Video detik-detik penembakan Aipda Robig Zaenudin kepada Gamma Rizkynata Oktafandy (17) dan dua pelajar SMKN 4 Semarang beredar di media sosial. Apa isinya?
03 Des 2024 19:00 WIB · Nusantara
SEMARANG, KOMPAS — Sebuah rekaman kamera pemantau (CCTV) yang mendokumentasikan detik-detik penembakan yang dilakukan oleh Ajun Inspektur Dua Robig Zaenudin kepada Gamma Rizkynata Oktafandy (17) dan dua rekannya di kawasan Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah, ramai beredar di media sosial. Dalam rekaman tersebut diketahui tidak ada tanda-tanda perlawanan dari para korban hingga mendesak Robig melepaskan tembakan.
Rekaman video berdurasi 41 detik itu berasal dari rekaman CCTV sebuah minimarket di kawasan Bambankerep, Ngaliyan, Minggu (24/11/2024) sekitar pukul 00.19. Dalam video tersebut, seorang pengendara sepeda motor yang melaju dari arah selatan berhenti di seberang minimarket.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/4d9ea74c-5101-4a0f-b88f-ebf4a1bdce8a_jpg.jpg)
Tak berselang lama, orang itu memarkirkan sepeda motornya melintang di tengah jalan. Lalu, dia mengeluarkan sesuatu dan mengarahkan tangannya ke tiga sepeda motor yang melintas dari arah selatan. Benda yang dipegang orang itu mengeluarkan percikan api saat diarahkan ke sepeda motor pertama.
Ketiga sepeda motor itu tetap melaju ke arah utara. Setelah beraktivitas, orang itu limbung hingga terjatuh. Ia lantas bangun dan mencoba memacu kendaraannya hingga kembali terjatuh. Saat sudah bangun, orang itu memacu kendaraannya ke arah utara.
Pendamping Hukum Keluarga Gamma, Subambang, menuturkan, melalui video itu terungkap bahwa klaim polisi mengenai latar belakang penembakan terbantahkan. Dalam berbagai kesempatan, polisi mengklaim, Robig terpaksa melepaskan tembakan lantaran diserang saat ingin membubarkan dua kelompok yang sedang tawuran.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/9b1a7c18-f889-4f41-94f8-4e580a643fdb_jpg.jpg)
”Pertama itu, mereka bilangnya (Robig) diserang. Tapi, faktanya, kami melihat video yang kami dapat tidak ada penyerangan, tidak ada ancaman jiwa terhadap polisi dan masyarakat lainnya. Sehingga, seharusnya polisi tidak melakukan penembakan langsung. Kenapa langsung nembak kepada sasaran yang mematikan?” kata Subambang dalam konferensi pers, Selasa (3/12/2024).
Tak hanya membantah dalih Robig melakukan penembakan, video itu juga menunjukkan bahwa penembakan dilakukan lebih dari dua kali. Selama ini, polisi mengklaim ada dua kali tembakan yang dilepaskan Robig.
Dalam rapat dengar pendapat di Dewan Perwakilan Rakyat, Selasa, rekaman video CCTV penembakan itu juga sempat diputar. Selain video CCTV penembakan, video-video lain yang disebut polisi sebagai video kejar-kejaran antarkelompok yang tawuran juga diputar dalam rapat, Selasa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/02/9d8edb6a518ce8d14fad84c706877620-IMG_9518.JPG)
Saat memberikan penjelasan dalam rapat, Selasa, Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang Komisaris Besar Irwan Anwar berulang kali menyebutkan, Gamma terlibat dalam tawuran dan merupakan anggota gengster. Keluarga Gamma mengaku keberatan dengan pernyataan Irwan tersebut.
Mereka bilangnya (Robig) diserang. Tapi, faktanya, kami melihat video yang kami dapat tidak ada penyerangan, tidak ada ancaman jiwa terhadap polisi dan masyarakat lainnya. Sehingga, seharusnya polisi tidak melakukan penembakan langsung. Kenapa langsung nembak kepada sasaran yang mematikan?
Agung (49), paman Gamma, menyebut, kemenakannya tersebut merupakan anak yang baik dan tidak pernah membuat masalah. Agung tak percaya kemenakannya itu dituduh mengajak tawuran, bahkan disebut membeli senjata tajam untuk tawuran.
”Kami tidak percaya yang bersangkutan tawuran. Apalagi, kalau dilihat dalam video CCTV itu juga kita tidak melihat adanya senjata tajam yang katanya dibawa Gamma,” ujar Agung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/0e7636d8d469ed9c3c6b9c328fecc04a-IMG_9535.JPG)
Keluarga Gamma meminta polisi tidak melakukan rekayasa dalam kasus tersebut. Mereka ingin agar kebenaran yang diungkap. ”Kami minta kebenaran itu diungkap, bukan direkayasa,” tutur Subambang.
Saat rapat, Selasa, polisi mengungkapkan fakta baru. Dari pemeriksaan yang dilakukan Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jateng, Robig mengaku melepaskan empat tembakan. Dari empat tembakan yang dilepaskan itu, dua di antaranya melukai tiga orang, termasuk Gamma. Gamma meninggal dunia dan dua temannya, yaitu A (17) dan S (16), mengalami luka-luka.
”Perbuatan terduga pelanggar terekam oleh bukti elektronik (video CCTV) yang tadi sudah disampaikan. Akibat penembakan, satu orang meninggal dunia. Penembakan yang dilakukan tidak terkait dengan pembubaran tawuran,” tutur Kepala Bidang Propam Polda Jateng Kombes Aris Supriyono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/750abd83-1b6c-4582-a431-897a35480a77_jpg.jpg)
Aris menyebutkan, Robig dalam perjalanan pulang dari kantor, kemudian ketemu dengan satu sepeda motor yang dikejar tiga sepeda motor lain. Kala itu, motor yang ditumpangi Robig disebut Aris dipepet oleh salah satu kendaraan yang tengah kejar-kejaran. Seusai kejadian itu, Robig menunggu tiga kendaraan itu putar balik, lalu menembak ke arah kendaraan-kendaraan itu saat mereka melintas di dekat Robig.
Sebelumnya, komisioner Komisi Nasional Kepolisian Muhammad Choirul Anam menyebut, perbedaan keterangan versi polisi dan keluarga Gamma mengenai keterlibatan Gamma dalam aksi tawuran hanya bisa dibuktikan secara ilmiah.
”Kita perlu me-review jejak digitalnya karena itu tidak bisa diubah. Kalau berdasarkan persepsi, setiap orang punya narasi sendiri, punya versinya sendiri-sendiri. Tapi, sekali lagi, kita kembalikan pada sesuatu yang secara obyektif bisa dilihat dan diukur oleh semua orang, salah satunya jejak digital itu,” ujarnya di Semarang, Senin (2/12/2024).
Penulis:
Kristi Dwi UtamiEditor:
C. Wahyu Haryo P