NILAI TUKAR RUPIAH

Rupiah di Titik Nadir, Efektifkah Taktik ”Total Football” ala BI?

Di tengah tekanan nilai tukar rupiah, bertahan dengan menjaga suku bunga acuan belum cukup. Maka, intervensi di pasar pun dilakukan agar rupiah tidak jeblos.

22 Jan 2026 11:20 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/ Priyombodo

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

Layaknya sebuah pertandingan sepak bola, nilai tukar rupiah sedang berada di bawah tekanan tinggi. Serangan itu datang bertubi-tubi, baik dari sisi global maupun domestik. Lantas, bagaimana taktik Bank Indonesia untuk menjaga agar gawang stabilitas tidak terkoyak?

Sebelumnya, serentetan serangan itu merupakan kelanjutan dari ketidakpastian global yang melanda pada tahun lalu. Selain pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat, pasar keuangan global pun masih diselimuti awan tebal ketidakpastian.

Situasi itu kian kelabu saat diterapkannya kebijakan tarif resiprokal oleh pemerintah Amerika Serikat dan meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik. Perkembangan ini menggeser aliran modal portofolio dari negara berkembang ke kelas aset yang aman (safe haven), antara lain obligasi Pemerintah AS.

Akibatnya, indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY) pun menguat. Sebaliknya, sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk nilai tukar rupiah, tersungkur di hadapan mata uang dolar AS.

infografik
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Kurs Rupiah terhadap Dolar AS dalam Lima Tahun Terakhir

Selain faktor global, tekanan terhadap mata uang ”Garuda” juga datang dari lonjakan permintaan valuta asing (valas) dari sejumlah korporasi besar. Selain itu, persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan isu independensi Bank Indonesia (BI) dalam pencalonan deputi gubernur BI turut membuat modal asing kabur.

BI mencatat, keluarnya arus modal asing portofolio dari pasar keuangan domestik hingga 19 Januari 2026 telah mencapai 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 27 triliun. Ini setara dengan seperlima dari keluarnya modal asing sepanjang 2025 yang mencapai Rp 125,1 triliun.

Alhasil, kini rupiah telah mendekati ambang batas psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor) 21 Januari 2026, rupiah berada di level Rp 16.963 per dolar AS atau melemah 1,42 persen secara tahun kalender berjalan.

Bahkan, posisi kurs rupiah tersebut telah berada di level saat terjadi krisis moneter pada 1998. Kala itu, kurs rupiah di pasar uang spot antarbank Jakarta ditutup Rp 16.900 per dolar AS pada 17 Juni 1998, kemudian menyentuh Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan 22 Januari 1998.

Rupiah mencapai titik terendahnya dalam sejarah perekonomian Indonesia yakni pada 17 Juni 1998 pada angka Rp 16.900 per dollar AS. Hal tersebut dimuat dalam KOMPAS edisi 18 Juni 1998.

”Total football”

Layaknya sebuah pertandingan sepak bola, BI kini tengah menerapkan taktik total football dalam kebijakan moneternya. Total football merupakan strategi sepak bola revolusioner dengan filosofi mengandalkan penguasaan bola dalam menyerang serta menekan lawan begitu kehilangan bola.

Taktik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh pelatih legendaris timnas Belanda, Rinus Michels, pada era 1970-an, dan disempurnakan oleh Johan Cruyff. Pola ini pun diyakini menjadi pakem semua pola menyerang dalam sepak bola masa kini.

Dalam hal ini, BI memosisikan dirinya secara fleksibel dan tidak terpaku pada posisi tertentu sebagaimana filosofi permainan total football. Tidak sekadar bertahan secara pasif, BI kini bersiap menekan lawan melalui strategi intervensi pasar.

Quote

Tidak segan-segan, kami gunakan cadangan devisa untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat.

Begitu ”bola” didapatkan, BI berada dalam posisi yang siap untuk menyerang dan mencetak gol pertumbuhan ekonomi sembari menjaga stabilitas. Taktik ini disampaikan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang bertajuk ”BI-rate Tetap 4,75 Persen: Mendorong Pertumbuhan, Mempertahankan Stabilitas”, Rabu (21/1/2026).

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, BI akan mengintervensi pasar keuangan dalam jumlah besar, baik dalam transaksi non-deliverable forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan domestic non-deliverable forward (DNDF) di pasar domestik.

”Tidak segan-segan, kami gunakan cadangan devisa untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Kami meyakini rupiah akan stabil dan bahkan akan cenderung menguat,” ujar Perry dalam konferensi pers RDG BI, Januari 2026.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan pidato dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025 di Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/11/2025) malam. Dalam pertemuan ini Presiden Prabowo mengucapkan terimakasih atas pertumbuhan ekonomi Indonesia, khususnya melalui kebijakan-kebijakan Bank Indonesia. Presiden menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tersebut juga harus tetap direalisasikan dan dirasakan dampaknya oleh masyarakat. KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO28-11-2025

Per akhir Desember 2025, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi sebesar 156,5 miliar dolar AS. Ini setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ibarat bermain bola, inilah tekanan tinggi (high pressing) yang dijalankan oleh BI sebagai upaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Layaknya sebuah pertandingan, cadangan devisa siap bermain dengan tekel mematikan yang bersih dan berstamina prima.

Meski nilai tukar rupiah telah mengorbit di level ketika terjadi krisis moneter pada 1998, kualitas pemain moneter yang bernama cadangan devisa ini terpaut jauh. Bila pada akhir 1998 cadangan devisa Indonesia tercatat sekitar 23 miliar dolar AS, kini cadangan devisa telah mencapai tujuh kali lipatnya.

Di sisi lain, BI juga akan terus memperkuat lini lain kebijakan moneternya, yakni untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dengan tetap menjaga stabilitas perekonomian. Kebijakan ini ditempuh melalui penurunan suku bunga acuan, stabilisasi nilai tukar rupiah, dan ekspansi likuiditas moneter.

Pegawai perusahaan penukaran uang asing Valuta Artha Mas di ITC Kuningan, Jakarta, menghitung dan melihat kondisi lembaran uang dollar AS, Rabu (19/11/2025). Setelah selama dua hari sebelumnya tertekan, hari ini, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate Bank Indonesia, rupiah menguat 28 poin dari hari sebelumnya menjadi Rp 16.732 per dollar AS. *** Local Caption ***

Ke depan, BI berkomitmen akan terus memperkuat efektivitas transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan kebijakan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini sembari tetap mencermati ruang penurunan suku bunga acuan lebih lanjut.

”Kami memang masih mencermati dan melihat ruang penurunan suku bunga ke depan. Timing-nya tentu saja kami akan (melihat) data dependen. Fokus kami sekarang ini menstabilkan dan membuat rupiah menguat,” tutur Perry.

Jaga tempo

Dengan tetap mempertahankan suku bunga acuannya, BI berada dalam posisi yang siap sedia mencetak gol pertumbuhan. Kebijakan ini layaknya lini tengah alias gelandang yang bertugas untuk menjaga tempo permainan.

Meski demikian, bukan berarti serangan dapat dengan mudah tercipta. Selisih imbal hasil beragam instrumen keuangan yang ditawarkan melalui kebijakan suku bunga nyatanya berpengaruh terhadap daya tarik investor. Saat ini, suku bunga acuan BI terpaut 100-125 basis poin (bps) dengan suku bunga kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Pergerakan harga saham terpampang pada layar monitor di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (20/1/2026). Menjelang penutupan perdagangan, IHSG berhasil mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa atau All Time High di posisi  9.174,47.

Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak lima kali sebesar 125 bps, dari 6 persen menjadi 4,75 persen. Sebaliknya, The Fed hanya memangkas suku bunga acuannya sebanyak tiga kali sebesar 75 bps.

Menurut ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, minat investor asing sangat bergantung terhadap tingkat imbal hasil yang ditawarkan di pasar keuangan. Bila suku bunga tidak kompetitif terhadap risiko, arus modal keluar pun tidak terhindarkan dan membuat rupiah kembali tertekan.

Quote

Dari sisi domestik, penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat persepsi pasar yang positif, terutama terkait keberlanjutan fiskal, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan belanja.

Dalam konteks ini, keputusan BI untuk menahan suku bunga acuan pada Januari 2026 merupakan langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka pendek. Dengan kebijakan tersebut, BI berupaya menjaga daya tarik relatif aset rupiah dan mencegah pelebaran lebih lanjut arus keluar modal asing.

”Meski kebijakan ini efektif sebagai penahan tekanan jangka pendek, stabilitas rupiah yang lebih berkelanjutan tetap memerlukan dukungan kebijakan lain, seperti penguatan koordinasi fiskal, peningkatan pasokan valas domestik, serta pengelolaan ekspektasi pasar yang kredibel,” katanya.

Kinerja APBN 2019-2026 dari sisi realisasi belanja negara, pendapatan, dan defisit anggaran.

Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro berpendapat, tekanan terhadap rupiah kemungkinan akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama dipicu oleh faktor global, seperti kenaikan imbal hasil obligasi AS, risiko geopolitik, dan aliran modal global yang fluktuatif.

Kondisi tersebut memaksa BI untuk terus menempuh intervensi di pasar keuangan guna mendukung stabilitas rupiah dan membatasi volatilitas berlebihan yang dapat mengganggu kepercayaan pasar. Maka, kemungkinan besar BI cenderung akan lebih berhati-hati dalam memutuskan suku bunga kebijakan.

”Dari sisi domestik, penting bagi pemerintah untuk terus memperkuat persepsi pasar yang positif, terutama terkait keberlanjutan fiskal, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan belanja,” ujar Andry.

Pada akhirnya, filosofi taktik yang diterapkan BI saat ini bukan semata untuk mencetak gol pertumbuhan. Di tengah tantangan global dan sentimen dari domestik, kebijakan moneter tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas guna mendukung jalannya permainan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto