Mereka menganggap program Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Desa Merah Putih sarat kepentingan dan rentan korupsi.
19 Jun 2026 12:34 WIB · Politik & Hukum
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Satu per satu perempuan berkumpul di salah satu titik yang dijanjikan untuk saling bertemu. Pagi itu, matahari masih beranjak menuju tegak di atas kepala, Kamis (18/6/2026). Mereka berdatangan dan saling menyapa saat tiba di titik kumpul yang mereka janjikan.
Perempuan-perempuan ini merupakan massa aksi Aliansi Perempuan Indonesia (API) yang hendak menggelar aksi menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas situasi negara yang terus memburuk. Titik kumpul mereka berada di sisi trotoar Jalan Sudirman, Jakarta, tak jauh dari Patung Sudirman yang megah menjulang di jalan raya tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/43112152684c14b559a4ccf34df71951-133101.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/18/b49b4bc46c21e2ecb385c6c25aa69d97-133187.jpg)
Mereka mengenakan atribut bernuansa merah muda, membawa poster, dan peralatan masak sebagai atribut aksi.
Massa aksi ini ialah para perempuan lintas usia dan datang dari berbagai latar belakang sosial. Beberapa pria yang peduli terhadap gerakan feminisme pun tampak turut serta dalam aksi ini, tetapi hanya sedikit jika dibandingkan dengan perempuan yang hadir.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/4dc5638d8530a4cc8df979db4de447cb-133952.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/b5ea6622e5cb4984d52244a0d384ceb6-133864.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/e869312e311c8c0cb3fe2e9a8d392a33-133954.jpg)
Protes adalah hak.
(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)
Alat masak
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Aksi Tolak MBG
Kompas/Rony Ariyanto Nugroho
Aksi ini digelar sebagai bentuk keresahan meminta penghapusan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang dinilai sarat kepentingan dan rentan korupsi. Mereka meminta pemerintah bertanggung jawab atas situasi ekonomi nasional yang kian terpuruk dan berdampak pada masyarakat. Mereka juga menuntut TNI dan Polri dikembalikan pada tugas pokok dan fungsinya, bukan justru menempati pos-pos sipil demi kepentingan pemerintah.
Tak lama kemudian, mereka berdiri membentuk barikade, mempersiapkan diri melakukan aksi damai berjalan kaki menuju kawasan Patung Arjuna Wijaya melalui Bundaran Hotel Indonesia. Spanduk dibentangkan, poster-poster diacungkan, dan alat memasak dipukul untuk dibunyikan, seiring aksi ini mereka mulai lakukan.
Namun, saat hendak memulai jalan, seorang polwan menghampiri koordinator massa aksi. Polwan ini membujuk agar mereka mau diangkut bus polisi untuk menggelar aksi di kawasan Patung Arjuna Wijaya yang hendak mereka tuju. Namun, hal ini mereka tolak karena aksi ini memang berupa aksi damai berjalan kaki dengan rute tersebut.
Selama ini polisi melarang kawasan Bundaran HI dijadikan tempat aksi (demonstrasi) berdasarkan Pergub DKI Nomor 232/2015. Namun, beberapa kalangan aktivis yang juga hadir menilai tindakan kepolisian adalah jauh di luar wewenangnya. Pergub merupakan aturan yang sistem penegakan aturan dan hukumnya bukanlah ranah kepolisian. Terlebih lagi seperti pengamanan aksi yang mengerahkan anggota TNI beberapa hari lalu.
Selain itu, pelarangan atau perizinan menggelar aksi tidak ada dalam klausul yang diatur dalam undang-undang. Dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 hanya diatur pemberitahuan resmi, bukan perizinan menggelar aksi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/f87d92e8b0852b4485fa90f6eb638660-133958.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/b4488fbc17ca481b6b52b2831b7a9a3f-133956.jpg)
Pada akhirnya para peserta aksi tetap berjalan kaki dan tetap berpendirian dengan rute tersebut. Patung Jenderal Sudirman yang menghormat ke arah utara seolah melepas dan merestui perjalanan perjuangan mereka ke arah yang sama.
Rombongan itu berjalan sambil meneriakkan yel-yel ”Bubarkan MBG..., bubarkan MBG!” yang disambut beberapa klakson kendaraan yang juga melintasi jalan tersebut.
Namun, hanya beberapa ratus meter dari mereka memulai aksi jalan kakinya, barisan polisi kembali menghadang. Dua lapis barisan polwan yang di belakangnya juga berdiri dua garis barisan polisi menghalangi mereka di akses utama menuju Bundaran HI.
Setelah terjadi upaya saling dorong, sesi orasi, dan diskusi sejenak, akhirnya disepakati bahwa rute berjalan mereka dibelokkan melewati kawasan Grand Indonesia. Jarak ini memutar lebih jauh dibandingkan berjalan lurus ke arah Patung Arjuna Wijaya melewati Bundaran HI.
Namun, di sekitar Grand Indonesia, polisi kembali membujuk agar mereka bersedia diangkut bus polisi dan berusaha memaksa rute mereka tetap melewati area perkampungan warga Kebon Kacang yang menembus ke Jalan KH Wahid Hasyim.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/6e1fdb239087170b2857acd9bcadc9b0-133102.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/afc3d530fbf6b0357f7b7b758f5b1a34-133092.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/19/0cbad774bf9b6deb6397f2d7f9c8285e-133178.jpg)
Dua patung di atas Monumen Selamat Datang seolah menyapa mereka yang berhasil menembus Bundaran HI dan menggelar aksi di tempat ini. Para peserta aksi sempat berhenti sejenak menggelar orasi dan meneriakkan yel-yel mereka, sambil beristirahat sejenak. Beberapa warga yang beraktivitas di kawasan tersebut terlihat antusias menyambut mereka.
Beberapa di antara warga yang menonton justru bersimpati dan mengapresiasi perjuangan aksi mereka yang berhasil menembus polisi dan menggelar aksi di kawasan ini. Kini, gerakan perempuan sudah saatnya kembali mendobrak dan bersatu padu bersama-sama mahasiswa dan warga sipil lainnya berjuang menyuarakan keresahan yang sama.
Penulis:
Rony Ariyanto NugrohoEditor:
Yuniadhi AgungPenyelaras Bahasa:
Nur Adji