Para pesepak bola putri mencari solusi sendiri atas ketiadaan liga di Tanah Air. Mulai dari bisnis hingga merantau ke negara ASEAN lain yang punya kompetisi.
08 Apr 2025 13:33 WIB · Olahraga
Hanipa Halimatusyadiah (21) sibuk menatap layar laptop di rumah yang dijadikannya sebagai kantor, di Sukabumi, Jawa Barat, pada pengujung Maret lalu. Di layar tersebut terpampang angka-angka yang menunjukkan penjualan produk miliknya.
Tiga bulan sebelumnya, Hanipa masih berada di Lapangan Kingkong Soccer Arena, Jakarta Timur, untuk bermain sepak bola dalam rangka Piala Pertiwi 2024. Turnamen berlevel nasional itu menjadi pelepas dahaga bagi pesepak bola putri di tengah ketiadaan liga.
Jika tak ada Piala Pertiwi, praktis Hanipa hanya bermain sekali dalam setahun, yakni saat tampil di PON Aceh-Sumut 2024 untuk membela Jawa Barat. Sejak liga sepak bola putri mati suri sejak 2019, tim provinsi dan PON telah dua kali jadi ”penyelamat” Hanipa dan kawan-kawan yang tak punya wadah bertanding sepak bola.
Awalnya, Hanipa pikir, penantiannya untuk kembali merumput secara profesional dalam kompetisi jangka panjang hanya tersisa setahun lagi. Sebab, PSSI merencanakan liga sepak bola putri kembali bergulir pada 2026. Nyatanya, liga ditunda hingga 2027.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/08/bf8d030c402a7ee8ecfb03755765c270-DSC03930.JPG)
Penundaan liga sepak bola putri itu diketahui setelah Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengumumkan kegiatannya soal rapat kompetisi itu, Februari lalu. Kata Erick, liga sepak bola putri akan dihelat pada 2027. Beberapa hari kemudian, dia berkata, salah satu alasannya adalah kolam talenta yang kurang.
”Sudah mulai di titik pesimis, tetapi di sisi lain juga tidak bisa lepas dari sepak bola,” tutur Hanipa mengungkap kebimbangannya.
Tidak ada liga berarti tak ada tempat untuk menguji hasil latihan, mengasah kemampuan, dan mengejar prestasi. Tidak ada liga berarti tidak ada pula sumber penghasilan bagi pesepak bola putri.
Sudah sejak empat tahun lalu, Hanipa mencoba bersiasat untuk mengatasi ketidakpastian kompetisi ini. Pemain yang pernah memperkuat tim U-15 di Piala AFF Putri 2017 ini sesekali bermain dalam turnamen meski levelnya daerah atau antarkampung.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/12/11/8fba874f-58d9-42f9-84b1-e6ae8fa419b1_png.png)
Hanipa juga menggunakan uang hasil jerih payahnya dari sepak bola untuk membangun bisnis busana dengan jenama sendiri. Dia kini telah punya tiga jenama fashion, yang menjual ragam busana, mulai dari kaus, celana, hoodie, hingga sandal.
Kendati tak melulu mulus, kata Hanipa, bisnis itu membantunya bertahan di tengah ketidakpastian liga dan sumber pemasukan. ”Aku bisa dibilang beruntung karena sekarang ada usaha ini, tetapi beberapa teman lain kesulitan ketika tidak ada liga, tidak ada pemasukan karena selama ini menggantungkan hidup di sepak bola. Paling mentok main di tarkam,” ucap Hanipa.
Hanipa beberapa kali mengajak pesepak bola lain untuk turut bergabung dengan bisnisnya atau mendorong mereka memulai bisnis serupa. Paling tidak, kata Hanipa, para pesepak bola putri ini bisa tetap mendapatkan sumber pendapatan sembari tetap latihan dan menanti datangnya liga.
Pemain yang membawa Persikabo Kartini menjadi runner-up Liga 1 Putri 2019 ini berencana mengajak seluas-luasnya pesepak bola putri lain untuk menjajal bisnis serupa. Menurut Hanipa, para pesepak bola putri bisa menggunakan dan memanfaatkan koneksi serta nama mereka sebagai atlet untuk mendongkrak bisnis tersebut.
”Impian besarku ingin mengajak teman-teman lain juga untuk mencoba cari pemasukan lain. Mereka, kan, sering dapat tawaran endorse oleh merek tertentu. Kenapa tidak mereka saja yang mempromosikan produk sendiri? Aku akan bantu dengan pengalamanku. Ini akan jadi wadah buat kami sekaligus cara kami buat cari solusi sendiri,” tutur Hanipa.
Sementara Hanipa bersiasat dengan bisnisnya, para pesepak bola putri lain bersiasat dengan merantau ke negara lain, temasuk negara Asia Tenggara yang punya liga. Terbaru, sebanyak lima pesepak bola putri Indonesia bergabung dengan klub asal Filipina, Makati FC, untuk bermain di PFF Women’s League atau Liga Putri Filipina 2025.
Mereka adalah Shalika Aurelia, Sheva Imut, Gea Yumanda, Nafeeza Nori, dan Nasywa Rambe. Empat pemain pertama bahkan langsung mendapatkan kesempatan debut bersama Makati FC pada Kamis (3/4/2025) dalam laga kontra University of Philippines di Mall of Asia Football Pitch, Pasay, Filipina.
Sheva bahkan mencetak dua gol dan Gea mencatatkan dua asis dalam laga yang berakhir dengan kemenangan Makati, 5-0. Pada pertandingan selanjutnya, Minggu (6/4/2025), giliran Nafeeza yang mencuri perhatian dengan menyumbang dua gol dalam kemenangan 4-0 atas UST Lady Booters.
Sementara itu, pesepak bola putri lainnya, Risda Yulianti Noviawan, memilih untuk menggelar turnamen sendiri. Pemain yang pernah memperkuat timnas di Piala AFF Putri 2018 di Palembang ini menggelar trofeo di Bandung, Jawa Barat, pada akhir Februari 2025.
Risda mengatakan, Bandung termasuk kota yang memiliki banyak turnamen sepak bola putri. Mulai dari Piala Wali Kota yang digelar antarkecamatan, Pekan Olahraga Daerah (Porda), hingga Liga Bandung Putri U-17.
Namun, karena pada akhir Februari belum ada turnamen lagi, Risda pun memilih untuk membuatnya sendiri. ”Saya berusaha mengisi kekosongan itu sambil menunggu semua bergulir lagi. Namun, yang paling penting, saya mencoba turut memberi wadah buat pesepak bola putri muda untuk bertanding, mengasah hasil latihan mereka, apalagi saya juga sekarang melatih,” tutur Risda yang mengantongi Lisensi B PSSI ini.
“Saya sedih dan putus asa karena liga tidak kunjung jalan, tetapi jangan sampai anak-anak merasakan hal yang sama. Saya selalu bilang, kesempatan buat saya mungkin sudah sulit, selain kompetisi belum jelas, peluang masuk timnas pun kian menipis karena usia. Namun, anak-anak ini masih punya harapan karena usia rata-rata di bawah 19 tahun,” ujar pemain berusia 28 tahun ini.
Skuad timnas saat ini memang didominasi pemain muda. Pemain yang “seangkatan” Risda hanya Vivi Oktavia Riski, pemain yang dipanggil kembali ke timnas selepas pelatih Satoru Mochizuki melihat penampilannya di PON Aceh-Sumut 2024 bersama Bangka Belitung.
Adapun trofeo yang digelar Risda bertajuk Rafeo Cup Minisoccer U-19. Setiap tim terdiri dari 14 pemain yang harus dimainkan semua. Tim peserta hanya membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 250.000 untuk mengikuti ajang tersebut. Pertimbangannya, kata Risda, setiap pemain hanya membayar sekitar Rp 18.000 sehingga tidak memberatkan mereka.
”Namun, dengan uang Rp 18.000 itu mereka bisa bermain dengan lapangan yang nyaman, wasit profesional, mendapatkan air minum, foto, dan piala. Ada juga hadiah sepatu untuk pemain terbaik. Meski kecil-kecilan dan tidak mahal, saya ingin membuat turnamen yang bikin anak-anak merasa benar-benar berkompetisi,” ujar mantan pemain Persikabo Kartini ini.
”Semoga bisa konsisten menggelar turnamen ini sehingga bisa menyediakan lebih banyak wadah bagi para pesepak bola putri di Jawa Barat, khususnya Bandung, untuk bertanding,” tuturnya lagi.
Di tengah sunyi tanpa liga, para pesepak bola putri memilih bersiasat, berjuang, dan mencipta ruang untuk tetap bertahan. Dari bisnis kecil hingga panggung asing, dari trofeo sederhana hingga mimpi besar, mereka merajut harapan dengan tangan sendiri. Sebab, bagi mereka, sepak bola putri harus terus diupayakan kendati tak ada dukungan.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .