Niat Buka Bersama Kapolsek Negara Batin yang Tak Pernah Terwujud

Sejak menjabat Kapolsek Negara Batin 1,5 tahun terakhir, Iptu Lusiyanto fokus memberantas judi sabung ayam yang telah menjadi penyakit sosial akut di sana.

19 Mar 2025 07:00 WIB · Nusantara

Oleh Adrian Fajriansyah

”Habis operasi ini, kita buka puasa bersama di Polsek,” ujar Kepala Polsek Negara Batin Inspektur Polisi Satu Lusiyanto kepada 16 anggotanya sebelum mereka melakukan operasi penggerebekan judi sabung ayam di Kampung Manik, Kecamatan Negara Batin, Way Kanan, Lampung, Senin (17/3/2025).

Namun, niat mulia itu tak pernah terwujud. Lusiyanto bersama dua anggotanya, yakni Bripka Petrus Apriyanto dan Bripda M Ghalib Surya Ganta, gugur usai ditembak pelaku judi sabung ayam di Kampung Manik, Senin sekitar pukul 16.50 WIB.

Keponakan Lusiyanto, Sapril Eka Putra (42), mengisahkan hal itu saat dihubungi Kompas dari Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (18/3/2025) petang. Wafatnya Lusiyanto meninggalkan duka mendalam bagi keluarga maupun jajaran Polsek Negara Batin.

Sebab, semasa hidup, Lusiyanto banyak memberikan kesan mendalam yang positif bagi orang-orang di sekitarnya. Sapril mengatakan, di mata keluarga, Lusiyanto adalah sosok religius. Lusiyanto tidak pernah sekali pun meninggalkan shalat lima waktu dan puasa.

Lusiyanto juga pernah menjadi pengurus masjid Polres Tanggamus Lampung. ”Bahkan, paman wafat dalam keadaan berpuasa. Semoga, Allah SWT memberikannya kesempatan berbuka puasa di surga,” kata Sapril yang merupakan anak dari kakak Lusiyanto.

Sapril menjadi anggota keluarga paling dekat dengan Lusiyanto. Sapril mengingat kenangan 32 tahun silam saat Lusiyanto pertama kali dilantik menjadi polisi. Sapril diajak Lusiyanto bersepeda motor dari kampung halaman mereka di Desa Sumber Harjo, Kecamatan Buay Madang Timur, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, Sumsel ke tempat tugas pertama Lusiyanto di Polres Lampung Barat.

Mobil jenazah yang mengangkut jenazah anggota polisi yang tertembak meninggalkan RS Bhayangkara Polda Lampung, pada Selasa (18/3/2025) siang.

Memori itu pun kembali mengaduk-aduk emosi Sapril yang tak kuasa menahan haru. ”Saya punya hubungan emosional yang sangat kuat dengan paman. Sejak kecil, saya sangat dekat dengannya. Sampai dewasa, saya lebih banyak curhat kepadanya dan dia sosok yang bisa memberikan motivasi hidup untuk saya,” tutur Sapril yang pegawai di instansi pemerintahan.

Lusiyanto dianggap punya jiwa mengayomi yang kuat. Bukan hanya di kalangan keluarga, sifat itu pun dibawanya dalam dunia kerja. Tak pelak, para rekan sejawat yang menjadi bawahan maupun atasannya senang bergaul dengan Lusiyanto. Sebab, di mana pun ditugaskan, Lusiyanto menganggap semua rekan kerjanya sebagai keluarga.

”Bagi kami, paman bisa menjadi sosok bapak, kakak, dan teman. Ternyata, itu turut dirasakan oleh para rekan kerjanya, baik bawahan maupun atasanya. Terbukti, saat beliau gugur, semuanya berbondong mengantarkan jenazah paman ke RS Bhayangkara Lampung. Kini, menjelang pemakaman sekitar pukul 17.00, semua orang yang pernah bekerja dengannya sudah berkumpul memenuhi rumah duka kami,” ujar Sapril.

Polisi jujur

Bagi Sapril, Lusiyanto adalah polisi jujur dan paling anti dengan suap. Lusiyanto yang merupakan bungsu dari 12 bersaudara itu selalu berusaha bersikap baik walau mungkin banyak stigma buruk terhadap polisi. Bahkan, Sapril menilai, Lusiyanto mungkin satu-satunya kapolsek yang tidak punya rumah.

Selama menjadi Kapolsek Negara Batin 1,5 tahun terakhir, Lusiyanto memilih tinggal di Asrama Polsek Negara Batin. Dia pun baru-baru ini memiliki mobil yang dibeli secara kredit. Dirinya memilih cara seperti itu karena sebagian uang disisihkan untuk membiayai pendidikan anak tunggalnya, Salsabillah (22) yang sedang berkuliah di Jakarta.

”Paman lima tahun lagi pensiun, tetapi hingga sekarang, dia belum punya aset rumah maupun tanah. Padahal, dia pernah bilang kalau pensiun ingin pulang kampung dan berkebun. Itu semua karena dia tidak pernah macam-macam. Hidupnya hanya bergantung dari gaji yang didapatnya,” kata Sapril.

Quote

Paman lima tahun lagi pensiun, tetapi hingga sekarang, dia belum punya aset rumah maupun tanah. Padahal, dia pernah bilang kalau pensiun ingin pulang kampung dan berkebun. Itu semua karena dia tidak pernah macam-macam. Hidupnya hanya bergantung dari gaji yang didapatnya.

Sapril menuturkan, Lusiyanto selalu berkata bahwa kerja adalah sebagian dari ibadah. Oleh karena itu, Lusiyanto tidak ingin menodai pekerjaannya dengan hal-hal negatif. Pendirian hidup itu membuatnya tidak pernah mengeluh saat ditempatkan di mana pun.

Adapun sejak awal menjadi anggota Polri, Lusiyanto menghabiskan karirnya di Lampung, antara lain mulai dari Polres Lampung Barat, Polres Tanggamus, hingga akhirnya Polsek Negara Batin.  

Saat akan ditugaskan menjadi Kapolsek Negara Batin, Lusiyanto ikhlas dan tetap bersyukur dalam menerima amanah itu meski menyadari tantangnya sangat berat. ”Kata paman, Polsek Negara Batin tidak pernah dilirik anggota Polri karena daerah yang sepi dan dikenal sebagai daerah ”Texas” alias rawan kriminalitas. Namun, paman tidak menolak dan meniatkannya sebagai ibadah,” kata Sapril.

Isak tangis keluarga Kepala Polsek Negara Batin Inspektur Satu Lusiyanto pecah saat tiba di Instalasi Forensik RS Bhayangkara, Bandar Lampung, pada Selasa (18/3/2025). Lusiyanto adalah sa;ah satu korban tewas tertembak saat anggota polisi menggerebek sabung ayam di Way Kanan.

Berantas sabung ayam

Selama menjadi Kapolsek Negara Batin sejak akhir 2023, lanjut Sapril, Lusiyanto menjalankan amanahnya dengan lurus. Lusiyanto bersikap tanpa tolerir terhadap semua tindak kriminal, terutama judi sabung ayam yang menjadi penyakit sosial akut di sana.

Untuk itu, Lusiyanto fokus membongkar dan memberantas judi sabung ayam. Hal itu disinyalir membuat banyak pelaku risih dengan keberadaan Lusiyanto. Itulah kenapa, saat operasi pengerebekan pada Senin petang, Sapril menilai, ada kenjanggalan dari tewasnya Lusiyanto.

Buktinya, dari kondisi jenazahnya, Lusiyanto ternyata ditembak tepat di dada sisi kanan rompi anti peluru dan pelurunya menembus paru-paru bagian kiri. ”Tembakan itu seolah sudah ditargetkan sehingga yang menembak sengaja menghindari rompi antipeluru tersebut,” kata Sapril.

Selain itu, kata Sapril, penggerebekan itu diawali pergerakan persuasif atau tidak arogan. Lusiyanto dan anggotanya berusaha melakukan pendekatan dengan para pejudi sabung ayam. ”Akan tetapi, saat semua personel kepolisian sedang membangun komunikasi, mereka justru diserang,” kata Sapril.

Saling kenal

Mirisnya, menurut Sapril, Lusiyanto kenal dan sering berinteraksi dengan dua anggota TNI yang diduga pelaku penembakan tersebut, yakni Kopral Kepala Basar dan Pembantu Letnan Satu Lubis. Pasalnya, ketiganya sama-sama pemangku militer di Negara Batin.

Atas dasar itu, seluruh anggota Polsek Negara Batin sangat menyayangkan penembakan tersebut. Mereka menganggap dua anggota TNI itu sangat tega menembak mati personel kepolisian yang sejatinya mereka kenal baik.

”Kami kira, itu terjadi karena pelaku sudah gelap mata oleh dampak judi sabung ayam dan tidak menutup kemungkinan dipengaruhi hal-hal negatif lainnya,” kata Sapril.

Kapendam II/Sriwijaya Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar saat memberikan keterangan pers di Markas Kodam II Sriwijaya, Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (18/3/2025).

Tewasnya Lusiyanto menimbulkan duka mendalam bagi keluarga, khususnya bagi anak tunggal Lusiyanto dan istrinya, Nia (48). Tak heran, keluarga meminta Panglima TNI menindak dua anggota TNI itu dengan seadil-adilnya, transparan, dan akuntabel. ”Kalau terbukti bersalah, dua anggota TNI tersebut harus dihukum setegas-tegasnya,” ujar Lusiyanto.

Sementara itu, Kepala Penerangan Kodam II/Sriwijaya Kolonel Inf Eko Syah Putra Siregar mengatakan, Kopka Basar dan Peltu Lubis adalah anggota Pos Rayon Militer Negara Batin yang berada di wilayah Kodim Way Kanan. Mereka diduga berada di lokasi saat kejadian.

Kopka Basar dan Peltu Lubis sudah menyerahkan diri saat dijemput tim gabungan dari kodim, korem, dan polisi militer pada Senin malam. Setelah itu, keduanya dibawa ke Denpom II/3 Lampung untuk menjalani pemeriksaan mendalam, terutama memastikan ketelibatan mereka dalam penembakan tersebut.

Kalau dua anggota TNI bersangkutan terbukti bersalah, Kodam II/Sriwijaya pasti akan memberikan sanksi tegas sesuai dengan aturan berlaku.

”Kami berkomitmen tidak menoleransi atau bermain-main. Kami akan memberikan sanksi setimpal sesuai aturan berlaku kepada semua prajurit yang melakukan kegiatan yang melanggar aturan dan meresahkan masyarakat luas,” kata Eko.  


Kerabat Kerja

Penulis:

Adrian Fajriansyah
 | 

Editor:

Mukhamad Kurniawan