GAZA, SABTU — Israel melancarkan Operasi Kereta Gideon ke Gaza. Tujuan operasi itu untuk menduduki Gaza. Serangan dilancarkan di tengah kebekuan relasi antara petinggi Amerika Serikat dan petinggi Israel.
Dalam pernyataan pada Sabtu (17/5/2025), militer Israel, Tzahal, mengumumkan serangan masif ke Gaza. ”Operasi ini bagian perluasan pertempuran di Jalur Gaza,” demikian pernyataan Tzahal.
Pasukan, lanjut Tzahal, bertujuan mengendalikan area di Jalur Gaza. Dilaporkan The Jerusalem Post, pasukan darat Tzahal telah menduduki sebagian besar wilayah Gaza.
Tank-tank Israel terlihat, antara lain, di Beit Lahia sampai Al-Salateen. Sisa rumah dan tenda-tenda digilas tank dan aneka panser Israel.
Operasi Kereta Gideon, menurut sumber The Jerusalem Post, tidak bertujuan sekadar menyerbu sasaran di Gaza. Operasi itu akan mempertahankan pendudukan di setiap lokasi yang sudah diserbu Tzahal.
Dalam pernyataan pada awal Mei 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengungkap rencana serangan baru ke Gaza. Tujuan pokoknya menduduki Gaza dan memaksa penduduknya keluar dari wilayah itu.
Dalam surat kepada pemerintah pada Selasa pekan ini, sejumlah anggota parlemen Israel meminta kejelasan tujuan operasi. ”Perdana Menteri secara tidak akurat menyampaikan tujuan operasi dan tidak memaparkan pencapaian sejauh ini,” demikian surat itu.
Pada April 2025, Israel memanggil sampai 60.000 anggota pasukan cadangan untuk menyiapkan serbuan yang belakangan dinamai Operasi Kereta Gideon itu. Media Israel, N12, melaporkan setidaknya 10.000 orang tidak memenuhi panggilan.
Konsep pertahanan Israel mewajibkan semua warga berusia 18-60 tahun jadi tentara aktif atau cadangan. Dengan demikian, praktis tidak ada warga sipil di antara orang dewasa Israel.
Konsep itu juga mewajibkan setiap orang dewasa Israel siap tempur kapan saja. Wujudnya termasuk membawa senapan dan magazin serta peluru cadangan kapan saja dan di mana saja.
Serangan udara
Sejak Jumat sampai Sabtu dini hari, setidaknya 150 serangan udara dilancarkan. Sebelum itu, Israel telah melancarkan ribuan serangan udara dan pengeboman dari tank dan meriam sejak 18 Maret 2025.
”Gelombang terbaru bom dan penolakan bantuan kemanusian menggarisbawahi bahwa tampaknya ada dorongan untuk melakukan perubahan demografi permanen di Gaza yang bertentangan dengan hukum internasional dan sama saja dengan pembersihan etnis," kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HAM Volker Turk.
Kecaman pada operasi itu juga dilontarkan sejumlah anggota Uni Eropa. ”Hari ini, saya bersama pemimpin Eslandia, Irlandia, Malta, Norwegia, Slovenia, dan Spanyol mengutarakan keprihatinan mendalam atas situasi di Gaza,” kata PM Luksemburg Luc Frieden.
Para pemimpin Uni Eropa itu meminta Israel menghentikan Operasi Kereta Gideon. Sebelumnya, kecuali Malta, negara-negara itu telah mendesak Israel agar tidak memperluas serangan ke Gaza.
”Peningkatan ketegangan militer di Gaza hanya akan memperburuk situasi yang sudah parah bagi warga sipil Palestina dan mengancam keselamatan sandera,” ujar mereka.
Perwakilan keluarga sandera juga kecewa dan putus asa pada Operasi Kereta Gideon. Bagi mereka, operasi itu semakin menutup kesempatan menyelamatkan kerabat mereka yang ditawan di Gaza.
Pembebasan terakhir terjadi pada Edan Alexander, tentara Israel yang juga warga Amerika Serikat. Pembebasan itu tidak melibatkan Israel, tetapi perundingan AS-Hamas dengan mediasi antara lain oleh Suha Arafat. Perempuan itu merupakan janda dari Yasser Arafat, mendiang pemimpin Palestina.
Sejak Oktober 2023 terbukti bahwa lebih banyak sandera selamat lewat proses perundingan. Sementara sebagian malah tewas akibat pengeboman Israel.
Meski demikian, Netanyahu dan pendukungnya berkeras melanjutkan dan memperluas serangan ke Gaza. Operasi Kereta Gideon menjadi gelombang terbaru serangan.
Seperti dalam 1,5 tahun terakhir, serangan membabi buta Israel menyasar berbagai lokasi. Rumah sakit pun termasuk target pengeboman Israel. ”Ruang operasi dan ICU penuh. Kami tidak bisa menerima pasien lagi,” kata Direktur RS Indonesia di Gaza, Marwan Sultan.
Sebagian bangunan rumah sakit sumbangan warga Indonesia itu telah dihancurkan Israel. Dengan demikian, rumah sakit itu tidak bisa beroperasi penuh.
Para dokter dan perawat di rumah sakit, lanjut Sultan, tidak hanya harus mengoperasi atau mengobati pasien. Sebagian harus mendonorkan darah pula.
Sementara Tom Potokar, dokter bedah asal Inggris yang bekerja di RS Eropa di Gaza, menyebut enam bom menyasar rumah sakit itu. ”Serangan amat besar tepat di depan ruang gawat darurat,” ujarnya.
Lewat rekaman video yang dibagikannya, Potokar menyebut RS Eropa di Gaza jadi sasaran langsung serangan Israel. Serangan tanpa henti membuat aneka perawatan nyaris mustahil dilakukan.
Dampaknya, banyak pasien telat ditangani. ”Kami sering baru bisa merawat saat kondisi pasien sudah parah. Lukanya sudah ada belatung,” ujarnya kepada BBC.
Trump mengabaikan
Operasi Kereta Gideon dilancarkan selepas Presiden AS Donald Trump merampungkan lawatan ke Timur Tengah. Lawatan itu mengejutkan banyak pihak. Sebab, Israel tidak disambangi Trump.
Hubungan Trump-Netanyahu dilaporkan memburuk. Trump dilaporkan melarang komunikasi langsung seluruh pejabat AS dengan Netanyahu dan sejumlah petinggi Israel.
Beberapa media Israel melaporkan, Trump menuding Netanyahu terus mengakali AS soal Timur Tengah. Karena itu, Trump memutuskan komunikasi langsung dengan Netanyahu dan sejumlah petinggi AS.
Kejutan lain adalah, pada Jumat, Trump menyebut banyak orang kelaparan di Gaza. Itu pernyataan pertama petinggi AS yang mengakui kelaparan di Gaza.
Berbagai pihak, termasuk Kantor PBB untuk Bantuan Kemanusiaan (UN OCHA), menyebut kelaparan amat nyata di Gaza. Sebab, Israel melarang bantuan kemanusiaan masuk.
”Perlu bukti apa lagi? Semua sudah jelas,” protes Komisioner UN OCHA Tom Fletcher soal blokade bantuan kemanusiaan oleh Israel.
UN OCHA telah menyiagakan 160.000 paket bantuan kemanusiaan untuk masuk Gaza. Ada 9.000 truk siap mengantar bantuan itu. Alasan tunggal paket-paket itu tidak bisa masuk ke Gaza adalah karena Israel melarangnya. ”Jangan habiskan waktu lagi,” katanya.
Israel marah-marah pada pernyataan Fletcher. Meski beredar banyak foto dan video kondisi kelaparan warga Gaza, Israel tetap menuding Fletcher berbohong. (AP/AFP/REUTERS)
GAZA, SABTU — Israel melancarkan Operasi Kereta Gideon ke Gaza. Tujuan operasi itu untuk menduduki Gaza. Serangan dilancarkan di tengah kebekuan relasi antara petinggi Amerika Serikat dan petinggi Israel.
Dalam pernyataan pada Sabtu (17/5/2025), militer Israel, Tzahal, mengumumkan serangan masif ke Gaza. ”Operasi ini bagian perluasan pertempuran di Jalur Gaza,” demikian pernyataan Tzahal.
Pasukan, lanjut Tzahal, bertujuan mengendalikan area di Jalur Gaza. Dilaporkan The Jerusalem Post, pasukan darat Tzahal telah menduduki sebagian besar wilayah Gaza.
Serial Artikel
PBB Tolak Bergabung dengan Badan Bantuan AS untuk Gaza
PBB menolak bergabung dengan badan bantuan Gaza bentukan AS. Para Pejabat PBB juga mengecam tindakan Israel di Gaza yang disebut sebagai genosida.
Tank-tank Israel terlihat, antara lain, di Beit Lahia sampai Al-Salateen. Sisa rumah dan tenda-tenda digilas tank dan aneka panser Israel.
Operasi Kereta Gideon, menurut sumber The Jerusalem Post, tidak bertujuan sekadar menyerbu sasaran di Gaza. Operasi itu akan mempertahankan pendudukan di setiap lokasi yang sudah diserbu Tzahal.
Dalam pernyataan pada awal Mei 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengungkap rencana serangan baru ke Gaza. Tujuan pokoknya menduduki Gaza dan memaksa penduduknya keluar dari wilayah itu.
Dalam surat kepada pemerintah pada Selasa pekan ini, sejumlah anggota parlemen Israel meminta kejelasan tujuan operasi. ”Perdana Menteri secara tidak akurat menyampaikan tujuan operasi dan tidak memaparkan pencapaian sejauh ini,” demikian surat itu.
Pada April 2025, Israel memanggil sampai 60.000 anggota pasukan cadangan untuk menyiapkan serbuan yang belakangan dinamai Operasi Kereta Gideon itu. Media Israel, N12, melaporkan setidaknya 10.000 orang tidak memenuhi panggilan.
Konsep pertahanan Israel mewajibkan semua warga berusia 18-60 tahun jadi tentara aktif atau cadangan. Dengan demikian, praktis tidak ada warga sipil di antara orang dewasa Israel.
Konsep itu juga mewajibkan setiap orang dewasa Israel siap tempur kapan saja. Wujudnya termasuk membawa senapan dan magazin serta peluru cadangan kapan saja dan di mana saja.
Serial Artikel
Tentara Israel Jadi Buruan
Dulu Israel memburu Nazi karena kejahatan perang. Kini, Israel diburu karena kejahatan perang di Gaza.
Sejak Jumat sampai Sabtu dini hari, setidaknya 150 serangan udara dilancarkan. Sebelum itu, Israel telah melancarkan ribuan serangan udara dan pengeboman dari tank dan meriam sejak 18 Maret 2025.
”Gelombang terbaru bom dan penolakan bantuan kemanusian menggarisbawahi bahwa tampaknya ada dorongan untuk melakukan perubahan demografi permanen di Gaza yang bertentangan dengan hukum internasional dan sama saja dengan pembersihan etnis," kata Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HAM Volker Turk.
Kecaman pada operasi itu juga dilontarkan sejumlah anggota Uni Eropa. ”Hari ini, saya bersama pemimpin Eslandia, Irlandia, Malta, Norwegia, Slovenia, dan Spanyol mengutarakan keprihatinan mendalam atas situasi di Gaza,” kata PM Luksemburg Luc Frieden.
Serial Artikel
Spanyol Akui Negara Palestina, Israel Bereaksi
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengumumkan pengakuan resmi atas negara Palestina pada Selasa (28/5/2024).
Para pemimpin Uni Eropa itu meminta Israel menghentikan Operasi Kereta Gideon. Sebelumnya, kecuali Malta, negara-negara itu telah mendesak Israel agar tidak memperluas serangan ke Gaza.
”Peningkatan ketegangan militer di Gaza hanya akan memperburuk situasi yang sudah parah bagi warga sipil Palestina dan mengancam keselamatan sandera,” ujar mereka.
Perwakilan keluarga sandera juga kecewa dan putus asa pada Operasi Kereta Gideon. Bagi mereka, operasi itu semakin menutup kesempatan menyelamatkan kerabat mereka yang ditawan di Gaza.
Pembebasan terakhir terjadi pada Edan Alexander, tentara Israel yang juga warga Amerika Serikat. Pembebasan itu tidak melibatkan Israel, tetapi perundingan AS-Hamas dengan mediasi antara lain oleh Suha Arafat. Perempuan itu merupakan janda dari Yasser Arafat, mendiang pemimpin Palestina.
Sejak Oktober 2023 terbukti bahwa lebih banyak sandera selamat lewat proses perundingan. Sementara sebagian malah tewas akibat pengeboman Israel.
Meski demikian, Netanyahu dan pendukungnya berkeras melanjutkan dan memperluas serangan ke Gaza. Operasi Kereta Gideon menjadi gelombang terbaru serangan.
Seperti dalam 1,5 tahun terakhir, serangan membabi buta Israel menyasar berbagai lokasi. Rumah sakit pun termasuk target pengeboman Israel. ”Ruang operasi dan ICU penuh. Kami tidak bisa menerima pasien lagi,” kata Direktur RS Indonesia di Gaza, Marwan Sultan.
Sebagian bangunan rumah sakit sumbangan warga Indonesia itu telah dihancurkan Israel. Dengan demikian, rumah sakit itu tidak bisa beroperasi penuh.
Para dokter dan perawat di rumah sakit, lanjut Sultan, tidak hanya harus mengoperasi atau mengobati pasien. Sebagian harus mendonorkan darah pula.
Serial Artikel
RS Indonesia di Gaza Berhenti Beroperasi, 45 Pasien Bedah Terlantar
Rumah Sakit Indonesia di Gaza berhenti beroperasi karena tidak lagi mampu menampung pasien. Sekitar 45 pasien yang sangat membutuhkan tindakan bedah terpaksa terlantar di ruang tunggu.
Sementara Tom Potokar, dokter bedah asal Inggris yang bekerja di RS Eropa di Gaza, menyebut enam bom menyasar rumah sakit itu. ”Serangan amat besar tepat di depan ruang gawat darurat,” ujarnya.
Lewat rekaman video yang dibagikannya, Potokar menyebut RS Eropa di Gaza jadi sasaran langsung serangan Israel. Serangan tanpa henti membuat aneka perawatan nyaris mustahil dilakukan.
Dampaknya, banyak pasien telat ditangani. ”Kami sering baru bisa merawat saat kondisi pasien sudah parah. Lukanya sudah ada belatung,” ujarnya kepada BBC.
Trump mengabaikan
Operasi Kereta Gideon dilancarkan selepas Presiden AS Donald Trump merampungkan lawatan ke Timur Tengah. Lawatan itu mengejutkan banyak pihak. Sebab, Israel tidak disambangi Trump.
Hubungan Trump-Netanyahu dilaporkan memburuk. Trump dilaporkan melarang komunikasi langsung seluruh pejabat AS dengan Netanyahu dan sejumlah petinggi Israel.
Beberapa media Israel melaporkan, Trump menuding Netanyahu terus mengakali AS soal Timur Tengah. Karena itu, Trump memutuskan komunikasi langsung dengan Netanyahu dan sejumlah petinggi AS.
Kejutan lain adalah, pada Jumat, Trump menyebut banyak orang kelaparan di Gaza. Itu pernyataan pertama petinggi AS yang mengakui kelaparan di Gaza.
Berbagai pihak, termasuk Kantor PBB untuk Bantuan Kemanusiaan (UN OCHA), menyebut kelaparan amat nyata di Gaza. Sebab, Israel melarang bantuan kemanusiaan masuk.
”Perlu bukti apa lagi? Semua sudah jelas,” protes Komisioner UN OCHA Tom Fletcher soal blokade bantuan kemanusiaan oleh Israel.
UN OCHA telah menyiagakan 160.000 paket bantuan kemanusiaan untuk masuk Gaza. Ada 9.000 truk siap mengantar bantuan itu. Alasan tunggal paket-paket itu tidak bisa masuk ke Gaza adalah karena Israel melarangnya. ”Jangan habiskan waktu lagi,” katanya.
Israel marah-marah pada pernyataan Fletcher. Meski beredar banyak foto dan video kondisi kelaparan warga Gaza, Israel tetap menuding Fletcher berbohong. (AP/AFP/REUTERS)