Timnas Indonesia baru satu kali mengalahkan Bahrain di kandang. Dua laga lain yang nirmenang berujung insiden suporter dengan pemain Bahrain.
24 Mar 2025 08:31 WIB · Olahraga
Catatan Editor: Artikel ini dibuat ”bebas akses” bagi pembaca sebagai salah satu bentuk dukungan pada perjuangan para pemain tim nasional Indonesia melawan Bahrain pada laga kualifikasi Piala Dunia 2026 di Jakarta, Selasa (25/3/2025).
________
Tim nasional Indonesia akan menjamu Bahrain untuk keempat kalinya di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada duel kualifikasi Piala Dunia 2026, Selasa (25/3/2025) pukul 20.45 WIB. Skuad ”Garuda” harus mengantisipasi ulah nonteknis yang telah ditampilkan Bahrain pada tiga kunjungan sebelumnya.
Kenangan terbaik Indonesia pada laga kandang kontra Bahrain tersaji pada gim pembuka Piala Asia 2007, 10 Juni 2007. Dua penyerang legendaris Indonesia, Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas, mencetak gol yang menghasilkan kemenangan 2-1 atas tim asal Jazirah Arab itu.
”Semangat juang dan kerja keras seluruh pemain untuk menjalankan instruksi Pelatih Ivan Kolev adalah kunci kemenangan bersejarah itu. Motivasi pemain juga terbakar akibat dukungan suporter yang memenuhi Gelora Bung Karno,” ujar asisten pelatih timnas Indonesia di Piala Asia 2007, Syamsuddin Umar, mengenang laga itu, Minggu (23/5/2024).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/711afe2cfbbdf656057d78fc89854122-TIM_NASIONAL_INDONESIA_13_06.JPG)
Adapun pada dua pertandingan lain menjamu Bahrain, Indonesia mencatatkan nirmenang. Hal itu tercipta pada duel pertama di kualifikasi Piala Asia 1988, 19 Juni 1988, yang berakhir sama kuat 0-0, lalu Garuda tumbang 0-2 pada laga kualifikasi Piala Dunia 2014, 6 September 2011.
Tidak hanya gagal meraih kemenangan, dua laga itu pun menampilkan gelagat Bahrain yang selalu menunjukkan sikap kurang baik setiap bertandang ke Jakarta.
Kunjungan Bahrain pertama ke Indonesia tercipta pada kualifikasi Piala Asia 1988. Meskipun pertarungan berakhir tanpa gol, drama besar justru terjadi di pengujung pertandingan. Situasi itu memanas hingga satu hari setelah laga itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/0019d948a2d45f15a4bd1d8a94850463-ZEIN_ALHADAD1_04.JPG)
Tim asuhan Pelatih Berce Matulapelwa gagal meraih poin atas Bahrain sehingga Indonesia tidak mampu bersaing dengan Bahrain dan Korea Selatan demi lolos ke babak utama Piala Asia 1988 di Qatar. Kekecewaan itu terasa di tribune penonton. Sejumlah suporter Indonesia melontarkan ejekan kepada pemain-pemain cadangan Bahrain.
Alhasil, pemain-pemain Bahrain naik pitam dan beradu mulut dengan suporter Indonesia. Pemain Bahrain murka dengan melontarkan bahasa Arab, sedangkan penonton juga berteriak dengan bahasa Indonesia. Hanya dua kata bahasa Arab bermakna ”bodoh”, yaitu bahlul dan jahil, yang digunakan penonton di tribune barat stadion untuk membuat pemain Bahrain kian murka.
Puncaknya, Sekretaris Umum PSSI saat itu, Nugraha Besoes, yang berada di tengah-tengah penonton nyaris terkena pukulan pemain Bahrain. Padahal, ia berupaya melerai pertengakaran itu.
Selain itu, penyerang Bahrain, Ebrahim Essa Ahmed, sempat melempar sepatunya ke arah tribune. Sepatu itu pun nyaris terkena pengurus PSSI lainnya. Essa Ahmed pun mengucapkan kata-kata negatif kepada wasit asal Jepang yang memimpin gim itu, Sono Tahikazu.
”Selaku pribadi saya akan mengadukan hal itu kepada PSSI. Saya merasa dihina. Selaku kelembagaan PSSI, kami akan mengadukan kepada AFC,” ucap Nugraha dilansir Kompas edisi 21 Juni 1988.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/10760524ef59f6551cd3ab91d1bee178-BW_00030800_VII_16_GIR009.JPG)
Setelah melakukan investigasi, Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) melalui Komisi Disiplin Grup D kualifikasi Piala Dunia 1988, Kompas edisi Rabu (22/6/1988) melaporkan, lima pemain Bahrain yang terlibat kericuhan itu dihukum sanksi larangan tampil satu laga dan dilarang datang ke stadion pada gim pamungkas melawan Yaman Selatan, 22 Juni 1988.
Mereka adalah Essa Ahmed, Ebrahim Abdulla Hardan, Ebrahim Abdulla Sayaf, Yassin Mohamad Abbas, dan Mohamed Saleh Ali. Hukuman itu diputuskan setelah komisi disiplin melalui sidang, Senin (20/6/1988). Sidang itu dipimpin Farouk Buzo dari Suriah, lalu anggota Komisi Disiplin diisi oleh K Ziauddin (India) dan Minang Warman (Indonesia). Pelatih, manajer, dan seluruh pemain Bahrain pun menghadiri sidang komdis itu.
”Mereka (Bahrain) tidak sportif. Jika tersinggung atas ucapan penonton, seharusnya melaporkan kepada panitia. Apalagi, empat pemain cadangan itu (selain Essa Ahmed) telah disediakan tempat khusus (bangku cadangan), tetapi mereka memilih duduk di tribune utama,” jelas Minang.
Bahrain pun dijatuhi hukuman tambahan oleh AFC sebesar denda 2.000 dollar AS. Hukuman itu diumumkan pada kongres AFC di Doha, Qatar, Desember 1988.
Pada kualifikasi Piala Asia 1988, PSSI sejak awal sudah dibuat kerepotan oleh Bahrain. Tim Timur Tengah itu datang lebih awal dari jadwal, kemudian mereka juga tiba di Jakarta ketika belum memiliki visa.
Enam tahun sebelumnya, tepatnya Januari 1982, Bahrain sempat mengurungkan kedatangan ke Jakarta untuk jalani dua gim uji coba kontra PSSI Utama dan PSSI Yunior. Alasannya adalah staf pelatih dan pemain mereka kesulitan mendapatkan visa Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/5ae328cfdfa8928ebc10a3592e1a2149-BW_00029800_II_12_ADP005.JPG)
Selain masalah kedatangan, selama kualifikasi Piala Asia 1988, Bahrain juga mengeluhkan lapangan latihan di kompleks Senayan. Mereka sempat pula meminta pindah hotel karena menilai pelayanan hotel pertama kurang memuaskan. Panitia dituduh juga memutuskan komunikasi anggota tim karena memberikan kamar yang berjauhan.
Tak heran, Bahrain sempat mengancam enggan ke Jakarta untuk jalani laga kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka khawatir dengan keselamatan tim setelah mendapat teror di dunia maya seusai laga pertama yang berakhir imbang 2-2, Oktober 2024.
Ketua Umum PSSI Erick Thohir sampai memastikan Sekretaris Umum Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) Datuk Seri Windsor John dan Duta Besar Bahrain untuk Indonesia Ahmed Abdulla al-Harmasi al-Hajeri untuk keselamatan para pemain Bahrain selama berada di Jakarta. Sejak tiba di Jakarta, Jumat (28/3/2025), skuad Bahrain mendapat pelayanan terbaik serupa dengan tim-tim lain, seperti Jepang, Australia, dan Arab Saudi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/22/1c6811a0b3074595d18d909efac74f57-20250322ron21.jpg)
”Kita sebagai bangsa besar sudah menunjukkan bisa menjadi tuan rumah yang baik saat melawan Arab Saudi dan Jepang. Kami ingin seluruh fans tuan rumah mampun tim tamu bisa menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman,” ujar Erick seusai pertemuan dengan Ahmed Abdulla.
Insiden pemain Bahrain dengan suporter Indonesia kembali tersaji pada kualifikasi Piala Dunia 2014. Pada laga yang dimenangkan Bahrain, sekaligus kemenangan pertama mereka atas Indonesia di Jakarta, pendukung Indonesia melempari zona teknis pelatih dan pemain Bahrain dengan botol air mineral.
Kondisi itu membuat Bahrain sempat meminta wasit Lee Min-hu untuk menghentikan pertandingan. Setelah laga dijeda, seluruh pemain dan staf pelatih Bahrain meninggalkan lapangan dan masuk ke ruang ganti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/24/33f0e18468464e372339c4df48adc885-INDONESIA_VS_BAHRAIN_2_12.JPG)
Pelatih timnas Indonesia saat itu, Wim Rijsbergen, bersama manajer tim Ferry Kodrat dan kapten tim Bambang Pamungkas perlu membujuk wasit Lee untuk segera memulai pertandingan lagi. Setelah situasi suporter mereda, salah satu indikasinya tidak ada petasan dan suar menyala di tribune, wasit melanjutkan laga.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang menyaksikan langsung gim itu juga meninggalkan stadion ketika pertandingan dihentikan sementara. Menurut Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Presiden SBY pulang karena kecewa terhadap ulah penonton (Kompas, 7/9/2011).
Pertarungan di kualifikasi Piala Dunia 2026, Selasa ini, tentu akan menyajikan tensi yang lebih besar dibandingkan dengan tiga pertemuan Indonesia versus Bahrain sebelumnya di Jakarta. Semoga pertandingan bisa berjalan lancar dan tidak ada lagi insiden yang melibatkan suporter dengan pemain Bahrain.
Hal yang paling utama juga, skuad Garuda diharapkan mampu menambah catatan kemenangan atas Bahrain demi menjaga asa lolos ke putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra