Tarif bea masuk impor yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memukul banyak sektor. Rudal dan komponen untuk jet tempur F-35 sampai pisau dapur terdampak kebijakan itu.
”Akan ada keterbatasan pasokan, pembalasan, sekutu, serta mitra lain akan membalas,” kata mantan pejabat bagian lelang di Departemen Pertahanan AS, Bill Greenwalt, kepada Politico.
Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan tarif bea masuk impor untuk beragam komoditas dari hampir semua negara. Semua negara dikenai tarif dasar 10 persen dan tarif tambahan yang beragam. ”Beberapa pasokan pokok akan melonjak harganya atau sama sekali tak tersedia,” lanjut Greenwalt.
Sejumlah pihak lain berpendapat senada. Senator dari Arizona, Mark Kelly, mengingatkan rantai pasok yang kompleks dan lintas negara dalam produksi persenjataan. ”Harga yang harus dibayar Dephan akan naik. Anggaran pertahanan kita, jika mau mempertahankan kekuatan, akan melonjak,” ujar politisi Demokrat itu.
Senator Republikan seperti Kevin Cramer berpendapat senada. Senator yang mengurusi modernisasi pertahanan AS itu menyebut, arah kebijakan Trump akan membuat AS membayar lebih mahal untuk membeli senjata.
Ia merujuk pada dasar kebijakan Trump mengenakan BMI. Salah satu alasannya memaksa produksi berbagai hal dilakukan di AS. Pemaksaan itu akan membuat aneka hal meningkat.
Sebagai konsumen utama industri pertahanan, Pemerintah AS harus membayar mahal kebijakan Trump. Kebijakan itu mengganggu rantai pasok global. ”Industri pertahanan kita, selama puluhan tahun, dibangun di atas rantai pasok global,” kata Presiden Kamar Dagang AS bidang Dirgantara dan Pertahanan Keith Webster.
Membangun sistem industri baru akan butuh bertahun-tahun. ”Tidak bisa menjentikkan jari lalu jaringan pemasok mendadak bisa menyesuaikan diri. Perlu waktu, usaha, dan jelas banyak uang,” kata Greenwalt.
Wakil Presiden Asosiasi Industri Dirgantara AS Dak Hardwick mengatakan, industri pertahanan sejak lama kesulitan mencari pekerja. Calon pekerja memilih industri lain, terutama sektor jasa. Selain penghasilan, jam kerja di industri pertahanan dinilai memberatkan. ”Tidak cukup orang di industri dirgantara dan pertahanan untuk memenuhi kebutuhan,” kata Hardwick.
AUKUS terganggu
Greenwalt juga menyoroti potensi gangguan pada program AUKUS. Aliansi AS dengan Inggris dan Australia itu bertujuan menyediakan kapal selam nuklir untuk Australia.
Lonjakan harga bahan baku dan suku cadang bisa menghentikan rencana tersebut. ”Ini semua dampak ikutan. Kontraktor bisa diminta menanggung biaya dan mencoba membangun rantai pasok domestik,” ujarnya.
Tak cuma AUKUS terimbas, beragam program pertahanan AS juga terimbas kebijakan Trump. Sebab, banyak program itu digarap bersama oleh pelaku lintas negara.
Pembuatan jet tempur F-35 melibatkan setidaknya 20 negara. Kini, seluruh mitra pengembang F-35 itu terkena tarif BMI oleh Trump. Dampaknya, harga F-35 yang sudah mahal akan semakin mahal.
Tarif BMI menambah alasan sejumlah mitra AS mencari pemasok baru senjata. Sejumlah anggota Uni Eropa mendorong pembelian senjata buatan Eropa untuk mengganti buatan AS. Sikap Trump yang dinilai memusuhi Eropa jadi alasan.
Seorang pejabat anggota UE yang menolak identitas diungkap mengatakan, AS memang pernah bisa diandalkan soal pasokan senjata. Dengan perkembangan sekarang, mau tak mau Eropa harus mengembangkan kemampuan sendiri.
Pisau dan sepatu
Sektor usaha lain juga bersiap pada gangguan rantai pasok yang dapat berujung pada kenaikan harga. Wakil Presiden Consumer Brands Association (CBA) Tom Madrecki mengingatkan, sebagian komoditas dan bahan baku pangan memang tak bisa diproduksi AS.
Alam AS tidak memungkinkan menumbuhkan kakao, lada hitam, hingga vanili, dan pisang. ”Uang sebanyak apa pun tidak bisa menghasilkan lingkungan untuk menumbuhkan itu secara baik. Tarif sebesar apa pun tidak bisa membuat semua itu dihasilkan di AS,” tulis CBA dalam surat kepada Gedung Putih.
Anggota CBA termasuk Coca-cola, produsen minuman dalam kemasan. Industri makanan dan minuman AS menyediakan pekerjaan untuk hingga 22 juta orang. Kontribusinya pada produk domestik bruto AS mencapai 2,5 triliun dollar AS. Semua itu bisa terdampak kebijakan Trump soal BMI.
CBA berharap, pemerintahan Trump memilah lagi BMI. Kalau memang tidak bisa diproduksi di AS, jangan dikenai BMI tinggi.
Madrecki mengatakan, CBA mendukung tujuan menyediakan lebih banyak lapangan kerja di AS. Hanya saja, CBA dan sejumlah asosiasi usaha berharap aspek rantai pasok diperhatikan.
Jika dipaksakan, produsen dan distributor akan terpaksa menaikkan harga. Dampaknya, konsumen akan tertekan. ”Tidak ada yang diuntungkan,” katanya.
Analisi pada Columbia Threadneedle Investment, Mari Shor, menyebut tarif Trump lebih buruk dari perkiraan. ”Tarif 46 persen ke Vietnam akan menyulitkan produsen alas kaki, termasuk Nike,” kata analis lembaga investasi yang memegang saham Nike itu.
Harga aneka alas kaki di AS akan melonjak dengan kebijakan baru Trump. Sebab, negara-negara tempat pembuatan aneka alas kaki dikenai tarif tinggi oleh Trump. (AFP/REUTERS/AP)
Tarif bea masuk impor yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan memukul banyak sektor. Rudal dan komponen untuk jet tempur F-35 sampai pisau dapur terdampak kebijakan itu.
”Akan ada keterbatasan pasokan, pembalasan, sekutu, serta mitra lain akan membalas,” kata mantan pejabat bagian lelang di Departemen Pertahanan AS, Bill Greenwalt, kepada Politico.
Pada 2 April 2025, Trump mengumumkan tarif bea masuk impor untuk beragam komoditas dari hampir semua negara. Semua negara dikenai tarif dasar 10 persen dan tarif tambahan yang beragam. ”Beberapa pasokan pokok akan melonjak harganya atau sama sekali tak tersedia,” lanjut Greenwalt.
Serial Artikel
Imbas Trump, Pasar AS Kehilangan Nilai Setara PDB Indonesia Dua Tahun
Valuasi emiten S&P 500 ditaksir terpangkas 2,9 triliun dollar AS. PDB Indonesia 2024 hanya 1,4 triliun dollar AS. Kebijakan Trump akan memicu inflasi di AS.
Sejumlah pihak lain berpendapat senada. Senator dari Arizona, Mark Kelly, mengingatkan rantai pasok yang kompleks dan lintas negara dalam produksi persenjataan. ”Harga yang harus dibayar Dephan akan naik. Anggaran pertahanan kita, jika mau mempertahankan kekuatan, akan melonjak,” ujar politisi Demokrat itu.
Senator Republikan seperti Kevin Cramer berpendapat senada. Senator yang mengurusi modernisasi pertahanan AS itu menyebut, arah kebijakan Trump akan membuat AS membayar lebih mahal untuk membeli senjata.
Ia merujuk pada dasar kebijakan Trump mengenakan BMI. Salah satu alasannya memaksa produksi berbagai hal dilakukan di AS. Pemaksaan itu akan membuat aneka hal meningkat.
Sebagai konsumen utama industri pertahanan, Pemerintah AS harus membayar mahal kebijakan Trump. Kebijakan itu mengganggu rantai pasok global. ”Industri pertahanan kita, selama puluhan tahun, dibangun di atas rantai pasok global,” kata Presiden Kamar Dagang AS bidang Dirgantara dan Pertahanan Keith Webster.
Membangun sistem industri baru akan butuh bertahun-tahun. ”Tidak bisa menjentikkan jari lalu jaringan pemasok mendadak bisa menyesuaikan diri. Perlu waktu, usaha, dan jelas banyak uang,” kata Greenwalt.
Wakil Presiden Asosiasi Industri Dirgantara AS Dak Hardwick mengatakan, industri pertahanan sejak lama kesulitan mencari pekerja. Calon pekerja memilih industri lain, terutama sektor jasa. Selain penghasilan, jam kerja di industri pertahanan dinilai memberatkan. ”Tidak cukup orang di industri dirgantara dan pertahanan untuk memenuhi kebutuhan,” kata Hardwick.
Greenwalt juga menyoroti potensi gangguan pada program AUKUS. Aliansi AS dengan Inggris dan Australia itu bertujuan menyediakan kapal selam nuklir untuk Australia.
Lonjakan harga bahan baku dan suku cadang bisa menghentikan rencana tersebut. ”Ini semua dampak ikutan. Kontraktor bisa diminta menanggung biaya dan mencoba membangun rantai pasok domestik,” ujarnya.
Tak cuma AUKUS terimbas, beragam program pertahanan AS juga terimbas kebijakan Trump. Sebab, banyak program itu digarap bersama oleh pelaku lintas negara.
Pembuatan jet tempur F-35 melibatkan setidaknya 20 negara. Kini, seluruh mitra pengembang F-35 itu terkena tarif BMI oleh Trump. Dampaknya, harga F-35 yang sudah mahal akan semakin mahal.
Serial Artikel
Ramai-ramai Menyesali F-35
Sikap AS yang dianggap mengkhianati Eropa membuat para sekutu menyesali keputusan membeli persenjataan dari Washington DC.
Tarif BMI menambah alasan sejumlah mitra AS mencari pemasok baru senjata. Sejumlah anggota Uni Eropa mendorong pembelian senjata buatan Eropa untuk mengganti buatan AS. Sikap Trump yang dinilai memusuhi Eropa jadi alasan.
Seorang pejabat anggota UE yang menolak identitas diungkap mengatakan, AS memang pernah bisa diandalkan soal pasokan senjata. Dengan perkembangan sekarang, mau tak mau Eropa harus mengembangkan kemampuan sendiri.
Pisau dan sepatu
Sektor usaha lain juga bersiap pada gangguan rantai pasok yang dapat berujung pada kenaikan harga. Wakil Presiden Consumer Brands Association (CBA) Tom Madrecki mengingatkan, sebagian komoditas dan bahan baku pangan memang tak bisa diproduksi AS.
Alam AS tidak memungkinkan menumbuhkan kakao, lada hitam, hingga vanili, dan pisang. ”Uang sebanyak apa pun tidak bisa menghasilkan lingkungan untuk menumbuhkan itu secara baik. Tarif sebesar apa pun tidak bisa membuat semua itu dihasilkan di AS,” tulis CBA dalam surat kepada Gedung Putih.
Serial Artikel
Perang Dagang Trump Picu Kejatuhan Pasar
Penurunan di bursa AS, antara lain, diseret tujuh saham emiten besar teknologi. Pasar cemas resesi akibat perang dagang yang dipicu Trump.
Anggota CBA termasuk Coca-cola, produsen minuman dalam kemasan. Industri makanan dan minuman AS menyediakan pekerjaan untuk hingga 22 juta orang. Kontribusinya pada produk domestik bruto AS mencapai 2,5 triliun dollar AS. Semua itu bisa terdampak kebijakan Trump soal BMI.
CBA berharap, pemerintahan Trump memilah lagi BMI. Kalau memang tidak bisa diproduksi di AS, jangan dikenai BMI tinggi.
Madrecki mengatakan, CBA mendukung tujuan menyediakan lebih banyak lapangan kerja di AS. Hanya saja, CBA dan sejumlah asosiasi usaha berharap aspek rantai pasok diperhatikan.
Jika dipaksakan, produsen dan distributor akan terpaksa menaikkan harga. Dampaknya, konsumen akan tertekan. ”Tidak ada yang diuntungkan,” katanya.
Analisi pada Columbia Threadneedle Investment, Mari Shor, menyebut tarif Trump lebih buruk dari perkiraan. ”Tarif 46 persen ke Vietnam akan menyulitkan produsen alas kaki, termasuk Nike,” kata analis lembaga investasi yang memegang saham Nike itu.
Harga aneka alas kaki di AS akan melonjak dengan kebijakan baru Trump. Sebab, negara-negara tempat pembuatan aneka alas kaki dikenai tarif tinggi oleh Trump. (AFP/REUTERS/AP)