Bersama Emery, pelatih spesialis tim semenjana, Aston Villa perlahan mengembalikan citranya di kancah Eropa. Akankah Villa melaju jauh di Liga Champions?
13 Mar 2025 18:45 WIB · Olahraga
Ada beberapa hal yang sulit dijelaskan dalam sepak bola, satu di antaranya ialah kecenderungan Unai Emery untuk sukses bersama tim semenjana. Gejala itu kembali ia perlihatkan bersama Aston Villa musim ini. Sejak menggantikan Steven Gerrard pada 2022, Emery mulai memimpin revolusi merangkak Villa di kancah Eropa.
Emery agaknya diberkahi kelihaian dalam mengatur para pemain level menengah. Pelatih asal wilayah Basque di Spanyol tersebut acap kesulitan menaklukkan Eropa dengan tim besar, tetapi sukses saat bersama tim semenjana. Kecenderungan ini diperlihatkan Emery saat menangani Villarreal dan Sevilla. Kedua tim tersebut dibawanya memenangi Liga Europa. Emery bahkan membawa Sevilla menjuarai Liga Europa tiga musim beruntun pada 2013 hingga 2016.
Akan tetapi, saat menangani tim-tim bertabur pemain bintang, Emery kehilangan sentuhan ajaibnya. Setelah meraih kejayaan di Sevilla, Emery menerima tantangan baru bersama Paris Saint-Germain. Di sana Emery hanya mampu mempersembahkan tujuh gelar domestik. Padahal, ia direkrut untuk memenuhi ambisi pemilik PSG dalam menaklukkan daratan Eropa.
Selepas dari PSG, kemampuan Emery diminati Arsenal. Setali tiga uang, Emery pun gagal bersinar. Ia bahkan membawa Arsenal finis di luar peringkat 10 besar serta sama sekali tidak mampu mempersembahkan trofi setelah 10 bulan menangani Arsenal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/96de367a-4102-4449-aec8-dcf8d244b831_jpg.jpg)
Emery baru kembali menunjukkan siapa dia sebenarnya saat membawa Villarreal memenangi Liga Europa pada musim perdananya. Villa lalu tertarik dengan kepiawaian Emery dalam menangani klub-klub semenjana. Klub yang berbasis di kota Birmingham ini awalnya tengah berjuang bangkit dari jurang zona degradasi saat ditangani Gerrard.
Berkat tangan dingin Emery, Villa merangkak naik dari tubir zona degradasi dan finis di peringkat ke-14. Semusim berselang, Emery membawa Villa menembus peringkat tujuh besar. Suatu pencapaian fenomenal untuk sebuah tim yang nyaris terdegradasi pada musim sebelumnya.
Sepak terjang Villa semakin menjanjikan di bawah Emery pada musim 2023-2024. Pada akhir musim, Villa akhirnya sukses menembus posisi empat besar. Di Eropa, Villa dibawanya mencapai babak semifinal Liga Konferensi Europa. Musim ini, para pendukung Villa mulai memimpikan tim kesayangannya bisa melaju lebih jauh di Liga Champions Eropa.
Kans tersebut terbuka lebar. Villa akhirnya mampu lolos ke babak perempat final seusai mengandaskan Club Brugge, 6-1, secara agregat. Tantangan lebih berat menanti Emery dan Villa yang akan menghadapi Paris Saint-Germain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/4409709a-e4ec-48d8-b395-a5951408d9fa_png.png)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/ae7d8e04-3c74-444b-aafd-454cd157cfaa_jpg.jpg)
Liga Champions bukanlah turnamen yang sama sekali asing bagi Villa. Mereka bahkan pernah memenanginya pada 1982, saat Liga Champions masih bernama European Champions Club’s Cup. Pada laga final menghadapi Bayern Muenchen, Villa memastikan kemenangan berkat gol semata wayang Peter Withe yang kelak menjadi pelatih timnas Indonesia pada 2004-2007.
Villa, pada era 1980-an, memang disegani sebagai salah satu klub besar Eropa. Pada rentang waktu itulah Villa juga menjuarai sejumlah turnamen bergengsi, seperti Piala FA, Piala Super Eropa, dan Liga Inggris. Kini, bersama Emery, Villa perlahan memulai revolusi merangkak untuk mengembalikan kejayaan mereka di Eropa.
Kans Villa merebut gelar musim ini hanya di Liga Champions. Di Liga Inggris, Villa untuk sementara tercecer di peringkat kedelapan. Dengan liga yang tinggal menyisakan sembilan pekan, upaya Villa kembali menembus peringkat empat besar terbilang masih terbuka. Mereka hanya berselisih empat poin dengan Chelsea di peringkat keempat. Namun, ambisi terbesar Villa saat ini tertuju pada Liga Champions.
”Dalam meningkatkan impian kami, kami harus mencapai tujuan di level tinggi yang harus kami capai. Musim ini, bermain di Liga Champions adalah kesempatan yang sangat bagus ketika kami memulai. Kami benar-benar fokus di Liga Champions tentang bagaimana kami bisa menjadi protagonis,” kata Emery di laman Villa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/13/b60b904b-a58e-4182-8c9e-ba1a44d74ef1_jpg.jpg)
Sebuah ambisi yang terdengar utopis, tetapi masih sangat mungkin diwujudkan Emery. Jangan pernah meragukan Emery meski ia menangani tim tanpa bintang. Kelemahan terbesar Emery justru adalah meredakan ego tinggi para pemain kelas atas.
Pengalaman itu terpampang saat bintang PSG, Neymar, berdebat dan nyaris menyerang rekan setimnya, Edinson Cavani. Pemicu pertengkaran terkait penendang penalti. Keributan Neymar dan Cavani berlanjut hingga ruang ganti. Kejadian tersebut membuka ketidakmampuan Emery kerap kehilangan wibawa di hadapan pemain-pemain bintang.
Kisah Emery bisa jadi sangat berbeda di Villa. Tanpa diusik ego pemain bintang, Emery bisa leluasa menjinakkan ruang ganti. Sentuhan ajaibnya seperti saat menangani Sevilla dan Villarreal pun kembali lagi. Uniknya, entah kebetulan atau tidak, Emery selalu sukses bersama tim dengan kata ”Villa” di dalamnya.
Akankah kisah manis Emery bersama Sevilla dan Villarreal terulang di Aston Villa? Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti