BI akan memutuskan kebijakan suku bunga acuan berdasarkan hasil RDG yang berlangsung selama 17-18 Desember 2024. Kemungkinan suku bunga ditahan sebesar 6 persen.
18 Des 2024 13:42 WIB · Ekonomi
JAKARTA, KOMPAS — Menjelang keputusan final suku bunga acuan, nilai tukar rupiah terdepresiasi. Sejumlah pihak memperkirakan, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuannya pada level 6 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar.
Bank Indonesia (BI) akan memutuskan tingkat suku bunga acuan pada Rabu (18/12/2024). Keputusan ini diambil berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung selama 17-18 Desember 2024 di Gedung Thamrin, Jakarta.
Sebelumnya, hasil RDG BI pada 19-20 November 2024 memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 6 persen. BI juga turut mempertahankan tingkat suku bunga deposit facility sebesar 5,25 persen dan suku bunga lending facility sebesar 6,75 persen.
Kebijakan tersebut diambil untuk memastikan inflasi berada dalam sasaran 1,5-3,5 persen dan nilai tukar rupiah tetap stabil. Hal ini mempertimbangkan meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan perkembangan politik di AS yang berdampak pada perekonomian global.
Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (17/12/2024) ditutup pada Rp 16.050 per dollar AS atau melemah 0,19 persen dibandingkan dengan perdagangan hari sebelumnya. Bila dibandingkan dengan penutupan pasar pada saat RDG November 2024, nilai tukar rupiah terdepresiasi 1,21 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/20/e6feab2a-0f7f-465d-8277-1fa4e1d23eab_jpg.jpg)
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susiato mengatakan, hampir semua mata uang negara berkembang di Asia pada perdagangan Selasa melemah dibandingkan dengan kurs dollar AS. Ini antara lain tampak dari indeks dollar AS terhadap mata uang utama (DXY) yang menguat, dari 106,45 pada awal Desember 2024 menjadi 106,85 pada 17 Desember 2024.
Menurut Edi, penguatan kurs dollar AS tersebut disebabkan oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan bank sentral AS alias The Fed ke depan. The Fed diperkirakan tidak akan mengambil langkah yang agresif seperti sebelumnya (hawkish cut).
”BI terus mengawal pergerakan rupiah dengan memastikan keseimbangan supply-demand valuta asing di market untuk menjaga market confidence,” katanya saat dihubungi dari Jakarta.
Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky, menyebut, penguatan dollar AS tidak lepas dari keluarnya arus modal dari negara berkembang ke AS.
Hal ini terjadi seiring dengan kekhawatiran para pelaku pasar atas kebijakan Presiden AS Donald Trump terkait dengan kenaikan tarif barang impor ke AS pada tahun depan. Dalam hal ini, Pemerintah AS berencana mengenakan tarif sebesar 25 persen pada semua impor dari Kanada dan Meksiko, serta tambahan 10 persen terhadap barang-barang dari China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/09/01/c9bd0f32-ef1d-4142-8bdf-197b69eed1af_jpg.jpg)
”Imbasnya, Indonesia mengalami arus keluar modal sekitar 0,75 miliar dollar AS sejak pertengahan November 2024, yang terdiri dari arus keluar sebesar 0,35 miliar dollar AS dari aset obligasi pemerintah dan aksi jual bersih asing sekitar 0,4 miliar dollar AS dari pasar modal domestik,” ujar Riefky.
Adapun potensi pengenaan tarif dan kebijakan perdagangan pemerintah AS diperkirakan berpengaruh terhadap pergerakan arus modal internasional dalam beberapa minggu terakhir. Hal ini akan mendorong investor untuk mengalihkan asetnya dari pasar negara berkembang dan memicu pelemahan mata uang negara-negara berkembang.
Konsensus para pelaku pasar saat ini menetapkan The Fed akan memotong suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Konferensi Pers Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada Desember 2024 mendatang, dengan probabilitas hingga 96 persen.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/21/47b23d20-6d12-4156-89b1-b01dc1feddc7_jpg.jpg)
Menurut Riefky, terdapat ruang pemangkasan suku bunga acuan bagi BI. Hal ini mempertimbangkan tren penurunan inflasi domestik selama delapan bulan terakhir yang mendekati batas bawah target BI.
Penurunan tersebut disebabkan oleh kombinasi permasalahan struktural, seperti lemahnya permintaan agregat domestik, efek high-base, dan faktor musiman.
”Walaupun ada ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga acuannya, rupiah sedang mengalami tekanan depresiasi yang cukup signifikan dan pemotongan suku bunga dapat memperburuk tekanan tersebut. Dengan demikian, kami berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuannya pada 6 persen dalam rapat Dewan Gubernur pada Desember 2024,” katanya.
Keputusan ini juga berupaya memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 1,5-3,5 persen untuk tahun 2024 dan 2025 sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan menambahkan, BI pada RDG 18 Desember 2024 diprediksi akan mempertahankan suku bunga acuannya pada level 6 persen sesuai dengan ekspektasi banyak pihak. Hal ini ditujukan untuk memperkuat stabilitas rupiah seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, khususnya perkembangan AS.
”Keputusan ini juga berupaya memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran 1,5-3,5 persen untuk tahun 2024 dan 2025 sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” katanya dalam keterangan resminya, Senin (16/12/2024).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/19/7b917b19-5f2e-4c76-b3e8-b33dac173f20_jpg.jpg)
Di sisi lain, terdepresiasinya nilai tukar rupiah didorong oleh penguatan dollar AS dan pergeseran preferensi investor global terhadap aset AS menyusul hasil pemilu AS. Sementara itu, tingkat inflasi tahunan Indonesia masih berada dalam sasaran BI sekaligus terendah sejak Oktober 2021, yakni sebesar 1,71 persen ada Oktober 2024.
David menambahkan, perhatian pelaku pasar seluruh dunia sepekan ini tertuju pada keputusan suku bunga The Fed dan Bank of Japan (BoJ). Sebelumnya, BoJ mempertahankan suku bunga jangka pendek utamanya dalam kisaran 0,25 persen pada Oktober 2024, tertinggi sejak 2008.
Sebelumnya, Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, laju inflasi global diperkirakan melambat dan berisiko meningkat karena kebijakan tarif perdagangan AS. Hal ini mendorong arah pemangkasan suku bunga The Fed diperkirakan lebih rendah.
Di sisi lain, suku bunga obligasi Pemerintah AS akan meningkat seiring dengan membengkaknya defisit fiskal dan utang Pemerintah AS. Hal ini mengakibatkan kurs dollar AS terhadap mata uang negara lain menguat dan investor global pun mengalihkan modalnya dari pasar negara berkembang ke AS.
”Kita harus menjaga stabilitas. Itulah kenapa BI sekarang harus intervensi supaya rupiahnya stabil,” katanya dalam Seminar Keluarga Alumni Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (Kafegama) bertajuk ”Memacu Pertumbuhan Menuju Indonesia Maju”, secara hibrida, Sabtu (14/12/2024).
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .