Sosok Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dikenal karena dedikasi dan sikap rendah hati mereka. Tak hanya kawan, lawan pun menghormati mereka.
25 Jan 2025 19:27 WIB · Olahraga
Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan pamitan dari kompetisi bulu tangkis internasional. Tak sekadar menjadi atlet dengan sederet gelar juara besar, mereka adalah sosok yang dihormati karena kerendahan hati.
Bukan hanya penggemar bulu tangkis, khususnya fans Hendra/Ahsan, yang bersedih ketika pada Desember 2024, mereka mengumumkan akan pensiun. Orang-orang bulu tangkis dari berbagai kalangan ramai berbicara tentang pasangan berjulukan ”The Daddies” di dunia maya saat rencana pensiun pada Januari 2025 diumumkan Hendra pada 3 Desember 2024 dan Ahsan, sepekan berikutnya.
Ungkapan sedih dan respek tentang Hendra/Ahsan diutarakan melalui media sosial oleh fans yang mempunyai julukan badminton lovers (BL) di Indonesia. ”Adik-adik” mereka di pelatnas bulu tangkis, Cipayung, Jakarta, menyampaikan rasa terima kasih karena telah menjadi inspirasi.
Bintang bulu tangkis dunia dari negara lain turut menyampaikan rasa hati mereka, tak hanya melalui media sosial, tetapi saat mengikuti turnamen Daihatsu Indonesia Masters di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, 21-26 Januari. Beberapa dari mereka akan terlibat dalam acara ”Tribute to Daddies” sebelum final, Minggu (26/1/2025), mulai pukul 10.00 WIB.
”Saya selalu mengidolakan keduanya, Hendra ataupun Ahsan, apalagi sejak saya bermain ganda putra bersama dia (Satwiksairaj Rankireddy),” kata Chirag Shetty, pemain ganda putra India. Shetty/Rankireddy bermain di Indonesia Masters dan tersingkir pada babak kedua, sama seperti Hendra/Ahsan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/15/b5bb9ecb-4828-4fee-8a32-758370d89205_jpg.jpg)
Kekaguman Shetty berawal dari momen Olimpiade Beijing 2008. Saat itu, dia menonton penampilan Hendra/Markis Kido di final saat melawan wakil tuan rumah, Fu Haifeng/Cai Yun. Hendra/Kido menyumbangkan medali emas bagi ”Merah Putih” dalam debut mereka di Olimpiade.
”Saya, yang masih berusia 11 tahun, langsung menjadi penggemar berat Hendra. Setelah bersama Ahsan, mereka pun menjadi pasangan yang benar-benar bagus. Saya selalu menjadikan mereka panutan dan berharap yang terbaik setelah mereka pensiun,” kata Shetty.
Rankireddy punya momen yang begitu mengesankan terkait Hendra/Ahsan, bukan tentang persaingan di lapangan, melainkan pada momen yang terjadi di luar lapangan. Setelah mereka kalah pada babak kedua Denmark Terbuka 2021, Ahsan menyemangati, menyarankan mereka untuk melupakan kekalahan tersebut, lalu melanjutkan dan menikmati permainan pada turnamen lain. Padahal, saat itu pun Hendra/Ahsan tersingkir pada babak pertama.
”Kami mengikuti saran itu dan pada turnamen berikutnya, di Perancis Terbuka, kami bisa lebih baik. Mereka selalu ramah dan bersedia memberi banyak masukan kepada siapa saja, yaitu kepada kami, pemain China, dan Inggris. Mereka sangat bersahabat. Harapan saya masih bisa bertemu mereka lagi, mungkin sebagai pelatih,” tutur Rankireddy.
Dari penggemar, Shetty/Rankireddy akhirnya berkesempatan menjadi lawan idola mereka, berselang sepuluh tahun setelah Olimpiade Beijing 2008. Pertemuan pertama dengan Hendra/Ahsan terjadi pada perempat final Fuzhou China Terbuka 2018 yang dimenangi Hendra/Ahsan dalam tiga gim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/23/c3fa558e-7f5c-4ded-a6a8-47e1ea701234_jpg.jpg)
Setahun berikutnya, Shetty/Rankireddy membalas kekalahan tersebut pada ajang yang sama di babak kedua. Dalam rentang enam tahun, mereka delapan kali bertemu dan berbagi empat kemenangan.
Duet ganda putra terbaik India itu bercerita tentang Hendra/Ahsan setelah memenangi babak pertama Indonesia Masters pada hari pertama turnamen, 21 Januari. Mereka menjalani babak kedua pada hari yang sama dengan tampilnya Hendra/Ahsan, dua hari kemudian.
Maka, ketika Hendra/Ahsan berkumpul bersama keluarga di area atlet setelah kalah, Shetty/Rankireddy turut berbaur. Mereka meminta foto bersama meski telah berkali-kali mendapat pengalaman yang sama.
Kekaguman kepada Hendra/Ahsan juga disampaikan pemain Malaysia, Aaron Chia. Bersama partnernya, Soh Wooi Yik, Chia mendapat momen yang bisa jadi tak akan terlupakan dalam hidupnya. Mereka mengalahkan Hendra/Ahsan dalam perebutan medali perunggu Olimpiade Tokyo 2020 dan dalam final Kejuaraan Dunia 2022 tempat yang sama. Dua hasil itu menjadi bagian dari lima kemenangan Chia/Soh pada 13 pertemuan dengan Hendra/Ahsan.
”Kami respek kepada ’The Daddies’. Dari mereka, kami belajar banyak di lapangan juga di luar lapangan. Sikap mereka menjadi contoh. Mereka baik sekali,” kata Chia yang akhirnya kalah pada semifinal Indonesia Masters, Sabtu (25/1/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/17/f1802bc3-4e80-4c72-9f70-165fd3151bd4_jpg.jpg)
Atlet lain yang turut memuji sikap rendah hati Hendra dan Ahsan adalah pemain ganda putra Jepang, Yugo Kobayashi. ”Tentu, saya senang melihat cara bermainmu, tetapi, saya sangat suka dengan sikap rendah hatimu,” ujar Kobayashi yang juga langsung mengundang Hendra untuk datang ke Jepang melalui akun media sosialnya.
Junaidi Arif dan Roy King Yap, pasangan Malaysia yang akhirnya menjadi lawan terakhir Hendra/Ahsan, menyampaikan rasa hormat kepada mereka. ”Kami senang bisa menjadi lawan Hendra/Ahsan, tetapi juga sedih karena tak bisa melihat mereka bermain lagi. Semoga mereka bisa tetap menjadi inspirasi bagi bulu tangkis,” kata Arif yang bersama Yap melewati net, lalu memeluk Hendra dan Ahsan setelah pertandingan.
Bagi atlet Indonesia, terutama atlet pelatnas bulu tangkis Cipayung, pensiunnya Hendra/Ahsan akan semakin terasa. Walaupun kecanggihan teknologi bisa menghilangkan sekat agar komunikasi bisa dilakukan dimana pun, kehadiran sang senior di dekat mereka akan menjadi momen yang dirindukan.
Hendra/Ahsan tak menjadi atlet pelatnas dan memilih berkarier sebagai profesional sejak 2019. Dengan status tersebut, mereka membiayai semua kebutuhan untuk bertanding dan latihan. Meski demikian, PP PBSI tetap meminta Hendra/Ahsan berlatih di Cipayung, hingga akhirnya pensiun, agar kedisplinan mereka bisa dicontoh atlet lain.
Tak hanya menjadi atlet yang menjadi panutan di lapangan, sang senior menjadi sahabat bagi beberapa atlet. Fajar Alfian, misalnya, menjadi anggota ”Geng Laundry” bersama Hendra dan beberapa atlet putra lain. Mereka punya kegiatan mencuci baju bersama di tempat laundry ketika bertanding di luar Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/25/039a921b-8b9a-497d-a280-6e01acda14a6_jpg.jpg)
”Kalau tur internasional, saya pasti laundry dan makan bareng Koh Hendra. Kalau Babah (panggilan untuk Ahsan), kami pernah jadi teman sekamar. Mereka adalah senior yang punya dedikasi tinggi, disiplin luar biasa, dan rendah hati. Sangat santai tapi buas,” kata Fajar.
Rian menuturkan hal serupa. Meski berusia cukup jauh darinya, Hendra (40) dan Ahsan (37) mempunyai kedisiplinan yang tinggi dalam latihan bersama atlet lain yang lebih muda. ”Daya juang mereka pun luar biasa dan patut dicontoh,” kata Rian yang berusia 28 tahun.
Atlet ganda campuran, Rinov Rivaldy, juga punya kesan sendiri tentang Ahsan. Dia sering meminta masukan dari seniornya tersebut, terutama saat sedang terpuruk. ”Bang Ahsan tahu semua curhat saya. Kalau tidak karena dia, mungkin saat ini, saya tidak ada di sini,” ujar Rinov setelah kalah pada semifinal ganda campuran bersama Lisa Ayu Kusumawati, Sabtu.
Mantan atlet yang menjadi komentator turnamen untuk Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Gillian Clark, bahkan menyejajarkan Hendra/Ahsan dengan para GOAT (greatest of all time) di arena tenis. Status itu hanya melekat pada atlet besar yang berpengaruh di dalam dan luar lapangan, seperti Roger Federer.
Penulis:
Yulia Sapthiani, rebiyysah salasah, riana a ibrahimEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari