Perempuan Iran menjadi tulang punggung kemajuan negaranya di masa depan. Mereka menguasai perguruan tinggi dan meraih prestasi bergengsi bidang ilmu pengetahuan.
12 Mar 2026 08:00 WIB · Internasional
AFP/ATTA KENARE
Narasi tentang Iran akhir-akhir ini didominasi oleh berita perang. Pemicunya adalah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari 2026. Perang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang di Iran.
Akan tetapi, sebelum lembaran kelam perang itu terbuka, para perempuan Iran telah merintis jalan menuju masa depan cerah negaranya. Mereka menggerakkan revolusi sunyi di dunia pendidikan dan berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan.
Kebangkitan perempuan Iran dalam ilmu pengetahuan tidak terjadi dalam waktu singkat. Pada 1970-an, tingkat melek huruf perempuan Iran berusia 10-49 tahun hanya 35,5 persen. Jumlah itu jauh tertinggal dibandingkan laki-laki sebesar 61,7 persen.
Dalam beberapa dekade terakhir, perempuan Iran mengalami kemajuan pesat di bidang pendidikan. Tingkat melek huruf perempuan pada 2023 mencapai 96,1 persen. Hanya terpaut tipis dari laki-laki dengan 97,8 persen. Kesenjangan jender terkait melek huruf pun jauh menyempit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/23/9c46f25e-5f13-4b2e-9f2d-7c0f34870c5d.jpg)
Tak hanya itu, sekitar 60 persen mahasiswa perguruan tinggi di Iran saat ini adalah perempuan. Mereka juga mendominasi lulusan bidang STEM (science, technology, engineering, and mathematics), kemampuan yang digadang-gadang akan menentukan kemajuan sebuah negara di masa depan.
Tidak sedikit pula perempuan Iran yang melanjutkan pendidikan ke sejumlah perguruan tinggi terkemuka di berbagai belahan dunia.
Tidak heran pada 2014 perempuan Iran bernama Maryam Mirzakhani (1977-2017) membuat dunia tercengang. Ia menjadi perempuan pertama di muka Bumi yang meraih medali Fields, hadiah tertinggi matematika, semacam hadiah Nobel. Saat itu usianya 37 tahun.
”Semakin banyak waktu yang saya habiskan untuk matematika, semakin bersemangat saya,” ujar Mirzakhani dalam wawancara dengan The Guardian pada Agustus 2014.
Mirzakhani hobi membaca, terutama novel. Ia menamatkan sekolah menengah atas di Teheran, Iran. Sekolahnya dekat dengan jalan raya yang dipenuhi toko buku. Lulus SMA, ia kuliah di perguruan tinggi di Teheran dan kemudian melanjutkan studinya ke AS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/02/23/7bfa92d6d7d10f470c19745ef825a602-Mirzhakani_CGTN.jpg)
Ketertarikannya pada matematika dipengaruhi oleh kakak laki-lakinya. Saat ia masih bersekolah, kakak laki-lakinya itu menceritakan mengenai rumus penjumlahan. Ia pun terkesan karena menganggap matematika menawarkan solusi untuk memecahkan masalah.
Mirzakhani mengatakan, sistem pendidikan di Iran tidak seperti yang dibayangkan banyak orang di negara Barat. Perempuan Iran juga berhak mengakses pendidikan setinggi mungkin. Banyak perempuan tertarik mempelajari sains dan teknologi.
”Sebagai mahasiswa pascasarjana di Universitas Harvard, saya harus menjelaskan beberapa kali bahwa saya diizinkan untuk kuliah sebagai seorang perempuan Iran. Meskipun benar anak laki-laki dan perempuan bersekolah di tempat terpisah hingga sekolah menengah, ini tidak mencegah perempuan Iran untuk berpartisipasi dalam olimpiade,” jelasnya.
Sekitar 60 persen mahasiswa perguruan tinggi di Iran saat ini adalah perempuan. Mereka juga mendominasi lulusan bidang STEM (science, technology, engineering, dan mathematics), kemampuan yang digadang-gadang akan menentukan kemajuan sebuah negara di masa depan.
Prestasi Mirzakhani membuktikan sistem pendidikan Iran tidak kalah dengan negara-negara maju. Mirzakhani meninggal pada 2017 setelah empat tahun berjuang melawan kanker payudara.
Perempuan Iran juga menorehkan prestasi bergengsi dalam inovasi medis. Dua tahun lalu, Maryam Nouri Balanji memenangi medali emas elite global dalam Festival Penemuan dan Inovasi Internasional Silicon Valley (SVIIF) di AS.
Penghargaan tersebut diberikan atas penemuan obat antikanker berbasis teripang. Balanji mengembangkan obat dari senyawa gula yang diekstrak dari teripang yang ditemukan di sepanjang pantai utara Pulau Qeshm di Iran.
Obat ini dirancang untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dan menghilangkan berbagai jenis tumor. Penemuan tersebut dikembangkan melalui kolaborasi dengan tim riset, termasuk mitra peneliti dari Kanada.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/10/08/7cbf5903-4290-4a72-9aa6-1356400186df.jpg)
Sekitar 70 persen mahasiswa bidang sains dan teknologi di Iran adalah perempuan. Mereka juga sangat antusias dalam mengembangkan perusahaan rintisan (startup). Berbagai bidang bisnis yang sebelumnya sangat identik dengan laki-laki, seperti minyak dan gas, konstruksi, dan teknologi, kini mulai ”dijajah” oleh perempuan.
Majalah Forbes melaporkan, dalam beberapa industri yang baru mulai muncul, perempuan Iran berada di garis depan untuk mengelolanya. ”Perempuan muda Iran dianggap sebagai pelopor di sektor teknologi,” tulis laporan itu.
Hamidreza Ahmadi, seorang pengusaha, mengatakan, minat perempuan Iran terhadap teknologi cukup tinggi. Namun, penyerapan tenaga kerja di bidang teknologi belum optimal. Masalah ini sebenarnya tidak hanya terjadi di negara itu, tetapi juga di banyak negara lainnya.
Menurut Ahmadi, banyaknya perempuan Iran berpendidikan tinggi akan menjawab tantangan sumber daya manusia berkualitas di masa depan.
”Perempuan di Iran cerdas dan berpendidikan tinggi dan kita tidak cukup memberdayakan mereka. Kita menyia-nyiakan bakat mereka. Akan ada lebih banyak inisiatif untuk memasukkan mereka ke bidang teknologi informasi dan bisnis lainnya karena kebutuhan, bukan hanya advokasi,” jelasnya.
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar