Rebutan Candi Era Sriwijaya di Segitiga Zamrud Asia Tenggara

Sengketa perbatasan Thailand-Kamboja sudah berlangsung seabad lebih. Kamboja mengandalkan peradilan internasional, Thailand menuntut perundingan bilateral saja.

25 Jul 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Daratan Asia Tenggara menyisakan sejumlah sengketa perbatasan dan masalah keamanan hingga kini.

Pada 1970-an dikenal daerah Segitiga Emas Laos-Myanmar-Thailand dengan masalah opium dan kejahatan transnasional. Kini, di tahun 2010-2020, dikenallah daerah lain, yakni Segitiga Zamrud (Emerald Triangle atau Mum Bei) Thailand-Kamboja–Laos.

Segitiga Zamrud dikenal memiliki potensi kekayaan alam dan sumber tenaga air sebagai bagian dari daerah aliran Sungai Mekong. Akan tetapi, wilayah ini juga rentan terhadap persoalan kejahatan lintas negara, antara lain isu penyelundupan satwa langka, kayu balak, dan batu mulia.

Namun, sejak Mei 2025, kawasan tersebut mendapat sorotan akibat sengketa perbatasan yang dibarengi kontak senjata antara Thailand dan Kamboja. Kekerasan terakhir terjadi pagi ini antara militer dua negara yang saling menuding pihak lain memulai serangan.

Laman Politico pada Rabu (23/7/2025) mencatat, sengketa perbatasan terbaru terjadi antara Thailand dan Kamboja di sekitar Candi Ta Muen Thom (abad ke-11 Masehi) atau era akhir Kerajaan Sriwijaya di Nusantara.

Saling tuding

Angkatan Darat Thailand dalam keterangan resmi menyebutkan, insiden terjadi di Distrik Dong Rak, Provinsi Surin, menyusul serangan dari Kamboja pada Kamis (24/7/2025) pagi. Pada pukul 07.35 waktu setempat, patroli tentara Thailand mendengar suara drone terbang di dekat Candi Ta Muen.

Seiring itu, tentara Kamboja membawa persenjataan mereka (termasuk RPG atau peluncur roket) di sisi perbatasan Kamboja di balik barikade kawat berduri.

Militer Thai mengadakan komunikasi dan negosiasi dengan pengeras suara untuk mencegah eskalasi. Selanjutnya, pada pukul 08.20 pihak Kamboja dituding membuka tembakan ke arah pos militer Thailand di timur Candi Ta Muen dari jarak 200 meter.

Bunn Viseth, 25, a dog handler with the humanitarian deming group APOPO, works with Kim, a five-year-old K-9, to clear a landmine field in Preah Vihear, Cambodia on Monday, June 9, 2025. (AP Photo/Anton L. Delgado)

Sebaliknya, juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja, Letnan Jenderal Maly Socheata, mengecam agresi militer Thailand terhadap wilayah Kamboja pada Kamis pagi. Menurut Kamboja, militer Thailand memasuki wilayah Kamboja pada pukul 06.30 di kompleks Candi Ta Moan Thom dan memasang pagar kawat berduri.

Pada pukul 07.04, militer Thailand menerbangkan drone selama dua menit. Lalu pada pukul 08.30 militer Thailand melepaskan tembakan dan pada pukul 08.46 pihak Thailand menyerang posisi pasukan Kamboja di sekitar Candi Ta Moan Thom.

Serangan tersebut dilanjutkan ke Candi Ta Krabey, dan Phnom Khmao (Pegunungan Hitam) lalu ke Mum Bei.

Pada pukul 10.40, jet tempur F-16 Thailand menjatuhkan dua bom ke jalan dekat Pagoda Wat Kaes Seekha Kiri Svarak di dalam wilayah Kamboja. Akhirnya, pada pukul 08.47, militer Kamboja mengambil langkah membela diri dengan membalas serangan.

Dalam kiriman video dari militer Thailand terlihat sebuah gerai waralaba tak jauh dari sebuah pom bensin terkena serangan Kamboja. Lalu video lain memperlihatkan deretan panel tenaga surya rusak terkena ledakan.

Politico mengatakan, hubungan kedua negara terus memburuk setelah terjadi baku tembak pada 28 Mei 2025 di dekat Candi Preah Vihear yang mengakibatkan seorang prajurit Kamboja gugur.

Peragaan bela diri militer prajurit Pasukan Khusus Kamboja Brigade 911. Prajurit Brigade 911 adalah anak didik Kopassus TNI Angkatan Darat. Kedekatan hubungan militer Indonesia-Kamboja dapat menjadi landasan kerjasama ekonomi yang menguntungkan kedua negara.

Lalu, terjadi insiden dua kali ledakan ranjau darat yang melukai patroli prajurit Thailand pada 16 Juli dan 23 Juli. Insiden tersebut mengakibatkan dua prajurit Thailand kehilangan sebelah kaki, sedangkan sejumlah prajurit lain terluka dan dirawat karena dampak ledakan.

Militer Thailand mengaku menemukan ranjau PMN-2 buatan Rusia ditanam di jalur patroli mereka. Militer Thailand tidak pernah menggunakan ranjau tersebut.

Militer Kamboja menyanggah keras tuduhan Thailand bahwa mereka terkait dengan keberadaan ranjau buatan Rusia tersebut. Pihak Kamboja menyatakan militer Thailand justru memasuki wilayah Kamboja dan mengadakan patroli di luar jalur yang disepakati.

Rebutan candi

Wilayah yang diperebutkan antara Thailand dan Kamboja adalah daerah perbatasan yang ditandai dengan keberadaan sejumlah candi gaya Angkor (leluhur Bangsa Kamboja modern) di sepanjang timur Thailand dan utara Kamboja.

Pada 2008-2013 terjadi pertempuran berulang kali di sekitar Candi Preah Vihear (dibangun abad ke-11 Masehi) antara Thailand dan Kamboja. Wilayah itu adalah perbatasan Provinsi Preah Vihear, Kamboja, dan Provinsi Sisaket, Thailand.

Konflik meluas ke arah Candi Ta Moan Thom, 153 kilometer barat Preah Vihear. Pada Desember 2011 disepakati para pihak menarik mundur pasukan dari daerah sengketa.

Selain itu, Candi Ta Moan Toch (abad ke-13) yang berjarak 800 meter dari Candi Ta Moan Thom dan Candi Ta Krabei (abad ke-11 Masehi) turut diperebutkan dalam sengketa Thailand-Kamboja.

Pada 11 November 2013, Mahkamah Internasional (ICJ) menguatkan keputusan ICJ pada 1962 yang menyerahkan kedaulatan Preah Vihear kepada Kamboja. Karena itu, Thailand harus menarik mundur militer, polisi, ataupun penjagaan di kawasan tersebut.

Namun, Thailand keberatan dan mendesak penyelesaian sengketa perbatasan di sekitar Preah Vihear, Ta Moan Thom, dilakukan melalui mekanisme bilateral Thailand-Kamboja. Belum ada titik temu, sengketa pun bergulir dan memanas kembali di pertengahan tahun 2025.

Sengketa Thailand-Kamboja itu di era modern diawali dari perebutan pengaruh Kerajaan Siam zaman Raja Rama VI (Raja Chulalangkorn) yang berulang kali datang ke Jawa untuk memodernisasi Siam. Dia berhadapan dengan Wangsa Norodom yang mendapat perlindungan Perancis (Protektorat) Indo-China Perancis pada 1860-an.

Raja Chulalangkorn dari Thailand pada tahun 1865.

Perjanjian Siam-Perancis tahun 1867 melepaskan Kamboja dari vassal Siam ke bawah perlindungan Perancis kecuali beberapa wilayah, yakni Battambang, Siem Reap, Banteay Meanchey, dan Oddar Meancheay.

Selanjutnya, pada 1904, di masa Raja Rama V, disepakati wilayah tersebut masuk ke dalam Kamboja. Sebagai imbal balik, Perancis mengakui kedaulatan Siam atas Provinsi Trat (berbatasan dengan pesisir laut Kamboja) dan Amphoe Dai di Provinsi Loei (dekat Laos) yang sempat diduduki Perancis.

Ketika Perang Dunia II pecah, PM Thailand Jenderal Phibunsongkhram menuntut kepada Perancis agar wilayah Siam dikembalikan. Beberapa wilayah sempat dikuasai kembali oleh Thailand yang membantu Jepang selama Perang Dunia II. Meski demikian, Thailand dikalahkan Perancis dalam pertempuran laut di Koh Chang.

Phibungsongkhram mengusung gagasan Thai Raya dengan merangkul sebelah barat Kamboja, Etnis Laos dan Etnis Karen di Burma (yang memiliki kemiripan budaya dengan Thailand), serta wilayah utara Malaya yang pernah menjadi daerah kekuasaan Thailand.

Pada Januari 1941, dengan perantaraan Jepang, dicapai perdamaian Thailand-Perancis yang berdampak pada wilayah Kamboja. Seusai Perang Dunia II, Kamboja merdeka pada 1954, berbagai sengketa perbatasan dibahas dengan Thailand, termasuk penguasaan Candi Preah Vihear yang diduduki Thailand seusai Perang Dunia II.

Kini, sengketa penguasaan perbatasan dan candi-candi bersejarah itu kembali terulang. Mampukah ASEAN menjadi jembatan untuk mencapai perdamaian di dalam kawasan penting yang menjadi pusat pertumbuhan di Asia Pasifik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra