Dollar AS berpotensi terus menguat hingga akhir tahun karena sentimen ekonomi AS hingga memanasnya konflik geopolitik.
19 Des 2024 17:47 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat terus melemah hingga menyentuh level Rp 16.3000-an per dollar AS pada Kamis (19/12/2024). Asosiasi Pengusaha Indonesia memperkirakan situasi ini bisa berlanjut sampai semester I-2025.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (19/12/2024) siang mengalami pelemahan terendah sejak September 2022. Kurs rupiah, mengutip investing.com pada Kamis pukul 14.00 WIB, berada di Rp 16.303 per dollar AS atau melemah 1,36 persen dibandingkan dengan hari sebelumnya.
Pada saat yang sama, dollar AS menguat. Indeks berjangka dollar AS mengalami penguatan ke level 107, sedikit melemah dari posisi Kamis dini hari yang berhasil menembus 108 untuk pertama kalinya sejak September 2022.
Pelemahan rupiah terhadap dollar AS ini banyak disebabkan faktor eksternal. Di antaranya adalah kecilnya peluang Bank Sentral AS memangkas suku bunga acuan sebagaimana rencana semula. Memanasnya konflik geopolitik antara Rusia dan Ukraina juga menjadi faktor eksternal lainnya.
Bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve, melempar sinyal bahwa mereka hanya akan menurunkan suku bunganya dua kali lagi pada 2025 atau sebesar 50 basis poin (bps), turun dari perkiraan 75-100 bps sebelumnya. Posisi ini berbeda dari rencana semula.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/05/50c1f5ec-64c2-4fed-bfa6-6c04b8628407_jpg.jpg)
Ketua Komite Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Aviliani pada konferensi pers Outlook Ekonomi dan Bisnis Apindo 2025 di Jakarta, Kamis (19/12/2024), mengatakan, usaha yang sangat bergantung pada impor bahan baku dan penolong otomatis akan terdampak oleh pelemahan rupiah.
Sebab, begitu rupiah melemah, biaya impor menjadi mahal dan pengusaha menjadi tidak kompetitif. Di saat-saat seperti ini, pelaku usaha akan melakukan efisiensi untuk menekan biaya operasional. Bahkan, ada kemungkinan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) agar tetap efisien dan menghemat biaya.
”Efisiensi itu supaya mereka tetap bisa survive. Kalau tidak bisa survive, akhirnya yang dilakukan menaikkan harga barang. Jadi, inflasi juga bisa terjadi karena pelemahan rupiah,” kata Aviliani.
Apindo memperkirakan, nilai tukar rupiah sepanjang 2025 akan bergerak dalam rentang Rp 15.800-Rp 16.350 per dollar AS. Rupiah masih akan mengalami tekanan cukup kuat pada paruh pertama 2025 karena kecenderungan penguatan dollar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS pada asumsi makro APBN 2025 adalah Rp 16.000. Ini adalah kurs rata-rata sepanjang tahun. Deviasi yang lebar antara asumsi dan realitas akan menyebabkan penyesuaian anggaran pemerintah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/05/d945241f-8e06-4ae8-8906-639c17eef27e_jpg.jpg)
Pada kesempatan sama, Ketua Umum Apindo, Shinta W Kamdani, menilai, berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah, mulai dari Devisa Hasil Ekspor (DHE), Local Currency Transaction (LCT), dan SRBI, belum dapat menjaga nilai tukar rupiah.
”Ini karena kita pada dasarnya adalah negara small open economy, terutama pada produk minyak, pangan, dan jasa digital yang perlu menjadi perhatian khusus. Jadi, memang rentan terdampak oleh penguatan dollar AS,” katanya.
Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, dalam keterangan tertulis, menjelaskan, penguatan dollar AS terjadi karena pasar merespons negatif keputusan dan sinyal arah kebijakan moneter Bank Sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), pada 2025.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/24/638f130b-a992-4a49-a953-d769d7f7d8a8_jpg.jpg)
Pada rapat FOMC di Washington DC, AS, Rabu (18/12/2024), waktu setempat, The Fed sesuai ekspektasi memangkas suku bunga sebanyak 25 basis poin (bps) menjadi 4,5 persen. Namun, mereka mengubah proyeksi jumlah pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diperkirakan 4 kali (100 bps) ke 3,5 persen menjadi hanya 2 kali (50 bps) menjadi 4,0 persen sepanjang 2025.
”Perkembangan ini perlu dicermati mengingat dampak terhadap pasar domestik akan sangat besar. Meskipun BI kemarin mempertahankan BI rate pada 6,0 persen, tekanan terhadap rupiah hari ini akan berlanjut dan investor asing akan berpotensi mencatatkan net outflows (arus modal keluar) yang cukup besar seiring memburuknya persepsi risiko pasar global,” ujarnya.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, saat dihubungi, juga menyoroti faktor geopolitik terbaru. Pejabat tinggi militer Rusia dikabarkan tewas di Ukraina, diduga pelakunya terkait NATO. Memanasnya konflik ini dikhawatirkan menimbulkan serangan balasan.
Bersamaan dengan itu, pasar mengkhawatirkan perang dagang yang akan digencarkan Presiden Terpilih AS, Donald Trump. Trump akan dilantik pada Januari 2025.
”Pasar pun merespons negatif dan membuat dollar AS menguat signifikan,” kata Ibrahim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/19/d83c88a41860e0524c54f934650b6dc9-Screenshot_20241219_143623_Samsung_Internet.jpg)
Selain faktor eksternal, Ibrahim melanjutkan, secara internal pasar merespons kebijakan ekonomi pemerintah yang menuai banyak respons negatif dari masyarakat. Kebijakan itu, misalnya, terutama terkait rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sejumlah produk dari 11 persen menjadi 12 persen mulai 2025.
Dampak negatif kebijakan ini hendak diimbangi pemerintah dengan menggelontorkan insentif dan stimulus ekonomi. Di antaranya adalah diskon 50 persen untuk biaya listrik daya 2.200 volt Ampere (VA) ke bawah pada Januari-Februari 2025.
Ada pula insentif berupa perpanjangan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian properti sampai dengan Rp 5 miliar.
Di sisi lain, Ibrahim menambahkan, permintaan dollar AS di dalam negeri cukup tinggi pada akhir 2024. Permintaan itu, antara lain, datang dari kebutuhan pembayaran dividen dalam mata uang dollar AS oleh korporasi di triwulan IV-2024.
”Jika melihat secara teknikal, pelemahan rupiah dapat menyentuh level Rp 16.500,” katanya. Pelemahan ke posisi itu, menurut Ibrahim, bisa terjadi hingga akhir 2024.
Penulis:
Erika Kurnia, Agnes TheodoraEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .