Kalahnya perbincangan soal Makan Bergizi Gratis dibandingkan Shin Tae-yong disebabkan ketiadaan orkestrasi di media sosial oleh pemerintah.
10 Jan 2025 06:00 WIB · Politik & Hukum
Program makan bergizi gratis yang menjadi salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto akhirnya dimulai pada Senin (6/1/2025). Janji politik yang memikat 58 persen pemilih di Pilpres 2024 itu terlaksana di hari ke-79 setelah dilantik pada 20 Oktober 2024.
Namun, pada hari pertama pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG), perbincangan di media sosial justru terbelah. Sebagian publik di media sosial justru membicarakan isu pemecatan pelatih tim nasional sepak bola Indonesia Shin Tae-yong. Pembelahan isu itu tak lepas dari momentum pemecatan Shin yang bersamaan dengan pelaksanaan program MBG.
Hasil analisis Drone Emprit di sejumlah platform media sosial periode 5-7 Januari menunjukkan, unggahan soal STY lebih banyak dibandingkan MBG. Begitu pula engagement atau interaksi pengguna media sosial pun lebih banyak yang tertarik pada isu soal pemecatan STY.
Kalau dilihat dari tingginya engagement terhadap STY, artinya publik justru lebih tertarik pada isu terkait pemecatan STY dibandingkan program MBG.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/f51a0714-f88f-48ad-8f82-05ac267177d9_jpg.jpg)
Adapun unggahan terkait MBG tercatat sekitar 8.300 konten. Konten soal MBG paling banyak ada di platform X (dahulu bernama Twitter) sebanyak 6.900 unggahan, disusul Youtube, Facebook, Instagram, dan TikTok.
Adapun unggahan soal STY tercatat sebanyak 9.400 unggahan. Konten soal STY paling banyak diunggah di platform X (6.900 unggahan), disusul Facebook, Instagram, Youtube, dan Tiktok.
Meskipun dari jumlah volume unggahan hanya berselisih 900 konten, jumlah engagement atau interaksi dari kedua isu terpaut sangat jauh. Engagement soal MBG berjumlah 1,2 miliar, sedangkan engagement terkait STY mencapai 2,2 miliar.
”Kalau dilihat dari tingginya engagement terhadap STY, artinya publik justru lebih tertarik pada isu terkait pemecatan STY dibandingkan program MBG,” ujar Analis Drone Emprit, Nova Mujahid, Kamis (9/1/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/6f3d9ef2-7901-49a8-8979-4f20769b25e8_jpg.jpg)
Menurut dia, publik cukup kaget dengan peristiwa pemecatan STY dari kursi pelatih Timnas Indonesia. Hal itu membuat perbincangan soal STY lebih mendominasi dibandingkan MBG. Perbincangan soal STY bahkan mulai ramai sejak Minggu (5/1/2025) atau sehari sebelum pengumuman pemecatan.
Padahal, MBG merupakan janji politik dari Presiden Prabowo yang sangat dinantikan masyarakat. Namun dalam beberapa hari pertama pelaksanaan program itu, isu soal MBG justru tidak terlalu riuh di media sosial.
Isu STY ini sangat mendadak dan mengagetkan banyak orang, sedangkan MBG sudah sejak lama, tidak ada nilai keterkejutannya.
Selain itu, lanjut Nova, rendahnya perbincangan soal MBG juga tak lepas dari perbincangan yang sudah lama. Sejak kampanye Pilpres 2024, Prabowo sering membahas program MBG. Begitu pula setelah pelantikan, publik mulai mengulik program tersebut.
”Isu STY ini sangat mendadak dan mengagetkan banyak orang, sedangkan MBG sudah sejak lama, tidak ada nilai keterkejutannya," tutur Nova.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/c1ea4787-01f0-47c9-b568-1deeb9023a41_jpg.jpg)
Lebih jauh, Nova menilai, kalahnya perbincangan soal MBG dibandingkan STY disebabkan oleh ketiadaan orkestrasi di media sosial. Unggahan soal MBG dilakukan oleh setiap kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dengan gayanya tersendiri. Mereka tidak membawa isu yang sama dalam setiap unggahan di media sosial. Bahkan ada kecenderungan setiap instansi saling berebut panggung.
Influencer Prabowo saat masa kampanye berhasil mengamplifikasi program-program dengan bahasa yang disesuaikan dengan pengikutnya sehingga jangkauannya sangat luas.
Padahal, Prabowo dikenal sangat efektif dalam mengelola isu media sosial saat masa kampanye. Berbagai program yang dikampanyekan lewat media sosial sangat menarik perhatian pemilih. Isu-isu itu bahkan ikut dibawa oleh influencer atau pemengaruh yang memiliki jutaan pengikut. Pola-pola seperti itu tidak ditemukan saat implementasi program MBG.
”Influencer Prabowo saat masa kampanye berhasil mengamplifikasi program-program dengan bahasa yang disesuaikan dengan pengikutnya sehingga jangkauannya sangat luas,” tutur Nova.
Nova mengingatkan, perbincangan soal implementasi kebijakan, termasuk MBG, di media sosial sangat penting. Di satu sisi, pemerintah akan mendapatkan dukungan publik karena janji politik itu dapat direalisasikan. Sedangkan di sisi lain, publik dapat memberi masukan terhadap program MBG agar implementasinya terus membaik.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/05/f111d156-953c-48f3-9305-db147f1c3311_png.jpg)
Meskipun perbincangan soal MBG kalah dibandingkan STY, pemerintah tak terlampau risau. Sebab, program MBG merupakan program jangka panjang sehingga penguatan narasi di media sosial dapat terus dilakukan.
”(Kita) gas terus. Kan, MBG bukan hanya sehari,” ujar Juru Bicara Kantor Komunikasi Kepresidenan Prita Laura.
Selain itu, Prita melanjutkan, ada puluhan menteri dan wakil menteri yang turun meninjau pelaksanaan MBG di berbagai lokasi. Mereka pun mengunggah aktivitas MBG di media sosial masing-masing.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/9b7374bb-d16d-47dd-be67-69ab1100b3d5_jpg.jpg)
Banyaknya menteri yang turun meninjau ini, menurut Prita, menunjukkan pemerintah tak mengutamakan seremoni tapi aksi. ”No ceremony langsung action,” katanya.
Konten-konten yang diunggah pun sekaligus menjadi komunikasi atas apa yang sudah dikerjakan pemerintah. ”Kalau enggak ngonten, masyarakat enggak tahu kalau sudah action,” tutur Prita.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi menambahkan, pemerintah menyampaikan apa yang sudah dikerjakan dalam program MBG secara natural. Lagi pula, banyak unggahan masyarakat tentang MBG, baik berupa masukan dan kritik.
”Banyak juga dukungan penyemangat dan ucapan terima kasih. Banyak kisah yang penuh human interest juga,” kata Hasan.
Penulis:
Iqbal Basyari, Nina SusiloEditor:
Suhartono ., Cyprianus Anto Saptowalyono