WASHINGTON DC, SABTU — Amerika Serikat diduga kuat bertanggung jawab atas kematian setidaknya 165 pelajar dan guru SD Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran. Tragedi itu terjadi di awal serangan AS-Israel ke Iran.
Dugaan itu berdasarkan penyelidikan internal militer AS dan sejumlah pihak lain. Laporan The Associated Press pada Sabtu (7/3/2026) membahas dugaan itu. Sebelumnya,The New York Times dan The Wall Street Journaljuga membahas hal itu.
SD di Minab meledak pada Sabtu (28/2/2026). Rudal yang sampai sekarang tak diakui pemiliknya itu meledakkan sekolah tersebut kala pelajaran baru dimulai. Dampaknya, ratusan pelajar dan guru di sekolah itu tewas.
Penyelidikan sejumlah pihak atas tragedi itu menggunakan citra satelit, analisis pakar, dan wawancara para pejabat AS. Dipakai pula informasi yang disiarkan AS-Israel terkait serangan yang sudah berlangsung sepekan ke Iran.
Sejak awal tragedi diketahui, Iran menyebut AS-Israel bertanggung jawab atas tewasnya ratusan anak kecil dan guru itu. Israel bergegas menyangkal terlibat dan menyebut serangan ke sekitar SD itu tanggung jawab AS. Serangan Israel pada waktu tragedi itu dipusatkan ke wilayah lain yang berada ratusan kilometer dari SD Minab.
Menimbang kemampuan intelijen AS, mereka harusnya tahu ada sekolah di sana.
Sementara AS menyatakan menyelidiki informasi itu. Sampai sekarang, AS tak kunjung membuat pernyataan resmi dan terbuka atas tragedi itu. ”Kami menyelidiki itu,” kata Menteri Perang AS Pete Hegseth.
Juru Bicara Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS Kapten Tim Hawkins mengatakan tidak pantas berkomentar atas kejadian yang sedang diselidiki. Sementara Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan tak punya informasi perkembangan penyelidikan tragedi itu.
Citra satelit
Redaksi media-media AS pengulas tragedi itu membandingkan citra satelit dari beberapa waktu terpisah. Para pakar yang memeriksa citra itu menyimpulkan, pola kerusakan di SD Minab selaras dengan dampak serangan rudal.
Peta lokasi serangan juga telah disebar Pentagon. Lokasi SD Minab ada di antara dua titik serangan yang berdekatan. Sementara citra satelit merekam setidaknya lima lokasi di sekitar SD itu jadi sasaran serangan AS.
Kedekatan (lokasi) sekolah dengan fasilitas (militer) dan kehadiran anak (dari asrama militer) ke sekolah itu tak mengubah kesimpulan (sekolah) itu obyek sipil.
Sejumlah pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyatakan, diduga kuat serangan ke SD itu dilancarkan AS. Sejauh ini, sejumlah pihak di AS berkilah, SD itu berdekatan dengan markas dan asrama Garda Revolusi Iran (IRGC) di Provinsi Hormozgan. Dampaknya, SD itu ikut diserang.
Untuk alasan itu, sejumlah pihak menegaskan bahwa ada banyak sekolah dan lembaga pendidikan sipil di pangkalan-pangkalan militer AS. Bahkan, banyak sekolah dan lembaga pendidikan sipil beroperasi di dalam pangkalan militer AS.
Pegawai senior di bagian hukum pada The Atlantic Council, Elise Baker, menyebut, menyerang sekolah melanggar hukum internasional. ”Serangan hanya sah ke sasaran militer dan orang yang bertempur. Sekolah adalah obyek sipil dan guru serta pelajar adalah warga sipil. Kedekatan (lokasi) sekolah dengan fasilitas (militer) dan kehadiran anak (dari asrama militer) ke sekolah itu tak mengubah kesimpulan (sekolah) itu obyek sipil,” katanya.
”Asumsi saya amat mungkin ada kegiatan di sana dan mereka (militer AS) melacaknya. Walakin, mereka tak tahu atau tak punya informasi terbaru bahwa ada sekolah khusus siswi di sana dan mereka mengebom itu,” kata peneliti Iran di Washington Institute for Near East Policy, Farzin Nadimi.
Sekitar 150 meter di SD Minab ada asrama matra laut IRGC. Satuan itu di Minab mengurus operasi di Selat Hormuz. Menurut Nadimi, berdasarkan pemeriksaan berbagai foto, video, dan citra satelit, sebagian pelajar SD itu tinggal dalam asrama.
Perserikatan Bangsa-bangsa mengecam pengeboman SD Minab. Selain SD Shajareh Tayyebeh di Minab, sekolah yang jadi sasaran ada di Narmak, Teheran, dengan dua korban tewas. Pada 5 Maret 2025, SD dan SMP di Parand jadi sasaran serangan juga.
Sementara gelanggang olahraga di Lamerd, Provinsi Fars, jadi sasaran di hari pertama sernagan AS-Israel ke iran. Dampaknya, 18 orang tewas.
Tepat sasaran
Setidaknya tiga pakar yang dihubungi AP menyebut, serangan ke SD Minab melibatkan beberapa rudal. Sejauh ini belum ada penyelidikan independen ke lokasi.
Berdasarkan kondisi SD, disimpulkan serangan itu dirancang tepat sasaran. Tidak ada lubang besar atau bukti bom yang mengenai lingkungan sekitar.
Hal itu disimpulkan Corey Scher, peneliti yang menggunakan citra satelit dan data radar. ”Semua serangan terkumpul di dalam kompleks yang dikelilingi tembok. Itu adalah satu tingkat presisi di tingkat blok. Dan kemudian sebagian besar serangan pada dasarnya mengarah langsung ke bangunan. Itu adalah tingkat presisi lainnya,” ujarnya.
Scher mengatakan, sekolah dan bangunan lain yang terkena di kompleks tersebut menunjukkan kerusakan yang konsisten dengan penggunaan amunisi udara-ke-permukaan. ”Bom-bom itu tidak meledak di udara di atas bangunan. Sepertinya ledakan terjadi pada saat bom mengenai permukaan, baik itu bangunan maupun tanah,” ujarnya.
Menurut Sean Moorhouse, sulit menentukan jenis amunisi dalam serangan ke SD Minab. Pensiunan Angkatan Darat Inggris dan pakar bahan peledak itu hanya menyebut, kerusakan di SD Minab konsisten dengan dampak beberapa hulu ledak berdaya ledak hingga 900 kilogram. Dengan dampak itu, sulit disimpulkan SD tersebut meledak oleh rudal Iran.
Pensiunan Angkatan Udara AS dan mantan pegawai Departemen Pertahan Amerika Serikat, Wes J Bryant, juga berpendapat, SD itu jadi lokasi rudal tepat sasaran. Dengan kata lain, skeolah itu memang masuk daftar lokasi serangan.
Ia mengatakan, hal itu bisa terjadi kalau ada kesalahan identifikasi. Para penyusun rencana serangan tak tahu SD ada.
Namun, dugaan ketidaktahuan soal SD itu disangkal sejumlah pihak. ”Menimbang kemampuan intelijen AS, mereka harusnya tahu ada sekolah di sana,” kata mantan pegawai Departemen Luar Negeri AS yang kini mengajar di Stanford University, Beth Van Schaack, kepada The New York Times.
Mantan perwira perencana operasi Angkatan Udara AS, Ravi Chaudhary, juga tak sepakat dengan dugaan salah identifikasi sasaran. ”Saya akan sangat terkejut kalau serangan ini karena daftar sasaran lama yang belum diperbarui,” kata mantan Asisten Direktur Jenderal AU AS itu, seperti dikutip The Wall Street Journal.
”Jika memang dikonfirmasi bahwa serangan Amerika atau Israel menghantam sekolah tersebut, ada beberapa potensi titik kegagalan dalam siklus penargetan. Kita mungkin melihat kegagalan intelijen, kemungkinan besar cukup awal dalam prosesnya, yang salah mengidentifikasi target atau gagal memperbarui daftar penargetan setelah perubahan penggunaan bangunan,” kata Direktur Armament Research Services, N R Jenzen-Jones.
Rekaman video setelah serangan menunjukkan, asap mengepul di komplek IRGC dekat sekolah. Ada juga laporan saksi mata soal begitu banyak ledakan pada Sabtu pagi itu.
Pakar hukum perang di Oxford University, Janina Dill, menegaskan bahwa penyerang berkewajiban menverifikasi sasaran. Hal itu untuk memastikan warga sipil tak terdampak. (AP/AFP)
WASHINGTON DC, SABTU — Amerika Serikat diduga kuat bertanggung jawab atas kematian setidaknya 165 pelajar dan guru SD Shajareh Tayyebeh di Minab, Iran. Tragedi itu terjadi di awal serangan AS-Israel ke Iran.
Dugaan itu berdasarkan penyelidikan internal militer AS dan sejumlah pihak lain. Laporan The Associated Press pada Sabtu (7/3/2026) membahas dugaan itu. Sebelumnya,The New York Times dan The Wall Street Journaljuga membahas hal itu.
SD di Minab meledak pada Sabtu (28/2/2026). Rudal yang sampai sekarang tak diakui pemiliknya itu meledakkan sekolah tersebut kala pelajaran baru dimulai. Dampaknya, ratusan pelajar dan guru di sekolah itu tewas.
Serial Artikel
UNESCO: Pengeboman Sekolah di Iran Langgar Hukum Humaniter
UNESCO menyebut, pengeboman terjadi selama serangan AS-Israel ke Iran. Pengeboman itu merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter.
Penyelidikan sejumlah pihak atas tragedi itu menggunakan citra satelit, analisis pakar, dan wawancara para pejabat AS. Dipakai pula informasi yang disiarkan AS-Israel terkait serangan yang sudah berlangsung sepekan ke Iran.
Sejak awal tragedi diketahui, Iran menyebut AS-Israel bertanggung jawab atas tewasnya ratusan anak kecil dan guru itu. Israel bergegas menyangkal terlibat dan menyebut serangan ke sekitar SD itu tanggung jawab AS. Serangan Israel pada waktu tragedi itu dipusatkan ke wilayah lain yang berada ratusan kilometer dari SD Minab.
Menimbang kemampuan intelijen AS, mereka harusnya tahu ada sekolah di sana.
Sementara AS menyatakan menyelidiki informasi itu. Sampai sekarang, AS tak kunjung membuat pernyataan resmi dan terbuka atas tragedi itu. ”Kami menyelidiki itu,” kata Menteri Perang AS Pete Hegseth.
Juru Bicara Komando Operasi Tengah (CENTCOM) AS Kapten Tim Hawkins mengatakan tidak pantas berkomentar atas kejadian yang sedang diselidiki. Sementara Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan tak punya informasi perkembangan penyelidikan tragedi itu.
Citra satelit
Redaksi media-media AS pengulas tragedi itu membandingkan citra satelit dari beberapa waktu terpisah. Para pakar yang memeriksa citra itu menyimpulkan, pola kerusakan di SD Minab selaras dengan dampak serangan rudal.
Peta lokasi serangan juga telah disebar Pentagon. Lokasi SD Minab ada di antara dua titik serangan yang berdekatan. Sementara citra satelit merekam setidaknya lima lokasi di sekitar SD itu jadi sasaran serangan AS.
Kedekatan (lokasi) sekolah dengan fasilitas (militer) dan kehadiran anak (dari asrama militer) ke sekolah itu tak mengubah kesimpulan (sekolah) itu obyek sipil.
Sejumlah pejabat AS yang menolak identitasnya diungkap menyatakan, diduga kuat serangan ke SD itu dilancarkan AS. Sejauh ini, sejumlah pihak di AS berkilah, SD itu berdekatan dengan markas dan asrama Garda Revolusi Iran (IRGC) di Provinsi Hormozgan. Dampaknya, SD itu ikut diserang.
Untuk alasan itu, sejumlah pihak menegaskan bahwa ada banyak sekolah dan lembaga pendidikan sipil di pangkalan-pangkalan militer AS. Bahkan, banyak sekolah dan lembaga pendidikan sipil beroperasi di dalam pangkalan militer AS.
Serial Artikel
Serangan AS-Israel Ledakkan Sekolah di Iran
Ada 170 orang di sekolah itu kala rudal meledak. Jam pelajaran baru dimulai kala AS-Israel menyerang.
Pegawai senior di bagian hukum pada The Atlantic Council, Elise Baker, menyebut, menyerang sekolah melanggar hukum internasional. ”Serangan hanya sah ke sasaran militer dan orang yang bertempur. Sekolah adalah obyek sipil dan guru serta pelajar adalah warga sipil. Kedekatan (lokasi) sekolah dengan fasilitas (militer) dan kehadiran anak (dari asrama militer) ke sekolah itu tak mengubah kesimpulan (sekolah) itu obyek sipil,” katanya.
”Asumsi saya amat mungkin ada kegiatan di sana dan mereka (militer AS) melacaknya. Walakin, mereka tak tahu atau tak punya informasi terbaru bahwa ada sekolah khusus siswi di sana dan mereka mengebom itu,” kata peneliti Iran di Washington Institute for Near East Policy, Farzin Nadimi.
Sekitar 150 meter di SD Minab ada asrama matra laut IRGC. Satuan itu di Minab mengurus operasi di Selat Hormuz. Menurut Nadimi, berdasarkan pemeriksaan berbagai foto, video, dan citra satelit, sebagian pelajar SD itu tinggal dalam asrama.
Perserikatan Bangsa-bangsa mengecam pengeboman SD Minab. Selain SD Shajareh Tayyebeh di Minab, sekolah yang jadi sasaran ada di Narmak, Teheran, dengan dua korban tewas. Pada 5 Maret 2025, SD dan SMP di Parand jadi sasaran serangan juga.
Sementara gelanggang olahraga di Lamerd, Provinsi Fars, jadi sasaran di hari pertama sernagan AS-Israel ke iran. Dampaknya, 18 orang tewas.
Tepat sasaran
Setidaknya tiga pakar yang dihubungi AP menyebut, serangan ke SD Minab melibatkan beberapa rudal. Sejauh ini belum ada penyelidikan independen ke lokasi.
Berdasarkan kondisi SD, disimpulkan serangan itu dirancang tepat sasaran. Tidak ada lubang besar atau bukti bom yang mengenai lingkungan sekitar.
Hal itu disimpulkan Corey Scher, peneliti yang menggunakan citra satelit dan data radar. ”Semua serangan terkumpul di dalam kompleks yang dikelilingi tembok. Itu adalah satu tingkat presisi di tingkat blok. Dan kemudian sebagian besar serangan pada dasarnya mengarah langsung ke bangunan. Itu adalah tingkat presisi lainnya,” ujarnya.
Serial Artikel
AS-Israel Serang Iran, Mediasi Oman Sia-sia
AS-Israel menyerang Iran dua hari setelah Oman kembali memediasi perundingan AS-Iran. Menlu Oman sedang di AS kala serangan dilancarkan.
Scher mengatakan, sekolah dan bangunan lain yang terkena di kompleks tersebut menunjukkan kerusakan yang konsisten dengan penggunaan amunisi udara-ke-permukaan. ”Bom-bom itu tidak meledak di udara di atas bangunan. Sepertinya ledakan terjadi pada saat bom mengenai permukaan, baik itu bangunan maupun tanah,” ujarnya.
Menurut Sean Moorhouse, sulit menentukan jenis amunisi dalam serangan ke SD Minab. Pensiunan Angkatan Darat Inggris dan pakar bahan peledak itu hanya menyebut, kerusakan di SD Minab konsisten dengan dampak beberapa hulu ledak berdaya ledak hingga 900 kilogram. Dengan dampak itu, sulit disimpulkan SD tersebut meledak oleh rudal Iran.
Pensiunan Angkatan Udara AS dan mantan pegawai Departemen Pertahan Amerika Serikat, Wes J Bryant, juga berpendapat, SD itu jadi lokasi rudal tepat sasaran. Dengan kata lain, skeolah itu memang masuk daftar lokasi serangan.
Ia mengatakan, hal itu bisa terjadi kalau ada kesalahan identifikasi. Para penyusun rencana serangan tak tahu SD ada.
Namun, dugaan ketidaktahuan soal SD itu disangkal sejumlah pihak. ”Menimbang kemampuan intelijen AS, mereka harusnya tahu ada sekolah di sana,” kata mantan pegawai Departemen Luar Negeri AS yang kini mengajar di Stanford University, Beth Van Schaack, kepada The New York Times.
Mantan perwira perencana operasi Angkatan Udara AS, Ravi Chaudhary, juga tak sepakat dengan dugaan salah identifikasi sasaran. ”Saya akan sangat terkejut kalau serangan ini karena daftar sasaran lama yang belum diperbarui,” kata mantan Asisten Direktur Jenderal AU AS itu, seperti dikutip The Wall Street Journal.
”Jika memang dikonfirmasi bahwa serangan Amerika atau Israel menghantam sekolah tersebut, ada beberapa potensi titik kegagalan dalam siklus penargetan. Kita mungkin melihat kegagalan intelijen, kemungkinan besar cukup awal dalam prosesnya, yang salah mengidentifikasi target atau gagal memperbarui daftar penargetan setelah perubahan penggunaan bangunan,” kata Direktur Armament Research Services, N R Jenzen-Jones.
Rekaman video setelah serangan menunjukkan, asap mengepul di komplek IRGC dekat sekolah. Ada juga laporan saksi mata soal begitu banyak ledakan pada Sabtu pagi itu.
Pakar hukum perang di Oxford University, Janina Dill, menegaskan bahwa penyerang berkewajiban menverifikasi sasaran. Hal itu untuk memastikan warga sipil tak terdampak. (AP/AFP)