Rudal Oreshnik Rusia di Tengah Perang Total

Awal Desember lalu, Putin menegaskan, Rusia tidak ingin berperang dengan Eropa, tetapi siap berperang saat ini juga jika Eropa menginginkannya.

23 Des 2025 06:50 WIB · Tajuk Rencana

AFP PHOTO/65TH MECHANIZED BRIGADE OF UKR

Oleh REDAKSI

Pekan lalu, Rusia menempatkan rudal hipersonik terbaru, Oreshnik, di Belarus. Di tengah buntunya perundingan, Barat berupaya cermat mengalkukasi respons.

Rudal Oreshnik—berarti ”pohon hazel” dalam bahasa Rusia—itu tiba di Belarus pada Rabu (17/12/2025) dan diumumkan oleh Presiden Belarus Alexander Lukashenko sehari kemudian. Oreshnik masuk kategori rudal balistik hipersonik jarak menengah, (menurut Presiden Rusia Vladimir Putin) dapat melesat dengan sepuluh kali kecepatan suara, dan mampu membawa multihulu ledak, termasuk hulu ledak nuklir.

Pada hari saat Oreshnik dikirim ke Belarus, pekan lalu, kantor berita Rusia, TASS, merilis data laporan portal pemerintah, Obyasnyaem.rf, yang pernah dipublikasikan pada 28 November 2024. Disebutkan, misalnya, dengan jangkauan maksimal 5.500 kilometer, dari Kapustin Yar, wilayah Astrakhan, Rusia—lokasi uji coba rudal itu—Oreshnik hanya dalam 17 menit bisa menjangkau markas Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di Brussels, Belgia; 15 menit menarget Pangkalan Udara Ramstein di Jerman; dan 11 menit menyasar pangkalan pertahanan rudal Amerika Serikat di Redzikowo, Polandia.

National flags fly in front of the North Atlantic Treaty Organisation (NATO) headquarters in Brussels on November 16, 2022. (Photo by John THYS / AFP)

Dengan ditempatkan di Belarus, rudal Oreshnik bakal lebih cepat menjangkau negara-negara Eropa, termasuk beberapa negara anggota NATO yang berbatasan darat, seperti Polandia, Lituania, dan Latvia. Dari pangkalan di Belarus, rudal Oreshnik berjarak kurang dari 1.000 kilometer dari Slowakia, Ceko, Romania, Hongaria, Austria, dan Jerman (Kompas.id, 19/12/2025).

Langkah Moskwa menempatkan rudal Oreshnik di Belarus, sekutu utamanya yang teritorialnya digunakan Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, tak bisa dilepaskan dari dinamika perundingan dengan Ukraina. Selain itu, juga bagian upaya Moskwa memberi peringatan atau, dalam bahasa Putin saat temu pers akhir tahun, ”memperoleh respek dari Barat”.

Quote

Awal Desember lalu, Putin menegaskan, Rusia tidak ingin berperang dengan Eropa, tetapi siap (berperang) saat ini juga jika Eropa menginginkannya.

Tidak akan ada operasi apa pun, kata Putin menjawab BBC pada acara tersebut, jika ”kalian memperlakukan kami dengan respek”. Awal Desember lalu, Putin menegaskan, Rusia tidak ingin berperang dengan Eropa, tetapi siap (berperang) saat ini juga jika Eropa menginginkannya (BBC, 19/12/2025).

Di mata  ahli teori perang, konflik Ukraina-Rusia sudah masuk kategori perang total. Perang ini ditandai pengerahan sumber saya sangat besar oleh pihak-pihak yang berkonflik, mobilisasi masyarakat, penempatan prioritas perang di atas segalanya, serangan atas berbagai target, hingga memengaruhi perekonomian banyak pihak (Foreign Affairs, 22/10/2025). 

A Russian missile S-400 Triumf system drives across Red Square during the Victory Day military parade in central Moscow on May 9, 2025. Russia celebrates the 80th anniversary of the Soviet Union's victory over Nazi Germany in World War Two (WWII). (Photo by Kirill KUDRYAVTSEV / AFP)

Dalam situasi tersebut, wajar jika Barat berhati-hati agar perang total saat ini tak bereskalasi. Jumat lalu, para pemimpin Eropa menyepakati pinjaman 90 miliar euro—alternatif dana Rusia sebesar 200 miliar euro yang dibekukan di negara-negara mereka—bagi Ukraina. 

Selain ditujukan kepada Eropa, penempatan Oreshnik di Belarus juga bisa dilihat sebagai upaya Moskwa meningkatkan posisi tawarnya dalam perundingan dengan Ukraina. Putin bersikeras menuntut seluruh wilayah Ukraina yang mereka kuasai plus Crimea diakui sebagai teritorial Rusia. Ia juga ngotot agar Ukraina menarik pasukannya dari wilayah timur yang belum direbut Rusia dan tidak bergabung dengan NATO.

Kyiv telah menyatakan kesediaan membatalkan keinginan bergabung dengan NATO, tetapi menolak tuntutan yang lain. Itulah salah satu titik kebuntuan perundingan Ukraina-Rusia, yang coba dikalibrasi Putin dengan, salah satunya, penempatan rudal Oreshnik di Belarus.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi, Andreas Maryoto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan