PANGAN

Kemarau Kering Ancam Lumbung Pangan Jatim, Mitigasi Air Jadi Penentu

Kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan panjang mengancam produksi pangan Jawa Timur. Mitigasi air dan strategi tanam menjadi kunci menjaga ketahanan pangan.

14 Apr 2026 09:30 WIB · Nasional

Kompas/Bahana Patria Gupta

Oleh Runik Sri Astuti

Musim kemarau tahun 2026 bisa menjadi ancaman serius bagi kelangsungan produksi pangan Jawa Timur, provinsi yang selama ini menjadi lumbung pangan utama nasional. Beragam upaya ditempuh agar usaha tani tetap berjalan optimal.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia tahun 2026 tiba lebih awal. Selain kemarau yang lebih panjang, sebagian besar wilayah Indonesia juga diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering.

Di Jatim, menurut Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda, Taufiq Hermawan, fenomena El Nino lemah akan terjadi pada pertengahan tahun 2026. Fenomena ini bertepatan dengan periode puncak musim kemarau di Jatim.

”Berdasarkan data historis, ketika terjadi El Nino saat kemarau dan pancaroba, curah hujan akan turun 20-40 persen. Awal musim kemarau di Jatim diprediksi dominan jatuh pada Mei 2026,” ujar Taufiq pada Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Hidrometeorologi dan Potensi Bencana Musim Kemarau di Jawa Timur 2026 yang digelar di Surabaya, Selasa (7/4/2026).

BMKG memprediksi awal musim kemarau mundur dari kondisi normal. Di Jatim ada 72 zona musim. Dari jumlah itu, 49 persen zona musim di antaranya mengalami musim kemarau yang mundur, 31 persen musim kemarau sama dengan kondisi normal, dan 20 persen diprediksi maju atau tiba lebih awal.

Adapun berdasarkan sifat hujannya, sebagian besar bersifat kering atau di bawah normal. Puncak musim kemarau di Jatim diprediksi terjadi pada Juli-September 2026, dengan mayoritas atau 72 persen wilayah berada pada puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Sejumlah petani di wilayah Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tengah menanam padi, Rabu (8/4/2026). Selain hujan, kondisi air irigasi di daerah setempat juga mencukupi untuk musim tanam kedua 2026.

Menurut Taufiq, El Nino berdampak pada produksi pangan di Jatim, terutama akan memengaruhi pola tanam dan berkaitan dengan ketersediaan air bagi tanaman.

BMKG memprediksi ketersediaan air bagi tanaman pada April 2026 masih dalam kategori cukup. Sementara pada Mei 2026, ketersediaan air sudah mulai berkurang dengan kategori kurang hingga sedang, terutama di wilayah utara Jatim, seperti Pulau Madura. Adapun ketersediaan air di wilayah selatan Jatim cenderung cukup sampai Mei 2026.

BMKG telah mengeluarkan prediksi ketersediaan air pada puncak musim kemarau di daerah lumbung padi di Jatim, seperti Ngawi, Lamongan, dan Bojonegoro. Peta prediksi ketersediaan air itu dibuat per kecamatan dan pemerintah daerah bisa mengaksesnya melalui situs resmi BMKG.

Taufiq menambahkan, pihaknya merekomendasikan optimalisasi panen air pada bulan April 2026 dengan gerakan percepatan penyimpanan air di embung/waduk. Cara lain untuk adaptasi pola tanam mulai Mei 2026 adalah dengan menyesuaikan kalender tanam atau beralih ke komoditas hemat air, terutama di wilayah utara Jatim.

”Pada saat puncak kemarau (yang diprediksi terjadi pada) Agustus-September 2026, hal yang perlu dilakukan adalah menyiapkan intervensi irigasi darurat dan efisiensi air secara ketat untuk menyelamatkan lahan pertanian, terutama pada tanaman hortikultura dan tembakau,” ujarnya.

Produksi beras dan potensi El Nino

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengatakan, kemarau berimplikasi langsung terhadap sektor pertanian dan ketahanan pangan. Produktivitas lahan, terutama sawah tadah hujan, sangat rentan terhadap kondisi kemarau panjang.

”Pengelolaan air dan strategi mitigasi kekeringan menjadi kunci penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan di Jatim,” kata Khofifah.

Ia menambahkan bahwa kondisi kemarau ini akan berpengaruh secara langsung pada lahan sawah. Pada awal kemarau, 56,2 persen lahan diprediksi terdampak. Luas lahan yang terdampak kemarau akan meningkat menjadi 76,7 persen atau 921.000 hektar pada puncak kemarau.

Menurut dia, kondisi ini menjadi tantangan serius mengingat total luas lahan baku sawah di Jatim lebih dari 1,2 juta hektar. Dari total luas lahan itu, 59,6 persen merupakan sawah irigasi, sedangkan 40,4 persen sisanya merupakan sawah tadah hujan.

Pemerintah Provinsi Jatim tetap menargetkan luas tambah tanam padi lebih dari 2,42 juta hektar pada tahun 2026. Lamongan, Bojonegoro, Ngawi, Banyuwangi, dan Jember adalah beberapa daerah dengan target tinggi.

Warga menarik bibit padi untuk ditanam di lahan yang  ditanami pohon mangga di Desa Semambung, Kecamatan Gedangan, Sidoarjo, Jawa Timur,  Senin (30/3/2026). Pola tanam tersebut disebut dengan tumpang sari yaitu sistem budidaya menanam dua jenis tanaman atau lebih secara bersamaan atau berurutan pada satu bidang lahan yang sama. Metode ini bertujuan mengoptimalkan penggunaan lahan, meningkatkan produktivitas, serta mengurangi risiko gagal panen melalui pemanfaatan sumber daya (cahaya, air, hara) secara efisien.

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

”Penguatan air menjadi penting, mitigasi kekeringan juga menjadi kunci utama dalam menjaga produktivitas pertanian dan ketahanan pangan di Jatim, terutama pada periode kritis bulan Mei dan Agustus 2026,” kata Khofifah.

Pada tahun 2025, produksi padi Jatim mencapai 10,57 juta ton gabah dengan produksi beras 6,1 juta ton. Dengan produksi sebesar itu, Jatim menjadi provinsi penyumbang beras terbesar nasional dan penyuplai pangan bagi 16 provinsi lain, terutama di wilayah timur Indonesia.

Implikasi kemarau panjang pada sektor pertanian di Jatim juga mendapat perhatian serius dari Kementerian Pertanian. Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian Kementerian Pertanian Asmarhansyah mengatakan, pihaknya berupaya menjamin kapasitas produksi pangan agar swasembada pangan tetap berkelanjutan melalui berbagai upaya strategis.

Salah satunya dengan memetakan wilayah langganan kekeringan, membangun sistem peringatan dini (early warning system), dan mitigasi kekeringan lebih awal. Upaya lain adalah dengan mengoptimalkan pengelolaan air irigasi melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, sumur air dangkal, dan sumber air lain serta memanfaatkan pompanisasi, perpipaan, dan irigasi perpompaan.

Upaya lain adalah mempercepat tanam pada wilayah potensial dengan menggunakan varietas padi genjah tahan kekeringan, seperti Inpari 38-46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, Cakrabuana, dan Inpago 4-13.

Dampak positif dan negatif El Nino

Asmarhansyah menambahkan, strategi lain ialah mengatur pola tanam sesuai kondisi iklim dan ketersediaan air di setiap wilayah. Selain itu, meningkatkan koordinasi dan sinergi antara pemerintah daerah dan semua pemangku kepentingan dalam pemantauan kondisi lahan pertanian.

”Pemetaan hingga per kecamatan terkait prediksi ketersediaan air pada puncak musim kemarau di daerah lumbung padi di Jatim oleh BMKG sangat bermanfaat,” ujarnya di Surabaya.

Sementara itu, petani punya upaya sendiri mempertahankan kelangsungan usaha pertanian guna menghadapi musim kemarau panjang tahun ini. Ketua Umum Perkumpulan Petani Pangan Nasional Jumantoro mengatakan, salah satu upaya yang dilakukan petani saat ini ialah mempercepat masa tanam.

”Jadi, setelah panen, lahan sawah langsung diolah lagi agar bisa ditanami. Hal itu dilakukan agar tanaman padi tidak kekurangan air karena masih ada hujan,” kata Jumantoro.

Menurut dia, mayoritas lahan pertanian belum memiliki akses langsung pada saluran irigasi. Petani mengandalkan hujan untuk pengairan sawah. Ketika memasuki musim kemarau, petani akan mengandalkan air sumur yang dipompa ke sawah untuk memenuhi kebutuhan pengairan tanaman.

Bagi Jatim, menjaga produksi padi berarti menjaga lumbung pangan seluruh Nusantara. Oleh karena itu, seluruh daya dikerahkan untuk menghadapi musim kemarau yang diprediksi lebih panjang tahun ini agar pangan tetap kuat.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Runik Sri Astuti
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti