PIALA DUNIA 2026

Raksasa Santa Ursula Kembali Menyapa Dunia

Stadion Azteca selalu melahirkan momen-momen bersejarah sepak bola, yaitu dari gol ”Tangan Tuhan Maradona” hingga laga ”Abad Ini” antara Italia dan Jerman Barat.

11 Jun 2026 06:30 WIB · Olahraga

AFP/CARL DE SOUZA

Oleh Agung Setyahadi

Awal 1960-an, kawasan Santa Ursula merupakan area pertanian perdesaan yang tenang. Di era itu, perekonomian Meksiko tumbuh pesat, kota-kota ditumbuhi gedung-gedung baru. Stabilitas ekonomi pun memantik proyek besar pengembangan industri olahraga, khususnya sepak bola.

Maka, dibangunglah Stadion Azteca pada awal 1962 dengan ambisi menjadi stadion terbesar di Amerika Latin. Saat laga pembukaan antara klub Meksiko, Club America, dan klub Italia, Torino, pada 29 Mei 1966, stadion yang dijuluki ”Raksasa Santa Ursula” itu dipadati 107.000 penonton. 

Julukan ”Coloso de Santa Ursula” merupakam wujud kebanggaan rakyat Meksiko pada stadion gigantik yang kemudian mengubah wajah Meksiko dengan menjadi saksi sejarah sepak bola dunia. Dua legenda sepak bola dunia, Pele dan Diego Maradona, mengangkat trofi Piala Dunia di dalam perut Raksasa Santa Ursula itu. 

Pele, ”Sang Raja Sepak Bola”, membawa Brasil ke puncak dunia pada 1970 dengan melibas Italia, 4-1, di partai final. Sementara Maradona menginspirasi Argentina memenangi Piala Dunia 1986 dengan menundukkan Jerman Barat, 3-2. Dua momen bersejarah itu melekat dalam memori penduduk bumi, di mana Azteca tak terpisahkan. 

”Ada sesuatu yang istimewa tentang Azteca. Anda harus berada di dalamnya, merasakannya, agar dapat memahaminya. Ini unik,” ujar Pele, kini almarhum, dikutip FIFA. 

Selain dua laga final itu, Azteca juga merekam laga-laga besar, termasuk semifinal Piala Dunia 1970 antara Italia dan Jerman Barat yang disebut sebagai laga ”Abad Ini”. Pertemuan dua kekuatan besar sepak bola itu dimenangi Italia, 4-3, setelah babak tambahan waktu.

Workers renovate the Azteca Stadium during a press tour ahead of the 2026 World Cup, in Mexico City, Thursday, March 26, 2026. (AP Photo/Marco Ugarte)

Pada 1986, Azteca kembali melahirkan momen ikonik, gol ”Tangan Tuhan” Maradona dalam laga perempat final antara Argentina dan Inggris. Gol pertama Argentina pada menit ke-51 itu juga disebut gol ”Abad Ini”. 

Dari rahim Raksasa Santa Ursula itu lahir momen-momen bersejarah sepak bola dunia. Namun, empat dekade kemudian, sang raksasa mulai tenggelam dalam bayang-bayang kemegahan industri sepak bola Eropa.

Meksiko di awal 1990-an juga mengalami perlambatan ekonomi akibat krisis peso yang memicu investor hengkang. Meksiko kemudian terjebak dalam belenggu pertumbuhan ekonomi yang sangat lambat, cenderung stagnan. 

Laga pembuka

Setelah empat dekade menghilang dari panggung dunia, Raksasa Santa Ursula kembali menyapa dunia. Akhir pekan ini, perhatian dunia akan tertuju ke Azteca. Di sana akan digelar laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan. Laga ini sekaligus menjadi tonggak sejarah, yaitu Azteca menjadi satu-satunya stadion yang menggelar tiga laga pembuka Piala Dunia setelah 1970 dan 1986. 

Quote

Kita semua memiliki kenangan penting tentang Stadion Azteca dalam hidup kita.

Laga pembuka Piala Dunia 2026 ini menjadi momen penting bagi Hugo Broos, pelatih tim nasional Afrika Selatan. Mantan bek tengah Belgia itu akan menutup lingkaran sejarah hidupnya. Pada laga pembuka Piala Dunia 1986, dia membela Belgia melawan Meksiko di Azteca yang berakhir 2-1 untuk kemenangan tuan rumah.

Momen empat dekade lalu kini disempurnakan oleh Bross dengan memimpin tim ”Bafana Bafana” mengawali petualangan di pesta bola dunia. ”Itu laga yang fantastis dan sesuatu yang tidak akan pernah saya lupakan, 40 tahun yang lalu ketika kami menjalani laga pembuka melawan Meksiko. Saat itulah saya merasakan betapa istimewanya Piala Dunia,” ujar Broos mengenang bermain di hadapan sekitar 110.000 penonton. 

FILE - Brazil's Pele is hoisted on the shoulders of his teammates after Brazil won the World Cup final against Italy, 4-1, in Mexico City's Estadio Azteca, June 21, 1970. Pelé, the Brazilian king of soccer who won a record three World Cups and became one of the most commanding sports figures of the last century, died in sao Paulo on Thursday, Dec. 29, 2022. He was 82. (AP Photo, File)

”Saya sangat bahagia sebagai pemain, termotivasi, dan bersemangat. Sekarang saya kembali ke sini 40 tahun kemudian. Sungguh luar biasa hal itu terjadi. Sekali lagi saya bersemangat,” ujar Broos yang kini berusia 75 tahun. 

Dalam laga pembuka itu, Broos akan menjadi pelatih tertua di laga Piala Dunia, meskipun hanya untuk beberapa jam. Dalam laga berikutnya, Pelatih Ceko Miroslav Koubek—yang berusia tujuh bulan lebih tua—akan mengambil alih rekor itu saat melawan Korea Selatan di Guadalajara.

Kemudian, rekor pelatih tertua akan berpidah ke Dick Advocaat yang berusia 78 tahun saat memimpin Curacao di laga pertama mereka di Piala Dunia, yaitu melawan Jerman. 

Bagi Broos, momen-momen ikonik di Azteca itu membuat dia bisa pensiun dengan tenang. Dia pun sudah berjanji pada istrinya akan menepi dari sepak bola dan menikmati hidup setelah perhelatan Piala Dunia 2026.

”Selama beberapa tahun terakhir, saya sering berpikir untuk berhenti. Saya tidak ingin lagi terlibat dengan sepak bola setiap hari. Saya tidak lagi memiliki energi. Setelah Piala Dunia, saya akan berhenti, pergi ke keluarga saya dan menikmati 20 tahun berikutnya bersama cucu-cucu saya,” ucap Broos.

Lebih modern

Namun, dalam laga pembuka ini, Broos akan menjumpai Azteca yang berbeda, lebih segar dengan sentuhan teknologi modern. Stadion ikonik ini mengalami renovasi sejak 2024 dengan penambahan tempat duduk dari 83.000 menjadi 87.000, layar-layar video, lampu-lampu baru, ruang ganti modern, gerbang masuk baru, tata suara modern dengan menggunakan sekitar 340 speaker, serta lapangan dengan perpaduan rumput sintetis dan alami. 

Diego Maradona memegang trofi Piala Dunia setelah Argentina menang 3-2 atas Jerman Barat pada pertandingan final Piala Dunia di Stadion Azteca di Mexico City, Meksiko 29 Juni 1986. (AP Photo/Carlo Fumagalli, File)

Renovasi yang dilakukan itu melibatkan sekitar 2.200 pekerja yang bergiliran selama 24 jam. Penyegaran juga tetap mempertahankan jiwa dari Azteca yang bersejarah. ”Sangat penting untuk mempertahankan jiwanya. Jiwa adalah esensi dari stadion dan itulah yang kita semua nikmati,” ujar Direktur Stadion Azteca Felix Aguirre. 

”Kita semua memiliki kenangan penting tentang Stadion Azteca dalam hidup kita. Itulah mengapa kami melakukan renovasi ini, dipandu oleh visi Bapak (Emilio) Azcarraga dan dengan mempertimbangkan masa depan stadion, melestarikan jiwanya dan emosi yang ditimbulkannya,” ujar Aguirre. 

Renovasi Stadion Azteca yang dimiliki oleh keluarga Azcarraga itu kini sudah selesai, ditandai dengan laga persahabatan antara Meksiko dan Portugal yang berakhir 0-0 pada 28 Maret. Kini, stadion ini bersiap menyambut sejarah baru dengan laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan, Jumat (12/6/2026) mulai pukul 02.00 WIB. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Agung Setyahadi
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Yuliana Karim