Riset: Ekonomi Kreatif Belum Banyak Dikenal Masyarakat ASEAN

Belajar dari Korea Selatan, ekonomi kreatif dapat menjadi sektor penyokong utama perekonomian negara, bahkan melebihi industri manufaktur.

22 Okt 2025 17:32 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Yosepha Debrina Ratih Pusparisa

JAKARTA, KOMPAS — Masyarakat di kawasan Asia Tenggara belum banyak yang mengenal industri ekonomi kreatif atau ekraf. Industri ini kerap dibahas hanya saat membicarakan isu warisan budaya, tetapi jarang dikemas dalam aspek ekonomi. Padahal, ekraf dapat memainkan peran besar terhadap perekonomian suatu negara.

Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN menemukan ekonomi kreatif (ekraf) dinilai penting di kawasan, tetapi sebagian besar masyarakat belum mengenal atau merasa asing dengan istilah tersebut. Hal ini tertuang dalam laporan terbaru bertajuk ”Regional Perception Poll on the ASEAN Creative Economy” yang disusun British Council bersama Sekretariat ASEAN dan UK Mission to ASEAN.

Dalam laporan tersebut, baru 47 persen responden yang akrab dengan istilah ekonomi kreatif. Hal itu mencerminkan pentingnya meningkatkan kesadaran masyarakat ASEAN mengenai industri ini.

Dari 10 negara dan Timor Leste yang menjadi rujukan penelitian, ditemukan bahwa masyarakat menghadapi ragam tantangan dalam industri ekraf. Beberapa di antaranya kesadaran publik yang rendah, biaya produksi tinggi, level konsumsi beragam, isu keterampilan sosial atau soft skill (pemecahan masalah dan pemasaran), manajemen kekayaan intelektual (IP), serta terbatasnya akses ke pasar internasional.

”Kita dapat melihat bahwa 60 persen masyarakat melihat ada perkembangan positif dari ekraf di kawasan ASEAN. Ini hal baik sehingga ada banyak permintaan dan antusiasme. Namun, pada saat bersamaan, ada paradoks yang mencerminkan concern tertentu,” ujar Direktur British Council untuk Indonesia sekaligus untuk Asia Tenggara, Summer Xia, di Jakarta, Rabu (22/10/2025).

Direktur British Council untuk Indonesia sekaligus untuk Asia Tenggara, Summer Xia, berbincang dengan para panelis dalam peluncuran hasil riset jajak pendapat Persepsi Regional ASEAN tentang Ekonomi Kreatif di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Rabu (22/10/2025). Dalam temuannya, baru 47 responden yang akrab dengan istilah ekonomi kreatif.

Sebanyak 53 persen responden merasa produk-produk hasil ekraf dijual terlalu mahal. Produk bernilai tinggi ini akhirnya mencatat tingkat konsumsi yang rendah di kawasan. Tak hanya itu, 50 persen responden para pelaku ekraf menilai minimnya kolaborasi dan kerja sama dalam regional.

Perbedaan konsumsi antarnegara ASEAN terhadap ekraf juga menjadi hambatan. Sebagian besar negara regional, yakni Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam, memberi perhatian besar pada industri tersebut. Sebaliknya, negara lain memiliki tingkat partisipasi sedang hingga rendah, seperti yang ditunjukkan Brunei Darussalam, Kamboja, Laos, Singapura, Filipina, dan Timor Leste.

Penelitian ini menjaring 4.117 responden dari 10 negara anggota ASEAN dan Timor Leste. Dari populasi sampel itu, 38 persen merupakan masyarakat umum, sedangkan 62 persen adalah pelaku ekraf.

Ketika ditanya soal minimnya kesadaran soal industri ekraf, Xia berpendapat, topik ini kerap dibahas ketika membicarakan isu warisan budaya, inovasi, dan ide baru. Namun, belum banyak yang membahas dari aspek ekonomi sehingga isu ini belum dianggap penting oleh banyak orang.

Padahal, banyak isu yang bisa diangkat untuk melihat seberapa pentingnya ekraf bagi perekonomian suatu negara. Misalnya, aspek penciptaan lapangan kerja, kontribusi pada produk domestik bruto (PDB), serta dampaknya pada komunitas masyarakat tertentu.

”Saya kira kita dapat mengupayakan lebih baik dengan menggunakan data riil dan bukti untuk mendemonstrasikan nilai ekonomi dari ekraf. Investasi di bidang ini merupakan sumber daya terbarukan, tidak seperti minyak dan gas yang akan habis,” kata Xia.

Perajin memeragakan proses pembuatan kain tenun dari Nusa Tenggar Timur (NTT) dalam gelar pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (8/8/2025). Pameran ini diselnggarakan oleh Bank Indonesia sebagai langkah konkret untuk mendorong UMKM naik kelas melalui inovasi, digitalisasi, dan sinergi lintas sektor. UMKM merupakan pilar penting dalam mendukung perekonomian menuju Indonesia maju. Sebanyak 362 UMKM binaan Bank Indonesia yang telah dikurasi bersama 8 kementerian/ lembaga dihadirkan dalam pamerna tersebut. Terdapat sekitar 65 juta UMKM di seluruh Indonesia yang mendukung ekonomi, memiliki daya tahan terhadap krisis, dan sebagian besarnya digerakkan oleh kaum perempuan. Produk yang ditampilkan mencakup wastra, kriya, kopi, makanan olahan, serta produk berbasis keberlanjutan. Tahun ini, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi tema utama KKI 2025, dengan mengusung filosofi lokal #KalalaMareda yang berarti Òkreasi dalam kebersamaan." Bank Indonesia mengembangkan UMKM dari ujung ke ujung melalui tiga pilar utama, yaitu penguatan daya saing, peningkatan akses keuangan, serta literasi dan inklusi keuangan. Penguatan daya saing difokuskan pada sektor unggulan seperti wastra, kriya, kopi, dan kuliner lokal. Akses keuangan didorong melalui platform Business Matching Digital yang mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan secara efisien dan terkurasi. Sementara itu, literasi keuangan juga diperkuat melalui penyusunan sejumlah stan BI, diantaraya dengan memperkenalkan QRIS lintas negara. KKI 2025 menargetkan peningkatan signifikan dalam dampak dan partisipasi, khususnya pada aspek pencocokan bisnis ekspor, pembiayaan UMKM, serta keterlibatan masyarakat luas. Transformasi digital UMKM terus diperkuat melalui pemanfaatan QRIS yang telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta pedagang, mayoritas di antaranya merupakan pelaku UMKM. Digitalisasi juga ditingkatkan melalui kolaborasi dengan situs perdagangan elektronik

Acara peluncuran hasil riset pada Rabu ini dihadiri pula oleh sejumlah tokoh ekraf. Beberapa di antaranya Duta Besar Inggris untuk ASEAN, Helen Fazey; anggota DPR Filipina, Javier Miguel Benitez; Undersecretary Ministry of Tourism, Arts and Culture, Malaysia, Christina Yeo; dan Mayor of London’s Ambassador for the UK Creative Industries, John Newbigin.

Serupa dengan Xia, Benitez berpendapat, untuk meningkatkan kesadaran publik dan pemerintah akan pentingnya industri, dampak ekonomi dari industri ekraf perlu lebih ditekankan. Hal itu dapat dikemas pula dengan fakta-fakta ringan yang menarik perhatian.

Di Korea Selatan, misalnya, industri ekraf terus berkembang lewat beragam produk, seperti drama dan musik Korea atau K-Pop. Kontribusi industri ekraf di Korsel bahkan mencapai tiga kali lipat dari industri manufakturnya.

Yeo menilai, absennya industri ekraf dalam agenda nasional di Malaysia terjadi karena belum adanya indikator nasional khusus sektor tersebut. Oleh karena itu, saat ini Badan Statistik di Malaysia mulai mengumpulkan data dan mengembangkan beberapa indikator untuk membuktikan kontribusi industri ekraf kepada masyarakat dan perekonomian negara.

”Dengan begini, akan lebih banyak dukungan dan pembiayaan yang terkumpul sehingga lebih banyak sumber daya untuk berinvestasi pada industri ekraf,” ujar Yeo.

<p>Menjaga Ekonomi Kreatif Tetap Bertumbuh infografik</p>

Perang tarif

Dalam skala global ketika perang dagang berlanjut antara Amerika Serikat dan China, industri ekraf diprediksi tetap dapat bertahan. ”Peluang ekraf dapat disokong dengan ide-ide yang membutuhkan kolaborasi untuk merealisasikannya. Semua negara punya banyak peluang untuk mendongkrak ekonominya melalui investasi di sektor ekraf,” kata Duta Besar Inggris untuk ASEAN, Helen Fazey.

Ia menambahkan, saat ini justru merupakan momentum yang tepat untuk membuktikan ketahanan industri ekraf. Ada beragam contoh dan keuntungan industri ekraf yang dapat ditunjukkan.

Benitez juga mengatakan, saat ini manusia tidak lagi hidup dalam dunia unipolar alias dominasi sistem global oleh satu negara, tetapi sedang berjalan menuju dunia multipolar. Hal ini bisa dimanfaatkan negara-negara ASEAN.

”ASEAN ikut dipertimbangkan dalam tatanan global,” katanya. Artinya, ketika ketidakstabilan terjadi di luar ASEAN, kolaborasi antarnegara di kawasan menjadi modal kekuatan untuk saling menguntungkan satu sama lain, termasuk di sektor ekraf.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yosepha Debrina Ratih Pusparisa
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari