Realitas di Balik Konten ”Rp 10.000 di Tangan Istri yang Tepat”, Humor Pahit dari Dapur Keluarga

Banyak keluarga yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi yang terasa hingga ke dapur dan meja makan mereka.

19 Okt 2025 12:31 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Vina Oktavia

Tren ”Rp 10.000 di tangan istri yang tepat” viral di media sosial di saat harga bahan-bahan pokok terus merangkak naik. Di balik konten itu tersimpan humor pahit yang mencerminkan rapuhnya ekonomi keluarga di tengah tekanan inflasi.

Beberapa minggu terakhir, linimasa Tiktok dan Instagram ramai dengan konten yang menampilkan bagaimana uang Rp 10.000 disulap menjadi hidangan di meja makan keluarga. Lewat video berdurasi singkat, menu sederhana seikat kangkung dan sepotong tempe bisa tersaji di meja makan.

Belakangan, berbagai konten yang menyoroti mahalnya harga bahan pokok juga bermunculan. Para ibu rumah tangga memperlihatkan deretan kebutuhan dapur, seperti cabai, bawang merah, minyak goreng, daging, hingga sayur-mayur, yang tak mungkin dibeli dengan uang Rp 10.000. Konten bernada satir juga bermunculan, memperlihatkan uang Rp 10.000 hanya cukup untuk membeli makanan camilan seblak, siomai, atau cilok.

Tagar #sepuluhribuditanganistriyangtepat pun populer di jagat maya. Hingga Minggu (19/10/2025), ada ribuan konten yang diunggah di Tiktok dan Instagram. Isu itu tak hanya menjadi perbincangan di dunia maya, tapi juga terbawa hingga ke dunia nyata.

Hanny (35), ibu dua anak di Bandar Lampung, mengaku turut mencermati tren uang belanja Rp 10.000 yang belakangan ramai di media sosial. Baginya, nominal itu tak mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan makanan keluarga.

Setiap hari, ia harus menyiapkan setidaknya Rp 100.000 untuk belanja berbagai kebutuhan. ”Itu pun harus pintar-pintar ngatur budget. Kalau lagi ada keperluan sekolah anak, ya harus disesuaikan,” kata Hanny.  

Untuk menyiasati tingginya biaya hidup, dia memilih memasak sendiri di rumah. Makan di restoran tak bisa sering-sering agar pengeluaran bulanan tidak jebol.

Petugas menghitung kembalian saat melayani pembeli dalam program pasar murah di Kantor Kelurahan Tanjung Duren Utara, Jakarta Barat, Jumat (3/12/2025). Pemerintah Provinsi Jakarta melalui BUMD pangan PT Food Station Tjipinang Jaya yang bekerja sama dengan Bank Indonesia menggelar pasar murah pada 2 dan 3 Januari 2025 untuk menekan laju inflasi. Pada 2 Januari 2025, pasar murah berlangsung di Kelurahan Rawa Terate, Duren Tiga, Sungai Bambu, dan Cengkareng Barat. Sementara pada 3 Januari 2025, pasar murah diadakan di Kelurahan Utan Kayu Selatan, Bangka, Ancol, dan Tanjung Duren Utara. Berbagai bahan pokok seperti beras, minyak goreng, cabai, dan telur dijual dengan harga yang lebih murah.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
03-12-2025

Kenaikan harga bahan pokok yang semakin tinggi terekam dalam data Badan Pusat Statistik (BPS). Pada September 2025, tingkat inflasi year on year (yoy) tercatat 2,65 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 108,74. Inflasi tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Utara sebesar 5,32 persen dan terendah di Papua sebesar 0,99 persen.

Inflasi yoy terjadi didorong oleh kenaikan harga berbagai kebutuhan hidup masyarakat. Data menunjukkan, subkelompok makanan menjadi penyumbang inflasi terbesar, mencapai 5,34 persen. Adapun komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi ialah cabai merah, bawang merah, beras, daging ayam ras, ikan segar, dan minyak goreng.

Bagi banyak keluarga, kenaikan harga itu bukan sekadar angka statistik, melainkan tantangan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dapur pun kerap menjadi arena pertarungan para ibu rumah tangga saat kenaikan upah tidak sebanding dengan inflasi pangan.

Realitas ekonomi

Dosen Ilmu Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung Feri Firdaus berpendapat, konten uang Rp 10.000 di tangan istri yang tepat cenderung menormalisasi kesulitan hidup. Alih-alih mengkritik kondisi ekonomi, konten ini memutarbalikkan realitas dengan menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bisa menjadi indikator kelebihan istri jika berhemat. Padahal, banyak ibu rumah tangga yang mengeluhkan bahwa uang belanja Rp 10.000 per hari tidak masuk.

Titi (45), warga Kampung Cimanglid, Desa Cijedil, Cugenang, saat membantu masak di dapur umum posko pengungsian Badan Intelijen Negara (BIN), Kamis (8/12/2022). Titi dan keluarganya memilih bertahan di pengungsian karena menunggu bantuan perbaikan rumah oleh pemerintah.

Dia menyebut, konten semacam itu cepat viral karena dibuat menggunakan retorika emosional dan simbolisme peran jender yang sangat kuat di masyarakat. Formatnya menggugah dan tampak inspiratif meski secara ekonomi tidak realistis bagi mayoritas keluarga di Indonesia.

Algoritma pun berperan besar dalam mengulang-ulang narasi patriarki bahwa tugas perempuan adalah berhemat, menyesuaikan diri dengan kekurangan, dan tidak banyak menuntut. Konten semacam ini hakikatnya memperberat beban mental dan sosial terhadap istri. Kegagalan negara dalam mengendalikan harga pangan atau ketidakmampuan suami memenuhi kebutuhan hidup seolah ditutupi oleh slogan istri yang ikhlas.

Di balik konten itu, hal yang sebenarnya disuarakan adalah keterasingan masyarakat dari kebijakan ekonomi negara. Pesan itu dipoles dalam bentuk konten rumah tangga seolah-olah persoalan tingginya harga pangan adalah urusan privat.

”Ini bentuk komunikasi politik yang paling halus sekaligus paling berbahaya. Ketika masyarakat membuat konten tentang bertahan hidup dengan uang Rp 10.000, itu bukan ekspresi kebajikan, tapi bentuk survivalisme yang lahir dari ketidakadilan ekonomi,” kata Feri.

Narasi itu, katanya, tidak boleh dimaknai seolah-olah rakyat tetap bahagia meski hidup dalam kesulitan, tetapi harus dibaca sebagai alarm atas pengabaian struktural yang kian nyata.

Pasangan suami istri Twino Widya Iskandar dan Gemy Swari Armyn bersama-sama mempersiapkan bahan untuk kedai ramen yang mereka kelola di kawasan Limo, Depok, Jawa Barat, Sabtu (17/9/2022). Mereka hidup berdua setelah anak-anak mereka memutuskan untuk bersekolah di luar kota. SERIAL URBAN KOMING

Sementara itu, Guru Besar Bidang Ilmu Hukum Perkawinan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung Erina Pane menuturkan, di permukaan, tren ini tampak menonjolkan ketangguhan perempuan menghadapi tekanan ekonomi. Istri digambarkan mampu menyulap keterbatasan menjadi kecukupan.

Akan tetapi, apabila dibaca secara kritis, konten ini justru menunjukkan beban ganda yang dialami istri. Mereka dituntut menjadi manajer keuangan tanpa diimbangi peran dan tanggung jawab ekonomi yang setara. Narasi ini berpotensi memperkuat stereotipe tradisional bahwa perempuan adalah penanggung jawab utama ekonomi keluarga, sementara laki-laki cukup sebagai pencari nafkah.

Jika uang belanja yang sangat minim diberikan tanpa dialog dan empati, hal itu justru mengarah pada financial abuse atau bentuk kekerasan ekonomi yang mengontrol akses istri terhadap sumber daya finansial.

”Kekerasan ekonomi tidak selalu dalam bentuk pelarangan bekerja, tetapi bisa berupa pembatasan akses atau pemberian uang yang tidak proporsional dengan kebutuhan hidup. Dalam konteks ini, uang Rp 10.000 menjadi simbol ketimpangan relasi kuasa dalam rumah tangga, bukan sekadar kecilnya nominal,” katanya.

Para pedagang sayur-mayur menunggu pembeli di Pasar Alor Kecil, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Jumat (26/9/2025). Pasar yang buka setiap hari Jumat ini selalu ramai diburu warga Alor untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Dalam konsep perkawinan menurut prinsip keadilan jender dan hukum keluarga modern, suami dan istri memiliki tanggung jawab ekonomi bersama. Keseimbangan peran menuntut transparansi finansial, komunikasi, dan pembagian tanggung jawab yang adil, bukan hanya kemampuan berhemat salah satu pihak.

”Glorifikasi kemiskinan, seperti memuji istri yang bisa bertahan dengan uang Rp 10.000, harus diganti dengan narasi pemberdayaan dan solidaritas ekonomi keluarga, misalnya melalui usaha bersama, literasi finansial, dan dukungan sosial,” katanya.

Dia menambahkan, ramainya perbincangan soal konten itu bisa jadi mencerminkan rapuhnya ketahanan mayoritas keluarga di Indonesia di tengah tekanan ekonomi dan inflasi pangan, sementara sistem perlindungan sosial yang seharusnya menjadi penopang masih belum merata.

Saat kenaikan upah tidak sebanding dengan inflasi pangan seperti sekarang ini, negara wajib hadir melalui kebijakan perlindungan keluarga. Ratusan juta keluarga di Indonesia membutuhkan program subsidi pangan, kebijakan pengendalian harga kebutuhan pokok, dan peningkatan upah minimum yang realistis.

”Masyarakat membaca ini bukan sebagai kisah heroik, melainkan sinyal bahaya ekonomi rumah tangga menengah ke bawah. Pemerintah perlu menangkap pesan bahwa stabilitas keluarga tidak bisa dipertahankan hanya dengan moralitas dan kesabaran perempuan, tetapi dengan kebijakan ekonomi yang berpihak pada keluarga kecil dan pekerja informal,” katanya.

Selain itu, literasi keuangan berbasis keluarga dan pemberdayaan perempuan perlu menjadi bagian dari kebijakan publik. Hal ini penting agar ketahanan ekonomi tidak hanya dibebankan kepada perempuan, tapi merupakan tanggung jawab bersama.

Para ibu memberikan irisan telur, daging ayam suwir, bawang goreng, dan daun seledri sebagai tambahan bubur asyura di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (19/8/2021). Tradisi memasak dan berbagi bubur asyura dilakukan masyarakat Banjar pada hari kesepuluh Tahun Baru Islam atau setiap 10 Muharram.

Di balik ramainya perbincangan tentang konten Rp 10.000 di tangan istri yang tepat, ada pesan penting yang tak boleh diabaikan. Boleh jadi, banyak keluarga di Indonesia yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi yang terasa hingga ke dapur dan meja makan mereka.

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Vina Oktavia
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji