Pengungkapan kasus kematian Affan Kurniawan secara transparan dan tegas sangat penting untuk memberikan efek jera agar peristiwa serupa tidak terulang.
30 Agt 2025 18:50 WIB · Politik & Hukum
PALEMBANG, KOMPAS — Ratusan pengemudi ojek daring di Palembang, Sumatera Selatan, melakukan aksi damai sebagai bentuk solidaritas atas wafatnya pengemudi ojek daring di Jakarta, Affan Kurniawan, yang tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat aksi demonstrasi di Jakarta, Kamis (28/8/2025). Dalam aksi damai di depan Markas Kepolisian Daerah Sumsel tersebut, mereka menuntut pelaku pembunuh Affan diungkap secara transparan ke publik dan dihukum seberat-beratnya.
”Kami meminta Kapolri (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia) mengusut permasalahan itu secara transparan, jangan ada yang ditutup-tutupi. Untuk itu, kami meminta identitas pelaku diungkap ke publik, mulai dari siapa pelaku, pangkat, jabatan, hingga tempat tinggal mereka,” ujar Ketua Asosiasi Driver Online Sumsel Muhammad Asrul Indrawan seusai aksi damai yang berlangsung Sabtu (30/8/2025) siang.
Aksi damai itu diikuti ratusan pengemudi ojek daring dari sejumlah wilayah di Palembang. Mereka datang berbondong menggunakan sepeda motor menuju ruas jalan di depan halaman Markas Polda Sumsel sejak pukul 09.00 WIB.
Dalam aksi, mereka membentangkan sejumlah spanduk dan menyampaikan beberapa tuntutan kepada kepolisian. Sebaliknya, gerbang masuk menuju Markas Polda Sumsel ditutup rapat dan puluhan anggota kepolisian membentuk barikade pengamanan.
Sebagian ruas jalan tempat aksi dilakukan ditutup tetapi tidak menyebabkan kemacetan. Sejumlah pengemudi kendaraan umum yang melintas di sekitar lokasi aksi tampak memberikan simpati dengan meneriakkan kata-kata penyemangat dan memberikan acungan jempol ke atas.
Penyampaian orasi berakhir sekitar pukul 10.30 WIB. Asrul mengatakan, aksi itu adalah bentuk solidaritas pengemudi ojek daring di Palembang untuk Affan yang tewas akibat tindakan anarkistis anggota Brimob di Jakarta. Peristiwa itu sangat memprihatinkan. Maka itu, mereka mendesak Kapolri agar mengusut kasus tersebut secara tuntas dan dilakukan dengan transparan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/eeecc215-6684-45eb-a91f-c48de4806798_jpg.jpg)
Selain itu, mereka juga meminta Kapolri menindak tegas para pelakunya agar mendapatkan hukuman seberat-beratnya. Hal itu sangat penting untuk memberikan efek jera dan tidak ada lagi affan-affan lainnya.
Kepolisian pun dituntut tidak lagi mengulangi tindakan represif di setiap aksi unjuk rasa. ”Terakhir, kami meminta pula Kapolri dan Presiden agar betul-betul menjamin kehidupan keluarga Affan yang selama ini tidak selalu baik-baik saja,” kata Asrul.
Setelah menyampaikan orasi, sejumlah pengemudi ojek daring itu melakukan aksi penggalangan donasi untuk keluarga Affan. Mereka menyebar ke delapan titik di Palembang, terutama di persimpangan lampu lalu lintas.
Penggalangan dana itu akan dilakukan selama tiga hari, yakni dari 30 Agustus hingga 1 September 2025. Semua uang yang terkumpul akan diserahkan secara langsung kepada keluarga Affan di Jakarta. ”Penggalangan donasi ini sebagai bentuk duka dan simpati kami kepada keluarga Affan,” kata Asrul.
Saat ditanya, kenapa pengemudi ojek daring di Palembang baru melakukan aksi solidaritas pada Sabtu, Asrul menjawab bahwa tidak ada kata terlambat. Baginya, yang paling penting adalah aksi itu dilakukan dari hati dan harus disiapkan secara matang terlebih dahulu.
”Sebelum aksi ini, kami rapat dahulu untuk mendengarkan aspirasi dari kawan-kawan. Baru kemudian, kami menyatukan suara dan memastikan aksi dilakukan tidak anarkistis. Sebab, kami ingin Palembang tetap kondusif agar kami juga bisa tetap mencari nafkah dengan aman dan nyaman,” kata Asrul.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/c877663b-c203-42bd-8af8-234fdb95ffc5_jpg.jpg)
Peserta aksi damai, pengemudi ojek daring asal Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarame, Palembang, Ardeli (48), menuturkan, peristiwa yang dialami Affan sangat menyayat hati mereka. Lagi pula, Affan hanya masyarakat biasa yang sedang berjuang mencari nafkah.
Peristiwa tragis itu harus menjadi pelajaran untuk semua pihak, terutama kepolisian dan tidak boleh terulang kembali. ”Kalau polisi bertindak humanis kepada peserta demo, peristiwa itu tidak akan mungkin terjadi. Semoga pelakunya ditindak tegas agar anggota kepolisian lainnya tidak mengulangi perbuatan serupa,” harap Ardeli seusai menggalang donasi di persimpangan lampu lalu lintas dekat Polda Sumsel sekitar pukul 11.30 WIB.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Palembang Komisaris Besar Harryo Sugihhartono kepada para peserta aksi mengatakan, dirinya mewakili Kapolda Sumsel menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Affan. ”Penyampaian duka ini tidak semata-mata hanya lips service tetapi betul-betul bentuk keprihatinan kami atas peristiwa tersebut,” ujarnya.
Penyampaian duka ini tidak semata-mata hanya ’lips service’ tetapi betul-betul bentuk keprihatinan kami atas peristiwa tersebut.
Keprihatinan jajaran kepolisian di Palembang ataupun Sumsel atas terjadinya peristiwa yang menimpa Affan ditunjukkan dengan komitmen menerima aksi damai dari sejumlah pengemudi ojek daring di Palembang. Mereka mengapresiasi aksi yang menjadi bentuk solidaritas untuk Affan tersebut. ”Aksi ini adalah hak masyarakat untuk bersuara menyampaikan pendapat di muka umum,” kata Harryo.
Harryo pun menjamin bahwa mereka mendukung aksi para pengemudi ojek daring di Palembang yang melakukan penggalangan donasi untuk keluarga Affan. ”Kami akan turut menjaga kelancaran dan keselamatan rekan-rekan selama turun ke jalan untuk menggalang donasi tersebut. Kami harap donasi yang terkumpul bisa memberikan manfaat sebaik-baiknya untuk keluarga korban,” kata Harryo.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Rini KustiasihPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari