PALESTINA

Replika Kunci dan ”Hari Bencana” di Palestina

Palestina memperingati Hari Nakba (bencana), hari yang menandai kehancuran tanah air dan pengusiran warga Palestina karena pembentukan Israel.

13 Mei 2026 13:10 WIB · Internasional

AP Photo/Majdi Mohammed

Oleh Demitrius Wisnu Widiantoro

Penduduk Palestina Saeed Abu al-Saud (102)
AFP/ Zain JAAFAR
AFP/Zain JAAFAR
AFP/Zain JAAFAR

Seorang pria berdiri di depan pintu rumahnya. Jenggot, kumis dan bulu matanya telah memutih tanda usianya telah lanjut. Tongkat di tangan kanan membantunya berdiri karena badannya sudah tidak tegap lagi. Ia adalah Saeed Abu al-Saud (102).

Usia yang sudah lebih dari 100 tahun membuatnya tidak segagah dulu lagi, berbeda dengan yang tergambar di dua fotonya saat masih muda. Satu foto yang tergantung di dinding menampakkan dirinya sedang mengangkat senapan laras panjang. Dalam foto itu ia mengenakan selendang kuffiyeh di kepalanya.

Dalam satu foto lainnya Saeed nampak gagah. Saat difoto ia mengenakan seragam berwarna gelap. Ia berdiri tegap dengan kedua tangan diposisi istirahat dalam dunia baris berbaris. Di seragam tampak tersemat beberapa simbol.

Saeed tinggal di rumahnya yang terletak di Deir Dibwan, sebelah timur laut Ramallah di Tepi Barat, Palestina. Saeed adalah seorang insinyur yang juga penulis. Pada 1948 ia bersama sekitar 750.000 warga Palestina harus meninggalkan tanahnya dan menjadi pengungsi di tempat lain. Persitiwa ini dikenal dengan ”Nakba (bencana) Palestina”.

Nakba Day Refugees Remember

Sebagai pelaku eksodus karena pembentukan Israel, mungkin Saeed menjadi pelaku tertua yang masih hidup. Nakba sendiri terjadi pada 1948, atau 78 tahun lalu.

Dalam rubrik Kredensial yang terbit di Harian Kompas pada Minggu (20/5/2026), disebutkan bahwa Nakba mengacu pada operasi sapu bersih terhadap orang-orang Palestina. Itu terjadi satu hari setelah Israel memproklamasikan diri sebagai negara pada 14 Mei 1948. Israel mengusir warga Palestina keluar dari kampung, bahkan keluar dari Palestina, menghancurkan rumah-rumah mereka, kampung halaman mereka, membunuh (mungkin lebih tepatnya membantai mereka), tak peduli laki atau perempuan, tua atau muda, anak-anak atau orang dewasa.

Menurut catatan Sadaka (The Ireland Palestine Alliance) tragedi ini membuat hampir 750.000 orang Palestina terusir, 500 desa dihancurkan dan banyak yang namanya diubah dari bahasa Arab menjadi nama Yahudi (misalnya, Jabal Haruf menjadi Har Harif, Jabal Dibba menjadi Har Dla’at, Beit Dajan menjadi Beit Dagan, al-Bassa menjadi Batzat, dan al-Mujaydil menjadi Migadal Haemek). Saat itu, 75 persen tanah Palestina diduduki Israel.

Pendudukan tanah Palestina oleh Israel hingga kini masih berlangsung dan mungkin bertambah luas. Keinginan Israel untuk menduduki wilayah Palestina secara penuh terus saja ada. Pada Mei 2025 lalu kabinet keamanan Israel menyetujui rencana perluasan serangan militer di Gaza, yang bertujuan untuk "menaklukkan" wilayah tersebut sambil memindahkan penduduknya secara massal. Saat itu rencana Israel menuai kecaman internasional.

Saat itu, Mei 2025, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan pemerintahnya sedang berupaya mencari negara ketiga untuk menampung penduduk Gaza. Itu dilontarkan beberapa bulan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyarankan agar mereka diusir dan wilayah tersebut dikembangkan kembali sebagai tujuan wisata.

<p> Peringatan Hari Nakba di Nablus di Tepi Barat Palestina yang dikuasai Israel (AFP/JAAFAR ASHTIYEH)</p><p>Pengunjukrasa mengenakan selendang kuffiyeh di kepalanya (AFP/JAAFAR ASHTIYEH)</p><p>Membawa poster saat peringatan Hari Nakba di Ramallah, Tepi Barat Palestina yang dikuasasi Israel (AFP/ZAIN JAAFAR)</p><p>Membawa replika kunci, simbol rumah yang hilang dan harapan untuk kembali (AFP/ZAIN JAAFAR)</p><p>Pawai sambil membawa replika kunci di bawah bendera Palestina (AP PHOTO/MAJDI MOHAMMED)</p>

Peringatan Hari Nakba di Nablus di Tepi Barat Palestina yang dikuasai Israel (AFP/JAAFAR ASHTIYEH)

Pengunjukrasa mengenakan selendang kuffiyeh di kepalanya (AFP/JAAFAR ASHTIYEH)

Membawa poster saat peringatan Hari Nakba di Ramallah, Tepi Barat Palestina yang dikuasasi Israel (AFP/ZAIN JAAFAR)

Membawa replika kunci, simbol rumah yang hilang dan harapan untuk kembali (AFP/ZAIN JAAFAR)

Pawai sambil membawa replika kunci di bawah bendera Palestina (AP PHOTO/MAJDI MOHAMMED)

Israel Palestinians

Nakba yang selalu diperingati

Setiap tahun nakba selalu diperingati oleh warga Palestina. Mereka mengenang peristiwa getir yang mengubah kehidupan mereka secara drastis baik di tingkat individu maupun nasional. Peristiwa yang membuat mereka menjadi pengungsi dan kehilangan segala-galanya, termasuk martabat sebagai bangsa merdeka.

Seperti yang sejumlah warga Palestina di kota Nablus, Tepi Barat, Palestina yang diduduki Israel pada Senin (11/5/2026). berkumpul selama acara peringatan Nakba Palestina atau "Hari Bencana", ketika sekitar 760.000 warga Palestina mengungsi atau diusir dari rumah mereka selama pembentukan negara Israel pada tahun 1948,

Pada Selasa (12/5/2026) giliran siswa Palestina menggelar unjuk rasa memeringati Hari Nakba di Kota Ramallah, Tepi Barat. Dalam aksi itu lima orang siswa bersama-sama membawa replika kunci berukuran besar. Sementara itu sejumlah peserta lain membawa replika kunci yang lebih kecil. Replika kunci itu menjadi simbol rumah-rumah yang hilang di wilayah yang sekarang menjadi Israel. Dengan kunci itu mereka juga berharap dapat menghuni kembali rumah-rumah yang hilang itu.

Aksi unjuk rasa untuk peringatan ke-78 Hari Nakba diperkirakan akan terus memuncak hingga 15 Mei 2026 nanti, sehari setelah perayaan kemerdekaan Israel. Dan entah sampai kapan Hari Nakba akan terus diperingati warga Palestina sambil berharap mereka kembali ke rumah mereka yang telah lama hilang. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Editor:

Iwan Setiyawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase