Kremlin memiliki sejumlah agenda, termasuk untuk mempertahankan pengaruhnya di kawasan tersebut.
03 Mar 2026 15:30 WIB · Internasional
AFP/POOL/MIKHAIL METZEL
MOSKWA, SELASA — Selain seruan deeskalasi, sejumlah negara mulai menawarkan diri sebagai mediator guna meredakan ketegangan di Timur Tengah. Rusia yang dekat dengan Iran juga mencoba bergerak sebagai perantara.
Melalui telepon, Presiden Rusia Vladimir Putin berbicara dengan para pemimpin di negara Teluk Arab, yakni Uni Emirat Arab, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar, Senin (2/3/2026). Pangkalan militer dan properti Amerika Serikat di negara-negara itu diserang rudal dan pesawat nirawak Iran sejak AS-Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026.
Sejauh ini, Rusia terus menjalin kontak dengan Pemerintah Iran. Moskwa mengecam serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer tinggi, serta menyebutnya ”agresi tanpa provokasi”.
Kremlin menyatakan, Putin berbicara dengan Presiden UEA Mohammed bin Zayed al-Nahyan. Pada kesempatan itu, ia menawarkan diri untuk menyampaikan keluhan UEA tentang serangan Teheran.
”Kedua belah pihak menekankan perlunya gencatan senjata segera dan kembalinya proses politik dan diplomatik,” demikian bunyi pernyataan Kremlin.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/03/16/9dbd44bd-cc99-472a-9c3a-f6d67b6716d8_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/01/7cfd1848-a1c8-4e2c-aea1-0d5237fd0e26_jpg.jpg)
Dalam percakapan Putin dengan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad al-Thani, mereka membahas kekhawatiran tentang meluasnya konflik. Selain itu, keduanya berbicara tentang risiko keterlibatan negara ketiga.
Sementara itu, Putin menyampaikan kepada Raja Bahrain Hamad bin Isa al-Khalifa bahwa Rusia siap melakukan segala hal yang bisa dilakukan untuk menstabilkan situasi kawasan.
Dalam panggilan terakhir, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman memberi tahu Putin bahwa Rusia dapat memainkan peran stabilisasi mengingat hubungan persahabatannya dengan Iran dan negara-negara Teluk. Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga berbicara dengan rekan sejawatnya dari Arab Saudi.
Rusia juga mengadakan pertemuan luar biasa yang mendahului sesi reguler Dewan Gubernur Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) terkait program nuklir Iran. Persoalan program nuklir menjadi salah satu akar permasalahan antara AS dan Iran. Sesi berlangsung di Vienna, Austria, Senin (2/3/2026) waktu setempat.
Dalam pertemuan itu, IAEA mengklaim tidak ada indikasi bahwa serangan terbaru AS-Israel mengenai fasilitas nuklir Iran, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr, Reaktor Penelitian Teheran, atau fasilitas siklus bahan bakar nuklir lainnya. IAEA belum dapat menghubungi otoritas pengatur nuklir Iran, tetapi sudah berbicara kepada sejumlah pejabat Iran.
”Tentu saja, kami sedang berdialog dengan Iran, tetapi saat ini sangat terbatas. Hingga Kamis lalu, komunikasinya sangat intens,” kata Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi.
Ia menambahkan, IAEA saat ini tidak memiliki staf di Iran, tetapi memantau lewat citra satelit.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/03/766410ea-864f-4384-a9ff-8d625998db5b_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/03/3187e496-5c27-4b4a-9aed-dd3518e069ba_jpg.jpg)
Pengawasan IAEA terhadap fasilitas nuklir Iran telah terhenti sejak serangan pertama AS-Israel yang khusus menyasar fasilitas nuklir Iran pada Juni 2025.
Grossi juga kembali menyerukan agar dialog AS-Iran berlanjut. Ia juga mengulangi pandangan IAEA bahwa tidak ada bukti kuat tentang program senjata nuklir di Iran.
Grossi menghadiri dua putaran pembicaraan yang dimediasi Oman antara Iran dan AS di Geneva, Swiss, bulan lalu. IAEA sampai sekarang juga terus berkoordinasi dengan Oman, mediator AS-Iran.
Presiden AS Donald Trump telah menyatakan siap berbicara dengan pemimpin baru Iran, tetapi Iran masih menolak karena AS terbukti dua kali menyerang Iran ketika negosiasi berlangsung.
Rusia dan Iran selama ini menjalin hubungan dekat. Kemitraan strategis dengan Teheran membantu Moskwa mempertahankan sisa pengaruhnya di Timur Tengah. Pengaruh Rusia di kawasan tergerus sejak Presiden Suriah Bashar al-Assad digulingkan pada Desember 2024. Sejak itu, Presiden interim Suriah Ahmed al-Sharaa menunjukkan sikap pro-AS.
Upaya Rusia muncul meski Moskwa sebetulnya bisa mendapatkan keuntungan lain dari perang Iran melawan AS-Israel. Moskwa berpotensi untung karena harga minyak bisa lebih tinggi setelah Iran menutup Selat Hormuz. Namun, serangan AS-Israel ke Iran bertentangan dengan keinginan Rusia yang mendambakan tatanan dunia multilateral tanpa hegemoni AS.
Selain itu, fokus AS sebagai mediator perang Ukraina-Rusia sedikit teralihkan. Walakin, Moskwa ingin negosiasi tetap berlanjut. ”Kami memiliki kepentingan sendiri yang harus kami lindungi, dan melanjutkan negosiasi mengenai Ukraina adalah demi kepentingan kami,” kata juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/03/c76b1590-0171-4fe2-ad85-df74716213d8_jpg.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/01/cc97b7ed54622c71c7f784181984f191-20260301_H01_Ledakan_Iran_mumed.png)
Langkah Rusia menandai respons terbaru atas serangan AS-Israel ke Iran. Dunia bereaksi beragam terkait perang ini. Sekutu-sekutu AS mendukung serangan itu, seperti Kanada dan Australia. Negara lainnya mengecam, termasuk Rusia, China, dan Spanyol.
Banyak negara lain tidak berkomentar langsung atau lebih menyerukan dialog. Negara-negara di kawasan yang terdampak serangan pembalasan Iran mengecam Teheran.
Selain Rusia, Perancis juga menggandeng China untuk mendorong deeskalasi di kawasan Timur Tengah.
Terkait hal ini, Kementerian Luar Negeri Perancis menyebutkan, Menlu Perancis Jean-Noel Barrot menghubungi Menlu China Wang Yi pada Senin. Keduanya menyepakati pentingnya mengupayakan deeskalasi.
Barrot dan Wang Yi dinyatakan sudah berkomitmen untuk mencari solusi politik yang dapat menjamin keamanan bersama. Solusi politik itu juga perlu diupayakan dengan mengakomodasi aspirasi warga Iran.
Dalam sebuah pernyataan, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Perancis Emmanuel Macron, dan Kanselir Jerman Friedrich Merz juga menyerukan agar AS-Iran bernegosiasi lagi soal program nuklir Teheran. Namun, mereka mengklaim siap membantu AS untuk mencegah serangan lanjutan Iran.
Bentuk bantuan ini beragam karena ketiga negara itu enggan terlibat langsung. Jerman, misalnya, akan membela tentaranya yang berada di pangkalan militer multinasional di Jordania dan Irak jika diserang. Adapun Inggris berencana mengizinkan AS menggunakan pangkalan bersama untuk menyerang Iran. (AFP/REUTERS)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar