Saat AI Juga Menulis, di Mana Peran Jurnalis?

Pemakaian AI di ruang redaksi kian mutakhir, bahkan telah memproduksi surat kabar utuh. Perkembangan pesat itu semakin mempertegas pentingnya jurnalisme berkualitas.

15 Apr 2025 07:03 WIB · Humaniora

Oleh Agnes Theodora

Antonia Kastono Martins (28) baru saja kembali ke rumahnya di Dili, ibu kota Timor-Leste, setelah mengikuti rangkaian acara World Journalists Conference (WJC) 2025 yang digelar di Korea Selatan selama lima hari.

Seketika, ia langsung berhadapan dengan realita berupa tumpukan materi hasil wawancara, teks pidato, dokumen presentasi, dan rilis pers, yang mesti diramu menjadi sejumlah artikel. 

Biasanya, hal seperti itu membuatnya kewalahan. Namun, kali ini, Antonia punya asisten baru: kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kebetulan, ia baru pulang dari konferensi jurnalistik tentang penggunaan AI di ruang redaksi.

Berbekal informasi baru yang ia dapat, Antonia mengunggah rekaman hasil wawancaranya ke aplikasi transkrip berbasis AI. Ia lalu mengunggah hasil transkrip itu, beserta teks pidato dan materi para pembicara, ke ChatGPT, dan meminta AI menggarisbawahi poin penting dan relevan dari setiap teks.

Dengan bahan yang lebih ringkas, Antonia mulai menulis. ”Begitu tulisan jadi, saya kembali ke ChatGPT untuk mengecek tulisan saya. Strukturnya sudah oke tidak? Ada pengulangan tidak? AI memberi macam-macam masukan,” kata jurnalis Diligente, media daring asal Timor Leste itu, saat dihubungi Kompas, Jumat (11/4/2025).

Jurnalis Diligente asal Timor Leste, Antonia Kastono Martins, saat mengajukan pertanyaan di salah satu sesi konferensi World Journalists Conference (WJC) 2025 di Seoul, Korea Selatan, Senin (31/5/2025). Rangkaian acara WJC yang digelar selama sepekan itu mengangkat topik tentang penggunaan AI di ruang redaksi.

Saat dihubungi, Antonia sedang mengedit tulisannya setelah mencerna beberapa masukan dari AI. Ia sempat tergoda untuk meminta ChatGPT menuliskan ulang artikelnya. Sangat mudah, sebenarnya. Ia hanya perlu memberi sejumlah prompt (perintah) tambahan. 

”Tetapi, saya takut tulisan saya jadi tidak orisinal, seolah bukan dari saya, meski tulisan awal memang saya yang buat. Jadi, saya kembali pakai cara tradisional saja,” ujarnya.

Ini pengalaman pertama Antonia menggunakan AI secara lebih aktif dalam pekerjaannya. Jurnalis di Timor Leste, ujarnya, memang belum terlalu banyak memakai AI. Sejauh ini, AI baru dipakai untuk mentranskrip wawancara atau menerjemahkan bahasa asing.

Setelah mendengar pengalaman dari berbagai negara lainnya di konferensi WJC, Antonia siap bereksperimen dengan penuh kehati-hatian. ”Ini baru awal dari pengalaman kami dengan AI,” ujarnya. 

AI jadi editor

Lain negara, lain cara. Di Spanyol, AI sudah mengambil alih peran editor dan penyelaras bahasa di media arus utama. ”Di tempat saya, tidak ada editor yang bertugas mengecek tata bahasa atau penulisan yang salah. Jadi, kami mengandalkan ChatGPT,” kata Jara Atienza (29), jurnalis media daring El Español, di sela-sela rangkaian acara WJC, Kamis (3/4/2025).

Jara mengatakan, absennya posisi editor di media-media daring adalah hal yang wajar di Spanyol. Hampir semua media daring sudah menggunakan AI untuk mengedit hasil tulisan dengan lebih cepat dan akurat. 

Tampilan unduhan DeepSeek asisten kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang diluncurkan oleh perusahaan asal China dengan nama yang sama. DeepsSeek meroket ketika meluncurkan aplikasinya di dua platform lokapasar Apple dan Android (Google) Pada 28 Januari 2025 aplikasi ini menjadi aplikasi paling banyak diunduh di pasar Amerika Serikat melalui AppStore (Apple), menggusur dominasi ChatGPT buatan OpenAI.

Posisi editor biasanya hanya ada di media cetak seperti surat kabar dan majalah. ”Alasannya supaya cepat, karena kami bisa menayangkan ratusan artikel dalam sehari. Tetapi, sebenarnya karena efisiensi juga. Perusahaan tidak mau membayar editor kalau AI sudah bisa melakukannya,” ujarnya.

Di El Español, tugas AI sebatas mengedit kesalahan tata bahasa dan tipografi. Untuk substansi, akurasi, dan nuansa, jurnalis saling mengecek tulisan satu sama lain. Namun, pengeditan silang itu tidak selalu bisa dilakukan karena keterbatasan waktu dan pemahaman isu. 

”Saya pribadi merasa ini salah, karena harus selalu ada orang kedua atau ketiga yang mengecek tulisan kita sebelum publis. Kolega bisa membantu, tetapi tentu beda,” kata Jara. 

Quote

AI bukan ancaman, hanya mengubah cara kerja, bahkan mendorong kita memperbaiki kualitas jurnalisme.

Mencetak surat kabar

Italia lebih ekstrem lagi. Lewat eksperimen terbaru yang dilakukan Il Foglio, surat kabar konservatif-liberal, AI bahkan sudah dipakai untuk sepenuhnya mencetak surat kabar nasional sejak pertengahan Maret 2025 lalu. 

Koran edisi AI itu dinamakan Foglio AI, untuk membedakannya dengan surat kabar Il Foglio yang tetap diproduksi dengan cara konvensional. Foglio AI memiliki total empat halaman. Sekitar 22 artikel berita, 3 tajuk rencana, sampai surat pembaca, dibuat sepenuhnya oleh AI. 

Alih-alih melakukan wawancara dan menulis, jurnalis memasukkan prompt kepada ChatGPT untuk menulis artikel dengan topik tertentu, bahkan meniru intonasi dan gaya bahasa editorial Il Foglio yang sarkastik, satir, dan nyeleneh.

Tampilan artikel evaluasi yang ditulis oleh AI mengenai publikasi surat kabar Foglio AI -- surat kabar pertama yang ditulis seutuhnya dengan menggunakan AI. Hasil evaluasi itu menyimpulkan, meski berhasil memancing animo pembaca, AI tidak bisa mengambil alih jurnalisme.

Hasilnya? Edisi perdana Foglio AI diminati pembaca. Penjualan naik hingga 60 persen pada hari pertama publikasi. Hasil survei menunjukkan, 90 persen pembaca terhibur dan 10 persen merasa khawatir. 

Direktur Il Foglio Claudio Cerasa mengatakan, eksperimen itu bukan untuk membunuh jurnalisme, tetapi merevitalisasinya. ”Uji coba ini menuntut jurnalis untuk lebih kreatif, mencari dan melakukan hal lain yang tidak bisa dilakukan mesin,” ujarnya, dilansir dari AFP. 

Ujian relevansi 

Kisah dari berbagai negara tentang pesatnya pemakaian AI di ruang redaksi, serta eksperimen yang dilakukan oleh Il Foglio, semakin mempertegas ujian relevansi bagi jurnalis di era kecerdasan buatan.

Saat mesin sudah bisa menggantikan jurnalis untuk hal teknikal seperti memperbaiki struktur tulisan, bahkan menuliskan surat kabar secara utuh, di mana letak peran jurnalis?

Pertanyaan itu dikupas dalam ajang konferensi WJC 2025 yang digelar oleh Asosiasi Jurnalis Korea (JAK) pada 31 Maret-4 April 2025 di Seoul, Korea Selatan, yang turut dihadiri Kompas. 

Sebanyak 60 jurnalis yang berasal dari 52 negara berbagi cerita tentang pemakaian AI di media dan negara masing-masing, tantangan yang dihadapi, serta apa artinya bagi masa depan pers.

Peserta menyimak salah satu paparan pembicara dalam acara World Journalists Conference (2025) di Seoul, Korea Selatan, Senin (31/5/2025). Rangkaian acara yang digelar selama lima hari itu mengangkat topik tentang penggunaan AI yang semakin pesat di ruang redaksi.

Menurut Natalia Szewczak, jurnalis Business Insider Polandia, AI tidak ”mengambil” pekerjaan jurnalis, tetapi mengubahnya. Di tempatnya, wartawan tidak lagi harus menulis berita monoton tentang kondisi cuaca atau berita rilis. Artikel seperti itu sudah sepenuhnya diambil AI.

”Jadi, jurnalis punya waktu melakukan wawancara, mencari fenomena dan isu penting, membuat tulisan in-depth dan investigatif. Saya percaya AI bukan ancaman, hanya mengubah cara kerja, bahkan mendorong kita memperbaiki kualitas jurnalisme,” katanya di salah satu sesi.

AI tidak akan bisa

Natalia bercerita, ia pernah menulis tentang regulasi konyol Pemerintah Polandia yang mengurangi jatah cuti melahirkan bagi ibu dari bayi prematur. Berita yang ia buat, berdasarkan pengalaman pribadinya, mendorong Pemerintah Polandia untuk merevisi regulasi tersebut. 

Quote

Sebagian kerja jurnalistik kini sudah begitu mekanik dan template, sampai mesin pun bisa mengerjakannya.

Natalia menegaskan, artikel seperti itu tidak akan pernah bisa ditulis oleh AI. ”AI tidak akan memahami betapa absurdnya undang-undang itu. AI tidak bisa mendengar kisah korban dan menuliskannya penuh empati. AI tidak hadir di konferensi pers dan melontarkan pertanyaan sulit ke pemerintah. AI tidak akan bisa menggantikan roh jurnalisme,” katanya.

Pada akhirnya, ucap Direktur Eksekutif Investigative Reporters and Editors (IRE) Diana Fuentes dari Amerika Serikat, manusia harus berbicara dengan sesama manusia untuk mencari tahu, mengungkap apa yang tersembunyi, lalu menuliskannya dengan bantuan AI sebagai alat.

Itu pula pelajaran dari eksperimen Il Foglio. Meski AI bisa menulis surat kabar utuh dengan struktur rapi dan enak dibaca, isinya minim ”jiwa”. Sekitar 22 artikel Foglio AI tidak mencantumkan kutipan langsung karena memang tidak ada wawancara yang dilakukan. Tulisannya juga minim keberpihakan kepada beberapa isu sensitif dan kelompok marjinal.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan usai meninjau pangkalan resmi Pertamina di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat, untuk memantau pasokan elpiji bersubsidi 3 kilogram, Selasa (4/2/2025). Pemerintah mulai 1 Februari 2025 melakukan penataan penjualan, dimana elpiji bersubsidi hanya bisa dibeli di pangkalan resmi Pertamina untuk mempermudah pemantauan dan pengontrolan.

Jurnalisme konvensional tentu tidak sempurna. Mengutip esai di The Fix, hal paling menakutkan dari eksperimen Il Foglio bukan saja bahwa AI sudah bisa menerbitkan surat kabarnya sendiri. Namun, realita bahwa sebagian kerja jurnalistik kini sudah begitu mekanik dan template, sampai mesin pun bisa mengerjakannya. 

Itu sesuatu yang terkadang sulit dihindari di tengah rutinitas, tuntutan kerja serba cepat, dan lingkungan kerja yang tak kondusif bagi jurnalis di banyak negara.

”Mau tidak mau kita harus mengerjakan bagian kita. Kembali ke dasar jurnalisme. Turun ke lapangan untuk meliput, mewawancarai orang, aware dengan apa yang terjadi di sekitar kita. Hal-hal yang tidak akan bisa dilakukan oleh AI,” kata Antonia yang kini siap bereksperimen lebih banyak dengan AI untuk mendukung pekerjaannya.

Pada akhirnya, jurnalisme tidak akan tergantikan oleh AI, tetapi hanya jika pers mengerjakan bagiannya dan ingat pada tujuan utamanya: berpihak pada publik dan kebenaran, memberi ruang bersuara kepada yang terpinggirkan, serta tidak kehilangan daya kritis dalam mengawasi kekuasaan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agnes Theodora
 | 

Editor:

Aris Prasetyo
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase