Dari gencatan senjata di Gaza hingga semangat bangkit kembali setelah kebakaran dahsyat di Los Angeles, bulan puasa tahun ini disambut dengan penuh optimistis.
27 Feb 2025 12:17 WIB · Internasional
Ramadhan akan tiba pada akhir pekan ini. Ada negara yang menyambutnya pada Jumat (28/2/2025) dan ada yang Sabtu (1/3/2025). Pada tahun 2025 ini, Ramadhan dianggap membawa banyak angin perubahan dengan harapan yang positif. Sejumlah negara bangkit dari konflik maupun musibah.
Bagi warga Jalur Gaza di Palestina, Ramadhan 2025 datang dengan harapan bisa memberi ketenangan. Militer Israel dan Hamas pada 19 Januari lalu menandatangani perjanjian gencatan senjata yang dilakukan dalam tiga tahap, masing-masing selama 42 hari. Tahap pertama gencatan senjata berakhir pada Jumat (28/2) dan tahap kedua semestinya dimulai per Sabtu (1/3).
Warga Gaza pelan-pelan mulai kembali ke rumah masing-masing setelah selama 15 bulan tinggal di pengungsian. Pada 7 Oktober 2023, Hamas melancarkan serangan Badai Aqsa ke Israel yang menewaskan 1.112 warga Israel dan asing. Mereka juga menculik 251 orang untuk dijadikan sandera.
Israel membalas, bahkan melampaui tindakan pembelaan diri. Mereka menggempur Gaza, wilayah berpenduduk 2 juta orang, secara habis-habisan. Jumlah korban tewas, menurut Kementerian Kesehatan Gaza mencapai 48.300 jiwa. Militer Israel berdalih Hamas bersembunyi di tempat-tempat sipil sehingga korban jatuh tidak bisa dihindari.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/27/9d972a7a-fa39-4f80-8508-1b72c5ecc96a_jpg.jpg)
Kini, Hamas dan Israel telah melakukan pertukaran. Hamas di gencatan senjata tahap pertama ini berjanji membebaskan 33 orang sandera dan sebanyak 29 orang telah dipulangkan. Delapan orang di antaranya dalam keadaan meninggal. Berdasarkan data Tel Aviv, masih ada 62 sandera yang ditawan Hamas. Sebanyak 35 orang di antaranya diperkirakan sudah tiada.
Adapun Israel berjanji membebaskan 1.900 warga Palestina yang mereka penjara. Di tahap pertama, ada 620 tahanan Palestina yang telah dibebaskan. Mereka diantar dengan kendaraan Palang Merah ke Ramallah di Tepi Barat.
Setelah tahap pertama selesai, bisakah tahap kedua di bulan Ramadhan terlaksana? Najat Al-Agha (75) berharap demikian. Putranya, Diaa Al-Agha ditangkap pada usia 16 tahun karena terlibat konflik yang menewaskan seorang warga Israel. Sudah 33 tahun Diaa mendekam di penjara. Kepada Al Jazeera, Najat mengutarakan harapan menunggu kepulangan putranya untuk menjalankan Ramadhan bersama.
“Ini mimpi saya selama 33 tahun. Saya takut hidup saya berakhir tanpa melihat anak saya dibebaskan,” tuturnya.
Di Suriah, Ramadhan disambut dengan sukacita. Rakyat negara itu mendapat kejutan pada 8 Desember 2024. Kelompok Hayat Tahrir Al-sham, oposisi yang menentang kekuasaan Presiden Bashar Al-Assad, berhasil merebut Damaskus dan pemerintahan. Rezim keluarga Assad tumbang setelah 54 tahun bercokol di negara itu. Bashar Al-Assad bersama istri dan ketiga anaknya melarikan diri ke Rusia.
Suriah kini dipimpin oleh presiden de facto Ahmad Al-Sharaa atau yang semasa konflik dikenal dengan nama alias Abu Mohammad Al-Golani. Pada 30 Desember 2024, Al-Sharaa mengatakan, butuh waktu empat tahun untuk menyiapkan insfrastruktur dan masyarakatnya menjalani pemilihan umum. Jadwal tersebut jelas molor dari janji awal bahwa pemerintahan interim hanya berkuasa sampai dengan Maret 2025.
Meskipun begitu, rakyat menyambut dengan optimistis. Kantor berita nasional China, Xinhua melaporkan, perajin lampion tradisional Mohammad Al-Shayeb di Damaskus mulai membuat pesanan. Al-Shayeb sudah menjadi perajin lampion selama 35 tahun. Keterampilan itu warisan turun-temurun di keluarganya.
Ia mengatakan, harga bahan baku naik karena Suriah masih di dalam masa transisi. Otomatis, harga lampion juga turut naik. Akan tetapi, pelanggan mulai berdatangan, meskipun tidak sebanyak tahun lalu, untuk memesan lampion. Mereka tetap ingin memberi warna sukacita di bulan suci.
Sementara di Gaza gencatan senjata, di Sudan perang saudara masih berlangsung. Pekan lalu, dalam pertemuan di Etiopia, Uni Emirat Arab (UEA) menyerukan jeda kemanusiaan selama bulan puasa. Perang Sudan meletus pada 15 April 2023, persis sepekan sebelum Ramadhan dimulai. Bahkan, rakyatnya tidak bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri 2023 karena sibuk mengungsi dari Khartoum ke kota-kota lain.
Perang saudara ini antara Panglima Militer Sudan Jenderal Abdel Fattah Burhan melawan Jenderal Mohamed Hamdan Dagalo, pemimpin Pasukan Dukungan Cepat (RSF). Kedua perwira ini pada 2019 mengudeta presiden Omar Bashir. Mereka menjanjikan pemerintahan sementara dan pemilu. Ternyata, mereka berdua yang kemudian berebut kekuasaan. Walhasil, 12 juta rakyat Sudan yang terpaksa mengungsi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/27/e603f9c9-f967-497b-8434-ce52cb2bd5e3_jpg.jpg)
UEA dikritik oleh dunia karena mendukung RSF. Mereka menyokong persenjataan dan dana untuk RSF. Jumlah korban tewas di Sudan besar, yakni 61.000 jiwa. BBC mengutip hasil penelitian Sekolah Kajian Pengobatan dan Kebersihan Tropis (LSHTM) November 2024. Dikatakan, 26.000 korban tewas langsung akibat konflik. Sisanya meninggal akibat kelaparan serta penyakit yang tidak terobati karena ketiadaan akses.
“Kami minta jeda kemanusiaan selama Ramadhan supaya bisa menyalurkan bantuan sosial,” kata Menteri Urusan Kerja Sama Internasional UEA Reem Al-Hashimy pada 14 Februari 2025.
Di Los Angeles, Negara Bagian California, Amerika Serikat, Ramadhan adalah kebangkitan kembali. Kota itu baru mengalami musibah kebakaran yang menghanguskan wilayah seluas 146 kilometer persegi dan menewaskan 17 orang.
Di Altadena, salah satu distrik di LA, Masjid Al-Taqwa sudah rata dengan tanah. Masjid berusia 42 tahun itu sebelumnya adalah pusat kegiatan warga beragama Islam di Altadena. Walaupun begitu, komunitas Muslim setempat tidak patah semangat. Mereka menjalankan ibadah dan menyiapkan kegiatan Ramadhan di sekolah swasta Islam di sana.
Padahal, para anggota komunitas Muslim itu masih mengalami kesusahan. Banyak di antara mereka kehilangan rumah akibat kebakaran. Mereka kini masih tinggal di penginapan. Oleh sebab itu, Ramadhan ini menjadi wadah pemulihan bagi komunitas tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/27/ee34416a-0bf9-4820-979e-92601aee8259_jpg.jpg)
“Ini bukan cuma ritual shalat dan berpuasa. Ramadhan itu waktunya kita saling membantu dan memperhatikan. Dua hal yang sangat penting setelah musibah kebakaran,” kata Junaid Aasi, profesional di bidang teknologi informasi yang selama ini menjadi imam di Masjid Al-Takwa.
Di masjid itu, umatnya datang dari berbagai penjuru dunia. Selain warga AS, banyak pula di antaranya diaspora Bagladesh, Aljazair, Maroko, India, Pakistan, Arab, dan Turki. Beragam kelompok etnis dan warna kulit beribadah dan bersosialisasi di sana. Semangat itu yang ingin diteruskan oleh Aasi dan para pengurus masjid, walaupun masjidnya sudah roboh.
“Kami akan membangun kembali bersama-sama,” kata Sakeenah Ali, salah seorang jamaah. (AP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari