Tanda-tanda babak akhir perang Iran melawan AS dan Israel belum terlihat. Perang tak cuma memaksa sejumlah warga Iran meninggalkan rumahnya, tetapi juga negaranya.
11 Mar 2026 11:00 WIB · Internasional
AFP
Ledakan demi ledakan serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel mengguncang sejumlah kota di Iran. Ratusan ribu warga melarikan diri ke perdesaan, kota terpencil, hingga negara tetangga. Mereka terusir dari rumah oleh perang yang tak mereka inginkan.
Perang memaksa Pouya Akhgari (22) angkat kaki dari rumahnya di Teheran, ibu kota Iran. Bersama bibi dan sepupunya, ia menempuh perjalanan lebih dari 300 kilometer menuju rumah keluarganya di sebuah desa di Provinsi Zanjan.
Desa itu menjadi tempat persembunyian bagi ketiganya. Sebab, sejak 28 Februari 2026, Teheran dan sejumlah kota besar lainnya telah menjadi sasaran serangan rudal AS dan Israel. Wilayah perdesaan relatif lebih aman karena jauh dari tempat-tempat strategis.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/01/fb2123f2-c437-42b6-98db-75037e64d22b_jpg.jpg)
Untuk sesaat, Akhgari merasa aman. Namun, ketidakpastian kapan perang berakhir membuatnya gusar. Ia meratapi nasibnya di tengah hujan salju yang mengguyur desa yang terletak di kawasan pegunungan tersebut.
”Rasanya sangat kacau. Saya pikir ini (perang) akan sangat singkat, tetapi ternyata berlarut-larut. Jika terus seperti ini, kami akan kehabisan uang,” ujarnya kepada kantor berita Associated Press melalui aplikasi pesan, Selasa (10/3/2026).
Sudah 11 hari perang berlangsung. Lebih dari 1.000 orang di Iran tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Namun, tanda-tanda babak akhir perang ini belum juga terlihat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
Ambisi Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk membombardir Iran tak kunjung mereda. AS dan Israel menuding Iran mengembangkan senjata nuklir. Tudingan ini sudah berulang kali dibantah oleh Iran.
Iran pun membalas serangan AS dan Israel. Drone dan rudal ditembakkan ke sejumlah lokasi di Israel. Serangan Iran juga menyasar aset-aset AS, terutama pangkalan militer, yang berada di negara-negara Teluk. Hal ini pun memicu konflik lebih luas di kawasan tersebut.
Situasi Teheran dan kota-kota besar lainnya masih mencekam. Gelombang pengungsi terus mengalir. Di Teheran saja sekitar 100.000 warga telah meninggalkan kota itu. Mereka menempuh perjalanan darat ribuan kilometer menuju ke pelosok negeri hingga ke luar negeri.
Seorang pengacara berusia 39 tahun yang tidak disebutkan namanya memilih mengungsi ke kebun stroberi milik keluarganya. Ledakan mengguncang kawasan rumahnya di kota Ahvaz yang berjarak sekitar 800 kilometer dari Teheran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/21e37bf3-90b2-4f89-bd3a-682926b01803.jpg)
Ia meminta lokasi ”persembunyiannya” itu tidak dipublikasikan. Sebab, ia khawatir ketika tempat tersebut diketahui relatif aman sehingga dijadikan lokasi pengungsian banyak orang dan justru menjadi sasaran serangan berikutnya.
Meskipun di sana tidak ada ledakan, pengacara itu dan keluarganya tetap cemas. Tidak ada yang pergi bekerja. Anak-anak jauh dari sekolah. Untuk mengisi waktu, keluarga tersebut mengajak anjing mereka berjalan-jalan. Sesekali mereka memetik stroberi sembari menanti kabar kapan perang berakhir.
”Dari pagi hingga malam, kami membicarakan apa yang terjadi. Kekhawatiran kami adalah bagaimana semuanya menjadi lebih mahal setiap hari, tentang seberapa jauh uang kami akan cukup. Jika situasi ini (perang) berlanjut, kami akan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar,” katanya.
Akan tetapi, tak semua warga Iran punya pilihan mengungsi ke tempat yang lebih aman. Berbagai kondisi membuat banyak orang tak bisa meninggalkan rumah. Serangan AS-Israel bisa datang kapan saja, tetapi mereka terpaksa bertahan di rumah.
Kondisi ini seperti salah satunya dialami seorang laki-laki berusia 53 tahun di Teheran. Ia sadar betul tinggal di kota itu sangat berbahaya. Namun, ia memilih bertahan untuk menjaga orangtuanya yang sudah renta. Sebab, membawa mereka mengungsi melalui perjalanan darat ribuan kilometer akan memperburuk keadaan.
”Pada malam hari, saya pergi ke tempat parkir, duduk di dalam mobil saya dan berteriak keras. Saya berdoa untuk ketenangan dan hari-hari yang lebih damai,” ucapnya.
Di tengah perang yang masih berkecamuk, warga Teheran menunjukkan kekuatan solidaritasnya. Tidak mudah mendapatkan bahan makanan. Antrean panjang warga memenuhi beberapa toko roti. Namun, tidak semua warga punya uang untuk membeli. Beberapa toko roti menolak pembayaran dari warga yang dianggap dalam kondisi kesulitan.
Perang juga ”mengusir” sejumlah warga Iran dari negaranya. Dalam beberapa hari terakhir, banyak warga melintasi wilayah yang berbatasan darat dengan Provinsi Van di Turki. Mereka menghabiskan waktu berhari-hari di jalan untuk sampai di gerbang perbatasan itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/01/f38afa46-2218-41e9-abba-a24a18ad3be1_jpg.jpg)
Bom telah menghujani kota tempat tinggal mereka. Waktu untuk bersiap mengungsi tidak banyak. Beberapa di antara mereka hanya sempat membawa barang seadanya yang dimasukkan ke dalam koper kecil. Belum tahu kapan mereka akan kembali lagi ke Iran.
”Sehari sebelum perang dimulai, saya berada di Teheran. Kemudian bom mulai berjatuhan. Kami melihat perang telah dimulai. Jadi, kami pergi ke Turki,” ujar Hamid Shirmohammadzadeh (35).
Dilansir dari Al Jazeera, banyak orang dari Iran melarikan diri ke Turki melewati perbatasan di celah pegunungan bersalju. Salah satunya Jalileh Jabari (63) yang berasal dari Teheran. Ia berencana ke Istanbul, tempat putrinya menempuh pendidikan tinggi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/09/63af82a1-f1e7-4eb1-83b7-278287c50307.jpg)
”Jika keadaan membaik di sana, jika Iran membaik, saya akan kembali. Jika ada perdamaian, saya akan kembali,” katanya.
Tidak hanya warga Iran, sejumlah pekerja asing juga memutuskan keluar dari Iran. Mereka telah kehilangan pekerjaan. Masa depan di Iran juga tidak pasti. Kembali ke negara asal menjadi pilihan paling logis saat ini.
Mohammad Fauzi (46) sudah bertahun-tahun bekerja di sebuah pabrik di Teheran. Sebelum menuju Kairo, Mesir, ia berencana menemui temannya di Turki. Ia tidak tahu persis di mana lokasinya dan berencana menghubungi temannya lewat telepon setelah melewati perbatasan.
”Situasinya sangat sulit dan pekerjaan telah berhenti. Saya tidak bisa bekerja. Saya tidak bisa tinggal karena situasinya berbahaya sekarang. Jadi, saya ingin pulang ke rumah, ke negara saya,” ucapnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/01/619f60fc-182a-4973-826a-8ad4f27ec93e.jpg)
Di tengah lalu-lalang orang-orang yang meninggalkan Iran, Leila (45) justru mengambil jalur berlawanan. Dari Istanbul, Turki, ia melewati perbatasan menuju Iran untuk memastikan kondisi keluarganya di Shiraz yang berjarak sekitar 800 kilometer dari Teheran.
Sudah beberapa hari ini Leila kehilangan kontak dengan keluarganya. Ia semakin khawatir karena salah satu saudara laki-lakinya mengalami koma. Bagi dia, menghadapi bahaya dengan berkumpul di rumah bersama keluarga masih lebih baik ketimbang menunggu di luar negeri dalam ketidakpastian.
”Aku memang tidak bisa melindungi mereka (keluarga) dari bom. Namun, ketika aku bersama mereka, mungkin kami akan mati bersama atau aku bisa membantu mereka selama kami masih hidup,” ujarnya.
Perang diputuskan oleh segelintir orang, tetapi membawa penderitaan bagi banyak orang. Perang menimbulkan banyak kerugian, bahkan bagi pihak yang berteriak lantang sebagai pemenang.
(AP/Reuters)
Penulis:
Tatang Mulyana SinagaEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Yuliana Karim