Resmi, Pelancong Indonesia ke China Tak Perlu Visa

Pengumuman pembebasan visa itu dilakukan China kala Amerika Serikat sedang gencar merazia pendatang ilegal dan mengetatkan perbatasan.

12 Jun 2025 10:15 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

BEIJING, KAMIS — Pelancong Indonesia ke China kini tak perlu lagi mengurus visa. Kebijakan itu bagian dari upaya menarik lebih banyak wisatawan Indonesia.

Kantor berita Xinhua, Kamis (12/6/2025), melaporkan, kebijakan bebas visa bagi WNI berlaku ke 24 provinsi. Lawatan maksimum 10 hari tidak perlu lagi mengurus visa kunjungan.

Kebijakan itu mulai berlaku Kamis ini. Selain Indonesia, ada 54 negara mendapat pembebasan visa kunjungan 10 hari itu. Visa ini hanya untuk segala macam kunjungan wisata atau menemui keluarga. Untuk sekolah apalagi bekerja, perlu mendapat visa.

Menurut otoritas imigrasi China, NIA, bebas visa disebut visa transit. Dengan kata lain, untuk dapat bebas visa, pelancong harus membuktikan punya tiket meninggalkan China paling lama 10 hari sejak datang.

Selain itu, karena disebut transit, maka perjalanan ke China dihitung sebagai singgah. Berdasarkan kebijakan untuk negara lain, bebas visa transit tidak berlaku kalau tiketnya hanya negara asal ke China pergi pulang.

Bebas visa ini bisa berlaku kalau, misalnya, disertai lawatan ke Hong Kong atau Makau. Sebab, kebijakan China menghitung kedua wilayah swatantranya itu sebagai tujuan lain.

Selain itu, pintu kedatangan hanya di 60 bandara atau pelabuhan di seluruh China. Daftar lengkap bandara, pelabuhan, atau pelintasan belum diungkap Xinhua. Jika mengacu ke kebijakan sebelumnya, maka pintu masuk tersebar di Beijing sampai Yunnan.

China telah lebih dulu memberlakukan kebijakan ini untuk berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Tujuannya, mendorong lebih pelancong asing datang ke China.

Sebelum ke seluruh China, sebenarnya pelancong Indonesia telah bebas visa ke sejumlah wilayah China. Hong Kong, Makau, Hainan, dan sebagian Yunnan adalah wilayah yang bisa didatangi WNI tanpa perlu mengurus visa.

Suasana Pusat Kota Tua Haikou, ibu kota Hainan, China pada Sabtu (24/5/2026). Sebagian bangunan di kawasan itu buatan akhir abad 19. Kawasan itu dulu pusat niaga Haikou, ibu kota Hainan, China

China telah lebih dulu memberlakukan kebijakan ini untuk berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Tujuannya, mendorong lebih pelancong asing datang ke China.

Sebelum ke seluruh China, sebenarnya pelancong Indonesia telah bebas visa ke sejumlah wilayah China. Hong Kong, Makau, Hainan, dan sebagian Yunnan adalah wilayah yang bisa didatangi WNI tanpa perlu mengurus visa.

Wilayah Yunnan yang bisa dikunjungi tanpa visa adalah Xishuangbanna. Daerah itu tujuan wisata populer di perbatasan China dengan Myanmar dan Laos.

NIA menetapkan, lawatan bebas bisa ke Xishuangbanna hanya bisa dinikmati pelancong yang datang berkelompok. Sementara lawatan ke Hong Kong, Makau, atau Hainan bisa dilakoni sendirian.

Pengumuman pembebasan visa itu dilakukan China kala Amerika Serikat sedang gencar merazia pendatang ilegal dan mengetatkan perbatasan. Pengumuman dilakukan beberapa pekan setelah Perdana Menteri China Li Qiang mendatangi Indonesia, lalu ikut Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Malaysia.

Sebelum lawatan PM Li, Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan RI-China bertemu di Beijing. Indonesia jadi mitra pertama China dalam forum yang dikenal sebagai 2+2 tersebut.

Dalam lawatan PM Li pada akhir Mei 2025, RI-China menyepakati kerja sama pariwisata. Kedua negara sepakat untuk saling mendorong di antara mereka. Selain pelonggaran visa, kebijakan itu termasuk kerja sama di antara biro perjalanan wisata.

Duta Besar Republik Indonesia di Beijing Djauhari Oratmangun mengatakan, Indonesia menargetkan menerima dua juta pengunjung asal China tahun ini. Selain keragaman tujuan wisata, perjalanan di antara kedua negara semakin mudah.

Pilihan penerbangan

Kini, dari Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang dan Bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasartersedia sejumlah penerbangan komersial beberapa kali sehari. Selain itu, ada juga penerbangan dari Bandara Juanda, Sidoarjo dan Bandara Sam Ratulangi, Manado.

Dari bandara-bandara itu tersedia penerbangan langsung ke Haikou, Guangzhou, Xiamen, Shenzhen, Shanghai, Chengdu, Beijing, Sanya, dan Fuzhou. Haikou dan Sanya bagian dari Hainan, provinsi China yang berada di pulau dekat Vietnam.

Pelancong Indonesia ke China selama ini paling banyak ke Hainan dan Hong Kong yang bebas visa. Sementara pelancong berkelompok paling banyak ke Yunnan.

Kediaman bangsawan Mu di kawasan kota tua Lijiang, Yunnan, China

Banyaknya kemiripan antara Yunnan dengan Indonesia. Dulu guru mengajarkan salah satu teori asal usul nenek moyang Indonesia yang datang dari Yunnan sekitar 4.300 tahun yang lalu.

Teori ini didasari pada hasil temuan teknologi dan persamaan bahasa. Masyarakat Yunan dipercaya datang ke Nusantara secara bergelombang melalui berbagai sungai besar seperti Chao Phraya dan Mekhong.

Kedatangan masyarakat Yunan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu Proto Melayu dan juga Deutro Melayu. Gelombang pertama, Proto Melayu, datang ke Nusantara sekitar 3.000 hingga 1.500 SM. Bangsa ini yang membawa kebudayaan neolitikum ke Indonesia. Lalu gelombang kedua, Deutro Melayu, tiba pada 1.500-500 SM. Mereka membawa kebudayaan yang lebih modern.

Bangsa Proto Melayu memiliki ciri fisik seperti ras Austronesia dan Negroid. Adapun bangsa Deutro Melayu memiliki ciri fisik Melanesia dan Mongoloid. Migrasi mereka ke selatan diduga karena adanya tekanan dari berbagai bangsa yang lebih kuat di wilayah utara.

Meski ada bukti kemiripan kondisi geografis, bahasa, kondisi fisik, dan bukti teknologi, ada sebagian orang yang menilai teori Yunnan ini tak terlalu kuat membuktikan nenek moyang masyarakat Nusantara datang dari Yunnan. Terlepas dari teori asal usul nenek moyang itu, yang jelas minat masyarakat Yunnan untuk belajar tradisi budaya dan Bahasa Indonesia tinggi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .