Saat Naomi Osaka Memulai Kembali dari Bawah

Setelah juara Grand Slam lalu bertanding pada turnamen level bawah menjadi fenomena lumrah terjadi di arena tenis. Naomi Osaka adalah salah satu yang menjalani itu.

08 Mei 2025 21:06 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

Naomi Osaka melakukan yang tak pernah dilakukannya selama sepuluh tahun, yaitu bertanding dalam turnamen tenis putri level WTA 125. Gelar juara dari WTA Saint-Malo, Perancis, itu merupakan gelar pertama dari turnamen lapangan tanah liat yang menjadi bekalnya untuk bersaing di Grand Slam Perancis Terbuka.

WTA 125 adalah turnamen dengan level di bawah Tur WTA yang terdiri atas WTA 250, 500, dan 1000. Semakin besar angka tersebut, semakin tinggi level turnamen yang ditunjukkan oleh semakin besar poin ranking dan hadiah yang diperebutkan.

Setelah mencapai semifinal di Hua Hin, Thailand, pada November 2015, Osaka bersaing di Tur WTA dan Grand Slam. Dalam usia 23 tahun, Osaka mempunyai empat gelar juara Grand Slam, yaitu dari Amerika Serikat Terbuka 2018 dan 2020 dan Australia Terbuka 2019 dan 2021. Petenis Jepang ini juga memuncaki daftar ranking tunggal putri dunia selama 25 pekan pada 2019.

Setelah menapaki tangga menuju puncak, hingga sempat disebut sebagai penerus Serena Williams, Osaka harus kembali meniti jalan di arena profesional dari bawah. Dia mengikuti turnamen WTA 125 Saint-Malo pada 28 April-4 Mei.

Sepekan sebelum dimulainya WTA Saint-Malo, Osaka sebenarnya bermain di WTA 1000 Madrid yang dimulai 21 April. Oleh karena langsung tersingkir pada babak pertama, dia berpindah ke Saint-Malo dengan status sebagai petenis wildcard.

Petenis Jepang Naomi Osaka mengembalikan bola ke petenis Swiss Viktorija Golubic pada laga WTA Rome di Foro Italico, Roma, Kamis (8/5/2025).

Osaka menjadi satu-satunya juara Grand Slam dan mantan petenis nomor satu dunia dalam turnamen itu. Lawan-lawan yang dihadapinya adalah petenis dengan ranking seratusan hingga 500-an dunia. Osaka pun menjadi juara dengan perjalanan yang terbilang tak mudah. Dari lima babak, dia bermain tiga set pada dua pertandingan. Gelar dari Saint-Malo menjadi yang pertama bagi ibu dari satu anak itu dari turnamen lapangan tanah liat.

Lapangan yang lapisan paling atasnya terbuat dari tumbukan batu bata ini memang menjadi kelemahan Osaka. Groundstroke keras dan datar, yang menjadi ciri permainannya, lebih cocok diterapkan di lapangan keras.

Permainan di tanah liat tak bisa mengandalkan pukulan seperti itu karena bola memantul dengan pelan dan tinggi. Osaka kesulitan beradaptasi dengan kondisi tersebut sehingga tak pernah juara di lapangan berkarakter lambat tersebut hingga akhirnya mendapat trofi dari WTA Saint-Malo.

Osaka bercerita bahwa dia membawa banyak ego ketika bermain dalam level WTA 125. Namun, dia harus menyingkirkan ego itu karena terinspirasi perjalanan petenis nomor satu dunia, Andre Agassi.

Perjalanan karier Agassi di tenis profesional berada pada masa kelam pada 1997 setelah dia menjadi petenis nomor satu dunia dan memiliki tiga gelar Grand Slam. Agassi absen dari banyak turnamen karena cedera pergelangan tangan, terkena kasus doping, dan kehilangan renjana untuk bermain tenis.

Petenis Jepang Naomi Osaka mengembalikan bola ke petenis Swiss Viktorija Golubic pada laga WTA Rome di Foro Italico, Roma, Kamis (8/5/2025).

Namun, dia kembali ke kompetisi pada 1998, meniti karier dari bawah kembali, yaitu dari turnamen ATP Challenger yang selevel dengan WTA 125. ”Saya membaca bukunya (Agassi). Saat dia kembali bertanding, ada momen ketika dia bertanding dalam turnamen Challenger dan harus mengubah sendiri papan skor. Cerita itu melekat dalam pikiran saya ketika bertanding di WTA 125,” kata Osaka dalam laman resmi WTA.

Bukan hanya Osaka dan Agassi yang mengalami pasang surut dalam karier. Juara Australia Terbuka 2020, Sofia Kenin, tampil dalam turnamen WTA 125 di Spanyol pada 2024. Juara AS Terbuka 2019, Bianca Andreescu, juga bermain pada level yang sama saat Osaka tampil di Saint-Malo.

Juara tunggal putra AS Terbuka 2014, Marin Cilic, bahkan, lebih banyak bermain di ATP Challenger pada 2025 dibandingkan dengan di ATP Tour. Petenis yang saat ini menempati ranking ke-109 dunia itu sudah tampil dalam lima turnamen ATP Challenger dari delapan turnamen.

”Saya harus menerima bahwa saya bukan lagi petenis 50 atau 100 besar dunia. Jadi, tidak bisa seenaknya memilih turnamen berdasarkan keinginan. Saya berada pada masa harus merendahkan hati, tetap bekerja keras, kembali ke Challengers dan menikmatinya,” kata Cilic yang menempati posisi tertinggi, ranking ketiga dunia, pada Januari 2018.

Setelah tampil di Saint-Malo, Osaka kembali ke persaingan level tinggi, WTA 1000 Roma, 6-18 Mei. Dia melaju ke babak ketiga setelah mengalahkan petenis lucky loser, Viktorija Golubic, dengan skor 2-6, 7-5, 6-1, Kamis (8/5/2025). Dalam pertandingan babak kedua tersebut, Golubic menggantikan unggulan kesembilan, Paula Badosa, yang batal bertanding karena cedera.

Petenis Jepang Naomi Osaka (kanan) menyalami petenis Swiss Viktorija Golubic pada akhir laga WTA Rome di Foro Italico, Roma, Kamis (8/5/2025).

Osaka kehilangan set pertama karena membuat banyak unforced error, terutama saat servis. Dia kesulitan melakukan toss (melambungkan bola sebelum dipukul) dengan arah yang tepat sehingga beberapa kali harus mengulangnya. Kelemahan itu membuat dua kali servisnya dipatahkan Golubic. Sebagai pempiasan rasa frustrasi, Osaka membanting raket ke lapangan ketika tertinggal 2-5.

Pada masa persiapan untuk musim kompetisi lapangan tanah liat, yang dimulai April, Osaka dan pelatihnya, Patrick Mouratoglou, memang berlatih servis secara khusus. Dia selalu kesulitan melakukan toss dengan benar sehingga mantan pelatih Serena itu harus memberi tips.

Setelah ini, Osaka harus bersiap melawan unggulan kedelapan, Beatriz Hadad Maia, atau Marie Bouzkova pada babak ketiga. Osaka berada pada paruh yang sama dengan juara bertahan, Iga Swiatek, unggulan ketiga, Jessica Pegula, dan Madison Keys. Adapun juara WTA Madrid yang juga petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, akan bersaing dengan para petenis muda, seperti Mirra Andreeva dan Cori Gauff. (AFP)

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto