Tak banyak anggota parlemen seperti Thomas Massie yang tersisa di Kongres AS. Akibat berani melawan Trump dan mengkritik Israel terus, ia ”ditendang” dari DPR AS.
14 Jun 2026 10:00 WIB · Internasional
AP Photo/Carolyn Kaster
Campur tangan Israel pada pemilu di sejumlah negara telah lama dibahas. Sasarannya terutama politisi yang kritis pada Israel.
Dilaporkan Reuters pada Kamis (11/6/2026), Viginum mengumumkan, BlackCore mencoba memengaruhi hasil pemilu di sejumlah negara. Lembaga pelacak disinformasi Perancis itu menyebutkan, aktivitas BlackCore antara lain terdeteksi di Inggris, Perancis, dan AS.
Di AS, pemilihan Wali Kota New York yang dimenangi Zohran Mamdani adalah salah satu yang direcoki perusahaan Israel tersebut. Sejak Mei 2026, Viginum menyelidiki aktivitas BlackCore.
Perdana Menteri Perancis Sebatien Lecornu telah meminta Israel menjelaskan soal BlackCore. Kedutaan Besar Israel di Paris menyatakan masih menanti informasi lanjutan dari Perancis. Sementara BlackCore tak menanggapi permintaan informasi.
Meski dilakukan di sejumlah negara berbeda, ada kesamaan modus operasi BlackCore: menyasar orang yang kritis kepada Israel. Mamdani di New York, Thomas Massie di Kentucky, hingga John Swinney di Skotlandia secara terbuka mengkritik dan bersikap keras kepada Israel.
Sikap keras Massie antara lain ditunjukkan dalam sidang DPR AS pada 8 Juni 2026. Politisi Republikan itu meminta Pemerintah AS membuka lagi penyelidikan atas tenggelamnya USS Liberty. Kapal perang AS itu ditembak Israel pada 8 Juni 1967. Akibatnya, 34 tentara AS tewas dan 171 lain cedera.
Israel telah mengaku bersalah dan memberikan kompensasi kepada keluarga korban. Akan tetapi, menurut Massie, penyintas dan keluarga korban berhak mendapat penjelasan tuntas atas tragedi itu. Mengutip sejumlah petinggi militer dan intelijen AS, Massie menyebutkan bahwa ada dugaan Israel sengaja menembak kapal perang itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/ee465b3e6ca93e5bc9e9e603088dbae1-Election_2026_Kentucky_138389873.jpg)
Sejak menjadi anggota DPR AS pada 2012, Massie terkenal keras kepada Israel. Ia ingin Pemerintah AS mendahulukan warga dan negara AS, bukan warga dan negara lain. Massie berulang kali menolak mendukung aturan pengucuran bantuan ke negara lain, termasuk ke Israel.
Ia, antara lain, tak mendukung pemberian persenjataan miliaran dolar AS yang dikirimkan AS kala Israel mulai menyerang Gaza pada Oktober 2023. Menurut Massie, bantuan luar negeri harus diawasi secara ketat dan tidak boleh diberikan tanpa pertanggungjawaban yang jelas kepada pembayar pajak AS. Padahal, mayoritas politisi AS mendukung bantuan apa pun ke Israel.
Massie juga secara terbuka berseberangan dengan Presiden Donald Trump. Padahal, banyak politisi AS menurut saja apa arahan Trump. Ia salah satu pendorong agar Pemerintah AS membuka dokumen Epstein. Setelah dibuka, dokumen itu memuat banyak sekali data soal Trump.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/20/ba8e9202f805a7fa2113305bff5ecde9-US_JUSTICE_EPSTEIN_134693368.jpg)
Tentu saja ia tak disukai. Berbagai pihak mengucurkan jutaan dolar AS untuk mencegah Massie kembali dicalonkan oleh Partai Republik dalam pemilu November 2026. Massie pun gagal meraih lagi tiket untuk pemilu itu.
”Kekalahan Massie menunjukkan taji yang sangat kuat dari kelompok lobi Israel, meski di tengah semakin tidak populernya Israel di mata masyarakat AS,” ujar Yunizar Adiputera, dosen kebijakan luar negeri AS di Departemen Ilmu Hubungan Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada.
Kekalahan Massie, kata Yunizar, merupakan hukuman atas sikap kerasnya kepada Israel. Massie pada dasarnya menolak beragam kebijakan intervensionis yang dilakukan AS di luar negeri, termasuk terhadap Iran dan Venezuela.
Di sisi lain, ada perubahan signifikan dalam politik AS. Sebelum perang Gaza, ujar Yunizar, sangat sulit bagi politisi AS mengkritik Israel secara terbuka. Hal itu bisa berdampak besar pada karier mereka.
Massie dan Mamdani menunjukkan, arus balik sedang terjadi. Di sisi lain, lobi Israel masih sangat dominan. ”Kekalahan Massie bukti ruang yang muncul dalam mengkritik Israel belum tentu dapat diterjemahkan menjadi perubahan kebijakan AS yang riil,” ucap Yunizar.
Sebelum Massie, ada Jamaal Bowman dan Cori Bush dari Partai Demokrat. Di pemilihan internal Demokrat, untuk mencari siapa yang akan dicalonkan di pemilu 2024, Bush-Bowman gagal mendapat tiket.
Kelompok pendukung Israel mengucurkan jutaan dolar AS untuk dana kampanye mengalahkan mereka. Mereka ditentang karena lantang menolak AS mengirim senjata yang dipakai Israel menyerang Gaza.
Jauh sebelumnya, ada Paul Findley yang kehilangan kursinya pada 1982 setelah mendukung dialog dengan Organisasi Pembebasan Palestina dan mengkritik pengaruh lobi Israel di AS. Contoh lain ada Cynthia McKinney yang beberapa kali terlibat kontroversi terkait kritiknya terhadap kebijakan Israel sebelum akhirnya kalah dalam pemilu.
Kisah Massie mencerminkan perubahan yang sedang terjadi dalam politik AS. Selama puluhan tahun, dukungan terhadap Israel merupakan salah satu isu yang hampir tidak pernah diperdebatkan secara serius di AS. Namun, kini situasinya mulai berubah.
Kritik terhadap Israel muncul dari dua kutub yang berbeda. Para progresif di Demokrat menyoroti isu HAM. Sementara konservatif di Republikan mempertanyakan biaya serta manfaat dukungan tanpa batas kepada Israel.
Mereka, antara lain, menghadapi American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan kelompok pendukung Israel lainnya. Kelompok-kelompok itu, kadang disebut sebagai PAC, mampu menggalang miliaran dolar AS setiap musim kampanye. Tujuannya, memastikan politisi terpilih akan mendukung Israel tanpa syarat.
Pasal 224 di Rancangan Undang-Undang Anggaran Pertahanan AS adalah wujud dukungan itu. Inti pasal itu adalah melebur industri pertahanan AS dan Israel d bidang kecerdasan buatan, siber, bioteknologi, dan lain-lain.
”AIPAC dan PAC yang terkait dengannya aktif menggalang dan menyalurkan dukungan finansial kepada kandidat yang dianggap mendukung hubungan erat AS-Israel dan mendukung upaya mengalahkan kandidat yang dinilai terlalu kritis terhadap Israel. Tujuannya tentu saja agar kebijakan luar negeri AS selalu mendukung Israel, termasuk juga dalam hal bantuan militer yang konsisten mengalir ke Israel,” tutur Yunizar.
Pada 2007, ilmuwan hubungan internasional John Mearsheimer dan Stephen Walt menerbitkan buku yang secara gamblang menggambarkan besarnya pengaruh lobi Israel dalam kebijakan luar negeri AS.
Mereka menyebut lobi Israel buruk bagi AS. Sebab, lobi itu menggiring kebijakan luar negeri AS yang tak sesuai kepentingan Washington.
Politik AS kini juga semakin terpolarisasi. Kompetisi politik yang semakin keras membuat kampanye negatif dan mobilisasi donor menjadi lebih menentukan dalam pemilihan pendahuluan. Dalam konteks ini, isu Israel sering menjadi alat untuk menjatuhkan lawan politik.
Dania Koleilat Khatib, salah satu pendiri Pusat Penelitian untuk Kerja Sama dan Pembangunan Perdamaian, di situs Arab News, 25 Mei 2026, mengatakan, Massie masih punya tujuh bulan lagi di Kongres AS dan dia tidak berniat untuk bersikap baik kepada siapa pun di Republik.
”Massie menciptakan gerakan, dan ini berita buruk bagi AIPAC dan para pelobi pro-Israel. Perubahan sosial telah terjadi. Masyarakat kini sudah sadar. Perubahan politik biasanya terjadi setelahnya dan ini tidak menguntungkan Israel,” kata Khatib.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/05/24/6ddfaf5c-2ac2-4dc4-b2df-3b2643cd4378_jpg.jpg)
Direktur Pusat Islam dan Urusan Global di Universitas Istanbul Zaim, Sami Al-Arian, di situs Middle East Eye, 23 Mei 2026, juga menyebut opini publik AS sudah berubah terhadap Israel. Berbagai jajak pendapat selama dua tahun terakhir menunjukkan berkurangnya dukungan, khususnya di kalangan anak muda AS.
Bahkan, di kalangan Republikan, dukungan terhadap keterlibatan militer tanpa syarat di luar negeri melemah. Hal itu antara lain setelah AS-Israel menyerang Iran.
Anak muda AS semakin memandang Israel sebagai beban. Mereka melihat Israel sumber ketidakstabilan regional yang menyeret AS ke dalam perang yang tidak menguntungkan kepentingan nasional AS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/30/6b597086-e6df-42ef-82dd-ba2dd74eb79e_jpg.jpg)
Yunizar juga menilai, pemilih muda kian kritis terhadap Israel. Namun, secara umum elite politik masih kuat memberikan dukungan kepada Israel.
Memenangi pemilu tentu bukan hanya dipengaruhi oleh sentimen pemilih muda. Faktor seperti donor kampanye, kelompok kepentingan, dan dinamika dalam partai juga cukup berpengaruh.
Selain itu, pemilu AS pun diwarnai beragam isu lain yang penting bagi mereka. Ada isu ekonomi, imigrasi, dan lain-lain. ”Bagi pemilih di AS, Israel belum tentu menjadi hal yang top of mind ketika memilih kandidat meskipun secara umum mereka kritis terhadap Israel,” ujar Yunizar (REUTERS/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Kris MadaPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul