Dalam kondisi serba tidak ideal, Rizki Juniansyah meraih perak dan perunggu dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2024. Strateginya terbukti tepat.
10 Des 2024 10:15 WIB · Olahraga
MANAMA, SELASA — Setelah medali emas Olimpiade Paris 2024, lifter Rizki Juniansyah meraih satu perak dan satu perunggu dari Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2024. Kendati bukan prestasi terbaik, hasil ini mampu diraih Rizki dalam kondisi serba tidak ideal, termasuk selepas tragedi akibat ditinggal sang ayah dan waktu persiapan yang singkat.
Rizki memastikan satu medali perak dari total angkatan 340 kilogram dan satu perunggu dari angkatan clean and jerk 190 kg pada kelas 73 kg Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2024 di Manama, Bahrain, Selasa (10/12/2024) dini hari WIB. Rizki, yang selesai tampil di Grup B pada Senin malam, harus menunggu hasil seluruh lifter di Grup A lebih dahulu untuk mendapatkan kepastian tersebut.
”Saya tidak percaya. Saya sedang tidur di hotel ketika pelatih saya menelepon untuk memberi tahu saya bahwa saya memenangkan medali,” kata Rizki.
”Ini adalah akhir yang sangat berkesan di pengujung tahun persaingan kelas 73 kg,” ujarnya lagi dalam kesempatan lain.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/10/7bbc0159233917f3c9738ed05e5628c1-Screenshot_2024_12_10_at_09.45.44.png)
Saat bersaing di Grup B, Rizki menempati peringkat pertama untuk jenis angkatan clean and jerk dan total angkatan. Lifter asal Serang, Banten, ini juga sebenarnya mampu menempati menempati peringkat ketiga untuk jenis angkatan snatch 150 kg.
Namun, lifter-lifter dari Grup A menyalip Rizki untuk dengan jumlah angkatan snatch yang lebih berat. Posisi Rizki pun tercecer ke peringkat kedelapan.
Berbeda dengan jenis angkatan clean and jerk, hanya Ri Ryong Hon (Korea Utara) dan Lee Sengyeon (Korea Selatan) yang mampu menyaingi Rizki. Ri Hying Hin, yang meraih medali emas untuk jenis angkatan ini, sukses mencatatkan angkatan terbaik 197 kg setelah percobaan untuk pemecahan rekor dunia dengan berat 205 kg gagal dilakukan.
Adapun Lee Sengyeon meraih medali perak setelah mencatatkan angkatan terbaik 191 kg, hanya terpaut 1 kg di atas Rizki. Dia berupaya menaikkannya menjadi 195 kg pada percobaan ketiga, tetapi upayanya gagal.
Pada jenis total angkatan, hanya Ri yang mampu menyaingi Rizki dengan menorehkan 349 kg. Hal itu diraih Ri setelah mencatatkan 152 kg pada angkatan snatch.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/10/44f2854472a056d6ee1abd88eb1d1403-Screenshot_2024_12_10_at_09.54.15.png)
Satu perak dan satu perunggu tentu bukan prestasi terbaik dari sang peraih medali emas Olimpiade Paris 2024. Kendati demikian, prestasi Rizki patut diapresiasi. Apalagi, Rizki mencapainya dalam kondisi serba tidak ideal.
Dua medali dari Rizki merupakan dua medali pertama Indonesia yang mengirimkan total sembilan lifter ke Kejuaraan Dunia.
Setelah tampil di Paris, Rizki belum berlatih secara intensif lagi. Lifter berusia 21 tahun ini baru mulai berlatih menjelang PON Aceh-Sumut 2024 pada September lalu. Saat itu, dia meraih medali emas di kelas yang lebih berat, 89 kg.
Rizki kemudian sempat vakum latihan selama dua bulan. Selain mengambil waktu liburan, Rizki juga harus memproses kabar duka yang menimpanya.
Pada Oktober lalu, ayah Rizki, Muhammad Yasin, tutup usia di kediamannya di Cipocok, Serang, Banten. Muhammad Yasin merupakan sosok sentral yang membentuk hingga mencapai puncak prestasi di Olimpiade Paris 2024. Yasin-lah ”penakluk” si lifter yang dikenal sebagai anak ”nakal” itu.
”Saya mengalami tragedi ditinggal ayah tercinta yang membuat saya tumbuh seperti ini dan saya tidak bisa berlatih selama dua bulan setelah libur panjang,” tutur Rizki.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/07/bf6be1b7-474d-4a91-b9c5-b325f62a3d17_jpg.jpg)
Alhasil, Rizki hanya melakukan persiapan selama dua minggu untuk Kejuaraan Dunia. Itu termasuk menurunkan berat badan sekitar 9 kilogram untuk kembali bisa berkompetisi di kelas 73 kg.
Meski tak meraih prestasi terbaik, bahkan sempat gagal ketika percobaan angkatan 200 kg, Rizki tetap senang dengan pencapaiannya.
”Ini menjadi pengalaman yang berkesan bagi saya karena saya masih bisa tampil dengan mengangkat beban 150 kg dan 190 kg yang belum pernah diangkat lagi pada latihan kemarin. Saya bersyukur masih bisa berprestasi,” ujarnya diikuti janji untuk tampil lebih baik pada ajang selanjutnya.
Pencapaian Rizki juga tak lepas dari strategi yang terbukti tepat diterapkan. Rizki masuk dalam persaingan di Grup B, alih-alih Grup A, sehingga mengganggu dinamika persaingan secara keseluruhan di kelas 73 kg.
Dalam ajang angkat besi, setiap atlet yang akan ikut serta biasanya mendaftarkan total entry atau berat maksimum yang direncanakan untuk diangkat dalam angkatan snatch dan clean and jerk. Lifter harus memastikan bahwa upaya pembukaan mereka dalam snatch dan clean and jerk berada dalam jarak 20 kg dari total tersebut.
Hal ini dikenal sebagai aturan 20 kg. Aturan 20 kg diberlakukan untuk mencegah atlet memasang angka yang digelembungkan untuk berkompetisi dalam kelompok yang lebih tinggi. Aturan ini juga membantu mengelompokkan atlet dengan kemampuan yang sama dan mengurangi jumlah atlet yang perlu mengikuti satu sama lainnya di panggung kompetisi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/07/0bdfbd82-aea0-461c-a568-cf7022001f5c_jpg.jpg)
Rizki berada pada Grup B setelah memasukkan total entry 335 kg. Di grup ini, ada delapan atlet yang mencatatkan total entry pada rentang 310-335 kg. Adapun pada Grup A, ada sepuluh atlet bersaing dan mencatatkan total entry pada rentang 340-345 kg.
Pencapaian Rizki di Grup B secara tidak langsung memotivasi sekaligus menekan para atlet dan pelatih di Grup A untuk bersaing ketat melawannya. Akhirnya, terutama untuk angkatan snatch, banyak dari atlet di Grup B yang berfokus pada angkatan yang mendekati hasil snatch Rizki. Padahal, kompetisi tersebut terdiri dari dua fase, yakni angkatan snatch dan clean and jerk.
Para lifter Grup A berlomba-lomba mencatatkan snatch di atas capaian 150 kg milik Rizki. Hal itu terlihat jelas dari percobaan ketiga, yaitu ketika hanya dua lifter yang memasang angkatan di bawah 150 kg.
Namun, kendati mampu menyaingi Rizki dan membuat posisinya tercecer hingga ke peringkat kedelapan, banyak atlet di Grup A yang terlalu fokus di snatch sehingga kehabisan tenaga untuk clean and jerk.
Hasil itu membuat mereka tidak bisa maksimal pada angkatan ini dan tak mampu melewati pencapaian 190 kg milik Rizki. Hanya lima atlet yang memasang angkatan di atas perolehan Rizki, tetapi hanya Ri Ryong Hyon dan Lee Sangyeon yang sukses mengangkatnya.
Strategi ini pernah diterapkan dan lifter Indonesia lain, Rahmat Erwin Abdullah, dalam beberapa kesempatan dan membuahkan hasil manis. Saat bersaing di kelas 73 kg di Kejuaraan Dunia Angkat Besi 2022 di Bogota, Kolombia, misalnya, Rahmat meraih emas dan memecahkan rekor dunia 198 kg untuk angkatan clean and jerk.
Dalam Olimpiade Tokyo 2020, Rahmat yang mengawali aksi dari Grup B juga bisa mengungguli tujuh lifter Grup A. Rahmat bisa merebut perunggu seusai membukukan total angkatan 342 kg (snatch 152 kg dan clean and jerk 190 kg).
Dua medali dari Rizki merupakan dua medali pertama Indonesia yang mengirimkan total sembilan lifter ke Kejuaraan Dunia. Lima lifter lainnya yang sudah tampil tak berhasil mempersembahkan medali.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan