Saat Paus Menundukkan Kepala ke Arah Kiblat

Momen ketika Paus Fransiskus mengunjungi kawasan paling berbahaya di Afrika.

26 Apr 2025 11:31 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Debu tipis beterbangan saat sebuah mobil putih bak terbuka beratap terpal coklat melaju pelan, menyusuri jalanan di wilayah K5, wilayah yang disebut daerah paling berbahaya di dunia. Kawasan ini menjadi benteng terakhir yang dihuni mayoritas umat Islam di Koudoukou, Bangui, Afrika Tengah, 30 November 2015. Zona ini terlarang bagi umat Katolik. Penjagaan ketat warga dengan senjata lengkap, yang biasanya berada di pintu akses keluar dan masuk kawasan ini, siang itu tidak terlihat. 

Puluhan pemuda dengan kaus putih perlahan muncul dan makin lama makin banyak. Banyak juga di antara mereka yang membawa dan melambaikan bendera putih di tangan. Di atas mobil, Paus Fransiskus membalas melambaikan tangan dan menebar senyum kepada warga yang berjajar di pinggir jalan. 

Pesawat yang membawa Paus Fransiskus mendarat di Bangui, Republik Afrika Tengah, 29 November 2015.
Polisi Republik Afrika Tengah mengamankan area di sekitar bandara sebelum Paus Fransiskus tiba di Bangui, Minggu, 29 November 2015.
Para pria berdoa di masjid Koudoukou, di Bangui, Republik Afrika Tengah, saat mereka menunggu kedatangan Paus Fransiskus untuk pertemuan dengan komunitas Muslim pada , Senin, 30 November 2015.
Penjaga perdamaian PBB berjaga di sekitar dari menara masjid Koudoukou, di Bangui, Republik Afrika Tengah, sebelum kedatangan Paus Fransiskus untuk pertemuan dengan komunitas Muslin, Senin, 30 November 2015. Paus Fransiskus berada di Afrika untuk kunjungan enam hari yang membawanya ke Kenya, Uganda, dan Republik Afrika Tengah.
Sambutan umat muslim saat Paus Fransiskus melambai kepada orang banyak di Masjid Pusat di kantong Muslim Bangui di PK5, Republik Afrika Tengah, 30 November 2015.

K-5 adalah simbol paling tepat dari kekejaman perang sipil di Afrika Tengah. Sebelum konflik, daerah itu dihuni sekitar 122.000 warga Muslim, tetapi kini hanya sekitar 15.000 jiwa yang bertahan. Daerah yang tadinya menjadi pusat perdagangan itu kini menjadi lapangan pembantaian bagi dua kelompok yang berbeda keyakinan. 

Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan tidak berani menjamin keamanan Paus jika memasuki daerah itu. Pertempuran masih berlangsung sampai pagi saat Paus akhirnya memasuki K5 siang itu.         

Mobil putih terbuka itu akhirnya berhenti di sebuah pelataran masjid Kaodoukou. Paus Fransiskus melepas sepatunya, memasuki masjid, dan menundukkan kepala ke arah kiblat masjid, sebelum dipersilakan duduk di sofa putih di samping imam masjid. ”Umat Kristen dan Muslim adalah saudara,” kata Paus dalam pidatonya, yang disiarkan melalui pengeras suara di luar masjid.

Polisi berpatroli saat Paus Fransiskus merayakan misa di Stadion Barthelemy Boganda, di Bangui, Republik Afrika Tengah, Senin, 30 November 2015. Paus Fransiskus berada di Afrika untuk kunjungan enam hari yang membawanya ke Kenya, Uganda, dan Republik Afrika Tengah.
Tentara penjaga perdamaian PBB membantu keamanan di luar Stadion Barthelemy Boganda tempat Paus Fransiskus merayakan misa di Bangui, Republik Afrika Tengah, Senin, 30 November 2015.
Paus Fransiskus melambai kepada orang banyak saat berkunjung di Masjid Pusat di kantong Muslim Bangui di PK5, Republik Afrika Tengah, Senin 30 November 2015. Paus disambut oleh kerumunan orang dan berdoa di dalam Masjid Pusat.
Paus Fransiskus menyapa anak-anak pada kesempatan kunjungannya di Masjid Pusat di kantong Muslim Bangui di PK5, Republik Afrika Tengah, Senin 30 November 2015. Paus disambut oleh kerumunan orang dan berdoa di dalam Masjid Pusat.

Ia juga memohon orang-orang untuk berani mengatakan ”tidak” pada kebencian, balas dendam, dan kekerasan, terutama yang dilakukan atas nama agama atau Tuhan. Warga makin banyak berkerumun di sekitar masjid dan di sepanjang jalan yang akan dilalui Paus meninggalkan masjid Kaodoukou menuju lapangan tempat akan dilangsungkannya misa akbar. 

”Umat Kristen dan Muslim yang dulu saling menatap kini berdamai,” kata Ella Carine Kossingou, warga Bangui, seperti dituturkan kepada Associated Press, saat mengenang kunjungan Paus Fransiskus. ”Saya bukan Katolik, tetapi saya tidak akan melupakan kehadirannya di negara kita.”

Episode ini dikenang oleh umat Katolik dan umat Islam saat itu. Kedatangan Paus di K5 seakan menjahit kembali kain perdamaian yang robek dan compang-camping. Ini juga mengenang komitmen Paus Fransiskus kepada kaum terpinggirkan, termasuk korban kekerasan, kemiskinan.

Paus Fransiskus, latar belakang, tiba dengan mobil paus untuk merayakan misa di Stadion Barthelemy Boganda, di Bangui, Republik Afrika Tengah, Senin, 30 November 2015.

Afrika merespons kabar akan kematian Paus Fransiskus. Seorang seniman grafiti menggambar potret Paus Fransiskus di sebuah tembok besar di Kenya. Di Nigeria, umat paroki berbaris untuk menandatangani buku belasungkawa di bawah potretnya, dan di Sudan Selatan, Pastor James Rombe berlutut untuk berdoa bersama para siswa di Seminari Menengah St Lawrence.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji