Peningkatan penyakit berbasis lingkungan, seperti diare, ISPA, dan leptospirosis, berpotensi terjadi pascabencana di Sumatera.
02 Des 2025 10:12 WIB · Kesehatan
KOMPAS/NIKSON SINAGA
JAKARTA, KOMPAS — Penyakit berbasis lingkungan berpotensi meningkat pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Karena itu, upaya pengendalian penyakit diperkuat, terutama pada kelompok rentan yang masih berada di tempat pengungsian.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman, saat dihubungi di Jakarta, Selasa (2/12/2025), mengatakan, salah satu permasalahan yang dihadapi dalam penanganan bencana di Sumatera yakni adanya potensi peningkatan penyakit berbasis lingkungan. Itu meliputi antara lain, diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), leptospirosis, dan demam berdarah dengue (DBD).
Sejumlah upaya pun dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut. Upaya pengendalian penyakit diperkuat melalui pengasapan (fogging) yang dilakukan fokus pada daerah dengan lonjakan nyamuk penyebab DBD. Disinfeksi juga dilakukan di area yang masih tergenang.
Selain itu, layanan kesehatan lingkungan dimasifkan dengan melakukan monitoring tempat penampungan air, sanitasi darurat, dan drainase di area pengungsian. Edukasi perilaku hidup bersih sehat (PHBS) pun dijalankan berbasis masyarakat.
”Untuk antisipasi di area pengungsian, kami juga fokuskan ke kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas,” ujarnya.
Aji menambahkan, pelayanan kesehatan di pos pengungsian diberikan melalui pos statis dan keliling dengan prioritas pada kelompok rentan, termasuk untuk melaksanakan pemeriksaan kehamilan (ANC) ibu hamil, pemberian makanan tambahan anak balita, skrining kesehatan lansia, dukungan psikososial, serta bila memungkinkan dilakukan imunisasi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/30/4a3cf22340a4230b8bfa28c02ad06e03-DSC04739_1.JPG)
Kebutuhan logistik kesehatan juga telah disalurkan, seperti pemberian makanan tambahan untuk anak balita dan ibu hamil, obat, bahan medis habis pakai (BMHP), serta sarana sanitasi dan air bersih. Logistik kesehatan tersebut didukung pula dengan bantuan tambahan, berupa hygiene kit, kelambu, dan genset.
Untuk antisipasi di area pengungsian, kami juga fokuskan ke kelompok rentan, seperti lansia, anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas.
Menurut Aji, Kementerian Kesehatan belum mengirimkan tambahan tenaga kesehatan dan tenaga medis ke lokasi yang terdampak bencana. Meski begitu, kebutuhan SDM tambahan telah disiapkan.
”Saat ini masih memaksimalkan TCK (tenaga cadangan kesehatan) yang ada di daerah tersebut. Kita lihat sikon (situasi dan kondisi), jika dibutuhkan sekali, bisa didistribusikan segera ke lokasi-lokasi tersebut,” ujarnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 1 Desember 2025, penyakit terbanyak yang dilaporkan di Provinsi Aceh, yakni luka-luka (35 kasus), ISPA (15 kasus), dan diare (6 kasus).
Sementara penyakit terbanyak di Provinsi Sumatera Utara, yakni demam (277 kasus), mialgia atau nyeri otot (151 kasus), gatal (150 gatal), ISPA (96 kasus), dan dispepsia atau gangguan pencernaan (94 kasus).
Penyakit terbanyak yang dilaporkan di Provinsi Sumatera Barat yakni demam (376 kasus), mialgia (201 kasus), gatal (120 kasus), dispepsia (118 kasus), ISPA (116 kasus), hipertensi (77 kasus), dan luka-luka (62 kasus).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/2c764e60ca9dbbd9872f00144937bcc4-Screenshot_2025_12_02_093459.png)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/556c5567159a3e78643417f52adb68f8-Screenshot_2025_12_02_093506.png)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/e4e8fd5eacd2db27265d27bb52175f8f-Screenshot_2025_12_02_093518.png)
Mengutip data dari Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor Sumatera Tahun 2025 di laman BNPB per 2 Desember 2025, total jumlah korban meninggal sebanyak 604 jiwa dengan 464 jiwa masih dinyatakan hilang. Selain itu, sekitar 2.600 jiwa mengalami luka-luka. Bencana ini juga menyebabkan 1,5 juta jiwa terdampak.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo Ari Fahrial Syam menuturkan, sebagian besar masyarakat yang terdampak banjir dan longsor kini masih tinggal di pengungsian. Hal itu membuat mereka berisiko mengalami penurunan daya tahan tubuh.
”Kenapa hal ini terjadi? Mereka dalam kondisi stres akibat kehilangan harta benda, istirahat yang kurang, dan makan minum ala kadarnya. Kondisi ini tentu akan menyebabkan daya tahan tubuh masyarakat menurun,” ungkap Ari yang juga menjabat sebagai Dekan FKUI.
Di lain sisi, Ari menyampaikan, masyarakat yang terdampak bencana tersebut juga rentan terhadap berbagai penyakit infeksi, termasuk ISPA hingga infeksi paru sampai pneumonia. Risiko kesehatan lain yang juga rentan terjadi di lokasi pengungsian yaitu infeksi saluran pencernaan seperti diare dan demam tifoid.
Kewaspadaan lain perlu diperhatikan pula pada risiko infeksi tetanus dan leptospirosis. Infeksi tetanus bisa terjadi saat masyarakat sedang membersihkan lokasi pascabencana. Risiko tertusuk paku bisa menyebabkan masuknya bakteri Clostridium tetani.
Gejala tetanus biasanya muncul setelah 4-21 hari setelah masuknya kuman ke dalam tubuh. Orang yang tertular akan mengalami kekakuan tangan, badan dan tengkuk terasa sakit, serta kaku kuduk atau kaku leher yang menyebabkan sulit menunduk.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/30/2fe8cedc-c678-4ab0-b19f-d87eff2dbed8_jpg.jpg)
Selain tetanus, penyakit leptospirosis juga patut diwaspadai. Penyakit tersebut menular melalui paparan dengan kotoran tikus. Pasien yang tertular leptospirosis biasanya mengalami gejala berupa demam tinggi, menggigil, mual, muntal, serta warna kuning pada mata, kulit, dan buang air kecil.
Untuk itu, masyarakat yang menjadi korban bencana harus mendapatkan perlindungan yang ekstra. Disinfektan harus didistribusikan secara merata pada masyarakat, terutama pada masyarakat yang akan membersihkan lokasi pascabanjir dan longsor.
Bagi para pengungsi, perlu dipastikan pula terjaga kesehatannya, baik dari asupan makanan dan minuman, selimut dan alas tidur yang memadai, maupun fasilitas kesehatan lainnya.
”Masyarakat yang sedang mengalami musibah banjir ini harus dibantu. Mereka harus dilengkapi dengan alat pelindung diri saat membersihkan bekas banjir, misalnya dengan sepatu bot, masker, sarung tangan, serta pelindung kepala dan mata,” katanya.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan