Musim kemarau tahun 2026 diprediksi tiba lebih awal, berlangsung lebih lama dengan intensitas hujan lebih rendah dibandingkan rata-rata.
04 Mar 2026 14:36 WIB · Lingkungan
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
JAKARTA, KOMPAS — Musim kemarau di Indonesia tahun 2026 diperkirakan tiba lebih awal. Selain kemarau yang lebih panjang, sebagian besar wilayah Indonesia juga diprediksi mengalami musim kemarau yang lebih kering.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani, di Jakarta, Rabu (4/3/2026), mengatakan, 325 zona musim atau 46,5 persen diprediksi mengalami awal musim kemarau yang lebih maju dari waktu normalnya. Sebanyak 173 zona musim atau 23,7 persen diperkirakan sesuai waktu normal.
Sejumlah daerah yang mengalami musim kemarau lebih awal, antara lain, Aceh, Sumatera Utara, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.
Beberapa daerah lain juga mengalami musim kemarau lebih awal, meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sulawesi, Maluku Utara, Papua Barat, Papua Selatan, Papua Timur, dan Papua Pegunungan.
”Sebagian wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, yaitu ada 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia sejumlah 699,” kata Faisal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/a133e58f947b0275fa4ce3a51c4cb46b-IMG_6508.jpg)
Kemudian pada Mei 2026, sebanyak 184 zona musim atau 26,3 persen wilayah menyusul memasuki musim kemarau. Sementara pada Juni 2026 terdapat 163 zona musim atau 23,3 persen wilayah yang mulai memasuki musim kemarau.
Sebagian wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, yaitu ada 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia sejumlah 699.
”Puncak musim kemarau sebagian besar wilayah Indonesia atau di 429 zona musim atau sekitar 61,4 persen dari keseluruhan, diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026,” kata Faisal.
Daerah yang paling awal mengalami musim kemarau adalah Nusa Tenggara, yang kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat hingga mencakup wilayah Indonesia lainnya.
Tak hanya datang lebih awal, Faisal juga memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dan lebih kering dibandingkan dengan rata-rata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/15/6f117daa8178a42809f22676f4aeb2c1-FAK_9453.jpg)
”Sebagian besar wilayah Indonesia atau di 400 zona musim atau 57,2 persen diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari normalnya. Jadi, ini perlu dicatat bahwa musim kemarau yang akan kita hadapi pada 2026 akan lebih panjang dari normalnya,” jelas Teuku Faisal.
Sementara itu, akumulasi curah hujan pada periode musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia meliputi 451 zona musim atau 64,5 persen dari seluruh zona musim diprediksi pada kategori bawah normal. ”Ini artinya, sebagian besar lebih kering dari biasanya,” ucap Teuku Faisal.
Dia berharap, prediksi musim kemarau terbaru ini bisa menjadi dasar para pihak dalam menetapkan langkah-langkah dan program mitigasi, antisipasi, serta serta pijakan jangka panjang untuk berbagai sektor yang terdampak iklim.
Musim kemarau yang lebih awal dan lebih kering ini tidak bisa dilepaskan dengan perkembangan El Nino-Southern Oscillation (ENSO) yang memengaruhi kondisi iklim regional.
”Mengenai perkembangan El Nino-Southern Oscillation 2026 saat ini berada dalam fase netral. La Nina sudah berakhir pada Februari. Namun, El Nino berpeluang terjadi mulai di pertengahan tahun 2026,” kata Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/04/6485655577f09488c1bd2e474b7de437-IMG_6510.jpg)
El Nino adalah salah satu fase ENSO yang ditandai dengan suhu permukaan laut di Pasifik Tengah Ekuator yang lebih hangat dari biasanya. Hal ini dapat mengurangi curah hujan di Indonesia, terutama jika suhu perairan Indonesia dingin. Sementara itu, La Nina merupakan fenomena berkebalikan, dengan dampak lebih banyak hujan.
Menurut Ardhasena, suhu permukaan laut di Pasifik Ekuator berada pada indeks -0,28 sehingga masih dalam kategori ENSO netral. Demikian halnya, pemantauan suhu muka laut di Samudra Hindia, menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) netral dengan indeks +0,4.
Kondisi ENSO netral ini diprediksi akan berlangsung hingga Juni 2026. ”Selanjutnya mulai pertengahan tahun 2026, prediksi kami terdapat peluang sebesar 50-60 persen terjadi El Nino dengan kategori lemah-moderat. Sementara kondisi Indian Ocean Dipole diprediksi tetap Netral sepanjang tahun 2026,” kata Ardhasena.
Sebelumnya, Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Selasa (3/3/2026) juga merilis prediksinya tentang peluang terjadinya El Niño sebelum akhir tahun 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/07/260850cad78868c0fdfeb4f8b2a92c27-c591a997_95e4_46d8_81d7_ab0b1a4b8528.jpeg)
Dalam perkirannya, WMO menyebutkan, ada kemungkinan 60 persen kondisi ENSO netral selama periode tiga bulan dari Maret hingga Mei, dengan kemungkinan 30 persen kondisi La Nina dan El Nino dengan probabilitas 10 persen.
Untuk April-Juni, kemungkinan 70 persen kondisi ENSO netral. Pada Mei-Juli, kemungkinan kondisi ENSO netral turun kembali menjadi 60 persen, dengan kemungkinan El Nino sebesar 40 persen.
Fenomena El Nino kuat sebelumnya melanda pada 2023-2024. ”El Niño pada tahun 2023-2024 adalah salah satu dari lima terkuat yang pernah tercatat dan berperan dalam rekor suhu global yang kita lihat pada tahun 2024,” kata sekretaris jenderal WMO Celeste Saulo.
Adapun fenomena El Nino saat itu berkontribusi menjadikan tahun 2023 sebagai tahun terpanas kedua yang pernah tercatat dan tahun 2024 sebagai tahun dengan suhu tertinggi sepanjang masa.
Di Indonesia, dampak El Nino kuat pada 2023-2024 juga menyebabkan kebakaran hutan serta lahan yang meluas dan kekeringan sehingga menurunkan produksi tanaman pangan.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul