Laga tersengit di fase gugur Liga Champions musim lalu, antara PSG dan Liverpool, akan kembali tersaji di Paris. Liverpool tampak mengkhawatirkan jelang laga itu.
07 Apr 2026 16:10 WIB · Olahraga
AP PHOTO/DAVE THOMPSON
PARIS, SELASA — Jika saat dalam bentuk terbaik saja Liverpool masih kalah dari Paris Saint-Germain, apalagi ketika mereka sedang di titik terendah seperti saat ini. Teori itu bisa menjadi ramalan bagi Liverpool jelang menantang sang juara bertahan sekali lagi. Hanya aura Liga Champions yang bisa menyelamatkan ”Si Merah”.
Liverpool akan bertandang ke markas PSG, Stadion Parc des Princes, Paris, Perancis, dalam laga pertama perempat final Liga Champions, Kamis (9/4/2026) pukul 02.00 WIB. Itu merupakan pertama kedua tim, setelah Liverpool kalah adu penalti di babak 16 besar pada musim lalu.
Pelatih Liverpool Arne Slot sempat begitu percaya diri. ”Apakah kami takut dengan PSG? Kami tidak takut siapa pun. Kami terpukau dengan kualitas mereka. Mereka sedang meningkat. Namun, setelah melihat performa kami malam ini, mereka tidak akan senang bertemu kami,” ujarnya tiga pekan lalu.
Masalahnya, banyak hal terjadi di kubu Mohamed Salah dan rekan-rekan dalam tiga pekan terakhir, seusai menang besar di laga kedua 16 besar atas Galatasaray, 4-0. Liverpool kalah dua kali beruntun, dari Brighton and Hove Albion, 1-2, di Liga Inggris dan Manchester City, 0-4, di perempat final Piala FA.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/04/24dcdcd74298c6316d690d36673f9cf1-Britain_Soccer_FA_Cup.jpeg)
Kemenangan atas Galatasaray ternyata hanya sebatas fatamorgana bagi Si Merah. Bukan mereka yang meningkat, melainkan tim lawan yang tampil jauh di bawah standar. Lihat saja tren lima laga terakhir, Liverpool hanya menang sekali, satu-satunya itu diraih di kandang atas Galatasaray.
Slot jelas belum menemukan obat dari inkonsistensi Liverpool yang sudah terjadi sejak awal musim. Permasalahan terbesar mereka adalah intensitas bermain. Saat dibungkam City pada Sabtu lalu, misalnya, mereka bisa tampil intens selama setengah jam awal, lalu kehilangan energi di setengah jam berikutnya.
Problem itu bisa disebabkan dua hal, ketajaman fisik atau daya juang. Bagi Slot, itu lebih ke masalah moral pemain. ”Saya tidak (hanya) merindukan daya juang, tetapi juga keinginan kami untuk memenangi duel. Itu sesuatu yang harus benar-benar kami perbaiki di laga Rabu (waktu Paris) nanti,” kata Slot.
Jika tidak segera berubah, Liverpool hampir pasti akan menjadi bulan-bulanan di Paris. PSG sedang dalam tren menanjak. Mereka memulai dengan perlahan di babak grup, lalu perlahan mengakselerasi di babak gugur. Grafik itu mirip dengan yang terjadi musim lalu saat mereka keluar sebagai juara.
Chelsea, tim berstatus juara dunia, merasakan sendiri sengatan tim asuhan Pelatih Luis Enrique itu. Mereka ditaklukkan dengan agregat 2-8 di babak 16 besar. Hasil itu sekaligus memperkuat status PSG sebagai pemusnah tim-tim Inggris. Musim lalu, mereka mengeliminasi Aston Villa, Arsenal, dan Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/12/dc4443f248dbeab62d06c82d5f8df94b-wires_photo_2025_03_12T140356.384.jpg)
Sisi kanan pertahanan berpotensi menjadi awal petaka Liverpool. Mereka masih belum memiliki bek sayap kanan reguler sejak awal musim, sejak kepergian Trent Alexander-Arnold. Gelandang Dominik Szoboszlai dan bek tengah Joe Gomez sampai berkali-kali dicobai di posisi tersebut.
Masalahnya, PSG memiliki seorang Khvicha Kvaratskhelia di sisi kiri lini serang. Pemain sayap asal Georgia itu sedang berapi-api. Dia sudah berkontribusi terhadap 11 gol dari 11 laga di Liga Champions (7 gol, 4 asis). Itu sudah mencapai kontribusi kedua terbanyak di satu edisi turnamen dalam sejarah klub.
Musim lalu, Liverpool berhasil mencuri kemenangan 1-0 di Stadion Parc des Princes. Walaupun menang, mereka digempur habis-habisan dalam laga tersebut. Penampilan cemerlang kiper Alison Becker menjadi pembeda. Untuk konteks, mereka datang sebagai tim pemuncak klasemen Liga Inggris ketika itu.
Ada kesamaan di antara PSG dan Liverpool. Mereka sama-sama tim yang sangat ofensif. Itu terlihat dari jumlah tembakan tepat sasaran sepanjang turnamen musim ini. PSG (90 kali) dan Liverpool (85) merupakan dua tim dengan tembakan ke arah gawang terbanyak hingga jelang perempat final.
Bedanya adalah efisiensi. PSG berhasil mencetak 34 gol dari 25,2 xg (ekspektasi gol), sementara Liverpool hanya menghasilkan 24 gol dari 27,7 xG. Lini serang Si Merah yang dipimpin Salah perlu lebih klinis jika ingin masih punya kesempatan lolos saat berbalas tandang ke Stadion Anfield.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/19/8bc9b200f22e5815077a3240f5814ac3-wires_photo_2026_03_19T160237.411.jpg)
Terlepas dari segala keunggulan PSG, Enrique tetap menghormati Liverpool. ”Liverpool memberikan kenangan baik kepada kami. Saya ingat musim lalu, Liverpool adalah tim terbaik yang pernah kami hadapi di fase ini. Di laga seperti ini, tidak ada tim yang difavoritkan,” ucap Enrique.
Liverpool boleh saja tidak diunggulkan. Namun, Liga Champions sering kali bekerja dengan cara berbeda. Bukan tanpa alasan, Si Merah sudah enam kali mengangkat trofi ”Si Kuping Lebar”. Liverpool memiliki aura besar di turnamen tersebut dan itu pula yang bisa menyelamatkan mereka dari ”kiamat”. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra