Sikap AS yang dianggap mengkhianati Eropa membuat para sekutu menyesali keputusan membeli persenjataan dari Washington DC.
24 Mar 2025 18:30 WIB · Internasional
KOPENHAGEN, SENIN – Negara-negara sekutu Amerika Serikat mulai menyesali keputusan mereka membeli persenjataan dari Amerika Serikat. Jet tempur tercanggih AS dan sekutunya saat ini, F-35, termasuk yang disesali.
Penyesalan pada F-35 antara lain karena isu ada ”tombol pemati” pada jet itu dan aneka persenjataan lain buatan AS. Sebab lain penyesalan, sikap Presiden AS Donald Trump yang cenderung menjengkelkan para sekutunya.
Penyesalan terbaru diutarakan anggota DPR Denmark, Rasmus Jarlov, melalui media sosialnya pada Senin (24/3/2025). Ia pemimpin delegasi perundingan pembelian beberapa persenjataan dari AS, termasuk F-35.
Keresahan diungkap menjelang kedatangan istri Wakil Presiden AS, Usha Vance, pada Kamis ini. Ia akan hadir bersama Penasihat Keamanan Nasional AS Mike Waltz dan Menteri Energi Chris Wright.
Negosiasi berlangsung sejak 2020 dan Denmark telah membayar untuk membeli 27 pesawat tempur jenis F-35A Lightning II. Sejauh ini, 17 unit F-35 diterima Denmark. Pengiriman terakhir adalah tiga unit F-35 pada Januari 2025.
Sejak 2020, Jarlov ikut merundingkan pembelian hingga 27 unit jet tempur F-35A Lightning II. Sejauh ini, 17 unit F-35 diterima Denmark. Pengiriman terakhir adalah tiga unit F-35 pada Januari 2025.
Sejak pengiriman terakhir, beredar gosip bahwa F-35 memiliki tombol pemati. Menurut kabar angin itu, tombol pemati memungkinkan AS mengendalikan semua unit F-35 dari jarak jauh, terlepas pesawat itu dioperasikan negara-negara lain.
Tombol itu katanya bisa menghancurkan pesawat jika pesawat jatuh ke tangan musuh. AS tidak mau teknologi F-35 jatuh ke tangan lain.
AS secara tak langsung menunjukkan tombol selepas mundur dari Afghanistan dan meninggalkan banyak kendaraan tempur. Untuk berfungsi, seperti dilaporkan Financial Times, aneka kendaraan tempur itu perlu sistem operasi.
Dari salah satu pangkalan di tanah AS, Washington bisa menghentikan sistem operasi itu. Tidak peduli di mana pun rudal, pesawat, helikopter, atau tank tersebut, AS bisa mematikannya dari jauh.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/23/f52dea26-fc7a-4915-9d58-e3d532aed230_png.png)
Gosip itu dibantah, baik oleh Lockheed Martin selaku pembuat F-35, Departemen Pertahanan AS, maupun Pemerintah Denmark. Akan tetapi, masyarakat Denmark sudah telanjur takut dan kepercayaan terhadap AS menurun.
”Saat ini, sukar sekali memercayai perkataan AS. Mereka bisa dengan mudahnya mengendalikan pesawat-pesawat tempur kita,” kata Jarlov, dikutip Wirtualna Polska edisi Sabtu (22/3/2025).
Jarlov menjelaskan, terlepas dari tidak benarnya rumor soal tombol itu, AS tetap bisa menghentikan kedaulatan Denmark memiliki F-35. Hal ini karena AS bisa menghentikan pengiriman suku cadang ataupun layanan perawatan dan pemutakhiran pesawat. Ini saja bisa membuat pesawat-pesawat itu tidak bisa dipakai.
Keputusan memborong F-35 ini karena Denmark ingin memensiunkan unit-unit pesawat F-16A/B MLU mereka. Bahkan, sejak Agustus 2024, pesawat-pesawat F-16 milik Denmark sudah mulai dikirim ke Ukraina.
Kyiv membeli persediaan lama senjata dari negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ataupun negara lain. Selain Ukraina, Denmark juga menjual F-16 bekas mereka ke Argentina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/13/635638e2-8da1-4f94-b81b-dd4fa49ee8c7_jpg.jpg)
Kekhawatiran Kopenhagen ini mengemuka sejak Presiden AS Donald Trump mengatakan hal-hal yang dianggap merendahkan NATO ataupun negara-negara sekutu. Trump mengatakan, AS tidak mau lagi menanggung beban terbesar pembiayaan NATO.
Di samping itu, sikap Trump juga condong lebih dekat ke Presiden Rusia Vladimir Putin. Negara-negara Eropa sebagai wilayah yang terdampak langsung oleh Perang Ukraina menilai sikap Trump membahayakan masa depan gencatan senjata. Bahkan, Trump seolah menyetujui kapitulasi wilayah-wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.
Bagi Denmark, kekecewaan bertambah dengan omongan Trump yang hendak mencaplok Greenland. Pulau terbesar di dunia itu adalah wilayah otonomi di bawah Kerajaan Denmark.
Trump mengungkapkan minat menguasai cadangan mineral di Greenland dan menuduh Denmark selama ini menelantarkan Greenland. Ucapan ini menyinggung Kopenhagen. ”Membeli persenjataan dari AS sekarang menjadi ancaman keamanan kita. Denmark tidak boleh terjatuh ke dalamnya,” kata Jarlov.
Menurut dia, jika Denmark masih menggantungkan perangkat pertahanannya kepada AS, ada risiko AS bisa memanfaatkannya untuk menekan Kopenhagen. Ia membayangkan situasi ketika Denmark menolak menyerahkan Greenland kepada AS. Washington DC membalas dengan melumpuhkan persenjataan yang mereka jual kepada Denmark sehingga negara itu rentan diserang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/ff4886a1-01ed-432b-87de-4984c040f0ad_jpg.jpg)
Analis pertahanan Sash Tusa menyampaikan kekhawatiran senada. ”Apa gunanya Denmark mengirimkan F-35 untuk melindungi Greenland?” ujarnya merujuk pada kemungkinan jet itu tak bisa beroperasi kalau AS tak mengizinkannya.
Pesawat ini mengandalkan pembaruan berkelanjutan dan dukungan pemeliharaan dari AS. Semua melalui Sistem Informasi Logistik Otonomnya—yang akan digantikan program anyar yang dikenal dengan ODIN (Jaringan Terpadu Data Operasional). Sistem ini mengelola segalanya, mulai dari perencanaan misi dan basis data ancaman hingga diagnostik pemeliharaan.
”Masalah dengan peralatan pertahanan yang sangat canggih adalah [peralatan ini membutuhkan] begitu banyak dukungan dari vendor sehingga jika vendor memutuskan berhenti mendukung [peralatan ini], peralatan tersebut akan berhenti bekerja. Jika tidak seketika, akan sangat, sangat cepat,” kata Tusa.
Sikap AS terhadap Denmark dan Greenland itu mengejutkan Eropa. Mereka kini melihat bahwa ancaman terhadap Eropa bukanlah China ataupun Rusia, melainkan AS yang selama ini merupakan teman dekat.
Sekutu lain AS, yaitu Kanada dan Portugal, juga mempertimbangkan kembali pembelian persenjataan dari AS. Secara keseluruhan, ada 19 negara yang membeli F-35 dari AS. Mereka antara lain Inggris, Australia, Israel, Norwegia, dan Italia.
Kanada sedang terlibat perang dagang dengan AS. Trump menjatuhkan tarif impor sebesar 25 persen untuk produk-produk dari Kanada. Menurut Trump, Kanada minim usaha menghentikan masuknya imigran gelap dan narkoba fentanil ke AS.
Tuduhan itu dibantah Kanada. Kurang dari 1 persen imigran gelap di AS masuk melalui Kanada. Ottawa mengucurkan dana 1,3 miliar dollar Kanada untuk memperketat pengawasan di perbatasan. Akan tetapi, hal ini tidak membuat Trump mencabut tarif impor tersebut.
Menteri Pertahanan Kanada Bill Blair mengatakan, pihaknya sedang mencari pilihan lain pengganti F-35. Atas perintah Perdana Menteri Mark Carney, Ottawa sedang mengevaluasi ulang semua ketersediaan alternatif untuk pertahanan mereka.
Kementerian Pertahanan ditugasi memastikan apabila pembelian F-35 memang sesuai dengan kebutuhan Kanada. Melansir Defense Express, Kanada mempertimbangkan pesawat tempur JAS 39 Gripen buatan Swedia.
Secara teknologi, Gripen memang tidak secanggih F-35. Akan tetapi, pesawat ini mudah dioperasikan dan dipelihara. Apabila dihitung-hitung jauh lebih efektif dan efisien daripada F-35.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/12/04/20201204-H04-GKT-Pesawat-tempur-mumed_1607096890.png)
Sementara Portugal mengambil langkah ekstrem. Pada 13 maret 2025, Menhan Nuno Melo mengumumkan pembatalan pembalian F-35.
Persoalannya, Melo merupakan bagian dari pemerintahan PM Luis Montenegro yang masa jabatannya akan segera usai. Belum diketahui jika Montenegro kalah di dalam pemilihan umum, penerusnya akan melanjutkan keputusan tersebut.
Melo mengatakan, AS bukan lagi mitra perdagangan ataupun pertahanan yang bisa dipercaya. Apabila Portugal hendak mengganti unit-unit F-16 mereka, sebaliknya dicari dari pilihan pesawat tempur buatan berbagai negara Eropa. Selain Gripen, pilihan potensial adalah Dassault Rafale buatan Perancis.
Sepekan berikutnya, pada Kamis (20/3/2025), Uni Eropa mengumumkan bahwa para anggota blok itu sebaiknya membeli alat-alat pertahanan dan persenjataan dari sesama. Komisi Eropa mengumumkan rencana kesiapsiagaan tahun 2030.
Intinya, bersiap menghadapi risiko ancaman dari Rusia dengan memaksimalkan kemampuan Eropa. ”Ini arsitektur pertahanan yang berubah dan harus disiapkan dengan saksama,” kata Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Ia menuturkan, selama ini UE dan NATO terlena dengan kehadiran AS di antara mereka. Akibatnya, UE mengambil langkah salah memercayai AS sepenuhnya dan tidak menyangka pemerintahan AS sekarang mengambil langkah yang berbeda. Oleh sebab itu, jika negara-negara UE saling membeli persenjataan dan alat-alat pertahanan, hal itu menguntungkan dari segi ekonomi dan perkembangan teknologi. (AP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari