Dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah melemah 1,5 persen. Sebaliknya, IHSG justru menguat 1,26 persen.
24 Sep 2025 18:47 WIB · Ekonomi & Bisnis
JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah cenderung tertekan setelah suku bunga acuan dipangkas pada pekan lalu. Sebaliknya, kebijakan fiskal dan moneter yang cenderung akomodatif justru memberikan sentimen positif terhadap pasar saham.
Mengutip data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 16.680 per dollar AS pada perdagangan Rabu (24/9/2025). Dalam sepekan terakhir, rupiah melemah sekitar 1,52 persen dibandingkan Rabu pekan lalu yang berada di level Rp 16.430 per dollar AS.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty menjelaskan, kondisi itu tidak lepas dari penetapan tarif resiprokal oleh Pemerintah Amerika Serikat (AS) pada April 2025. Akibatnya, kinerja ekspor hanya memuncak hingga Agustus 2025 karena pengusaha melakukan front loading sebelum penerapan tarif.
Front loading adalah tindakan mempercepat pengiriman barang untuk mengantisipasi masalah yang mungkin muncul di masa depan, misalnya adanya perubahan kebijakan atau tarif.
Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh sentimen akibat serangkaian pemangkasan suku bunga acuan tahun ini. Sepanjang 2025, Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak enam kali dengan total mencapai 125 basis poin (bps) menjadi 4,75 persen.
”Bank Indonesia menurunkan BI Rate (suku bunga acuan), maka menyebabkan terjadinya sedikit capital outflow,” katanya saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (24/9/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/22/15e624e0-b20f-4361-8266-595c67e94f87_jpg.jpg)
Data BI selama pekan ketiga September 2025 menunjukkan, aliran modal asing tercatat jual neto sebesar Rp 8,12 triliun di pasar keuangan domestik. Ini terdiri dari jual neto sebesar Rp 5,49 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 2,79 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), serta beli neto sebesar Rp 0,16 triliun di pasar saham.
Telisa menambahkan, tekanan terhadap rupiah juga datang dari kebutuhan pembayaran utang luar negeri. Berdasarkan tren historisnya, periode September-Oktober biasanya menjadi puncak jatuh tempo pembayaran utang Indonesia sehingga permintaan dollar meningkat signifikan.
Di sisi lain, kondisi tersebut turut diperkuat oleh penguatan dollar AS secara global yang meningkat dalam sepekan terakhir. Indeks dollar AS terhadap mata uang utama (DXY) tercatat menguat 0,83 persen ke level 97,68.
Dalam jangka menengah, peluang stabilisasi cukup terbuka, dengan catatan inflasi domestik terjaga, cadangan devisa diperkuat, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten, serta arus modal diarahkan pada investasi produktif.
Menurut Telisa, nilai tukar rupiah kemungkinan masih akan menghadapi tekanan dalam jangka pendek, khususnya apabila bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), menahan pemangkasan suku bunganya yang agresif.
”Dalam jangka menengah, peluang stabilisasi cukup terbuka, dengan catatan inflasi domestik terjaga, cadangan devisa diperkuat, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal yang konsisten, serta arus modal diarahkan pada investasi produktif,” ujarnya.
Dihubungi secara terpisah, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani mengatakan, pemangkasan suku bunga acuan oleh BI, paket stimulus ekonomi ”8+4+5”, serta suntikan dana Rp 200 triliun ke bank badan usaha milik negara (BUMN) telah memberikan sentimen terhadap pasar keuangan domestik.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/18/d16e484d-e2f1-48c0-b30a-0bdcf3cd3666_jpg.jpg)
Berbagai kebijakan tersebut mendorong prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih optimistis sehingga mendongkrak kenaikan harga saham. Namun, di sisi lain, para investor asing cenderung lebih memilih untuk menunggu (wait and see). Hal ini membuat rupiah tertekan.
”Beberapa faktor seperti risiko dan kekhawatiran pelebaran defisit APBN, kondisi fiskal domestik, serta penyempitan spread (BI dan The Fed) membuat modal asing keluar deras, terutama dari pasar SBN domestik, sehingga juga menekan nilai tukar rupiah,” ujar Arjun.
Kini, suku bunga acuan antara BI dan The Fed terpaut 50-75 bps setelah kedua bank sentral tersebut sama-sama memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 bps pada September 2025. Selisih itu menyempit dibandingkan akhir tahun lalu yang masih terpaut 150-175 bps.
Di tengah tekanan terhadap rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan tren sebaliknya. Dalam sepekan terakhir, IHSG cenderung berada dalam tren menguat seiring dengan sentimen kebijakan yang lebih akomodatif terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pada perdagangan Rabu (24/9/2025), IHSG ditutup di level 8.126,56 atau menguat 0,02 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, IHSG tercatat menguat hingga 1,26 persen.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/16/67b1a456-3de7-4ba2-bc79-dabda27dd26a_jpg.jpg)
Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nicodemus berpendapat, nilai tukar rupiah memang melemah lantaran adanya aliran modal asing keluar. Namun, para investor memiliki keyakinan terhadap pasar modal domestik.
”Bulan September 2025 ini saja mencatatkan outflow (modal asing keluar). Sentimen global dan dalam negeri khususnya, mendukung penguatan IHSG hingga hari ini,” katanya.
Sebagai catatan, sepanjang September 2025, modal asing mencatatkan jual neto sebesar Rp 2,23 triliun. Perkembangan modal asing tersebut berbalik dibandingkan Agustus 2025 yang mencatatkan beli neto Rp 10,96 triliun.
Hal ini yang memberikan keyakinan bagi pelaku pasar dan investor bahwa perekonomian Indonesia akan mampu bergerak lebih cepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menteri baru, harapan baru, program baru, membutuhkan waktu untuk kembali berjalan dan beradaptasi.
Menurut Nicodemus, terdapat beberapa keyakinan pelaku pasar dan investor, yakni program dari Menteri Keuangan baru, kebijakan stimulus dari pemerintah, serta pemangkasan suku bunga acuan, baik oleh The Fed maupun oleh BI.
”Hal ini yang memberikan keyakinan bagi pelaku pasar dan investor bahwa perekonomian Indonesia akan mampu bergerak lebih cepat untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Menteri baru, harapan baru, program baru, membutuhkan waktu untuk kembali berjalan dan beradaptasi,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/09/23/04c58199-d8d8-416a-82f6-30d59ab94c0f_jpg.jpg)
Sementara itu, analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menilai, pergerakan IHSG secara teknikal cenderung berada dalam tren naik (uptrend). Sebaliknya, rupiah cenderung melemah terhadap dollar AS seiring keluarnya modal asing di pasar obligasi akibat meningkatnya risiko defisit fiskal.
Ia memperkirakan, penguatan IHSG tersebut didorong oleh beberapa sentimen dari harga komoditas, seperti komoditas emas dan energi, yang menguat. Perkembangan itu menyebabkan emiten-emiten yang berbasis komoditas pun menguat.
”Dengan adanya pemangkasan suku bunga acuan dan juga peningkatan harga komoditas, kami melihat sektor properti, energi, dan basic materials dapat dicermati. Hingga akhir 2025, kami mencermati IHSG pada skenario bull (kenaikan) di area 8.200 dan base scenario di 8.000,” katanya.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar