Mata uang

Rupiah Melemah, Tahu dan Kopi Kena Imbas

Nilai tukar rupiah yang melemah memicu kenaikan harga komoditas kedelai dan biaya ekspor kopi di Jawa Barat.

01 Jun 2026 18:46 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp 18.000 per dolar AS mulai berdampak pada sektor riil. Di Jawa Barat, harga kedelai impor naik dan biaya ekspor kopi membengkak.

Pada Senin (1/6/2026) pukul 17.30 WIB, kurs jual dolar AS Rp 17.877,94 dan kurs beli Rp 17.700,06.

Kondisi ini memicu kenaikan harga kedelai di Kota Bandung. Biaya ekspor kopi arabika dari Kabupaten Bandung ke sejumlah negara juga melonjak.

Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin, Senin, memaparkan, harga kedelai naik dari Rp 10.700 menjadi Rp 11.000 per kilogram. Saat ini, mayoritas kedelai di Jabar masih didatangkan dari AS dan Kanada.

<p>Aktivitas seorang pekerja sedang menyiapkan kedelai di salah satu tempat usaha di kawasan perajin tahu Cibuntu, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (2/3/2026).</p>

Menurut dia, harga kedelai terus melaju karena kondisi geopolitik dunia dan melemahnya nilai tukar rupiah. Padahal, awal tahun 2026, harga kedelai masih Rp 9.000-Rp 9.500 per kg.

”Kemungkinan harga kedelai di Jabar terus meningkat jika nilai tukar rupiah menyentuh Rp 18.000,” kata Zamaludin.

Ia mengakui, pihaknya telah berulang kali meminta pemerintah turun tangan mengatasi lonjakan harga kedelai. Hal itu bisa dilakukan lewat pengendalian harga jual dan usulan Bulog ikut menjual kedelai.

”Sayangnya, permintaan ini sama sekali belum ditanggapi pemerintah hingga kini. Sementara banyak perajin di Jabar yang sudah melaporkan mengalami kerugian,” ujar Zamaludin.

Ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Jawa Barat Muhammad Zamaludin di tempat usahanya di Kota Bandung, Senin (2/3/2026).

Usaha jual beli kopi juga terdampak. Direktur Wanoja Coffee Satrea Amambi mengatakan, biaya ekspor kopi arabika dari Bandung meningkat. Biaya ekspor untuk setiap peti kemas berukuran 20 kaki naik dari sekitar Rp 55 juta hingga Rp 66 juta.

Akibat hal itu, Satrea mengatakan, pihaknya terpaksa menaikkan jual produknya roasted bean atau biji kopi yang telah disangrai dari 12 dolar AS menjadi 13,5 dolar AS per kg atau sekitar Rp 240.000 per kg.

”Kami terpaksa menaikkan harga jual karena lonjakan biaya. Untungnya, permintaan 50 ton biji kopi dari konsumen kami untuk ekspor tidak menurun pada bulan ini,” ucap Satrea.

Proses pengeringan biji kopi arabika oleh salah satu anggota Kelompok Tani Wanoja di Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 17 Juli 2024. Kelompok Tani Wanoja memiliki lahan perkebunan kopi arabika seluas 108 hektar.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul