Putin mengingatkan, negara pemasok senjata Ukraina juga bisa terlibat perang langsung melawan Rusia. Senjata buatan Barat kini digunakan Ukraina menyerang Rusia.
22 Nov 2024 11:47 WIB · Internasional
Meskipun sejumlah pihak sempat menyatakan keraguan, akhirnya Rusia secara resmi mengakui menggunakan rudal balistik jarak menengah untuk menyerang Ukraina. Bahkan, serangan serupa dapat diarahkan ke negara sekutu Ukraina yang senjatanya digunakan menyerang ke dalam wilayah Rusia.
Dalam pidato yang ditayangkan televisi, Kamis (21/11/2024), Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan, pihaknya tidak akan segan menggunakan rudal balistik untuk menghantam negara yang menyediakan senjata yang digunakan Ukraina untuk menyerang mereka.
Para pengamat dan analis menilai, kebebasan yang diberikan kepada Ukraina untuk menggunakan senjata Barat guna menyerang Rusia tidak akan memberi keunggulan bagi Ukraina. Serangan itu memang akan lebih mengancam posisi pasukan Rusia dan logistik mereka, tetapi tidak akan mengubah jalannya perang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/22/e7f4e060faf2df9ce029a77ff590ee2f-RUSSIA_UKRAINE_CONFLICT_PUTIN_125660376.jpg)
Putin mengingatkan, langkah Amerika Serikat dan Barat mengizinkan penggunaan senjata mereka untuk menyerang Rusia dapat membuat pihaknya berperang melawan NATO.
Rudal balistik yang digunakan Rusia adalah RS-26 Rubezh yang dijuluki Oreshnik atau Pohon Hazel. Angkatan Udara Ukraina mengatakan, rudal tersebut ditembakkan Rusia dari sebuah pangkalan di Kota Astrakhan, sekitar 800 kilometer sebelah timur Kota Dnipro. Kota Astrakhan adalah wilayah di dekat Laut Kaspia, yang berada di sebelah utara Pegunungan Kaukasus, Rusia.
Serangan menggunakan rudal balistik dilakukan Rusia setelah Presiden AS Joe Biden memberikan izin kepada Ukraina menggunakan rudal jarak jauh mereka (ATACMS) untuk menyerang wilayah Rusia. Sebelumnya, semua senjata Amerika Serikat hanya digunakan untuk berperang di dalam wilayah Ukraina untuk menghadapi serbuan Rusia. Menyikapi langkah AS dan Barat itu, Rusia lantas mengubah doktrin penggunaan senjata nuklir.
Adapun serangan dengan rudal AS terhadap Rusia dilancarkan pada Selasa (19/11/2024). Kemudian, pada Rabu (20/11/2024) rudal jarak jauh Inggris, Shadow Stormer, digunakan Ukraina untuk menyerang ke dalam wilayah Rusia.
Serangan menggunakan rudal AS menghantam depot senjata Rusia di Kota Bryansk, sekitar 100 kilometer dari perbatasan Rusia-Ukraina. Serangan itu mengakibatkan puluhan orang terluka dan sejumlah fasilitas penyimpanan senjata hancur.
Juru Bicara Pentagon Sabrina Singh membenarkan adanya serangan rudal balistik Rusia ke Ukraina.
”Ini adalah senjata baru yang mematikan yang digunakan di medan perang. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran. Rudal ini dapat membawa hulu ledak biasa ataupun hulu ledak nuklir,” kata Singh.
Pihak Amerika Serikat dihubungi Rusia sebelum serangan melalui jalur komunikasi khusus mitigasi risiko nuklir.
Putin mengingatkan, tidak ada sistem senjata AS atau Barat yang dapat mencegat rudal balistik Rusia tersebut. Diperkirakan rudal tersebut mampu melesat hingga 10 kali kecepatan suara.
”Menyikapi eskalasi tindakan agresif lawan, kami akan menyikapi dengan tindakan mematikan yang serupa,” kata Putin. Dia memperingatkan agar para pemimpin Barat yang memutuskan rencana agar senjatanya digunakan menyerang ke dalam Rusia untuk berpikir lebih panjang.
Putin menambahkan, serangan dengan rudal balistik Oreshnik, Kamis, menghantam pabrik rudal di Kota Dnipro, Ukraina. Putin mengatakan, dia akan memberikan peringatan terlebih dahulu sebelum melancarkan serangan sejenis agar warga sipil Ukraina dapat meninggalkan lokasi yang diserang.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/24/b71c62b8-419b-4e46-89e0-33149bc9b3ec.jpg)
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dalam akun Telegram menyatakan, penggunaan rudal balistik adalah eskalasi serius dan brutal dalam perang yang terjadi. Tindakan Rusia melanggar Piagam PBB.
Zelenskyy mengingatkan tentang tidak adanya reaksi dunia terhadap tindakan Rusia. Padahal, kondisi serupa juga bisa menimpa negara lain.
”Putin sangat sensitif dalam isu ini. Dia sedang menguji Anda, para Sekutu Ukraina. Jika tidak ada reaksi keras terhadap tindakan Rusia, mereka berpikir tindakan ini juga bisa dilakukan kepada pihak lain,” kata Zelenskyy.
Direktur Ilmu Sains Militer di Institut Gabungan Milter Kerajaan Inggris di London Matthew Savill mengatakan, Rusia memberikan pesan kepada Barat tentang kemampuan mereka menyerang Ukraina dengan rudal balistik berhulu ledak berganda yang memiliki kecepatan sangat tinggi.
”Ini adalah sinyal. Sinyal bagi Ukraina dan Barat. Rusia siap masuk pertarungan rudal balistik dan senjata itu dapat dilengkapi hulu ledak nuklir. Apakah lawan dari Rusia siap menanggung risiko,” kata Savill.
Para pakar militer mengatakan, rudal balistik antarbenua dan rudal balistik jarak menengah sangat sulit dijatuhkan. Ukraina sebelumnya mengaku telah berhasil menjatuhkan rudal yang menurut Rusia tidak dapat dicegat pertahanan udara. Salah satunya adalah rudal hipersonik Kinzhal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/17/c42e8f56-d174-41dc-8eae-3e906a2f1be7.jpg)
Adapun peneliti Institut Sains dan Keamanan Internasional di Washington DC, Amerika Serikat, David Albright, meragukan klaim Presiden Putin soal keampuhan rudal balistik Rusia. ”Teknologi Rusia sering kali bermasalah teknis,” kata Albright.
Albright menilai Putin sedang menantang Barat untuk mencoba menjatuhkan rudal balistiknya.
Adapun di Inggris, The Independent melaporkan PM Keir Starmer di hadapan Parlemen mengatakan, Inggris tidak akan gentar menghadapi ancaman Vladimir Putin terkait perubahan doktrin penggunaan senjata nuklir. ”Dukungan Inggris ke Ukraina masih sesuai dengan hukum internasional,” kata Starmer.
”Sudah tepat langkah yang diambil, yaitu untuk mengizinkan Ukraina menggunakan senjata bantuan Barat guna menyerang Rusia. Sementara Rusia menggunakan drone buatan Iran dan rudal Korea Utara untuk menghantam Ukraina,” kata Peter Ricketts, mantan penasihat keamanan Inggris yang kini duduk di Parlemen.
Juru Bicara Gedung Putih Jean-Pierre Karine, Kamis (21/11/2024), mengatakan, perubahan doktrin perang nuklir Rusia tidak disikapi dengan perubahan doktrin senjata nuklir AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/31/a6aedb5a3b4ecc88cab536e27f390c2d-063_2181991324.jpg)
Dia menyanggah tudingan bahwa lampu hijau dari Washington sebagai faktor pendorong eskalasi perang Ukraina. ”Mereka (Rusia) yang memicu eskalasi. Salah satunya dengan menghadirkan tentara Korea Utara,” kata Karine.
Diketahui ada lebih dari 10.000 prajurit Korea Utara berada di Kursk, Rusia, yang berbatasan dengan Ukraina. Wilayah Kursk diserbu militer Ukraina pada September 2024. (REUTERS/AFP)
Penulis:
Iwan SantosaEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra