Iran masih mampu membalas AS-Israel melalui serangan rudal balistik. Bagaimana Iran memiliki teknologi rudal yang melampaui banyak negara Barat itu?
29 Mar 2026 06:01 WIB · Internasional
TANGKAPAN LAYAR/US CENTCOM
Hantaman hulu ledak rudal balistik berkecepatan bak kilat itu begitu menggetarkan kota-kota Israel. Dua kota di gurun Negev, Arad dan Dimona, menjadi saksi masifnya dampak kerusakan dari hantaman hulu ledak rudal balistik Iran, Sabtu (21/3/2026).
Gedung sasaran luluh lantak dan jendela-jendela gedung di sekitarnya berlobang-lobang terkena tekanan ledakan yang masif. Padahal Dimona adalah kota yang dijaga ketat oleh lapisan sistem pertahanan udara Israel karena menjadi tempat penelitian dan reaktor nuklir Israel berada.
Keberhasilan dua hulu ledak rudal Iran menembus berlapis-lapis sistem pertahanan Israel, mengingatkan pada peristiwa serupa, operasi True Promise 2 (Oktober 2024) dan True Promise 3 pada Juni 2025.
Saat itu, rudal balistik-hipersonik Iran jenis Fattah-1 mampu menembus pertahanan udara Israel, yang membuka sebuah tabir baru yang selama ini menjadi pertanyaan dunia: sejauh mana kemampuan Iran menembakkan rudal hipersoniknya?
Tak ayal, keberhasilan beberapa rudal Iran menembus sistem pertahanan Israel maupun sejumlah negara Timur Tengah sekutu AS, memberikan warna perlawanan dari Iran. Karena tanpa rudal balistik Iran, ”Negeri Para Mullah” itu ibarat sansak tinju yang dihajar bertubi-tubi dan tak mampu membalas lawan.
Ketimpangan hasil perang itu tampak jelas dari keadaan per 24 Maret 2026. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengklaim lebih dari 8.000 target militer dan fasilitas pendukung Iran dihancurkan, sedangkan American Jewish Committee (AJC) mencatat jumlah lebih besar, 15.000 sasaran dihancurkan.
Menurut CENTCOM, setidaknya 130 kapal perang besar-kecil dan aset maritim Iran dihancurkan, termasuk fasilitas ranjau laut di Pulau Kharg. Juga penghancuran situs perakitan rudal balistik jarak pendek dan menengah, Khojir serta situs peluncuran bawah tanah di provinsi Fars dan Hormozgan. Tak lupa pula, situs nuklir terbesar Fordow kembali disambangi bom penetrasi-antibunker AS, GBU-57.
Nasib pangkalan udara di Isfahan dan Bushehr tak jauh berbeda, pesawat dan hanggar dihancurkan yang menyebabkan nyaris nihilnya perlawanan jet Angkatan Udara Iran. Adapun markas besar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) di Teheran maupun kota lain telah menjadi bulan-bulanan serangan udara sejak hari-hari pertama serangan.
Meski demikian, serangan sporadik rudal balistik Iran ternyata tetap mampu menggetarkan daratan Israel. Merujuk data Institute For The Study of War (ISW), per 23/3/2026, secara keseluruhan Iran diduga telah menembakkan lebih dari 400 rudal balistik ke arah Israel meskipun hampir semua (92 persen) mampu diintersep sistem pertahanan udara Israel.
Rudal yang lolos maupun serpihan besar yang jatuh di daerah berpenduduk tetap membawa bahaya besar. Setidaknya dua puluhan warga Israel telah tewas, lebih dari 4.000 warga luka-luka dan jutaan lainnya harus berlindung dalam shelter jika sirene berbunyi.
Iran juga diduga menyerang pangkalan AS Diego Garcia yang terletak 4.000 km dari Iran di Kepulauan Chagos, Samudra Hindia. Media The Wall Street Journal dan pejabat militer Israel melaporkan bahwa Iran meluncurkan dua rudal balistik jarak menengah ke pangkalan AL AS Diego Garcia pada hari Jumat (20/3/2026) meski hal ini dibantah pejabat militer Iran. Serangan itu sendiri digagalkan kapal AL AS.
Bagaimana sebenarnya kemampuan rudal balistik Iran yang terus memberikan sinyal perlawanan di tengah hancurnya matra pertahanan negara mereka? Apakah kemampuan teknologi rudal balistik-hipersonik Iran, sudah setara dengan kemampuan rudal hipersonik Rusia?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/46b1bc0f6ee71f8ac7e29d44996724fa-20260328_GKT_Rudal_Hipersonik_Iran_1_mumed.jpg)
Rudal hipersonik kerap diartikan sebagai rudal dengan kecepatan luncur di atas Mach 5 alias 5 kali kecepatan suara. Media kerap menamakan rudal balistik Iran yang meluncur secepat kilat dari langit sebagai rudal hipersonik karena melaju dengan kecepatan di atas Mach 5.
Iran sejak 2023 sudah menunjukkan kemampuan membuat rudal balistik-hipersonik bertajuk ”Fattah” (penakluk). Rudal itu diklaim mampu melesat di atas Mach 5, bahkan mach 15 di tahap tepi luar angkasa, dan menjangkau jarak 1.400 km lebih. Selain itu, Fattah dilengkapi kemampuan meluncur zig-zag di stratosfer menghindari semua sistem pertahanan udara Israel dan AS, sebelum menghunjam lurus ke sasaran.
Untuk Fattah-2, IRGC menggambarkannya sebagai rudal tahap mutakhir. Defa Press menyebut Fattah-2 sebagai penggabungan karakteristik hypersonic glide vehicle (HGV) dan hypersonic cruise missile (HCM), sebuah kategori rudal yang belum ada di arsenal rudal Barat maupun Rusia.
Seperti diketahui, semua rudal jarak jauh mampu mencapai jarak ribuan kilometer karena memanfaatkan kondisi nyaris hampa udara di lapisan tepi ruang angkasa menggunakan daya kinetik dari dorongan roket di awal peluncuran. Roket itu baru kembali dinyalakan ketika rudal sudah hampir mencapai tujuannya untuk kembali menukik ke Bumi.
Bandingkan keadaan itu dengan lintasan rudal jelajah yang meluncur mendatar sesuai permukaan Bumi dan didorong terus-menerus oleh tenaga mesin propulsi jet sebagaimana pesawat terbang. Rudal-rudal jelajah seperti Kalibre (Rusia), maupun Tomahawk (AS), melaju mendatar dengan kecepatan rata-rata di bawah Mach 1 (sekitar 950 kilometer per jam).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/06/06/55e0c3d6-8fb2-4755-aa61-a3deed791f1e_jpg.jpg)
Meskipun demikian, merujuk laman Military Balance+ (6 Juli 2023), rudal balistik Iran banyak dinilai para analis militer Barat bukan sebagai rudal hipersonik sesungguhnya karena tidak meluncur mendatar, melainkan ”menghunjam” dari langit. Dalam konteks kecepatan luncur di atas atmosfer, rudal balistik dari sejumlah negara juga diyakini mampu mencapai kecepatan itu karena faktor minimnya hambatan udara.
Artinya, di mata sejumlah analis Barat kalau sebuah sistem rudal hanya meluncur naik, masuk fase balistik, lalu turun sangat cepat, itu bisa hipersonik dalam arti kecepatan, tetapi belum tentu termasuk senjata hipersonik generasi baru dalam arti strategis-modern.
Di mata Barat pelabelan ”rudal hipersonik” Iran dianggap mengaburkan kelas rudal yang sebenarnya. Banyak rudal permukaan-ke-permukaan mencapai kecepatan di dalam atmosfer yang melampaui ambang batas hipersonik, yaitu lebih besar dari Mach 5.
Selain itu, bukan hanya kecepatan yang membedakan jenis senjata hipersonik, melainkan juga kemampuan untuk bermanuver secara signifikan selama penerbangan atmosfer, termasuk pada jarak yang cukup jauh.
Dalam artikel pengamat Barat di tahun 2023 tersebut, Fattah dianggap bukanlah salah satu dari dua kelas senjata tersebut, melainkan rudal balistik jarak menengah (MRBM) dengan kemampuan manuver di dalam dan di luar atmosfer.
Terlepas dari anggapan nilai propaganda dan hiperbola yang dikaitkan dengan klaim Iran tentang kemampuan hipersonik, program rudal permukaan-ke-permukaannya menunjukkan perkembangan signifikan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/08/01/20210801-H10-KID-Rudal-mumed_1627833466_png.png)
Rudal balistik-hipersonik Fattah lahir pada 6 Juni 2023, setelah pengembangan bertahap dari penguasaan teknologi rudal-rudal sebelumnya. Sifat pengembangan Fattah-1, Fattah-2, yang merupakan lanjutan dari rudal Khorramshahr dan bersifat evolusioner, bukan pencapaian teknologi melompat seperti dugaan semula.
Rudal Fattah-1 dan Fattah-2 menjadi ”senjata pusaka” pemimpin Iran yang meyakini bahwa penguasaan teknologi rudal dan drone adalah obat mujarab ketertinggalan militer dengan Barat.
Sekaligus hal itu sebagai puncak evolusi panjang industri rudal Iran dan penguasaaan teknologi di bidang bahan bakar padat, mobilitas peluncur, hulu ledak bermanuver, dan kemampuan menembus pertahanan udara lawan. Kebetulan belum ada satu pun negara Barat yang mengoperasionalkannya.
Jika Fattah adalah pengembangan dari Khorramshahr, rudal Khorramshahr diduga dibuat berdasarkan rudal balistik jarak menengah Hwasong-10 (Musudan) Korea Utara, yang merupakan turunan pula dari rudal balistik berbasis peluncuran kapal selam R-27 Zyb (RS-SS-N-6 Serb) Soviet.
Fattah juga merupakan perkembangan dari rudal bahan bakar padat Iran sebelumnya, seperti Fateh, Raad-500, dan Sejjil, yang menjadi fondasi motor roket padat, badan rudal yang lebih ringan, komposit, dan peluncur bergerak. Jangka waktu yang dihabiskan para insinyur Iran mencapai 20 tahun hingga menguasai teknologi hipersonik.
Pola umum program misil Iran bukan desain murni dari nol, melainkan campuran reverse engineering dari rudal lama Uni Sovyet, transfer teknologi, dan inovasi domestik bertahap. Hal itu dibuktikan dari berbagai perbaikan teknis dari pameran rudal Khorramshahr-4 oleh Kementerian Pertahanan Iran (MODAFL) pada Mei 2023.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/02/19/c5a87fd8-214e-4040-9564-4a2380c90d1f.jpg)
Tak lama setelah peluncuran rudal tersebut, media Iran merilis rekaman yang menunjukkan sistem panduan ekso-atmosfer Khorramshahr-4, yang menggunakan pendorong roket kecil untuk menyesuaikan dan mengoreksi lintasan rudal di ruang angkasa.
Dalam sebuah wawancara, Seyyed Mahdi Farahi, Wakil Menteri Pertahanan dan Logistik Angkatan Bersenjata MODAFL, mengklaim bahwa penggunaan panduan ekso (luar)-atmosfer Khorramshahr memungkinkan akurasi 30 meter hulu ledak tanpa menggunakan panduan akhir.
Rekaman oleh MODAFL menunjukkan sistem panduan ekso-atmosfer Khorramshahr mengubah lintasan rudal dan rudal tersebut melakukan ”penyimpangan lintasan” untuk menghindari ”penyergapan musuh”.
IRGC Iran saat itu mengatasi keterbatasan dengan memasangkan motor roket kecil yang memungkinkan manuver ekso-atmosfer. Menurut Angkatan Udara IRGC saat itu, motor tahap kedua Fattah akan menyala dan memulai fase manuvernya pada jarak 300-500 kilometer dari target.
Pada tahap kedua desain rudal, IRGC sudah menggabungkan hulu ledak, kontrol aerodinamis, dan motor propelan padat kecil dengan nosel yang dapat digerakkan untuk kontrol vektor dorong (TVC). Dengan demikian, hasil rudal tahap kedua Fattah lebih menyerupai kendaraan masuk kembali yang dapat bermanuver (Maneuverable-Re-entry Vehicle/MaRV) ketimbang hulu ledak rudal balistik konvensional.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/28/4a2e1d9d17f0ddf6d6694882956e900e-20260328_GKT_Rudal_Hipersonik_Iran_2_mumed.jpg)
Tak ayal, kemampuan rudal balistik-hipersonik Fattah-2 dalam menembus sistem perisai udara Israel dan sekutu Arab membuat kalkulasi politik kini menjadi bergeser. Presiden Donald Trump maupun Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tak bisa mengabaikan kemampuan penetrasi rudal balistik Iran di tengah upaya pengakhiran konflik.
Kanal Iran, Defapress, menyebutkan, program ini memang sejak awal lahir dari kebutuhan strategis pemimpin Iran untuk menghadapi dominasi udara Amerika Serikat dan Israel serta untuk memastikan bahwa Iran masih memiliki alat balasan yang cepat, survivable, dan sulit dicegat.
Fungsi strategis-politik dari Fattah-1 ini digambarkan sebagai jawaban terhadap sistem pertahanan Amerika dan Israel, seperti Iron Dome, THAAD, Patriot, dan radar canggih seperti AN/TPY-2. Rudal Fattah juga menjadi simbol pembalikan kekuatan Iran, yang selama bertahun-tahun berada di bawah embargo, mampu membangun senjata yang membuat sistem pertahanan Barat kewalahan.
Ini memperkuat daya tawar Iran pada kemampuan rudal domestik, terutama ketika angkatan udara dan armada lautnya jauh lebih lemah dibanding negara pesaingnya. Doktrin deterrence/penggentar Iran ternyata berhasil, yaitu menggunakan rudal canggih sebagai alat utama untuk menembus pertahanan musuh dan membalas serangan dari lawan yang lebih unggul di udara.
Di balik isu soal pengayaan uranium Iran untuk membuat senjata nuklir, AS dan Israel sadar bahwa senjata paling ampuh Iran saat ini adalah serangan rudal balistik hipersonik Fattah-2 yang diluncurkan bersama ratusan rudal balistik konvensional lainnya. Itulah sebabnya, semua taktik serangan dipakai untuk mengulur dan mengurangi kemampuan Iran menyerang balik negara Israel sebelum semua pihak kembali ke meja perundingan. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
M Toto SuryaningtyasEditor:
A. Yoga PrasetyoInfografik:
Gunawan KartapranataPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul