ibu Peduli pada saat sebelum reformasi serta gerakan Kamisan yang digagas oleh Sumarsih Maria. Mereka berharap dengan terlibatnya ibu-ibu dalam demo menolak revisi UU TNI dapat menggugah hati ibu-ibu di Indonesia agar bergerak bersama agar revisi UU TNI dibatalkan. 

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)
28-03-2025

Sementara itu, dalam peluncuran buku tersebut, hadir juga Wapres ke-6 RI Jenderal (Purn) Try Sutrisno, mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Endriartono Sutarto, dan mantan Kepala BIN Jenderal (Hor) Hendropriyoko. Try menyoroti tentang Pancasila dan akhlak para politisi, sementara Hikmahanto Juwana menyoroti soal etika generasi muda.


Kerabat Kerja

Penulis:

Edna Caroline Pattisina
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase