Bumbu rawon sampai bahan takjil harus dibawa dari Indonesia. Tantangan WNI berpuasa di luar Indonesia.
07 Mar 2025 16:00 WIB · Internasional
Bulan Ramadhan dengan segala kegiatan dan kemeriahan yang menyertai selalu dinanti kedatangannya setiap tahun oleh umat Muslim. Di Indonesia, semarak Ramadhan terasa setiap saat di semua sudut, mulai di masjid, lingkungan rumah, hingga perkantoran. Bagaimana dengan di luar negeri?
”Di sini begini-begini saja, sepi, datar saja,” kata Ida Humaidah, Sekretaris I Fungsi Penerangan dan Sosial Budaya (Pensosbud) Kedutaan Besar RI Canberra, Australia, Kamis (6/3/2025).
Bagaimana tidak sepi? Meski berstatus ibu kota negara, penduduk Canberra sekitar 400.000 jiwa saja. Dengan mayoritas warga adalah non-Muslim, kemeriahan Ramadhan nyaris tak ada.
”Tak ada bunyi-bunyi atau suara yang membangunkan untuk sahur seperti yang biasa ditemui di Indonesia,” kata Ida.
Kerinduan akan kemeriahan Ramadhan juga dialami Annisa Fitria Sari, Staf Pensosbud KBRI Madrid. ”Di sini umat Muslim merupakan minoritas, sekitar 5 persen dari populasi Madrid yang sebanyak 6,8 jutaan jiwa. Suasana Ramadhan di kota Madrid secara keseluruhan tidak berasa,” ujarnya.
Semarak aktivitas Ramadhan lebih terasa di pusat komunitas Muslim, seperti di Masjid Sentral Madrid. Di sana ada agenda buka puasa bersama dan shalat Tarawih bersama setiap hari.
Rheinhard Sinaga, Minister Counsellor Fungsi Pensosbud KBRI Bogota pun merasakan hal sama. Bertugas di Bogota, Kolombia, yang mayoritas warganya beragama Katolik, Sinaga tidak mendapati semarak bulan puasa. Jumlah umat Muslim di Bogota kecil saja dengan lebih banyak didominasi warga Pakistan, India, dan Timur Tengah.
”Kalau di Indonesia, setiap mau sahur otomatis ada suara-suara terdengar sebagai pengingat. Kalau di sini, tidak ada. Rumah ibadah harus tenang. Bahkan, lonceng gereja saja tidak terdengar karena bunyi lonceng diatur untuk terdengar di dalam kawasan gereja saja,” kata Sinaga.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/3876af24-4ea3-4eaf-9d67-853e437617b2_jpg.jpg)
Meski tak mendapati suara-suara seperti adzan ataupun inisiatif warga untuk mengingatkan sahur, tak menyurutkan pelaksanaan ibadah puasa. “Saya sering mendengar Bapak Dubes dan teman-teman diplomat KBRI menggunakan aplikasi adzan untuk pengingat,” jelas Sinaga.
Berlokasi di Amerika Tengah dan beriklim tropis, menurut Sinaga, Colombia mirip-mirip dengan Indonesia. Waktu matahari terbit dan tenggelam selalu pas sehingga durasi puasa mirip dengan Jakarta.
Anissa juga menggunakan aplikasi azan untuk mengingatkannya, sebentar lagi memasuki waktu sahur ataupun waktu berbuka puasa. ”Masjid Sentral Madrid juga mengeluarkan jadwal Imsakiyah. Jadi, antara mengikuti jadwal dari Masjid Sentral atau dari aplikasi, sama saja,” ucap Annisa.
Beruntungnya, puasa tahun ini di negara-negara itu berdurasi mirip-mirip dengan durasi puasa di Indonesia. Mereka tidak mengalami perbedaan waktu ekstrem.
”Tahun ini puasa dimulai di pengujung musim dingin. Jadi, durasi puasa sekitar 12-an jam, masih mirip-mirip dengan durasi puasa di Indonesia,” kata Annisa.
Ia mencontohkan durasi puasa pada Kamis (6/3/2025). Azan Subuh penanda waktu sahur selesai pukul 06.09, kemudian azan petang untuk menandai berbuka sekitar pukul 19-an.
Namun, mendekati akhir Maret, di mana wilayah Eropa sudah memasuki musim semi, matahari akan terbit lebih cepat dan tenggelam lebih lama. ”Sekarang durasi puasa masih pendek, nanti mendekati dan saat musim semi durasi puasa akan lebih lama. Bisa-bisa 19.30 atau lebih baru buka puasa,” jelas Annisa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/e6cc7ed3-8708-44f4-8cd4-d5b5f3e6e3ac_jpg.jpg)
Annisa pun bersyukur puasa tahun ini mulai berlangsung di awal bulan Maret sehingga relatif lebih mudah dijalani. ”Kalau puasa berlangsung saat musim panas, bisa-bisa durasi puasa sekitar 15-16 jam. Musim semi tahun lalu saya mengalami puasa 15 jam,” jelasnya.
Berpuasa di musim semi atau musim panas akan menghadapi lebih banyak tantangan. Selain kurang tidur karena mesti bangun lebih pagi untuk sahur dan waktu berbuka malam sekali, cuaca musim panas Spanyol yang masuk wilayah Eropa Selatan bisa ekstrem sehingga menimbulkan rasa haus.
Ida yang menjalankan ibadah puasa di Canberra juga mengakui tidak menghadapi banyak rintangan. ”Karena Canberra terletak di belahan selatan Bumi, puasa berlangsung di pengujung musim panas sehingga durasi puasa tidak terlalu panjang,” kata Ida.
Meski lancar dan relatif enak dijalani, baik Ida maupun Annisa punya kerinduan lain. Mereka merindukan aroma dan makanan khas berbuka atau takjil ataupun makanan Indonesia.
Toko Asia yang menjual produk-produk dari benua Asia di tiga negara itu memang ada. Namun, tidak banyak produk Indonesia yang mudah didapat.
”Di Canberra cukup sulit, ya, mendapatkan produk-produk Indonesia, seperti bumbu-bumbu instan ataupun makanan-makanan instan Indonesia,” jelas Ida.
Produk-produk Indonesia, kata Ida, lebih mudah diperoleh di Sydney karena memang terdapat banyak supermarket Indonesia. ”Kalau teman-teman di Sydney akan lebih mudah membuat masakan Indonesia dibandingkan dengan kita. Susahnya mendapat produk Indonesia memperdalam rasa rindu,” kata Ida.
”Di Madrid sama saja. Tidak banyak produk Indonesia dijual di Toko Asia. Kalau mau, ya, ke Toko Asia di Belanda atau Portugal. Di sana koleksi produk Indonesia lebih banyak,” jelas Annisa.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/2ea9282a-a6dc-4cc5-a852-b30c6cead1ec_jpg.jpg)
Untuk mengatasinya, menurut Sinaga, ia dan staf KBRI sering membawa sendiri produk dan bumbu-bumbu khas Indonesia ke Bogota manakala berkesempatan pulang. ”Seperti andaliman dan gula merah, itu banyak kami bawa,” jelas Sinaga.
Annisa pun demikian. ”Kadang ada juga WNI yang pulang ke Indonesia dan kami bisa titip untuk dibawakan sejumlah produk Indonesia. Salah satunya bumbu rawon, keluwak, yang tidak ada di Madrid,” kata Annisa.
Alhasil, berbuka puasa bersama WNI yang ada di Madrid atau di Canberra menjadi salah satu solusi. Selain menjalin silaturahmi dan kebersamaan, juga tentunya akan ada makanan khas Indonesia di acara itu.
”Kami biasa berbuka bersama di hari Sabtu di KBRI dan terbuka untuk WNI. Kami berbuka dengan cara potluck dan menyantap bersama. Sering kali ada saja masakan atau makanan khas Indonesia tersaji saat itu,” jelas Annisa.
Di KBRI Canberra, agenda buka puasa bersama digelar dengan menggandeng Yayasan Muslim Indonesia Australia (AIMFACT) setiap akhir pekan. ”Sekali datang bisa 300 orang. Di acara itu kami akan mendapati takjil dan makanan khas Indonesia, seperti bubur candil atau gorengan. Rindu pada takjil terbayarkan,” jelas Ida.
Begitulah, jelas Ida, berpuasa di negara-negara yang penduduknya mayoritas nonmuslim, tantangannya lebih kepada rasa rindu pada hal-hal yang berbau, beraroma, ataupun kemeriahan-kemeriahan khas Indonesia. Sementara menurut Annisa, selain kurang semarak, ada tantangan lain yang dihadapi. Di antaranya mereka mesti menjelaskan mengapa mereka berpuasa saat kegiatan yang mempertemukan para diplomat dari negara-negara lain.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/6fed208d-8bcb-44b8-a4bc-61979de06331_jpg.jpg)
Bagaimana dengan berpuasa di negara yang mayoritas penduduknya Muslim?
Adi Bramasto, pejabat Diplomatik Pelaksana Fungsi Pensosbud II KBRI Ankara, menjelaskan, karena Turki merupakan negara empat musim, durasi puasa berubah tiap tahunnya dan menjadi tantangan. Pada musim panas, durasi puasa di Turki dapat mencapai 18 jam, dan pada musim dingin durasi puasa di Turki bisa mencapai 10 jam.
Tahun ini bulan Ramadhan jatuh di pengujung musim dingin. Hari ini, Imsak sekitar pukul 05.46 pagi dan Maghrib sekitar pukul 18.50 sehingga durasi puasa tidak begitu berbeda dengan Indonesia. Hanya saja, Imsak dan Maghrib lebih lambat dari Indonesia.
”Saya tidak mengalami kendala dalam pelaksanaan puasa di sini tahun ini,” jelas Adi seraya menambahkan, Ramdhan tahun ini adalah Ramadhan keduanya di Turki.
Sebagai negara berpenduduk masyoritas Muslim, sama halnya dengan Indonesia, Adi juga mendapati kemeriahan-kemeriahan Ramadhan. Pemerintah daerah dan beberapa LSM membagikan çorba atau sup khas Turki serta terkadang makanan utama, seperti roti, nasi, dan manisan Turki di masjid atau tempat umum, seperti taman. Terkadang, pemerintah daerah juga membuat tempat khusus, seperti tenda atau menggunakan ruangan atau bangunan untuk buka puasa bersama yang dapat diakses oleh publik.
Hal yang sama membuat Ramadhan di Turki makin meriah ialah adanya Bazaar Ramadhan. Beberapa pemerintah daerah mengadakan Bazaar Ramadhan yang biasa dibuka pada jam menjelang waktu berbuka sampai malam setelah Tarawih. Yang biasa dijual adalah makanan kecil atau makanan manis, buku keagamaan, dan pakaian.
”Sama seperti di Indonesia, di Turki juga ada tradisi membangunkan sahur. Tradisi ini dilakukan oleh penabuh gendang yang disebut ’Davulcu’ yang berkeliling,” kata Adi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/07/22823c09-ba94-496b-ab75-f7da046fef24_jpg.jpg)
Ida pun teringat, masa tugasnya di Turki pada 2015-2018 juga membuatnya mengalami durasi puasa selama 17 jam. ”Namun, karena Turki itu negara mayoritas Islam, Ramadhan terasa semarak. Seperti di Istanbul, di mana-mana ada Ramadhan Greetings, juga ada pasar Ramadhan. Durasi puasa lama memang melelahkan, tetapi menjadi tidak terasa karena ada kemeriahan,” pungkasnya.
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .