Rumah Sakit di Gaza Kewalahan Menampung Anak Kekurangan Gizi

Blokade yang dilakukan Israel telah membuat bencana kelaparan dan malanutrisi akut di Gaza.

23 Mei 2025 07:48 WIB · Foto Cerita

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Sambil memegang lengan putrinya yang lemah, Asmaa al-Arja menarik kemeja menutupi tulang rusuk yang menonjol dan perutnya yang bengkak milik anak berusia 2 tahun itu. Mayar, nama anak itu, terbaring di ranjang rumah sakit, terengah-engah, lalu merintih tak terkendali, memeluk bahunya sendiri seolah-olah untuk menghibur dirinya sendiri.

Ini bukan pertama kalinya Mayar dirawat di rumah sakit Gaza untuk melawan kekurangan gizi, tetapi perawatan selama 17 hari ini adalah yang terlama. Ia menderita penyakit celiac, gangguan autoimun yang berarti ia tidak dapat mengonsumsi gluten dan memerlukan makanan khusus.

Namun, hanya sedikit tersisa makanan khusus itu di daerahnya, sebuah kawasan yang dilanda perang dan 19 bulan, tepatnya sejak serbuan Hamas dan militan lain ke Israel 7 Oktober 2024. 

Mayar Al-Arja, bayi berusia 2 tahun yang menderita kekurangan gizi, berbaring di tempat tidur di klinik di rumah sakit Nasser, Khan Younis, Gaza, Rabu, 21 Mei 2025.

”Ia membutuhkan popok, susu kedelai, dan ia membutuhkan makanan khusus. Ini tidak tersedia karena penutupan perbatasan. Jika tersedia, harganya mahal, saya tidak mampu membelinya,” kata Asmaa al-Arja, ibu Mayar, saat ia duduk di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.

Mayar termasuk di antara lebih dari 9.000 anak yang telah dirawat karena kekurangan gizi tahun ini, menurut badan anak-anak PBB, dan para ahli keamanan pangan mengatakan, puluhan ribu kasus diperkirakan akan terjadi tahun depan.

Najia al-Najjar memberi makan bayinya yang berusia 5 bulan, Yousef, yang menderita kekurangan gizi, di sebuah klinik di rumah sakit Nasser, Khan Younis, Gaza, Rabu (21/5/2025).
Mayar Al-Arja, 2 tahun dan Yousef Al-Najjar yang berusia 5 bulan, keduanya menderita kekurangan gizi, dirawat oleh ibu mereka di sebuah klinik di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, Gaza, Rabu (21/5/2025).
Keluarga Al-Arja makan sup kacang lentil di dalam tenda mereka di sebuah kamp untuk pengungsi Palestina di Muwasi, Khan Younis, Gaza, Rabu (21/5/2025).
Wanita Palestina merawat bayi mereka di klinik kekurangan gizi di rumah sakit Nasser, Khan Younis, Jalur Gaza, Kamis (1/5/2025).
Somaya Al-Najjar, 60 tahun, menuangkan minyak goreng untuk memasak kacang polong di tenda keluarga mereka di Muwasi, di pinggiran Khan Younis di Jalur Gaza selatan, Jumat (25/4/2025).
Mona al-Raqab mengangkat baju putranya yang berusia 5 tahun, Osama al-Raqab, mengungkapkan tanda-tanda kekurangan gizi dan memburuknya fibrosis kistik, diperburuk sejak awal perang oleh kekurangan daging, ikan, dan tablet enzim yang dibutuhkan untuk membantunya mencerna makanan, saat dia menerima perawatan di klinik malnutrisi di rumah sakit Nasser, Khan Younis, Gaza, Kamis (1/5/2025)

Selain tidak dapat menemukan atau membeli makanan yang dibutuhkan Mayar, ibunya mengatakan, diare kronis yang terkait dengan penyakit celiac telah membuat anak itu keluar masuk rumah sakit sepanjang tahun. Ini diperparah saat persediaan susu formula bayi menghilang.

Hampir semua rumah sakit berada dalam posisi yang sulit, selain menangani banyaknya korban dari serangan Israel, mereka juga dipenuhi dengan pasien anak balita yang kekurangan gizi. 

”Kami tidak memiliki apa pun di Rumah Sakit Nasser,” kata Dr Ahmed al-Farrah seraya menambahkan bahwa pusat daruratnya untuk anak-anak yang kekurangan gizi sudah penuh. Persediaan makanan hampir habis, orang-orang hidup dari sisa-sisa makanan, dan situasinya sangat buruk bagi bayi dan wanita hamil, katanya. 

Sedikit makanan yang tersisa terpaksa diencerkan agar bisa dibagi ke lebih banyak pasien anak. 

Pengungsi Palestina mengantre untuk mengisi wadah mereka dengan air di lingkungan Al-Rimal di Kota Gaza di tengah Jalur Gaza pada 21 Mei 2025.

Mai Namleh, seorang ibu dari bayi berusia 18 bulan, yang tinggal di tenda, terpaksa menyapih anaknya dari ASI karena tidak ada lagi ASI yang dihasilkan tubuhnya. Namleh sendiri juga menderita kekurangan gizi. Keduanya menderita kekurangan gizi.

Namleh memberi susu formula yang sangat encer untuk bayinya jika mendapatkan pembagian dari rumah sakit. Namun, terkadang ia juga memberi bayinya pati untuk menenangkan teriakan laparnya. ”Saya mencoba memberinya susu untuk menghentikannya berteriak,” katanya.

Pemandangan ini banyak terlihat di tenda-tenda pengungsian yang tersebar di penjuru Palestina. 

Di tenda lain, Nouf al-Arja mengatakan, dirinya membayar mahal untuk satu kilogram kacang lentil merah yang juga sulit ditemukan. Keluarga itu memasaknya dengan banyak air agar tahan lama karena ketidakpastian persediaan makan selanjutnya. Ibu empat anak ini telah kehilangan berat badan 23 kilogram dan kini semakin kesulitan untuk fokus dan terus-menerus merasa pusing.

Warga Palestina berebut makanan di titik distribusi makanan di kamp Nuseirat untuk pengungsi di Jalur Gaza Tengah pada Rabu (21/5/2025).
Warga Palestina mengantre makanan di titik distribusi di lingkungan Al-Rimal di Kota Gaza di Jalur Gaza tengah pada Rabu (21/5/2025).
Warga Palestina yang terlantar berkumpul untuk mengumpulkan porsi makanan yang dimasak di sebuah distribusi amal di Jabalia di Jalur Gaza utara pada Senin (19/5/2025).
Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza terlihat di Penyeberangan Kerem Shalom di Israel selatan, Senin (19/5/2025). Sehari setelah Israel mengatakan akan kembali mengizinkan bantuan ke wilayah tersebut.
Truk yang membawa bantuan kemanusiaan untuk Jalur Gaza terlihat di Penyeberangan Kerem Shalom di Israel selatan, Senin (19/5/2025). Sehari setelah Israel mengatakan akan kembali mengizinkan bantuan ke wilayah tersebut.
Warga Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Jabalia, Jalur Gaza utara, Senin (19/5/2025).
Seorang gadis Palestina berjuang untuk mendapatkan makanan yang disumbangkan di dapur komunitas di Khan Younis, di Jalur Gaza selatan, Jumat (9/5/2025).

Bantuan mulai masuk Gaza

Israel melonggarkan blokade dengan mengizinkan sembilan truk melewati perbatasan untuk mengirimkan bantuan makanan dan obat-obatan ke wilayah Palestia pada hari pertama pengiriman bantuan tanggal 19 Mei 2025. 

Akan tetapi, sedikit bantuan ini sangat tidak mencukupi untuk sekitar 2 juta warga Palestina setelah lebih dari dua bulan wilayah ini diblokade Israel. Warga Palestina di Gaza hampir sepenuhnya bergantung pada bantuan luar untuk bertahan hidup karena serangan Israel telah menghancurkan hampir semua kemampuan produksi pangan di wilayah itu. 

Setelah berminggu-minggu bersikeras bahwa Gaza memiliki cukup makanan, Israel mengalah dalam menghadapi tekanan internasional dan mulai mengizinkan puluhan truk kemanusiaan memasuki wilayah itu minggu ini. Beberapa truk di antaranya membawa makanan bayi.

Nouf Al-Arja, 30 tahun, yang menderita kekurangan gizi, memasak untuk keluarganya di dalam tenda mereka di sebuah kamp Palestina yang terlantar di Muwasi, Khan Younis, Gaza, Rabu, 21 Mei 2025.

 

Ini menjadi harapan baru untuk penderita kekurangan gizi yang memenuhi rumah sakit dan juga tersebar di tenda-tenda pengungsian. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .