Apa yang anda pelajari dari artikel ini?
- Apa dampak tarif
- Adakah pengaruhnya di sektor keuangan?
- Bagaimana dengan industri alas kaki?
- Apa respons pemerintah?
1. Apa dampak Tarif Trump pada ekonomi nasional secara umum?
Profesor Ekonomi Internasional FEB UI sekaligus Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Pangestu melalui opininya di Harian Kompas, Jumat (4/4/2025), menyebutkan, Indonesia akan menghadapi bea masuk 10 persen per 5 April seperti semua negara lain, dan 32 persen pada 9 April.
Pengenaan tarif ini akan berdampak signifikan terhadap ekspor Indonesia ke AS, dengan ekspor utama alat elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, udang, dan juga produk kayu (mebel dan kriya).
Ada bea masuk sektoral sebesar 25 persen yang sudah dan akan diberlakukan untuk otomotif, besi baja dan aluminium, semikonduktor, produk tembaga, kayu dan produk turunan, serta logam mulia. Produk tersebut dikenai bea masuk sektoral dan bukan bea masuk bilateral terkait negara.
Dampak bagi Indonesia akan sangat terasa karena berbagai sektor ini sangat penting untuk penyerapan tenaga kerja, petambak udang, serta pertumbuhan ekspor dan ekonomi Indonesia. Beberapa produk ekspor kita, seperti pakaian jadi, sepatu, dan produk kayu, mempunyai ketergantungan tinggi kepada pasar AS.
2. Adakah pengaruhnya di sektor keuangan?
Kebijakan tarif Amerika Serikat yang turut menyasar Indonesia berpotensi semakin menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham. Meski pasar uang dan pasar saham domestik masih memasuki masa libur, guncangan akan dirasakan begitu pasar kembali dibuka pada 8 April 2025.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk kepada negara-negara mitra dagang AS di Gedung Putih, AS, Kamis (3/4/2025) pagi waktu Jakarta. Indonesia pun tidak luput dari kebijakan itu, dengan dikenai tarif 32 persen.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University dan Universitas Paramadina Didin S Damanhuri berpendapat, kebijakan tarif AS bukan hanya menimbulkan gejolak perekonomian secara global. Sentimen pengenaan tarif terhadap Indonesia berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham.
”Kemarin saja (rupiah) sudah menyentuh Rp 16.700 per dollar AS. Nah, sekarang, apalagi Indonesia dikenai (tarif) 32 persen, sentimennya. Lalu, nanti ke IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) langsung yang kemarin sudah ada capital flight 4,25 triliun rupiah,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Didin menjelaskan, kebijakan tarif AS semakin menambah sentimen negatif di tengah kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang sedang melemah. Ini tampak dari meningkatnya utang luar negeri menjadi sekitar Rp 7.000 triliun pada Januari 2025, serta defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 0,13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada Februari 2025.
”Dengan sentimen dari dalam negeri saja, seperti Danantara, rupiah sudah cukup tertekan. Sekarang, dengan kombinasi sentimen (tarif AS) dan dampaknya ke sektor riil, itu bisa di atas Rp 17.000 per dollar AS menurut saya dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
3. Bagaimana dengan industri alas kaki?
Penetapan tarif bea masuk sebesar 32 persen oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Indonesia akan berdampak pada industri alas kaki. Amerika Serikat selama ini menjadi pasar besar bagi industri alas kaki sehingga akan menyebabkan penurunan pemesanan dan penyesuaian harga yang bakal memakan waktu minimal enam bulan.
Terhadap penetapan tarif itu, Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, penetapan tarif kepada Indonesia akan berdampak pada industri alas kaki. Tarif 32 persen itu akan menurunkan pemesanan dan penyesuaian harga yang akan memakan waktu minimal enam bulan.
”Artinya, enam bulan ke depan, PO (purchasing order) akan mengecil dan bisa mengakibatkan ekspor ke Amerika yang bisa berimbas untuk pengecilan produksi dan mungkin PHK,” ujar Eddy kepada Kompas, Kamis (3/4/2025).
Setelah penetapan tarif tersebut, Eddy melanjutkan, Indonesia ke depan harus lebih cermat memilih pasar baru. Sejumlah pasar potensial yang bisa disasar adalah Eropa dan China. Namun, tantangannya, kondisi daya beli di Eropa sedang menurun, sementara China juga akan membantu industri dalam negerinya dahulu.
4. Apa respons pemerintah?
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Kamis (3/4/2025) malam, mengatakan, pengenaan tarif resiprokal itu akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing produk-produk ekspor RI di pasar AS.
Selama ini produk ekspor utama RI di pasar AS, antara lain, elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, minyak sawit, karet, furnitur, udang, dan produk-produk perikanan laut.
”Kami akan segera menghitung dampak pengenaan tarif resiprokal AS terhadap komoditas-komoditas itu. Kami juga akan mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi dampak negatif terhadap perekonomian nasional Indonesia,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta.
Susiwijono menjelaskan, sejak awal 2025, Pemerintah RI telah mempersiapkan berbagai strategi dan langkah untuk menghadapi penerapan tarif baru AS. Pemerintah RI juga telah bernegosiasi dengan Pemerintah AS.
Tim lintas kementerian dan lembaga, perwakilan Indonesia di AS, dan para pelaku usaha nasional telah berkoordinasi secara intensif untuk menghadapi tarif resiprokal AS. Selain itu, Pemerintah RI juga akan terus berkomunikasi dengan Pemerintah AS dalam berbagai tingkatan.
”Kami akan segera mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk bernegosiasi langsung dengan Pemerintah AS. Indonesia juga telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang Keketuaan ASEAN untuk mengambil langkah bersama mengingat 10 negara ASEAN seluruhnya terdampak pengenaan tarif resiprokal AS.” katanya.
Apa yang anda pelajari dari artikel ini?
- Apa dampak tarif
- Adakah pengaruhnya di sektor keuangan?
- Bagaimana dengan industri alas kaki?
- Apa respons pemerintah?
1. Apa dampak Tarif Trump pada ekonomi nasional secara umum?
Profesor Ekonomi Internasional FEB UI sekaligus Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Pangestu melalui opininya di Harian Kompas, Jumat (4/4/2025), menyebutkan, Indonesia akan menghadapi bea masuk 10 persen per 5 April seperti semua negara lain, dan 32 persen pada 9 April.
Pengenaan tarif ini akan berdampak signifikan terhadap ekspor Indonesia ke AS, dengan ekspor utama alat elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, udang, dan juga produk kayu (mebel dan kriya).
Ada bea masuk sektoral sebesar 25 persen yang sudah dan akan diberlakukan untuk otomotif, besi baja dan aluminium, semikonduktor, produk tembaga, kayu dan produk turunan, serta logam mulia. Produk tersebut dikenai bea masuk sektoral dan bukan bea masuk bilateral terkait negara.
Dampak bagi Indonesia akan sangat terasa karena berbagai sektor ini sangat penting untuk penyerapan tenaga kerja, petambak udang, serta pertumbuhan ekspor dan ekonomi Indonesia. Beberapa produk ekspor kita, seperti pakaian jadi, sepatu, dan produk kayu, mempunyai ketergantungan tinggi kepada pasar AS.
2. Adakah pengaruhnya di sektor keuangan?
Kebijakan tarif Amerika Serikat yang turut menyasar Indonesia berpotensi semakin menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham. Meski pasar uang dan pasar saham domestik masih memasuki masa libur, guncangan akan dirasakan begitu pasar kembali dibuka pada 8 April 2025.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengumumkan daftar tarif dasar dan bea masuk kepada negara-negara mitra dagang AS di Gedung Putih, AS, Kamis (3/4/2025) pagi waktu Jakarta. Indonesia pun tidak luput dari kebijakan itu, dengan dikenai tarif 32 persen.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University dan Universitas Paramadina Didin S Damanhuri berpendapat, kebijakan tarif AS bukan hanya menimbulkan gejolak perekonomian secara global. Sentimen pengenaan tarif terhadap Indonesia berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham.
”Kemarin saja (rupiah) sudah menyentuh Rp 16.700 per dollar AS. Nah, sekarang, apalagi Indonesia dikenai (tarif) 32 persen, sentimennya. Lalu, nanti ke IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) langsung yang kemarin sudah ada capital flight 4,25 triliun rupiah,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Didin menjelaskan, kebijakan tarif AS semakin menambah sentimen negatif di tengah kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang sedang melemah. Ini tampak dari meningkatnya utang luar negeri menjadi sekitar Rp 7.000 triliun pada Januari 2025, serta defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 0,13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada Februari 2025.
”Dengan sentimen dari dalam negeri saja, seperti Danantara, rupiah sudah cukup tertekan. Sekarang, dengan kombinasi sentimen (tarif AS) dan dampaknya ke sektor riil, itu bisa di atas Rp 17.000 per dollar AS menurut saya dalam beberapa hari ke depan,” ujarnya.
3. Bagaimana dengan industri alas kaki?
Penetapan tarif bea masuk sebesar 32 persen oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Indonesia akan berdampak pada industri alas kaki. Amerika Serikat selama ini menjadi pasar besar bagi industri alas kaki sehingga akan menyebabkan penurunan pemesanan dan penyesuaian harga yang bakal memakan waktu minimal enam bulan.
Terhadap penetapan tarif itu, Ketua Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko mengatakan, penetapan tarif kepada Indonesia akan berdampak pada industri alas kaki. Tarif 32 persen itu akan menurunkan pemesanan dan penyesuaian harga yang akan memakan waktu minimal enam bulan.
”Artinya, enam bulan ke depan, PO (purchasing order) akan mengecil dan bisa mengakibatkan ekspor ke Amerika yang bisa berimbas untuk pengecilan produksi dan mungkin PHK,” ujar Eddy kepada Kompas, Kamis (3/4/2025).
Setelah penetapan tarif tersebut, Eddy melanjutkan, Indonesia ke depan harus lebih cermat memilih pasar baru. Sejumlah pasar potensial yang bisa disasar adalah Eropa dan China. Namun, tantangannya, kondisi daya beli di Eropa sedang menurun, sementara China juga akan membantu industri dalam negerinya dahulu.
4. Apa respons pemerintah?
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Kamis (3/4/2025) malam, mengatakan, pengenaan tarif resiprokal itu akan memberikan dampak signifikan terhadap daya saing produk-produk ekspor RI di pasar AS.
Selama ini produk ekspor utama RI di pasar AS, antara lain, elektronik, tekstil dan produk tekstil, alas kaki, minyak sawit, karet, furnitur, udang, dan produk-produk perikanan laut.
”Kami akan segera menghitung dampak pengenaan tarif resiprokal AS terhadap komoditas-komoditas itu. Kami juga akan mengambil langkah-langkah strategis untuk memitigasi dampak negatif terhadap perekonomian nasional Indonesia,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta.
Susiwijono menjelaskan, sejak awal 2025, Pemerintah RI telah mempersiapkan berbagai strategi dan langkah untuk menghadapi penerapan tarif baru AS. Pemerintah RI juga telah bernegosiasi dengan Pemerintah AS.
Tim lintas kementerian dan lembaga, perwakilan Indonesia di AS, dan para pelaku usaha nasional telah berkoordinasi secara intensif untuk menghadapi tarif resiprokal AS. Selain itu, Pemerintah RI juga akan terus berkomunikasi dengan Pemerintah AS dalam berbagai tingkatan.
”Kami akan segera mengirimkan delegasi tingkat tinggi ke Washington DC untuk bernegosiasi langsung dengan Pemerintah AS. Indonesia juga telah berkomunikasi dengan Malaysia selaku pemegang Keketuaan ASEAN untuk mengambil langkah bersama mengingat 10 negara ASEAN seluruhnya terdampak pengenaan tarif resiprokal AS.” katanya.