Beberapa kurs negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan akibat risiko geopolitik yang meningkat. Bila terus terjadi, rupiah diperkirakan bisa mencapai Rp 16.600.
19 Jun 2025 18:06 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan mengalami tekanan dalam jangka pendek akibat konflik geopolitik. Bila risiko geopolitik terus memburuk, beberapa pihak memperkirakan rupiah akan menembus hingga level Rp 16.600 per dollar AS.
Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada Kamis (19/6/2025) ditutup di level Rp 16.378 per dollar AS atau terdepresiasi 0,47 persen dibandingkan akhir Mei 2025. Bahkan, rupiah pun sempat menembus level Rp 16.400 persen, terlemah sejak 21 Mei 2025.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, tensi geopolitik yang dipicu serangan Israel terhadap Iran akan memberikan sentimen negatif terhadap pasar keuangan global. Akibatnya, nilai tukar rupiah pun ikut terdampak oleh sentimen tersebut.
”Mungkin, sementara ini memang ada sedikit tekanan (terhadap rupiah) dalam jangka pendek. Mudah-mudahan juga kondisi geopolitiknya ini mereda tensinya sehingga investor sentimennya bisa kembali positif,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/19/d88ec66b9a22dffa8bd7a4052734eb93-Screenshot_2025_06_19_174623.png)
Dalam jangka pendek, ia memperkirakan nilai tukar rupiah cenderung akan bergerak dalam rentang Rp 16.300-16.600 per dollar AS. Dengan kata lain, terdapat risiko depresiasi rupiah hingga 1,35 persen dibandingkan level saat ini.
David menjelaskan, depresiasi nilai tukar tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga beberapa mata uang negara berkembang (emerging market) lainnya. Salah satu mata uang yang mengalami pelemahan cukup dalam, yakni peso Filipina yang terdepresiasi 2,72 persen secara bulanan.
Pelemahan tersebut utamanya disebabkan kenaikan harga minyak dunia seiring dengan meletusnya serangan Israel kepada Iran. Alhasil, investor pun cenderung berhati-hati menempatkan investasinya ke pasar keuangan negara berkembang, terutama negara dengan tingkat impor minyak tinggi (net importir).
Premi ’credit default swap’ sedikit naik karena investor, terutama di pasar obligasi, melihat kemungkinan tekanan yang lebih besar kalau harga minyaknya naik lebih tinggi lagi karena biasanya anggaran belanja akan tertekan, apalagi kita masih memberikan subsidi untuk sektor energi.
Sebagai gambaran, harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) kini telah menyentuh level 74,05 dollar AS per barel. Ini meningkat hingga 11,11 persen dibandingkan sebelum Israel menyerang Iran pada Jumat (13/6/2025).
”Premi credit default swap sedikit naik karena investor, terutama di pasar obligasi, melihat kemungkinan tekanan yang lebih besar kalau harga minyaknya naik lebih tinggi lagi karena biasanya anggaran belanja akan tertekan, apalagi kita masih memberikan subsidi untuk sektor energi,” ujar David.
Sebaliknya, para investor cenderung mengalihkan investasinya ke aset investasi yang lebih aman atau safe haven, seperti obligasi Pemerintah AS dan dollar AS. Ini tecermin dari indeks dollar AS (DXY) yang menguat 1,05 persen ke level 98,95 dalam sepekan terakhir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/25/0afc70fe-99b5-4e1e-8fff-285fc6d57a60_jpg.jpg)
Di sisi lain, ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, berpendapat, rupiah yang kini telah menembus Rp 16.400 per dollar AS bukan karena dollar AS sedang kuat, karena faktanya, indeks dollar justru melemah ke bawah 100. Ke depan, rupiah diperkirakan berada dalam kisaran Rp 16.200-Rp 16.600 per dollar AS.
”Ini disebabkan kombinasi tekanan eksternal dan kurangnya daya tarik domestik, terutama dari sisi yield (imbal hasil) dan aliran modal,” katanya.
Adapun keputusan suku bunga acuan domestik sebesar 5,5 persen cenderung mempersempit selisih imbal hasil dengan AS. Di sisi lain, ketegangan geopolitik kawasan, mencakup naiknya tensi Israel–Iran–AS, membuat investor global cenderung defensif terhadap aset berisiko.
Kepala Center Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman berpendapat, stabilitas nilai tukar rupiah juga akan sangat bergantung pada konsistensi Bank Indonesia (BI) dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter, dan kepastian arah kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
”Setidaknya hingga ada sinyal yang lebih jelas dari The Fed terkait arah kebijakan suku bunga. Dalam skenario moderat, misalnya, rupiah bisa bergerak di rentang Rp 16.300–Rp 16.500 per dollar AS dalam beberapa pekan ke depan,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/27/036b4bd8-547a-4273-9027-cbcaa9d4a1a8_jpg.jpg)
Lebih daripada itu, nilai tukar rupiah berisiko semakin tertekan bila ketidakpastian global kian meningkat, seperti data inflasi AS kembali di atas ekspektasi atau tensi geopolitik yang memburuk. Dengan kondisi tersebut, rupiah akan menembus angka psikologis Rp 16.600-Rp 16.700 per dollar AS.
Rizal menjelaskan, kondisi rupiah yang menembus Rp 16.400 per dollar AS hari ini merupakan cerminan dari tekanan eksternal yang masih kuat, khususnya dari faktor global yang bersifat struktural dan temporer. Ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed pun turut memengaruhinya.
Meski The Fed menahan suku bunga acuan, ekspektasi pasar terkait waktu penurunan suku bunga masih belum pasti ditambah rilis data ekonomi AS, seperti inflasi dan tenaga kerja yang masih relatif kuat. Akibatnya, imbal hasil obligasi AS tetap tinggi sehingga aliran modal masuk ke emerging market tertahan, termasuk Indonesia.
BI lebih menitikberatkan stabilisasi ketimbang mendorong penguatan karena kalaupun suku bunga naik, dampaknya terhadap kurs rupiah cenderung terbatas bila tekanan eksternal masih tinggi.
Berdasarkan data transaksi 10-12 Juni 2025, nonresiden mencatatkan beli neto sebesar Rp 5,20 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari beli neto Rp 0,83 triliun di pasar saham dan Rp 5,08 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta jual neto Rp 0,71 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
”Keputusan BI yang juga mempertahankan suku bunga acuan dipandang pasar lebih sebagai langkah untuk stabilisasi, bukan instrumen agresif memperkuat rupiah. BI lebih menitikberatkan stabilisasi ketimbang mendorong penguatan karena kalaupun suku bunga naik, dampaknya terhadap kurs rupiah cenderung terbatas bila tekanan eksternal masih tinggi,” kata Rizal.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/02/774563a0-44e6-40de-a011-104b0d363f6e_jpg.jpg)
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo mengklaim nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir cenderung menguat didukung kebijakan stabilisasi BI dan peningkatan pasokan valuta asing, baik oleh investor residen dan nonresiden.
Selain itu, seluruh instrumen moneter juga akan terus dioptimalkan, termasuk dengan penguatan strategi operasi moneter pro-market melalui optimalisasi instrumen SRBI, Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI), guna menarik aliran masuk investasi portofolio asing dan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.
”Bank Indonesia memberikan komitmen yang tinggi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Itu yang terus kami prioritaskan sejak dari awal tahun, sekarang, ataupun ke depan,” katanya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Juni, secara virtual, Kamis (19/6/2025).
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari