Blokade yang dilakukan Israel telah membuat bencana kelaparan dan malanutrisi akut di Gaza.
23 Mei 2025 07:48 WIB · Foto Cerita
Sambil memegang lengan putrinya yang lemah, Asmaa al-Arja menarik kemeja menutupi tulang rusuk yang menonjol dan perutnya yang bengkak milik anak berusia 2 tahun itu. Mayar, nama anak itu, terbaring di ranjang rumah sakit, terengah-engah, lalu merintih tak terkendali, memeluk bahunya sendiri seolah-olah untuk menghibur dirinya sendiri.
Ini bukan pertama kalinya Mayar dirawat di rumah sakit Gaza untuk melawan kekurangan gizi, tetapi perawatan selama 17 hari ini adalah yang terlama. Ia menderita penyakit celiac, gangguan autoimun yang berarti ia tidak dapat mengonsumsi gluten dan memerlukan makanan khusus.
Namun, hanya sedikit tersisa makanan khusus itu di daerahnya, sebuah kawasan yang dilanda perang dan 19 bulan, tepatnya sejak serbuan Hamas dan militan lain ke Israel 7 Oktober 2024.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/cdbeeed4-986f-4f65-940f-06e0899ec3a7_jpg.jpg)
”Ia membutuhkan popok, susu kedelai, dan ia membutuhkan makanan khusus. Ini tidak tersedia karena penutupan perbatasan. Jika tersedia, harganya mahal, saya tidak mampu membelinya,” kata Asmaa al-Arja, ibu Mayar, saat ia duduk di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.
Mayar termasuk di antara lebih dari 9.000 anak yang telah dirawat karena kekurangan gizi tahun ini, menurut badan anak-anak PBB, dan para ahli keamanan pangan mengatakan, puluhan ribu kasus diperkirakan akan terjadi tahun depan.
Selain tidak dapat menemukan atau membeli makanan yang dibutuhkan Mayar, ibunya mengatakan, diare kronis yang terkait dengan penyakit celiac telah membuat anak itu keluar masuk rumah sakit sepanjang tahun. Ini diperparah saat persediaan susu formula bayi menghilang.
Hampir semua rumah sakit berada dalam posisi yang sulit, selain menangani banyaknya korban dari serangan Israel, mereka juga dipenuhi dengan pasien anak balita yang kekurangan gizi.
”Kami tidak memiliki apa pun di Rumah Sakit Nasser,” kata Dr Ahmed al-Farrah seraya menambahkan bahwa pusat daruratnya untuk anak-anak yang kekurangan gizi sudah penuh. Persediaan makanan hampir habis, orang-orang hidup dari sisa-sisa makanan, dan situasinya sangat buruk bagi bayi dan wanita hamil, katanya.
Sedikit makanan yang tersisa terpaksa diencerkan agar bisa dibagi ke lebih banyak pasien anak.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/89fc3bf5-bae1-4906-b984-926e0a1b333e_jpg.jpg)
Mai Namleh, seorang ibu dari bayi berusia 18 bulan, yang tinggal di tenda, terpaksa menyapih anaknya dari ASI karena tidak ada lagi ASI yang dihasilkan tubuhnya. Namleh sendiri juga menderita kekurangan gizi. Keduanya menderita kekurangan gizi.
Namleh memberi susu formula yang sangat encer untuk bayinya jika mendapatkan pembagian dari rumah sakit. Namun, terkadang ia juga memberi bayinya pati untuk menenangkan teriakan laparnya. ”Saya mencoba memberinya susu untuk menghentikannya berteriak,” katanya.
Pemandangan ini banyak terlihat di tenda-tenda pengungsian yang tersebar di penjuru Palestina.
Di tenda lain, Nouf al-Arja mengatakan, dirinya membayar mahal untuk satu kilogram kacang lentil merah yang juga sulit ditemukan. Keluarga itu memasaknya dengan banyak air agar tahan lama karena ketidakpastian persediaan makan selanjutnya. Ibu empat anak ini telah kehilangan berat badan 23 kilogram dan kini semakin kesulitan untuk fokus dan terus-menerus merasa pusing.
Israel melonggarkan blokade dengan mengizinkan sembilan truk melewati perbatasan untuk mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan ke wilayah Palestia pada hari pertama pengiriman bantuan tanggal 19 Mei 2025.
Akan tetapi, sedikit bantuan ini sangat tidak mencukupi untuk sekitar 2 juta warga Palestina setelah lebih dari dua bulan wilayah ini diblokade Israel. Warga Palestina di Gaza hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan luar untuk bertahan hidup karena serangan Israel telah menghancurkan hampir semua kemampuan produksi pangan di wilayah itu.
Setelah berminggu-minggu bersikeras bahwa Gaza memiliki cukup makanan, Israel mengalah dalam menghadapi tekanan internasional dan mulai mengizinkan puluhan truk kemanusiaan memasuki wilayah itu minggu ini. Beberapa truk di antaranya membawa makanan bayi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/22/5e22f28b-482e-4d09-be80-8fc0ad03aeac_jpg.jpg)
Ini menjadi harapan baru untuk penderita kekurangan gizi yang memenuhi rumah sakit dan juga tersebar di tenda-tenda pengungsian.
Penulis:
Ignatius Danu KusworoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .